Rimbang Baling #7: buah tampui dan telur kuau

Hari ini adalah hari mencuci dan menjemur, yeiii.. Berhubung kemarin seharian jalan di sungai dan beberapa baju basah juga, pagi-pagi kami serempak deh mencuci. Bang Atta mencarikan akar pohon untuk dipakai sebagai tali jemuran. Matahari juga mendukung karena sudah sejak pagi dia datang bersinar dengan ceria. Hari ini kami akan mengambil kamera di satu lokasi dan jaraknya cukup dekat jadi berangkatnya setelah makan siang nanti.

Setelah mengambil kamera, rencananya teman-teman akan pergi memancing di hulu sungai. Bang Atta, bang Fendy dan bang Amri pun menyiapkan peralatan mancing. Oh ya saat kami baru selesai mencuci, rombongan bang Ramis telah tiba di sungai tempat camp kami. Mereka cepat juga lho jalannya, pagi-pagi sudah sampai di titik sungai ini. Aku hanya melihat mereka dari camp, dari seberang sungai. Mereka masih akan melanjutkan survei lahan sekaligus menandainya dengan cat biru. Kalau mereka akan membuka 5000 hektar, berarti setidaknya satu harimau betina akan kehilangan daerah jelajahnya, tempat hidup dia mencari makan dan membesarkan anak-anaknya. Aku memandangi sekitarku, sungai berbatu yang jernih, hutan yang lebat hijau, tak lama lagi akan berubah wajah jika rencana pembukaan lahan ini menjadi kenyataan.

Rute menuju camera trap

Rute menuju camera trap

Mas Agung tinggal menjaga camp dan menjaga semua jemuran kami. Kami berempat mulai menyusuri hulu sungai. Aku memakai kaos kaki bersih yang kering jadi aku berupaya sebisa mungkin mencari tempat yang dangkal agar kaos kakiku tidak basah. Setelah beberapa saat berjalan di sungai, kami mulai masuk hutan. Semakin ke hulu, batu-batu sungai semakin besar. Bagiku ini agak menyulitkan karena aku takut tergelincir dan jatuh. Aku ngeri nih kalau jatuh di sungai, sudah basah, pasti juga sakit karena batu itu pastinya keras kan. Namun bang Atta lagi-lagi membuatku takjub. Dengan mudahnya dia mengayunkan kakinya berpindah dari satu batu ke batu lain. Sementara dia berpindah dengan lincah dan cepat, aku bergerak sungguh lambat seperti siput yang sedang malas bergerak. Tertatih memilih bagian mana, batu yang mana yang cukup aman kupijak. Bang Atta dengan baik hati menunjukkan jalan mana yang mudah untuk dilewati. Sedangkan bang Amri tepat di belakangku mengawasi. Kadang-kadang kalau musti meniti batang pohon di sungai, bang Amri akan menjulurkan tangannya untukku sebagai pegangan. Ya.. meniti kayu tanpa pegangan membuatku tidak berdaya. Aku tidak percaya pada keseimbanganku.

Terkadang kami melintas di dalam hutan jika air sungai terlalu dalam untuk dilewati. Di beberapa bagian sungai selalu ada lubuk. Nah lubuk inilah tempat tinggal banyak ikan. Melewati lubuk tidak disarankan karena dalamnya bisa setinggi aku bahkan lebih. Begitu masuk hutan langsung disambut oleh pendakian. Pendakiannya tidak begitu sulit meski sedikit tajam. Setelah itu kami melalui terowongan alami, yaitu jalur satwa pada bagian punggungan bukit. Sayangnya dari hasil dua unit kamera jebak yang kami pasang tidak mendapatkan gambar si datuk belang, padahal mangsanya, babi hutan, kijang, dan beruk begitu banyak melimpah. Kemana harimau pergi di hutan Rimbang Baling ini? apakah sudah terlalu banyak yang diburu atau mereka hanya sekedar tidak melewati jalur kamera kami? yaa ada begitu banyak jalan, punggungan, dan sumber air di setiap lembah. Harimau dapat berjalan kemanapun dia suka. Tapi bukan kah harimau biasanya mengikuti kemana mangsanya pergi?

