Rimbang Baling #4: hari valentine, pendakian mencret, dan cempedak

14 Februari 2012.. waah Hari Valentine! ini kedua kalinya aku melewatkan hari valentine bersama tim di lapangan. Tahun lalu kami memasang kamera di Hutan Lindung Bukit Sosa, tahun ini mengambil kamera di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Bedanya, untuk valentine kali ini mas Agung sudah sejak pagi mewanti-wanti, “meski ini tanggal 14 februari, orang-orang merayakan hari valentine, disini pokoknya tidak ada yang namanya valentinan-valentinan”. Huuu mas Agung gak asik ah. Padahal hari valentine tahun lalu di Bukit Sosa lumayan sore, teman-teman nyariin bunga berwarna merah dan camp kami pun dinamakan Camp Valentine! untuk seru-seruan, hahaha.

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Hari ini kami pindah camp sekaligus mengambil camera trap di titik pertama. Teringat perkataan Mambo, “lepas camp pertama langsung welcome to the jungle, disambut pendakian dan penurunan di hutan Rimbang Baling”. Yup, hari ini kami melalui satu pendakian yang sangat dikenal oleh tim, Pendakian Mencret. Ceritanya pada tahun 2006 lalu, bang Fendy melewati pendakian ini dalam kondisi diare, sehingga harus berhenti beberapa kali untuk buang air, jadilah pendakian ini dinamakan pendakian mencret. hehe ada-ada aja ya namanya. Bagi aku yang sudah lumayan lama tidak turun ke lapangan, kembali ke lapangan, terlebih dengan perbukitan yang menanti, tentunya menjadi tantangan tersendiri. Saat diskusi di kantor Pekanbaru, mendengar cerita teman-teman yang selama beberapa bulan terakhir mengunjungi kawasan Rimbang Baling, membuatku penasaran untuk ikut, namun aku juga khawatir jika ikut akan memperlambat jalan tim. Tapi aku sangaaaat penasaran karena belum pernah ke Rimbang Baling dan juga aku ceritanya Rimbang Baling ini hutannya baguuuuuus sekali. Jika aku mengikuti ini, mungkin trip ini akan menjadi trip lapanganku yang terakhir sebelum aku meninggalkan WWF. Hahhh.. mau kemana? mau sekolah! aku sudah mendaftar sekolah beserta beasiswa lewat program Erasmus Mundus dan Chevening. Kalau diterima, maka sekolahnya mulai Agustus/September.., doakan aku lulus yaa…

Sejak awal meninggalkan camp tanpa itu, kami terus menerus mendaki. meski jalur pendakiannya tidak panjang, tapi cukup membuat aku ngos-ngosan. Cuma aku curiga, pendakian pendek ini kayaknya belum masuk pendakian mencret deh. Dan benar, selepas bang Fendy mengambil gambar pada satu pohon dekat kubangan babi hutan, bang Fendy berkata, “ini dia, selamat datang di pendakian mencret!..” lho, jadi yang tadi itu apaan? meski shock, tapi aku berusaha tetap tampil tenang. Masa baru pendakian pertama udah memble.. malu dong, harus jaga image di depan tim sendiri, haha.

Aku melihat yang lain tampak mengambil nafas beberapa menit sebelum memulai mendaki. aku pun bersiap, menguatkan mental dan berkata pada diri sendiri, “this is it, mila”. aku mengucap bismillah lalu mulai berjalan mengikuti teman-teman. Bang Fendy berada paling belakang berjalan tepat setelah aku.

Setelah beberapa lama, puff.. nafasku tersengal-sengal. betisku lelah namun jalan aku terus berjalan mengikuti teman-teman yang berada di depanku. setelah berjalan kurang lebih sejam, kami berhenti beristirahat di sebuah tempat datar. Semua tampak kelelahan. Bajuku sudah basah kuyup sepenuhnya oleh keringat. “emang sesuatu ya” ucapku. “ini baru satu bagian, abis ini mendaki lagi” ucap bang Fendy. “tapi ini lumayan” lanjutnya lagi, “cuma sejam dari camp ke sini, termasuk cepat kita”. aku tersenyum, menyadari bahwa aku tidak menghambat timku.

