Rimbang Baling #5: perjumpaan dengan ulat genit

Bangun di pagi hari ini menandakan ini adalah hari ke-3 dalam perjalanan kami di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Camp kami, bernama Camp Tangga Jempol, persis menghadap sungai. Camp yang tim bangun dari kayu dan bumbu memiliki kisah tersendiri dengan namanya. Ceritanya, saat membangun bagian tangga dari camp ini, jempol tangan kiri bang Fendy terkena parang, sehingga jadilah camp ini dinamanakan Camp Tangga Jempol.

Hujan yang turun semalaman menyisakan awan mendung. air sungai yang terlihat berwarna keruh, permukaannya pun sedikit lebih tinggi dibandingkan sore sebelumnya. Biji cempedak rebus yang aku makan tadi malam seakan memberi dorongan lebih untuk segera memenuhi panggilan ritual pagi.

Untuk pengambilan kamera pada blok ini, kami membagi diri menjadi 2 tim; aku dan bang Fendy, sementara bang Atta bersama mas Agung. Bang Amri sendiri kebagian menjaga camp. Karena lokasi kamera bang Atta lebih jauh, maka mereka mendapat prioritas untuk membawa bekal.

“Bang Fendy, rute kita bagaimana?” tanyaku saat kami mulai jalan. “Rutenya? hanya ada satu tanjakan kok” jawab bang Fendy santai. Aku yang mendengar itu langsung tersenyum lega. Tapi beberapa saat kemudian, bang Fendy yang berjalan di sampingku melanjutkan, “dibaliknya ada satu tanjakan lagi. setelah itu satu tanjakan lagi. abis itu ya ada tanjakan lagi.. begituu seterusnya”. aku bengong selama sesaat sebelum menyadari bahwa bang Fendy sudah berada di depanku tampak berjalan cepat. tak lama suara tawanya menggantikan suara serangga hutan, “hahaha… kena ya aku kerjain” menyadari itu mau tak mau aku ikut tertawa. dengan tripod mengacung di tangan, aku berlari mengejar bang Fendy yg telah lebih dulu berlari menjauh.

Kejar-kejaran itu hanya bertahan sebentar. berlari di tanjakan itu, terlebih sambil tertawa cukup menguras energi. yang asik dari tanjakan yang kami lalui kali adalah tanjakan panjang yang bersih. aku menamakan bukut ini sebagai bukit palem karena sepanjang penggungan terdapat banyak tanaman palem. Diantara palem-palem tersebut kami mendengar nyanyian Siamang, Symphalangus syndactylus. Suaranya jelas dan terasa dekat sekali dengan kami. Kami pun berjalan dengan hati-hati, berupaya sebisa mungkin tidak bersuara dan berharap dapat melihat Siamang tersebut. Mas Agung yang pertama kali memberi kode bahwa dia melihat Siamang. Aku bergegas menuju ke tempat mas Agung berdiri. Diantra hijaunya tajuk pepohonan, aku berusaha mencari sosok hitam. Kamera kusiapkan di atas tripod. Namun Siamang yang sepertinya mengetahui keberadaan kami berhenti bernyanyi dan terdengar tidak nyaman dengan kehadiran manusia di dekatnya.

Bang Fendy berkata dia melihat ada induk yang membawa anak. woww kalau bisa terfoto atau terekam kamera pasti sangat keren. sayangnya kameraku punya zoom terbatas, tidak mampu menjangkau obyek yang jauh, pun siamang tersebut mulai pindah. Aku bisa melihat ada dua sosok hitam berayun diantara dedaunan yang membentuk kanopi hutan. Aaah aku memang tidak melihat jelas mereka tapi pengalaman ini membuatku sungguh terkesan. Menyaksikan siamang berayun siamang berayun diantara kanopi yang lebat di punggungan bukit ini jauh lebih damai rasanya ketimbang melihat tayangannya di TV, karena jelas ini lebih nyata dan aku senang mengetahui mereka masih hidup liar dan mendiami hutan Rimbang Baling.

Kamera yang aku ambil bersama bang Fendy berada pada jalur satwa di punggungan bukit. Jalurnya bagus, lurus dan jelas. Dari hasil kamera kami mendapat kucing emas Pardofelis temmincki dan macan dahan Neofelis diardi. Sayang, sang datuk tidak ada yang terfoto. Padahal kata bang Fendy, bulan lalu di lokasi ini keberadaan harimau berhasil di terfoto. Mungkin harimau tersebut menjelajahi bagian lain dari hutan Rimbang Baling dan belum kembali di lokasi kamera ini. Di daerah perbukitan, homerange harimau lebih luas dibandingkan harimau yang di hutan dataran rendah karena ini terkait dengan ketersediaan pakannya. Di dataran rendah, jenis satwa mangsa lebih bervariasi, jumlahnya pun lebih melimpah dibandingkan di dataran tinggi.

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

Dalam perjalanan kembali ke camp, ada burung pelatuk ayam yang menemani kami mengambil gambar jamur kecil di sebuah batang pohon mati. Saat menuruni tanjakan yang pagi tadi kami lalui, bang Fendy tak sengaja tersengat ulat bulu. Karena ulat bulunya masih menempel di balik daun, maka kami coba melihat seperti apa ulat bulu yang telah genitnya mencium bang Fendy. Rupanya sang ulat pantas untuk berlaku genit karena ulat bulunya cantiiik  sekali. Warna oranye ngejreng, plus banyak durinya seperti buah durian. keren! Tapi untuk jenisnya kami belum tahu. Kalau ada pembaca yang tahu, atau kenal dengan orang yang mungkin tahu jenis ulat bulu ini, tolong kami dikabari ya. Terima kasih sebelumnya.

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

Masih dalam perjalanan kembali ke camp, kami bertemu rombongan bang Rawis yang kala itu sedang menandai beberapa pepohonan dengan cat warna biru. Bang Fendy sedang ngobrol dengan beberapa orang dari rombongan tersebut ketika seorang bapak umur sekitar 40an awal tiba-tiba saja menebang sebuah pohon muda di dekatnya. Aku melongo sekaligus dongkol. Apaan sih orang ini ga penting dan merugikan banget kelakuannya.

Mas Agung dan bang Atta pulang sekitar jam 5 sore dan membawa sekantung plastik cempedak hutan. Waaa… pesta cempedak! aku makan cempedak sampai sampai perutku tak sanggup lagi menerima. ini yang namanya kalap bin gragas, hahaha.

Bang Fendy+bang Atta+mas Agung hendak pergi memancing ketika bang Rawis dan beberapa kawannya datang ke camp kami. Mereka meminta peta kawasan Rimbang Baling untuk dijadikan acuan menandai lahan yang hendak mereka buka dan tanami dengan tanaman karet. Sewaktu kami di drop 3 hari yang lalu, aku melihat bang Zul memberikan peta ke mas Agung. Namun aku tau baik mas Agung maupun bang Fendy tidak akan memberikan apapun kepada mereka. Bang Fendy hanya menjawab singkat bahwa tim tidak membawa peta apapun karena sudah hapal rute yang harus dilewati. siip!

Kami baru makan malam ketika jam menunjukkan hampir jam 10 malam karena menunggu hasil mancing teman-teman. Lumayan ikan yang berhasil diperoleh, tidak hanya untuk makan malam kali ini tapi juga untuk keperluan makan besok hari. Untuk menu malam ini kami makan gulai ikan + labu siam. slruuuppp uenak tenan.

About these ads

One thought on “Rimbang Baling #5: perjumpaan dengan ulat genit

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s