SEMANGAT ITU TETAP MEMBARA

Segelintir kisah perjalanan Tim Riset Harimau Sumatera dalam melakukan kegiatan pemasangan Kamera Jebak di kawasan Hutan Lindung Bukit Batabuh

Perambahan dan alih funsi hutan secara liar dikawasan 48 ribu hektar (ha) hutan lindung Bukit Batabuh di kabupaten Kuantan Singingi, Riau, mengancam kelangsungan hidup Harimau Sumatera. Hutan lindung Bukit Batabuh merupakan koridor Rimbang Baling-Bukit Tigapuluh ini sebagian telah beralih fungsi menjadi perkebunan kelapa sawit.

Siang itu, matahari telah condong ke arah barat, kira-kira pukul 14.00 WIB. Aku bersama dua orang temanku berangkat menuju kota Taluk kuantan dengan mengendarai mobil Ranger. Mobil yang dikendarai driver Hery melaju dijalan raya Pekanbaru-Taluk kuantan. Untuk sampai dikota Taluk kuantan ini, kami menghabiskan waktu selama empat jam dengan jarak tempuh 160 km dari kota Pekanbaru. Hari ini tepatnya Rabu ( 9/1/2013 ). Sebelum matahari kembali keperaduannya, kami pun tiba dikota Taluk kuantan, dan segera mencari penginapan untuk malam ini. Hotel pujangga adalah tujuan kami, kami pun  istirahat disana. Penjelajahan yang akan kami lakukan ini sekitar dua mingguan, oleh karena itu perbekalan yang dipersiapkan selain peralatan penelitian, bahan makanan logistik sesuatu yang wajib untuk dibawa.

Pagi itu matahari kembali memancarkan sinarnya, kami pun telah terjaga dari tidur kami semalam. Dan kami segera berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi Koridor Hutan Lindung Bukit Batabuh. Rencananya dikawasan ini akan dilakukan pemasangan camera trap ( kamera jebak ) untuk merekam keberadaan Harimau Sumatera dan satwa lainnya yang ada dikawasan ini.

Camera trap merupakan sebuah alat untuk merekam keberadaan harimau sumatera dan satwa lainnya secara visual dengan memakai sensor yang telah didesain didalamnya, maka kamera tersebut akan menjempret secara otomatis jika ada satwa yang mnelintasinya.

Petualangan dimulai, kami masuk dari desa logas untuk menuju kawasan koridor hutan lindung bukit batabuh. Memasuki kawasan ini, kami pun dikejutkan dengan banyaknya aktifitas masyarakat yang melakukan penebangan hutan secara liar. Sejauh mata memandang, terlihat hamparan hutan telah digunduli, sebagian telah ditanami oleh tanaman karet dan sawit. Lokasi dimana menjadi target pemasangan kamera jebak pun telah di rambah masyarakat, hutannya hanya tinggal setumpuk saja. Namun kami akan tetap melakukan pemasangan kamera jebak pada lokasi ini. Sebab, menurut informasi dari masyrakat yang melakukan penebangan disekitar lokasi target, keberadaan harimau masih sering mereka temukan yaitu tanda jejaknya. Dari informasi inilah, menjadi semangat kami untuk mendapatkan gambar harimau tersebut.

Sekitar dua tahun yang lalu kawasan ini masih merupakan hutan yang lebat, pohon-pohonnya masih berdiri kokoh menjulang ke langit, namun pemandangan itu tidak lagi ditemukan dsini, yang ada hanyalah hamparan tanah gundul. Sungguh pemandangan yang luar biasa.

GambarEgy, salah satu anggota tim riset harimau sumatera sedang melakukan pemasangan camera trap dikawasan koridor hutan lindung bukit batabuh. Foto,: Kusdianto/WWF ID

Jumat ( 11/1/2013 ) mulailah kami melakukan pemasangan stasiun yang pertama pada grid AM150, kamera dipasang pada bekas jalan logging yang berjarak 500 meter dari flyingcamp tempat kami bermalam. Kamera dipasang berpasangan. Setelah tugas pemasangan terlaksana segera kami meninggalkan lokasi kamera dan kembali lagi ke camp.

Grid merupakan deliniasi kawasan menggunakan petak kuadran 2 x 2 km dalam grid besar 17 x 17 km. Metode ini memudahkan dalam proses sampling sistematis terhadap keberadaan satwa prioritas survey yaitu Harimau Sumatera dan satwa besar lainnya.

