Indah Namun Terancam: Rafflesia, Harimau dan Danto

Bunga Rafflesia Merah-Putih

Bunga Rafflesia Merah-Putih

Alam kita ini kaya namun juga terancam oleh keserakahan manusia, kenapa? Karena semua itu ada di sana. Menariknya, dari sekian banyak hutan yang saya datangi, baru di Lanskap Rimbang Baling sebagai salah satu bentang alam yang terletak di Sumatera bagian tengah. Di sana terhampar berbagai bukit yang menawan yang dialiri puluhan anak sungai.

Selama saya menjelajahi kawasan tersebut, saya menjumpai bunga Rafflesia yang ternyata teridentifikasi sebagai rafflesia merah atau yang biasa juga disebut Cendawan Muka Rimau (Rafflesia hasselti). Saya pun mencoba menelusuri bunga unik dan langka ini melalui sumber atau referensi. Bunga Rafflesia adalah genus tumbuhan bunga parasit. Ia ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818 dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu. Ia terdiri atas kira-kira 27 spesies (termasuk empat yang belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti yang dikenali oleh Meijer 1997), semua spesiesnya ditemukan di Asia Tenggara, di semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun ataupun akar yang sesungguhnya. Rafflesia merupakan endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma (famili Vitaceae), menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima. Pada beberapa spesies, seperti Rafflesia arnoldii, diameter bunganya mungkin lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm. Bunganya tampak dan berbau seperti daging yang membusuk, karena itulah ia disebut “bunga bangkai” atau “bunga daging”. Bau bunganya yang tidak enak menarik serangga seperti lalat dan kumbang kotoran, yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina.

Tak jauh dari bunga langka ini saya menemukan tanda keberadaan harimau Sumatera berupa jejak. Senang dengan temuan keberadaan harimau, saya pun mencoba mencari tanda keberadaan lainnya disekitar lokasi, saya terperangah saat menemukan bekas jerat yang mengindikasikan jerat itu adalah jerat harimau dan dari pengamatan saya, dilihat dari bekas cakaran di pohon sekitar jerat dan tanaman muda yang ambruk semua, jerat ini telah mendapat harimau.

Siapa yang tidak tahu harimau yang saat ini di Indonesia hanya ada di Sumatra. Harimau Sumatera dalam bahasa ilmiahnya disebut Panthera tigris sumatrae adalah subspesies harimau terkecil di dunia. Harimau Sumatera cenderung mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya yaitu mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala rapat.

Pada hari yang sama, saya juga melihat beberapa ekor burung rangkong terbang dengan suaranya yang bergemuruh memecah keheningan rimba. Rangkong yang saya temui adalah dari jenis rangkong papan dengan nama latin Buceros bicornis. Masyarakat Sumatera Barat mengenalnya dengan sebutan Burung Danto. Burung rangkong papan dewasa berukuran sangat besar, dengan panjang mencapai 160cm. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, dan tanduk kuning-hitam di atas paruh besar berwarna kuning. Kulit mukanya berwarna hitam dengan bulu leher berwarna kuning kecoklatan. Bulu ekor berwarna putih dengan garis hitam tebal di tengah. Tanduk burung Rangkong Papan berongga dan tidak padat. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah dari matanya. Mata burung betina berwarna biru, sedangkan burung jantan bermata merah. Burung cantik ini mendiami hutan – hutan hujan yang masih memiliki tutupan pohon tinggi yang saat ini kian sulit ditemui akibat perambahan dan pembalakan liar. Burung ini sangatlah cantik dengan cula yang ada diparuhnya sehingga mengundang beberapa pemburu akibat dari tingginya permintaan akan paruh tersebut. Kita bisa bayangkan untuk paruh burung yang bagus, harganya hingga 6 juta rupiah.

Sayangnya, perasaan yang gembira dan berbunga bunga bak sepasang kekasih yang baru berjumpa setelah sekian lama berpisah ini langsung hilang seketika. Kenapa demikian, karena saya bertemu dengan 2 orang pemburu yang sedang menenteng senapan angin model Lee Enfield Cal. 5,56. Kami berbincang sekitar 1 jam diatas punggungan bukit yang menjadi saksi bisu pertemuan yang tidak pernah direncanakan ini. Saat saya tanya berburu apa “ kami berburu burung Danto nak “ jawab mereka dengan entengnya.

Penangkapan liar dan hilangnya habitat hutan mengancam keberadaan spesies ini. Burung Rangkong Papan dan Harimau sumatra dievaluasikan sebagai hampir terancam di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Pertanyaan saya adalah : Dimanakah para penegak hukum negeri ini? Ada apa dengan Undang Undang Konservasi Hayati?

