Mencoba bertahan dengan perbekalan yang ada

Oleh.Fendi

Perjalanan selama melakukan pemasangan Kamera Trap  kali ini sangat menyenangkan,mulai dari pertama berangkat telah terasa begitu asik.kami sangat dimanjakan oleh mobil Triton hitam  yang dirental sebagai armada.Kendaraan yang biasa dipakai sedang beristirahat dibengkel untuk disevice,Alunan music selalu mengiringi sepanjang perjalanan,lagu-lagu dari salah satu band Indonesia  yaitu Ipang sangat akrap sekali terdengar di daun telinga.

Ayunan per mobil hitam ini terasa lembut sekali,kami terasa sedang dibuai.Tak terasa,ternyata penumpang  selai sopir yang didalam nya sampi tertidur dengan sangat lelap meski jalan penuh lubang dan pendakian,hingga tak sadar ternyata telah sampai disebuah desa nan elok apabila dilihat dari atas bukit.Perkampungan ini merupakan pemukiman terakhir yang berbatasan langsung dengan Bukit Batabuh dan Bukit Rimbang Bukit Baling.

Desa ini merupakan pintu masuk menuju hutan untuk melakukan pemasangan Kamera Trap.Pemukiman yang hijau ini sangat akrab bagi beberapa orang,Sungai yang bersih dan perbukitan terhampar luas didepan dan siapa saja yang melihat matanya akan dimanjakan oleh pemandangan disekeliling.Desa kecil nan elok ini Adalah pangkalan indarung yang terletak dikabupaten Kuansing ,Riau.

Masyarakat disini mempunyai salah satu tradisi yang sangat unik dan dibeberapa tempat sudah mulai jarang memakai tradisi ini.mereka membuat suatu peraturan,sepanjang satu kilometer aliran sungai ini ikan-ikan nya tidak boleh diganggu,Istilah lain nya adalah lubuk larangan.selama satu tahun lubuk ini selalu mereka jaga sampai waktu pemanenan tiba,apabila ada yang tertangkap mengambil ikan dari dalam nya,baik dipancing,dijaring atau ditembak,maka bagi pelakunya akan dikenakan denda sebesar 300 ribu per ekornya.

Dengan begitu tidak satu orangpun yang berani untuk mengambil ikan didalam lubuk ini sepanjang 1Km ,Mereka harus bersabar menunggu hingga waktunya.Tradisi ini tetap mereka turunkan kepada anak dan cucu nya.Salah satu kekurangan penduduk disi adalah mereka masih menggunakan sungai sebagai wadah untuk membuang hajan dan sebagainya.Sampah-sampah plastic sampo ,sabun colek dan peralatan mandi lainnya dibuang begitu saja hanyut dibawa arus.Ranting-ranting dan pohon yang tumbang menjadi penghambat kotoran hasil sisa manusia.Apabila tidak segera dibersihkan,maka lama kelamaan akan menumpuk dan menyebapkan penyumbatan bahkan kebanjiran.

IMG_9958

                                                                                                             Sungai Didesa pangkalan indarung

Perjalanan pertama untuk memasuki hutan dimulai dari desa ini.Pagi harinya kami bergerak kenermaga kecil untuk menaikkan barang-barang kedalm perahu bermesin yang akan mengantar menuju pinggiran hutan HL.B_Batabuh.Transportasi air ini dikenal dengan sebutan Robin,kapasitasnya hanya cukup untuk 7 orang,apabila dipaksakan dan melebihi kapasitas akan karam dan tenggelam.Satu-persatu barang dinaikkan dan dibunghkus dengan pelastic hitam dan berangsur meninggalkan kampung ini.

Desa yang indah dengan penduduk yang sangat ramah hanya kami diami 1(satu) malam saja,sangat saying sekali.Mesti begitu,perjalanan tetap dilanjutkan karena misi  lain  dan tujuan yang sebenarnya telah menanti yaitu pencarian si Datuk Belang.Selama perjalanan mengarungi sungai menuju hulu sangat menegangkan,kondisinya semakin mengecil karna diapit oleh perbukitan dan tebing batu.

Arus sungai mulai deras karna ada jeram-jeram kecil dan bebatuan.Setiap bertemu arus yang deras,kami selalu turun dari perahu,terkadang coba dipkasakan ,ternyata arusnya lebih kuat dari tenaga mesin robin.Mau tidak mau  harus berjalan kaki,dan  selalu dilakukan agar tidak terjadi sesuatu yang menyebabkan kerusakan pada armada ini.Sementara operator dan tukang galah sibuk dengan tongkat kayu untuk mengendalikan kemudi agar tidak menabrak bebatuan besar diantara jeram-jeram kecil yang  sedikit ganas bagi pemula seperti kami.