Kami baru mulai mendaki lagi beberapa puluh meter ketika bang Atta berteriak, “Cempedaaak!” ku lihat bang Atta seperti terbang keluar dari jalur pendakian. Masih dengan tas membumbung tinggi di punggungnya, dia menyusup di antara pepohonan mencari buah cempedak yang masih utuh diantara sisa-sisa buah yang berserak di atas tanah. Mungkin yang sisa-sisa itu abis dimakan beruk, Macaca nemestrina, atau kera ekor babi.

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Buah Cempedak merupakan kerabat buah Nangka. Tekstur kulitnya sama, namun buahnya lebih kecil dan lonjong. Baunya lebih menyengat dari buah nangka, ditambah rasa buahnya yang manis legit. Buah Cempedak pertama yang aku makan di Camp Granit, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, rasanya sungguh manis dan lengket. Karena itulah aku tidak terlalu suka buahnya yang lengket di tangan dan di lidah terasa sangat manis. Ketika ditawari cempedak oleh teman-teman, aku ragu beberapa saat, khawatir rasanya yang terlalu manis. Tapi kemudian aku mengambil 1 biji dari mas Agung dan 1 biji lainnya dari bang Fendy. Ternyata rasanya sama seperti yang aku makan pertama kali. “terlalu manis dan lengket. aku udah ah” ucapku menolak tawaran cempedak lagi dari mas Agung.

Tapi buah manis seperti Cempedak adalah cemilan yang sangat bagus bagi kami yang berkegiatan di hutan belantara dan menjalani pendakian. Di pendakian kita memang butuh mengkonsumsi makanan yang manis atau mengandung glukosa,. karena glukosa bisa cepat diolah untuk menjadi energi, yang kita butuhkan. Terlebih buah cempedak ini asli dari hutan, yang gizinya pasti sangat baik bagi tubuh.

Mendekati puncak bukit, nafasku terasa semakin berat. Betis pun sudah mulai teriak minta berhenti. Aku mendaki dengan pelan. Bang Fendy yang berada di belakangku terus menyemangati, “ayo, tinggal 100 meter lagi”. Aku pun sedikit bergegas, mempercepat langkah. Ketika tiba di puncatk bukit, jam di tangan menunjukkan jam 12 siang lebih beberapa menit. Di puncak bukit ini lah kami beristirahat dan makan siang. Puncak bukit ini jugalah yang menandai akhir pendakian mencret.

Bang Atta menuruni sisi lain dari pendakian dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah cempedak di tangannya. Mas Agung yang langsung mencicipi berkata, “enak nih, ga terlalu manis”. Mendengar itu aku pun mulai mengambil satu biji dan memasukkannya ke dalam mulutku dan hmm.. memang lebih nikmat, manisnya pas. Selanjutnya sudah tak terhitung berapa banyak yang aku makan. Cempedak hutan memang ueeenaaak! hehe.

Setelah makan siang kami berempat; aku, bang Amri, mas Agung, bang Fendy mengambil kamera yang berjarak kurang lebih 700 meter dari tempat kami beristirahat. bang Atta tinggal menjaga tas kami. Sayang pada kamera yang kami ambil ini, tidak ada satu pun gambar harimau, sang datuk yang terekam kamera. Kemanakah dia berjalan? yang ada di kamera adalah babi jenggot, Sus barbatus dan macan dahan, Neofelis diardi.

Di tengah perjalanan pulang kami ditemani oleh suara ungko, Hylobates agilis. Suaranya terdengar jelas sehingga kami memperkirakan sang Ungko berada tidak jauh dari tempat kami berjalan. Namun sosok sang akrobat hutan tropis tidak terlihat. Biasanya suara ungko terdengar seperti nyanyian., yang dumulai pada pagi hari sekitar jam 6. Namun siang ini sang ungko bersenandung dan terdengar dua nada yang berbeda. Kemungkinan ada kelompok ungko yang saling berkomunikasi.

