Pola Perburuan Ilegal Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat

Konservasi Alam Edisi III Tahun 2009 (Penulis: Dian Risdianto)

Pemahaman tentang konservasi satwa liar yang tipis dan lemahnya penegakan hukum menyebabkan perburuan terlihat lumrah dan legal. Hal itu dapat memunculkan masalah serius, yaitu kepunahan satwa liar.

Harimau sumatera, Panthera tigris sumatrae, satu di antara sembilan subspesies harimau di dunia, dan satu-satunya subspecies harimau yang masih hidup di Indonesia. Dua subspesies harimau lain yang pernah mendiami Nusantara sudah dinyatakan punah: harimau bali (P.t. balica) pada 1940-an dan harimau jawa (P.t. sondaica) pada 1980-an (Ramono dan Santiapillai, 1994; Seidensticker et al.,1999).

Hasil penilaian populasi dan kelayakan habitat pada 1992 menyimpulkan hanya ada 500 individu harimau sumatera yang masih bertahan hidup (Ministry of Forestry 1994). World Conservation Union (IUCN) juga menetapkan harimau sumatera sebagai spesies kritis yang terancam punah (IUCN 2007).

Status kritis itu belum mampu menghentikan perburuan illegal harimau sumatera, sehingga populasinya terus menyusut. Saat ini diperkirakan tersisa 250 individu dewasa harimau sumatera yang masih betah hidup di delapan dari setidaknya 18 kawasan yang diduga sebagai tempat hidupnya (Departemen Kehutanan 2007).

Informasi pola perburuan ilegal harimau sumatera dan satwa mangsanya diperlukan untuk menentukan strategi pen¬anganan yang tepat dan efektif. Berkaitan dengan hal itu, dilakukan penelitian ini di Taman Nasional Kerinci Seblat dan seki¬tarnya.

Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi harimau yang paling signifikan di dunia (Wikramanayake et al., 1998). Populasi terbesar harimau su¬matera berada di kawasan ini dengan 136 ekor harimau sumatera yang masih bertahan hidup (Linkie 2005 dalam Departemen Kehutanan 2007).

Tilson & Traylor-Holzer (1994) menduga ada sekitar 36 harimau sumatera diburu secara ilegal pada awal 1990-an. Selama 1998 – 2002, sekitar 253 harimau sumatera dibunuh atau ditangkap hidup-hidup, dengan rata-rata 51 harimau sumatera per tahun (Shepherd dan Magnus, 2004).

Tidak mengejutkan, bila Indonesia dipandang sebagai sumber tulang harimau terbe¬sar di dunia dan pemasok utama untuk pasar organ tubuh dan produk harimau di Asia Timur. Selama 1973 – 1993, sebanyak 44,5 persen dari 8.981 kg tulang harimau yang masuk Korea Sela¬tan berasal dari Indonesia (Mills dan Jackson, 1994). Selain untuk ekspor, perdagangan bagian-bagian tubuh harimau sumatera, seperti kulit, kumis dan tulang, juga cukup marak di pasar do¬mestik (Shepherd dan Magnus, 2004).

Meskipun telah ada dokumen Strategi dan Rencana Aksi Kon¬servasi Harimau Sumatera sejak 1994–direvisi pada 2007, na¬mun, sampai saat ini perburuan ilegal harimau sumatera belum dapat tertangani dengan baik dan efektif.

Upaya penegakan hukum masih belum optimal untuk memberantas perburuan ilegal kucing besar ini. Hal itu disebab¬kan banyak faktor, salah satunya, kurangnya data tentang pola per¬buruan ilegal harimau sumatera.

Penelitian selama Januari 2004 hingga Januari 2008 ini, membuka tabir beberapa pola perburuan harimau.  Sebanyak 97 persen pemburu berasal dari etnis lokal yang ting¬gal di sekitar habitat harimau. Ketrampilan para pemburu di¬peroleh secara turun temurun dari para pendahulunya atau dari orang yang suka berburu harimau.

Di sisi lain, etnis lokal di seki¬tar Kerinci Seblat memiliki penghormatan tradisional terhadap harimau sumatera (Nugraha 2005). Saat terjadi konflik antara harimau dan manusia, masyarakat lokal menggelar upacara adat permohonan maaf. Masyarakat percaya, kehadiran harimau di pemukiman merupakan sebuah bentuk teguran. Dengan de¬mikian, nampak penghormatan tradisional etnis lokal itu telah mengendur.

Sebagian besar pemburu ber¬mata pencaharian petani. Sekitar 70 persen dari 1,4 juta penduduk yang tinggal di sekitar Kerinsi Seblat adalah petani (Komponen A: Park Management Kerinci Seblat – ICDP 2002). Hal ini juga berarti berburu harimau sumat¬era bukanlah aktivitas yang dapat dijadikan sebagai sumber utama pendapatan ekonomi.

Sekitar 52 persen perburuan ilegal harimau dilakukan pemburu yang berdomisili di desa yang berbatasan dengan  Kerinci Seblat. Sisanya, 48 persen dilakukan oleh orang dari desa yang tidak berbatasan langsung. Secara statistik, orang dari dua tempat domisili itu berpeluang sama untuk menjadi pemburu harimau.

Sebagian besar pemburu bermotif komersial, bukan karena konflik manusia dengan harimau sumatera. Motif inilah yang mendorong perburuan dilakukan secara regular, dengan jaringan perburuan dan perdagangan ilegal yang terjalin rapi dan terorganisir.

Perburuan umumnya dilaku¬kan secara berkelompok dengan memakai jerat dan senjata api yang dilakukan pada siang hari. Perburuan pada siang hari ini diduga berhubungan dengan alat berburu yang digunakan dan pola aktivitas harian hari¬mau sumatera.

Para pemburu juga memiliki jaringan tetap dengan penam¬pung atau pembeli hasil buruan. Tak jarang, para penampung juga menjadi pemodal bagi pemburu, dengan memberikan sejumlah uang dan/atau peralatan buru. Nowell (2000) menyatakan, In¬donesia mempunyai pasar lokal perdagangan produk harimau yang substansial dan terorgani¬sir. Di pasar gelap domestik, kulit harimau menjadi primadona, sedangkan di pasar gelap interna¬sional, tulangnya menjadi objek utama perdagangan untuk obat tradisional China.

Untuk menangkal perburuan ilegal, beberapa langkah bisa diambil: 1. menumbuhkan dan menerapkan kembali penghor¬matan tradisional masyarakat lokal terhadap harimau sumatera; 2. Pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal; 3. Penyadartahuan dan pendidikan konservasi hidupan liar yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal dan masyarakat umum; 4. Melibatkan masyarakat lokal dalam pengamanan dan pengelolaan taman nasional; 5. Pembuatan pos jaga di jalur-jalur akses masuk kawasan Kerinci Seblat, menutup akses masuk yang rawan diguna¬kan untu perburuan ilegal, dan patroli anti-perburuan ilegal se¬cara rutin.

Di samping itu, investigasi juga perlu dikembangkan sebagai upaya pencegahan dini dan sumber data bagi penyusunan strategi penegakan hukum. Kegiatan investigasi dan penegakan hukum diutamakan di daerah sekitar ka¬wasan. Tak hanya itu, razia senjata api ilegal juga harus digalakkan oleh instansi berwenang di sekitar kawasan taman nasional ini. Terakhir, koordinasi antar-instansi terkait harus ditingkatkan untuk menangani perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal harimau sumatera.***

http://www.ditjenphka.go.id/?Page=Artikel&Do=Detail&ID=17

One thought on “Pola Perburuan Ilegal Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s