IMG_0015

                                                                                                       Menyusuri sungai yang berjeram

Ada sekitar 6 titik jeram yang kami lalui selama 2 jam perjalanan.Simpang sungai ketiga merupakan jalur  yang sangat tepat ,rencana tim akan diturunkan disini.Setelah hamper tiba dipersimpangan anak sungai,Arus jeram dan bebatuan yang tajam telah menanti didepan mata dan perahupun berhenti disini.Barang-barang yang tersusun rapi mulai dikeluarkan satu-persatu dari dalam perahu.

Sampan pun pergi dan kamipun berlalu, tak lupa juga  mengucapkan terima kasih kepada kedua orang yang telah mengantar kami dengan selamat.Beliau adalah Bang basir dan  bang anis yang merupakan penduduk asli desapangkalan indarung.

 

Tanpa berlama-lama,kami kemudian melanjutkan perjalanan.yang paling perlu dicari saat ini adalah mencari posisi untuk mendirikan tenda.Setelah berjalan menyusuri sungai,akhirnya posisi yang diharapkanpun ketemu.Saat itu adalah hari jum’at tanggal 11 januari 2013,Waktu sudah menunjukkan hamper jam 12 siang,untuk sementara aktifitas dihentikan,setelah selesai  jam sholat baru kemudian tim berkemas-kemas untuk membuat Camp dan tak lupa rantang nasi yang terlebih dahulu menjadi korban .

Rumpunan bambu yang berada disekitar lokasi sedikit banyaknya sangat membantu meringankan pekerjaan dan mengurangi penebahan pepohonan..Satu-persatu tumbuhan yang bertunas ini ditebang dan dipotong  menjadi 3 meter perbatangnya.Sebelum digunakan untuk menjadi lantai  ataupun dinding,alangkah baiknya dicuci terlebih dahulu untuk menghilangkan  bulu-bulu halus yang terletak diantara ruas-ruasnya ,atau biasa disebut dengan Miang.IMG_0084

Pencucian bambu untuk menghilangkan miang

Setelah tenda selesai,kami mulai berkemas-kemas untuk meletakkan barang belanja logistic dan perlengkapan lainnya  agar tidak berserakan dimana-mana.Segelas teh  manis hangat dan sebatang rokok linting menemani malam panjang kami untuk pertama kalinya di SM_Bukit Batabuh.Canda dan tawa selalu terdengar sangat bahagia didalam tenda yang ukurannya hanya 2×4 meter ini.meski begitu,istirahat harus tetap teratur agar tidak down selama dilapangan,karena perjalanan masih jauh dan bukit-bukit yang tinggi dan patah-patah telah menanti didepan untuk dilalui.

Selasa 15 januari 2013,hari ini adalah pemasangan kamera yang ke 2(dua) di Grid Aj 151 dari lima titik yang direncanakan.Semua peralatan untuk alat pengintai ini telah siap untuk dibawa,mulai dari Batray,Memory Card,Rantai,Gembok dan yang lainnya.jika dilihat dipeta,lokasi ini terlihat sangat strategis untuk dipasang karena punggungan nya yang panjang,kami begitu semangat untuk melakukan perjalanan,bukit dan sungai bisa  dilalui dengan begitu  enjoy.

Tak disangka,ditengah perjalanan kami dihadang oleh tumbuhan resam yang tumbuh dengan sangat subur nya.lokasi yang direncanakan ternyata tidak sesuai dengan apa yang kami lohat diPeta,jejak satwa dan lorong bekas jalur  tidak ada terlihat disepanjang hamparan padang rumput yang mirip dengan pakis ini, Mereka seakan enggan untuk melintasinya.Hampir 2 jam lamanya tim berusaha untuk menerobos,jarak nya entah sudah berapa km telah kami lalui dan tidak juga ada tempat yang bisa dipasangi kamera.

???????????????????????????????

Perjuangan melawan padang resam

Dengan kondisi yang seperti ini dan tak mungkin untuk dipasangi kamera,tim memutuskan untuk pulang.tenaga juga telah terporsir untuk bertarung merobohkan resam-resam yang berdiri dengan kokoh,perbekalan  minum didalam tabung juga telah menipis.Sambil menuruni perbukitan,kami   berjalan dengan sangat hati-hati sebelum malam tiba  sambil mencari lembahan yang mungkin ada sumber air yang nantinya bisa menghilangkan dahaga ini.