Buah Tampui

Buah Tampui

Dalam perjalanan menuju sungai, kami mengambil buah Tampui. Nah ini dia buah ketiga yang aku temui dalam perjalananku di Rimbang Baling. Setelah Cempedak, Rambai, kini giliran Tampui. Seperti halnya buah Rambai yang baru kali ini kujumpai, perjumpaan dengan buah Tampui bagiku adalah yang pertama kali. Kulit buahnya berwarna oranye tua seperti warna kulit sang datuk belang. Ukuran dan isi buahnya seperti manggis. Isi buahnya ada 4-6 biji, tergantung besar buahnya. Rasa buah Tampui manis dan sedikit pahit. Kata bang Amri, rasa pahit ini karena buahnya sedikit terlalu masak. Kata Wikipedia, buah tampui hanya ada di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Ternyata buah ini masih berkerabat dengan buah Rambai, buah aku jumpai sebelumnya dalam perjalanan ini.

Sembari mencicipi buah Tampui ini aku berpikir, betapa banyaknya sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita, manusia. Udara yang segar, air yang begitu jernih, pemandangan yang indah, buah-buahan pemberi energi dan vitamin, ikan sungi yang lezat, kayu, akar serta rotan, burung dengan kicauan dan warnanya yang beraneka, gerak-gerik serta suara satwa liar yang misterius sekaligus membuat takjub, semua.. semua ada ketika hutan masih alami, masih utuh, tidak terganggu ataupun rusak. Tanpa mengubah wajah hutan, manusia dapat mengambil banyak manfaat, manusia dapat hidup dari hutan. Kita hanya perlu menggali, mencari tahu tentang sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk hidup. Hutan menyediakan semua yang manusia butuhkan untuk hidup. Untuk hidup, bukan untuk sekedar gaya, atau pamer, atau untuk memuaskan ego. Kita hanya perlu bijak dalam memanfaatkan itu semua sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang, oleh generasi kita saat ini dan generasi yang akan datang. Sudah sangat banyak hutan-hutan alam yang berubah menjadi perkebunan, aku dan tim sangat beruntung masih berkesempatan menikmati hutan Rimbang Baling ini.

Bang Atta mengejutkan lamunanku dengan sebutir telur di tangannya. “Ini telur Kuau” katanya. “Lho kok bisa sama bang Atta?” tanyaku. “Iya ga sengaja ketemu waktu mau mengambil Tampui, rupanya ada Kuau dekatnya, hampir aja ketangkap, tapi langsung lari dan ninggalin telurnya”, terang bang Atta. Ternyata tanpa kami sadari, ada burung Kuau dekat kami berjalan, sayang tidak sempat terlihat olehku. Melihat satwa liar dengan langsung di habitatnya di hutan hujan tropis seperti di Sumatera adalah sebuah kesempatan langka. Jika mendapat kesempatan itu, artinya kita mendapat anugrah. Telur kuau yang diserahkan ke bang Atta kepadaku terasa hangat tapi segera kuserahkan kembali padanya, “masih hangat nih, taruh kembali ih di sarangnya, siapa tau lagi dierami”. Udah bawa aja, kuau pasti ga balik lagi kesini. Kalau tempatnya sudah diketahui manusia, ga mau lagi dia balik, langsung nyari tempat lain. Bang Fendy lalu mengambil telur yang di tanganku dan berkata, “ini baru keluar telurnya, belum dierami, makanya masih hangat, baunya pun amis, coba cium”. Aku mendekatkan telur itu ke hidungku, tapi tidak tercium bau apa-apa. Mungkin indra penciumanku sedang eror nih, hahah. Burung Kuau Raja (Argusianus argus), disebut juga sebagai burung Merak Sumatera, adalah jenis burung yang tidak dapat terbang. Jika Merak di Jawa berwarna hijau maka Kuau ini berwarna coklat dan biru. Suaranya yang merdu dapat kita dengar setiap kali berada di dalam hutan. Nama Kuau mungkin berasal dari suara yang dikeluarkannya, “uau…” kira-kira seperti itu lah yang aku dengar tiap hari selama berada di hutan Rimbang Baling ini.