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00(seratusjuta rupiah)

Oleh: Agung Suprianto.

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau_sumatera.

http://id.wikipedia.org/wiki/Raflesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Rangkong_papan.

Di Balik Cerita Lama Sang Penginput Data

Masih terlintas dipikiran kenangan waktu jumpa pertama kali dengan sang raja hutan “Harimau” langsung di alam liar. Tanggal saya sudah lupa tapi tahun masih ingat, yaitu tahun 2008 saat pemasangan kamera jebak di Taman Nasional Tesso Nilo. Kala itu saya bersama tim mengecek kamera jebak di blok paling bawah TN Tesso Nilo untuk menuju camp pertama kami melewati akasia HPH Rimba Lazuardi atau kami menyebutnya “RL”. Satu tim terdiri dari empat orang dengan dua leader untuk teknisi pemasangan kamera jebak dan dua lagi dari masyarakat lokal.

Singkat saja pagi yang indah di Camp Gerhan selesai sarapan tim dibagi menjadi dua untuk mengecek dua lokasi pemasang kamera jebak yang dipasang secara sistematis. Dari Camp Gerhan ke lokasi kamera sekitar empat kilometer kalau berjalan lurus. Hari itu tidak ada firasat buruk dari saya hingga tiba di perbatasan akasia dan hutan muda atau disebut belukar di jalan eks HPH Inhutani 4 tepatnya di tanah lapang berpasir yang belum tertutup dengan pakis resam, saya bersama tenaga lokal menjumpai jejak dari sang raja hutan berserahkan dimana-mana dan sempat-sempatnya sang raja hutan juga buang air kencing di jalan yang kami lalui.

Semakin semangat saya untuk cepat mengecek kamera jebak yang terpasang karena saya berpikir sang raja hutan akan lewati kamera jebak. Langkah kakiku mulai dipercepat menelusuri jejak sang raja hutan yang kebetulan satu arah menuju pengecekan kamera jebak. Sekitar 300 meter saya berjalan setelah melewati pakis resam kami menjumpai jejak sang raja hutan berserahkan di tanah berpasir sepertinya sang raja hutan bermain-main berguling-guling di pasiran. Rasa penasaran saya semakin kuat kalau sang raja pasti lewat kamera yang kami pasang, di perkirakan sekitar 1 kilometer jarak lokasi pemasangan kamera jebak .

Saya coba mengikuti terus jejak sang raja hutan sampai di jalan eks logging lama hingga jelan yang tadinya lebar menjadi menyempit karena tertutup oleh pakis resam dan hanya bisa dilewati oleh orang. Sekitar dua meteran saya lewati pakis resam dan langsung terpanah kaget melihat sang raja hutan sedang santai berbaring sambil menatap saya beberapa detik beratapan sang raja hutan langsung berlari menembus belukar sekencang-kencangnya dan saya pun terpukau terdiam seperti patung.

Kalau mengingat kejadian itu ada perasaan senang ada juga perasaan sedih. Senangnya saya bisa melihat jelas tatapan mata sang raja hutan predator tingkat atas rantai makan. Tatapan sang raja hutan itu membuat saya tidak bisa bergerak selama beberapa detik, hanya bisa berdiri melihatnya saling tatap hingga sang raja hutanpun lari dengan kencangnya.

Sempat terlintas dipikiran seandainya sang raja itu menerkam apa yang bisa saya lakukan dengan jarak sekitar tiga meter walaupun memegang sebilah parang apa saya sanggup untuk melawannya??? tanda tanya besar untuk saya sendiri tapi mungkin Tuhan berkata lain dan hingga saat ini saya masih bisa menulis cerita pendek yang bisa dibagikan dan dibaca.

Enam tahun sudah berlalu kini seiring waktu yang bergulir seiring juga habitat sang rasa hutan dikit demi dikit habis untuk pembukan ladang  oleh orang-orang yang tidak bisa berbagi ruang untuk satwa liar dan hanya berpikiran untuk masa depan mereka.

Disini saya di depan komputer hanya bisa melihat sang raja hutan melalui hasil foto-foto yang pernah terdokumentasi oleh kamera jebak, hutan-hutan yang pernah saya kunjungi untuk penelitian bersama teman-teman satu tim riset pun banyak terganti oleh sawit.

Tas ransel yang dibawa bukan seberapa beratnya, tapi ada hal kebahagian ketika itu untuk menemukan sang raja hutan walaupun dengan cara melihatnya melalui kamera jebak. Itu saja membuat kami bahagia. Setiap medan yang curam terjal selalu menjadi tantangan di setiap lokasi yang berbeda punya cerita-cerita yang unik.

