Rimbang Baling #3: camp tanpa nama

Hujan masih mengguyur bumi Lancang Kuning pagi itu ketika kami mulai menyiapkan diri untuk perjalanan yang tengah menanti di hadapan. Tenda dan flysheet yang basah kemarin kini telah kering setelah dijemur memanfaatkan hangatnya pancaran matahari sore di Desa Gema. Tak pernah bosan aku merasa gembira melihat beraneka warna barang-barang termasuk persedian logistik mencakup sayur, bumbu, dan lauk, yang satu persatu dibungkus dengan kertas bekas koran agar mereka lebih tahan lama dan tidak mudah layu. Berapa banyak logistik yang diperlukan untuk 15 hari? pertanyaan yang bagus! jawabannya adalah tergantung jumlah orang dalam tim dan kesanggupan memikul beban. Jangan lupa ya, perjalanan ini tidak sekedar membawa logistik; melainkan juga peralatan survei, medis atau p3k, perlengkapan penjelajahan dan tentunya peralatan pribadi. Yang jelas untuk logistik kuncinya adalah amankan persediaan beras, maklum ya kita pencinta beras sejati, kalau ga makan nasi dapat mengakibatkan komunikasi antara otak dan otot terganggu dan mengakibatkan perjalanan terhambat.

suasana packing

suasana packing

Jadi berapa banyak nih logistik yang musti dibawa agar cukup? Hitungan logistik memang sebaiknya tidak disamakan dengan perhitungan saat makan di luar hutan/lapangan. Karena kalau hitungannya sama dengan hari biasa, bawanya lho itu gimana? Makanya ya yang dibawa secukupnya saja dan dicukupkan di lapangan. Lauk dari sungai tentu saja sangat membantu tim untuk makan dengan baik, cukup gizi dan layak. Bumbu dari hutan seperti kincung ataupun sayur bayas dan pakis juga adalah tambahan yang lezat nan bergizi yang disediakan oleh hutan. Jadi, kalau ke hutan sebenarnya ga usah khawatir, karena hutan itu menyediakan segala sumberdaya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk hidup. Selama hutannya masih bagus, fungsi yang diberikannya pun pasti bagus dan komplit; mulai dari udara, air, lauk.. dan tak terlupa keindahan.

Kami sarapan gabung makan siang di rumah makan Alam Raya di Lipat Kain.  Rumah makan padang ini sedikit unik karena menu sayur yang biasanya adalah rebus pucuk daun ubi, di tempat ini berupa tumis kol+toge+kangkung… rasanya hmmm nikmat sebenar-benarnya. Seperti biasanya kalau makan masakan padang aku pasti pesan ati-ampela bakar. Kolesterol kolesterol deh… makanan kan untuk dinikmati., lagipula every man dies semua yang hidup pasti akan meningal *edisi tidak peduli kesehatan. Makannya makin asoy karena nasi dan lauk tidak sendiri melainkan ditemani oleh petai rebus, horeee.. Sebelum masuk  ke lokasi, kami berhenti di warung terakhir untuk membeli tambahan beberapa bahan logistik yang dirasa masih kurang seperti gula dan bawang merah. Berhubung disitu juga ada petai jadi ya langsung angkut deh, hahaha ini namanya petai kesukaan kita semua.

Melewati bekas jalan logging diantara sisa akasia dan kebun karet, kami berhenti setidaknya dua kali karena bang Fendy, bang Zul, dan Mambo mengambil gambar mobil ranger kami yang melibas genangan air. Mereka bertiga baru saja mengikuti training fotografi jadi mereka sedang semangat tinggi mengabadikan setiap momen dengan kamera. Mereka pun dapat pekerjaan rumah dari tutor mereka. Ahh senang melihat semangat mereka itu! Ke lapangan semakin bersemanat karena fotografi, sip!

ranger hijau maju tak gentar

ranger hijau maju tak gentar

Kami hanya di drop di titik terakhir dimana jalan masih dapat dilalui oleh mobil, sedangkan sisa perjalanan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Siang itu matahari bersinar seakan tak mau kalah dengan semangat teman-teman yang sedang kepincut hatinya oleh fotografi.. sangat sangat semangat sekali hingga perjalanan yang sebenarnya tidak jauh dan tidak terlalu berat ,medannya itu tetap membuat kami mengucurkan keringat yang deras. Kami berjalan dalam diam, mungkin pengaruh suhu udara yang terlalu panas membuat kami enggan berbicara, pun beban yang kami pikul di punggung masih maksimal karena ini baru hari pertama dalam rangkaian perjalanan penjemputan camera trap (kamera jebak) di Suaka Margasatwa Rimbang Baling.