Telur kuau bentuknya seperti telur ayam, berwarna krem, dengan satu ujungnya yang sangat lancip. Kami putuskan untuk membawa telur kuau pulang. Kami tidak langsung pulang ke camp melainkan melanjutkan perjalanan ke bagian hulu sungai. Ada lubuk yang kami tuju. Aku tidak ikut memancing, hanya menemani bang Atta+bang Fendy+bang Amri. Hari masih terang ketika kami tiba di lubuk tujuan. Memancing disini mereka menargetkan ikan baung. Ikan baung termasuk ikan sungai yang menjadi kesukaan kami. Bentuknya mirip dengan ikan lele, hanya ikan baung tidak pipih dan dagingnya lebih tebal dibanding lele. Memancing ikan baung biasanya dilakukan malam hari karena pada saat gelap lah ikan baung keluar dari persembunyiaannya untuk mencari makanan. Mula-mula bang Atta yang mendapat ikan, seekor baung kecil. Lalu bang Fendy mendapat ikan tilam. Setelah itu cukup lama teman-teman tidak mendapat apapun. Bang Amri sendiri belum juga berhasil mendapat ikan satupun, tapi tali pancingnya sudah putus sampai 2x karena tersangkut ranting kayu. Baru ketika matahari telah kembali ke peraduannya dan hari menjadi gelap, bang Fendy pindah ke seberang lubuk. Tak lama kemudian umpannya dimakan, seekor baung cukup besar ada di ujung pancingnya, “rajo gedek” serunya bersemangat. Rajo gedek adalah sebutan untuk ikan baung yang besarnya seukuran pandang lengan atau lebih. Malam telah turun dengan penuh dan kami ditemani suara air sungai yang mengalir, serangga dan burung kuau. Setelah mendapat tujuh ekor ikan, kami putuskan untuk kembali ke camp.

Lubuk sungai tempat mancing

Lubuk sungai tempat mancing

Jika pada saat berangkat tadi aku berjalan dengan sangat hati-hati karena jalur sungai yang kami lewati, maka perjalanan malam hari membawa sensasi yang sangat berbeda. Hutan di saat malam, terlebih tanpa sinar bulan, sungguh sangat sangat gelap. Kami berjalan hanya mengandalkan senter kecil di kepala masing-masing. Kami berusaha menjaga jarak agar antara satu dengan yang lain tidak terpisah jauh. Meski sudah memiliki senter sendiri, saya masih tetap kelabakan dengan perjalanan kembali ke camp saat ini. Khawatir jatuh, tersesat, disergap segerombolan pacet, diserunduk babi hutan, dll melonjak 10x lipat dibanding saat berjalan di hari terang. Sempat dalam hati aku menyesali kenapa tadi pagi tidak tinggal di camp saja menjaga jemuran. Tapi begitu setitik cahaya tampak tak jauh di depan dan kami memasuki bagian sungai yang aku kenali, aku langsung merasa tenang dan penyesalan yang tadi ada lalu kutepis jauh-jauh. Tinggal di camp memang tidak membuatku harus komat-kamit dalam hati membaca doa meminta perlindungan sepanjang perjalanan, tidak membuatku mengucurkan peluh, tidak membuatku takut jatuh; tapi dengan ikut perjalanan hari ini, pengalaman serta pengetahuanku bertambah dan isi hutan rimbang baling dapat kunikmati, sebagai rimbawan yang hidup di maha taman rimba rayanya. Dalam hati aku puas dengan pilihan yang aku buat. Kalau memang ada banyak pacet yang menghinggap, ya pas nanti mandi ajalah baru panik ;-)

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s