Keesokan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi stasiun berikutnya. Disinilah dimana perjalanan yang menguras tenaga dan keringat. Perjalanan menyusuri jalan logging dengan kanopi yang terbuka, dan kondisi medan yang naik turun alias berbukit membuat kami harus berjuang melewatinya. Terik matahari yang seakan menyengat selalu mengiringi perjalanan kami, seringkali langkah kaki terhenti untuk sekedar melepas lelah. Selangkah demi selangkah menuju tempat bermalam dilalui dengan sangat berat dengan ransel selalu bergantung dipundak, ditambah lagi kami harus melewati semak-semak dan tunggul-tunggul pohon yang telah ditumbangi. Namun demikian, semangat kami tidak pernah surut. Tetap semangat dan semangat. Perjalanan panjang dan panasnya sinar matahari yang kami lalui berakhir juga setelah kami tiba disebuah pondok masyarakat yang melakukan pembalakkan liar dikawasan ini. Terlihat disekeliling pondok tersebut hamparan hutan yang telah digunduli. Raungan mesin-mesin exavator dengan bringasnya menumbangi pohon-pohon tersebut. Dibalik raungan mesin exavator, terdengar pula tangisan sekelompok ungko yang bergantungan diatas pepohonan. Para ungko-ungko tersebut seolah-olah meminta agar tempat mereka bermain dan mencari makan tidak dihancurkan, namun apa daya tangisan itu tidak akan pernah terdengar oleh mesin-mesin yang telah mengganas.

Kawasan koridor hutan lindung bukit batabuh ini belum dikelolah dengan baik untuk pelestariannya. Minimnya pengelolaan kawasan ini dilapangan mengakibatkan maraknya berbagai aktivitas yang berpotensi merusak hutan. Alih fungsi hutan menjadi perkebunan merupakan ancaman yang serius terhadap kawasan ini. Perambahan dan illegal logging terjadi dibeberapa tempat. Sementara itu penanganan dan upaya penegak hukum terhadap aktivitas illegal ini belum dilakukan dengan maksimal.

GambarPembukaan lahan secara besar-besaran oleh PT. Maroeke. Foto : Egy/WWF ID

Ketika malam menjelang, kami istirahat melepaskan lelah dari perjalanan panjang siang tadi. Namun sebelumnya kami melakukan diskusi untuk rencana besoknya yaitu pemasangan kamera pada stasiun yang kedua setelah itu baru istirahat dan tidur dalam mimpi-mimpi yang indah.

Pagi yang cerah, dimana mentari kembali memancarkan sinarnya yang merona. Karena tidak ada lagi pepohonan disekitar tempat kami bermalam yang akan menghalangi sinar matahari, maka pagi itu udaranya terasa panas. Kami pun bergegas untuk melanjutkan perjalanan menuju lokasi kamera stasiun kedua yaitu pada grid AL 151. Kami menyusuri jalan logging, sepanjang perjalanan terlihat aktivitas masyarakat setempat yang melakukan perambahan hutan dan illegal logging. Seketika itu pula hati bertanya, masih adakah harapan hutan ini akan terselamatkan ?

Kami terus berjalan menuju target kamera, setelah mendapatkan lokasi yang strategis lalu pemasangan kamera pun dilakukan. Lokasi kamera ini tidak jauh beda dengan lokasi kamera yang pertama, dimana disekelilingnya terdapat aktivitas masyarakat seperti perambahan dan illegal logging. Melihat keadaan seperti ini, maka setiap masyarakat yang kami temui dilapangan selalu diberitahukan bahwa kami sedang melakukan penelitian satwa liar dengan menggunakan metode kamera jebak. Dan berharap agar tidak mengganggu kamera tersebut jika mereka menemuinya dan mensosialisasikan betapa pentingnya hutan ini dijaga dan diselamatkan. Setelah kamera berhasil dipasang, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju camp lokasi bermalam.

Esoknya, kami melakukan perjalanan menuju sungai Awan, dimana pada lokasi ini terdapat dua stasiun pemasangan kamera yaitu stasiun yang ketiga dan keempat. Perjalanan hari ini cukup menanjak, sesekali kami harus menghentikan langkah untuk melepaskan lelah. Siang harinya kami istirahat untuk memberi makan cacing-cacing yang telah berteriak-teriak dalam perut. Disaat makan siang kami dikejutkan dengan suara shinsaw yang tidak jauh dari lokasi tempat kami beristirahat. Suaranya terdengar begitu jelas, jangan-jangan masyarakat telah melakukan penebangan hutan disekitar sungai Awan ? Pikir kami. Setelah makan siangnya selesai dan istirahatnya merasa cukup, kami bergegas melanjutkan perjalanan dan mengikuti arah suara shinsaw tersebut, benar dugaan kami, disepanjang sungai awan telah terjadi perambahan hutan sehingga membuat kami kesulitan untuk menyusuri sungai tersebut karena pohon-pohon yang ditumbangi menutupi sungai tersebut.