berpisah di simpang jalan

berpisah di simpang jalan

Setelah berjalan sekitar 1.5 km di bawah terik matahari, tibalah kami tiba di camp pertama.  Camp tanpa nama, itulah dia. Biasanya tim selalu memberi nama di setiap camp yang ditinggali, tapi mengapa yang ini tidak punya nama? Kutanyakan tentang camp tanpa nama ini ke mas Agung. Sambil membuka sebungkus kuaci mas Agung menjawab, “ga perlu dikasih nama, wong kita ini itungannya singgah kok, hanya numpang nginap semalam, bukan nge-camp beneran”. Aku pun lantas teringat camp-camp yang pernah aku tinggali selama ini; rata-rata area sekitar camp lebih bersih dari semak, lebih tertata pembagian ruang masing-masing untuk tenda, untuk peralatan, masak, untuk menjemur pakaian (yang antara basah karena keringat maupun habis dicuci sekilas tak tampak bedanya), bagian sungai yang dipilih menghadap camp, dan lain sebagainya.

Bukannya camp tanpa ini trus kondisinya kurang oke atau ala kadarnya aja, tetap masih layak untuk dijadikan camp, tapi kalau kita rencana menginapnya dua malam atau lebih, maka lokasi dan posisi camp musti memenuhi kriteria-kriteria mantap:(1) cukup naungan namun tidak menghalangi sinar matahari sama sekali, (2) berada di dataran yang lebih tinggi dari garis tertinggi sungai, agar ketika air sungai naik camp masih aman dari kemungkinan banjir, (3) tidak berada di tengah-tengah atau menutup jalur satwa, (4) area sekitar cukup leluasa, (5) tidak banyak semak, kalau ada semak sekitar camp musti dibersihkan agar mengurangi kemungkinan berjumpa atau diserang satwa liar seperti babi hutan, ular, bahkan harimau yang suka bermain di balik semak, (6) di sekitar camp tidak sulit menemukan kayu bakar, (7) pepohonan sekitar camp kuat dan tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda tua atau dalam posisi oleng, (8) di sepanjang sungai ada lubuk (bagian sungai yang dalam tempat hidup ikan) untuk mancing. Nahh, kriteria no 8 ini yang pengaruhnya cukup tinggi dalam penentuan lokasi camp. Pokoknya kalau satu camp tak ada lubuk yang mantap, meski kriteria yang lain terpenuhi, tetap bagi tim campnya kurang mantap., hahaha. Segera aku konfirmasikan kembali  ke mas Agung perihal lubuk ini, “berarti disini ga bisa mancing ya?” Jawab mas Agung dengan logat bahasa jawa-melayunya, “mo mancing dimana? liat aja itu sungai kecil gitu kok, mana ada ikannya. ya kalo ada pun ikannya masih kecil-kecil, ga kena dipancing”.

Sore itu aku menatap bukit tinggi yang berada persis di seberang sungai depan camp tanpa nama. Bukit tinggi itu yang akan kami jalani keesokan hari. Mambo, yang juga pernah melewati jalur ini mengumpakan bukit tersebut sebagai gerbang Rimbang Baling, “macam ada tulisannya -welcome to the jungle-“.

Jalan hari ini tidak berat sama sekali, meski peluh juga bercucuran. Aaah aku hanya berharap jika saja semua perjalanan kami seperti ini, aku tidak keberatan membawa beban lebih. Kepalaku mulai berdengung sakit, mungkin akibat terpaan panas yang menyengat dari jalan siang tadi, atau karena khawatir di perjalanan besok aku memble karena tidak kuat mendaki? ambo ragu alasan kedua yang benar, tapi ambo raso iyo jugo.. hahaha.

bang Amri (kiri) & bang Atta (kanan) di camp tanpa nama

bang Amri (kiri) & bang Atta (kanan) di camp tanpa nama

Pada perjalanan kali aku pertama kali se-tim dengan bang Atta, abang dari Desa Lubuk Kembang Bunga di yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang terkenal itu. Sejak pertama ikut tim pasang kamera di TNTN bulan Juli tahun lalu, dia langsung menjadi favorit dan mulai saat itu terus ikut tim, singkatnya bang Atta ini mantap! :-)

Segelas susu hangat sukses membuatku merasa mengantuk. Teman-teman masih asik bercerita sambil melahap kuaci saat kutinggal tidur. Hujan kembali turun malam itu, tapi camp sudah diamankan sejak sore tadi jadi kami bisa tidur dengan lelap tanpa perlu khawatir terkena banjir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s