Setelah berjalan cukup jauh menuruni perbukitan,akhirnya sumber air ketemu.tanpa basa-basi lagi,tabung yang mulai kosong kini satu-persatu mulai diisi,istirahat sejenak.Sebatang rokok linting bermerk moalboros menemani duduk santai kami,meski kaki  terasa lelah senyum dan canda tawa selalu hadir disaat-saat santai seperti ini.Dari perjalanan hari ini ada sedikit  rasa penyesalan ,lokasi  target yang akan dipasang ternyata tidak  sesuai dengan harapan meski sudah sampai pada tujuan.tim memutuskan untuk memasang kamera esok hari  dipunggungan yang lain.

Suara kicau burung pagi hari seperti sebuah nyanyian yang sangat merdu,ditambah lagi riak suara air sungai membuat mata ini seakan enggan untuk terbuka.Mentari pagi sedikit enggan untuk mengeluarkan cahayanya karna tertutup kabut mendung.Bunyi-bunyi suara kuali dan kuali juga ikut membantu membangunkan saya dari tidur lelap.dengan sedikit bermalas-malasan,saya mulai bangkit dari tempat tidur yang beralaskan matras dan berlantai tanah.

Sapaan dari teman-teman tenaga local yaitu Amrizal,Awir dan bang dinar membuat saya agak sedikit malu,ternyata the manis yang sedari tadi mereka buat  kini mulai sedikit dingin.Sarapan pagi dan perbekalan untuk siang juga ternyata sudah siap disantap dan dibawa kelokasi.perjalanan hari ini agak sedikit santai,karna lokasi yang akan dipasangi kamera tidak begitu jauh,sebagian jalur juga sudah dirintis sebelum nya .

Jam 10:00 pagi,tim  berangkat dengan perbekalan dan peralatan untuk memasang  kamera. melangkah dengan sangat pasti mendaki bukit-bukit kecil dan melewati jalan doser bekas PT beberapa tahun yang lalu.kurang lebih jam 12:00 siang,akhirnya sampai dilokasi tujuan dan sepertinya tempat ini bisa dipasangi alat pengintai ini.Kamera di letakkan berpasangan yaitu Reconyx HC 600  untuk voto,sementara  Bhusnell  dengan setting Video.Hampir ½ (Satu setengah) jam kami brkegiatan disini,mulai dari pembersihan jalur dan pengikatan dipohon serta pengetesan.

Setelah semua selesai,tak lupa test Paper yang biasa dibbawa dibentang didepan kamera.gunanya adalah untuk memberi tanda dimana,kapan,tanggal berapa ,berapa no kamera dan  no memori yang dipasang,ini juga bisa membantu untuk memudahkan saat entri data-data foto.Cek area juga diperlukan sebelum meninggalkan TKP untuk memastikan agar tidak ada satupun barang yang tertinggal dilokasi .Kemudian berangsur  menuju pulang ke camp.IMG_0319

Awir  Action didepan Kamera

Pada malam harinya sebelum tidur,apbila kondisi badan masih fit,kami menyempatkan mencari ikan disungai mengunakan pancingan.ini hampir setiap harinya selalu dilakukan.Ikan asin dan ikan teri yang dibeli dari pasar tertinggal dirumah pak Jelas yang kami tumpangi saat dipangkalan indarung .perbekalan ini digantung didinding rumah untuk menghindari kucing peliharaan  yang selalu mencium baunya saat tim sampai disini.

 

Setelah sampai dilokasi saat ingin memasak barulah tersadar ternyata ada barang yang kurang,untuk menjemputnya tidaklah mungkin lagi.Ibarat kata pepatah Nasi Sudah Menjadi Bubur ,pengalaman yang sedikit memalukan.tetapi tidak adalagi yang mesti disesali,kami harus tetap maju  dan” bertahan dengan perbekalan yang ada”.Sungai-sungai yang bersi h bisa dimanfaatkan untuk mencari tambahan lauk  apabila kita ada kemauan.

IMG_0233                                                                                                                    Ikan Hasil Pancingan

Tidak ada pilihan lain,ini sudah menjadi  tantangan dalam sebuah petualangan.Apapun bisa terjadi, apa saja bisa tertinggal,semua  kembali kepada kita yang menjalaninya.

Salam Rimba

About these ads

2 thoughts on “Mencoba bertahan dengan perbekalan yang ada

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s