Akan tetapi, semangat tidak pernah pudar melewati rintangan dan halangan. Walau fisik yang kian terkuras melewatinya namun ini tidak menyurutkan semangat kami. Kadang kala hati merintih melihat keadaan seperti ini, dimana hutan selalu dirambah, pohon-pohon ditebangi dan dijadikan perkebunan. Siapakah yang harus disalahkan dalam hal ini ?

Disungai Awan ini kami mendirikan tenda selama dua hari, sebab kami akan melakukan pemasangan kamera pada dua lokasi/stasiun kamera, yaitu pada grid AK 152 dan grid AL 153. 

GambarSungai Awan yang memiliki populasi ikan yang tinggi. Foto : Egy/WWF ID

Setelah berhasil memasang kamera pada dua stasiun tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan dengan menyusuri hilir sungai Awan yang penuh dengan bebatuan. Sungai Awan ini bermuara ke sungai Batang Kuantan dan memiliki populasi ikan yang tinggi, salah satu jenis ikan yang terdapat disungai ini adalah ikan Baung.

Disungai Awan inilah kami memutuskan untuk memancing untuk tambahan lauk kami. Tidak membutuhkan waktu lama mendapatkan ikan Baung dsini, hanya beberapa saat pancing dijatuhkan beberapa ikan Baung dan lele berhasil kami dapatkan, woooow,,,,,ikannya besar-besar ! Teriakku.

Selain populasi ikan yang tinggi disepanjang sungai Awan ini, terdapat pula dipinggir-pinggirnya banyak rumpun bambu dimana bambu yang baru tumbuh atau disebut Rebung bambu bisa kita makan dengan cara disayur. Rasanya begitu lezat, kalau belum pernah merasakan Rebung bambu, datanglah kesini dijamin tidak akan kecewa.

Hari berikutnya kami kembali melakukan pemasangan kamera pada grid AK 154, perjalanan kali ini sungguh mengesankan. Bagaimana tidak, jalan yang kami lalui adalah sungai dengan bebatuan besar dan mendaki bukit yang lumayan terjal. Sesekali kaki tergelincir saat melewati sungai bebatuan tersebut, perluh hati-hati sebab bebatuannya berlumut dan licin. Begitu pula dengan bukitnya yang lumayan terjal, berkali-kali kami harus berpegangan pada kayu-kayu kecil untuk dapat sampai dipuncak bukit. Dengan semangat juang yang tinggi, akhirnya kami tiba dipuncak bukit tersebut dan menyusuri punggungannya untuk mencari lokasi pemasangan kamera yang strategis. Setelah mendapatkan lokasi yang strategis, maka kami langsung melakukan pemasangan. Kamera grid kelima berhasil terpasang. Kami pun kembali ke camp tempat bermalam. 

GambarFanorama pagi di Hutan Lindung Bukit Batabuh. Foto : Egy/WWF ID

Tersisa satu lokasi lagi untuk pemasangan kamera jebak, yaitu tepatnya pada grid AM 154. Ini adalah perjuangan terakhir kami melakukan pemasangan kamera jebak dikawasan Koridor Hutan Lindung Bukit batabuh. Perjalanan panjangpun kami lakukan dengan rute menyusuri sungai dan naik bukit turun bukit. Memang lokasi pemasangan kamera yang terakhir ini cukup jauh dari lokasi tempat kami bermalam. Kadang kala memaksa kami harus potong kompas. Fisik yang kian melemah membuat perjalanan kami sedikit lamban, setapak demi setapak menuju lokasi kamera kami lalui sangat berat. Akan tetapi tidak membuat kami patah semangat, ibarat kata ” orang sampai kita tiba ” artinya walaupun lambat yang penting kita berhasil dan sukses melakukan perjuangan ini dengan selamat. Selama perjalanan kami menikmati petualangan sekaligus pengelaman yang yang sangat berharga ini. Tak sadar tibalah kami dilokasi pemasangan kamera yang terakhir, setelah istirahat sejenak kami langsung melakukan pemasangan kamera, tentunya kami telah memilih lokasi yang strategis untuk mendapatkan gambar Harimau dan satwa lainnya. Selesai dilakukan pemasangan, kami bergegas melanjutkan perjalanan menuju lokasi penjemputan yang telah ditentukan. Sebelum datang gelap kami telah tiba dilokasi penjemputan. Dan kami bermalam di sebuah pondok masyarakat/pondok singkong. Di pondok inilah kami istirahat sambil menunggu jemputan datang.

Sukses……..Semua kamera telah berhasil kami pasang dengan lancar, yaitu sebanyak 6 stasiun kamera. Dan kami hanya menungggu hasilnya dari semua kamera yang telah terpasang tersebut. Tunggu kami bulan depan. Semoga sukses. Salam Rimba.

( Kusdianto )

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s