Kembali ke tempat istirahat, ternyata bang Atta sudah memanen satu lagi buah cempedak untuk kami makan di camp nanti.

Perjalanan menuju camp melalui turunan tajam. aku perkirakan kemirigannya mencapai 60-70%.., bahkan mungkin 80% karena rasanya aku berjalan pada dinding tegak lurus ke bawah. Ini lah turunan yang diceritakan oleh bang Fendy sebelumnya, bahwa karena turunan yang sangat tajam, kedua lututnya serasa mau lari duluan..hehe. Tempat data hanya ada 3, itu pun hanya beberapa meter, selebihnya kembali turunan tajam.

Beban di punggungku yang sebagian besar adalah barang-barang pribadi terasa lebih berat dibanding saat mendaki tadi. Bayangkan teman-teman yang membawa semua kebutuhan kami ber-5 dan ini baru hari kedua, beban belum banyak berkurang karena logistik yang kami makan. Bang Amri sampai terjatuh 2x, sehingga oleg teman-teman dibecandain layaknya mereka seolah-olah sedang berburu Napu, Tragulus napu. “Mana bang, lari kemana napunya? itu lah abang ini mencari napu surang-surang” goda bang Fendy.

Aku tidak bisa mengerti bagaimana caranya mereka masih bisa bercanda di kondisi penurunan seperti ini dan beban di punggung dan keringat yang membanjir. Sementara aku terus berkonsentrasi supaya tidak tersandung atau jatuh terjerembab.

Di akhir penurunan yang rasanya tak berkesudahan itu, lututku masih gemetaran, namun ada yang menghibur, suara air, berarti sudah dekat dengan camp.., cihuuuuyy!

Sungai di Rimbang Baling

Sungai di Rimbang Baling

Kami baru tiba di sungai besar ketika dua orang laki-laki datang tepat di belakang kami. Biasanya ketika aku ikut tim ke lapangan, sangat jarang ketemu orang lain. Kalaupun bertemu pasti dengan orang Rimba atau orang Kubu. Makanya bagiku terasa aneh ketika kami camp dan disebrang sungai ada camp lain milik kedua orang tersebut.

Sebelum maghrib tiba, lebih banyak orang lagi datang bergabung di camp seberang. Salah satu bapak dari rombongan itu datang ke camp kami dan bercerita bahwa rombongan yang dia bawa bukan untuk mencari gaharu, melainkan untuk menandai kawasan yang akan dibuka seluas 5000 hektar untuk karet masyarakat Desa Kunto.

Ah Rimbang Baling, meski bukitmu terjal, pepohanmu besar dan gagah, namun tetap saja ada orang yang ingin mengubah wajahmu. kawasan hutan Rimbang Baling adalah kawasan lindung, ditetapkan oleh pemerintah sebagai Suaka Margasatwa sejak tahun 1986. Namun sayang karena pengawasan kawasan yang kurang dari pihak BBKSDA Riau, masyarakat pun leluasa untuk masuk dan beraktivitas yang mengganggu satwa dan mungkin kestabilan ekosistem.

Belum hilang rasa sedihku mendengar sebagian kawasan hutan ini akan dibuka, salah seorang dari rombongan itu telah menembak seekor napu untuk makan malam mereka. Baru kali itu lah aku melihat napu secara langsung, sebelumnya hanya melalui gambar yang diperoleh oleh camera trap kami. Dalam remang cahaya api, aku melihat badannya yang terkulai tanpa nyawa. Bulu di bagian perutnya berwarna abu-abu. Badannya kira-kira sedikit lebih besar dari kucingku di rumah. Hmm.. datuk belang, rumahmu akan sgera dibuka, makananmu pun diambili oleh manusia.. ya, manusia memang makhluk yang paling rakus di bumi.

Satu gagasan untuk “Rimbang Baling #4: hari valentine, pendakian mencret, dan cempedak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s