 

FTT

 

Mungkin suatu saat nanti peran saya akan tergantikan oleh jiwa-jiwa muda yang bersemangat untuk sang raja hutan tetap berada di alam liar dengan habitatnya tanpa ada gangguan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab…

 

Sejuta Cerita di Bukit Rimbang Bukit Baling

Damai sekali rasanya apabila kita bisa sampai di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Hutan lindung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat ini memiliki luas 136.000 ha. Ada beberapa sungai  mengalir di dalamnya, salah satu diantaranya ialah Sungai Subayang yang merupakan ikon kawasan lindung ini. Banyak sekali masyarakat tinggal disepanjang aliran sungai ini, dan mayoritas adalah Suku Melayu. Mereka sangat menjaga kebersihan sungai, airnya bening dan nyaris tidak ada sampah. Disetiap desa memiliki lubuk yang tidak boleh diganggu ikan-ikannya, baik itu dipancing ataupun dijala, mereka menyebutnya Lubuk Larangan. Sekali dalam setahun apabila waktunya sudah tepat dan kondisi air sedang dangkal, barulah lubuk ini akan dipanen. Beberapa dari penduduk yang tinggal disepanjang sungai ini bermata pencaharian sebagai pencari ikan.

Jonson

Jonson

Sarana transportasi yang digunakan masyarakat ialah perahu mesin atau biasa dengan sebutan Jonson atau Robin (sayangnya bukan Batman dan Robin). Perahu yang berkapasitas 7 hingga 10 orang ini mereka gunakan untuk kegiatan sehari-hari, diantaranya untuk mencari ikan, membawa getah, melangsir bahan bangunan, bahan makanan dan lain-lain. kendaraan ini ibaratnya merupakan nyawa mereka. Bisa dibayangkan apabila perahu ini tidak menggunakan mesin dan mendayung sampan dengan arus sungai yang lumayan deras, pasti akan sulit sekali dan waktu tempuh akan menjadi lebih lama. Senang sekali melihat perahu-perahu ini hilir mudik disepanjang Sungai Sebayang ini, disamping itu masyarakatnya juga sangat ramah.

Pada hari pertama perjalanan, sebelum masuk ke dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling, terlebih dahulu kami singgah di stasiun riset yang dibangun oleh WWF. Alangkah indah tempat ini. Sejak awal hawa sejuk telah menyambut kedatangan kami. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun yang dibangun tahun 2012. Sungguh sangat nyaman sekali bisa tinggal dan bermalam disini. It’s Amazing!

IMG_6824

Stasiun Riset Subayang

Padahal itu baru luarnya saja, bagaimana di dalamnya??

Satu malam kami tinggal dan beristirahat untuk persiapan perjalanan berikutnya. Pagi menjelang, kicauan burung dan teriakan ungko membangunkan tidur kami yang sangat lelap, ditambah lagi cuaca yang sangat cerah, seolah mendapatkan semangat baru, sungguh menenangkan pikiran. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat ini, tapi perjalanan harus tetap dilaksanakan untuk sebuah misi yang lebih berharga lagi yaitu mencari keberadaan Si Datuk Belang yang juga merupakan salah satu satwa endemik Pulau Sumatera yang tinggal di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Dihari kedua kami bergegas menuju Desa Dua Sepakat yang berada di hulu Sungai Bio dengan menggunakan Robin. Di dalam perahu terdiri dari 2 (dua tim), yaitu tim 1): Zul, Awir, dan dua orang masyarakat tenaga lokal dari Desa Tanjung Belit. Sedangkan tim 2): saya sendiri, Leonardo, Defni dan Ibrahim. Sementara tim 3): .Kusdianto, Agung, Gebok dan Raus yang masuk dari Desa Mangunai Tinggi di Sumatera barat. Sepanjang perjalanan menuju Desa Dua Sepakat, banyak moment yang bisa kita foto apabila kita membawa kamera, diantaranya ada air terjun, beruk, pantai berbatu, lanskap dan beberapa jenis burung.

Hampir dua jam perjalanan kami berada di dalam perahu menuju desa. Setelah sampai, kami berhenti sejenak untuk berbincang kepada masyarakat di sana untuk sekedar meminta izin dan memberitahukan kegiatan yang akan kami lakukan. Setelah semua telah beres, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Desa Ngungun yang merupakan desa terakhir untuk mendekati kawasan. Jarak dari Desa Dua Sepakat dan Desa Ngungun ini kurang lebih satu jam ditempuh dengan berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor.

Kedua tim beriringan menyusuri jalan yang baru saja didozer menuju Desa Ngungun. Cuaca yang sedikit mendung tak menyurutkan perjalanan kami, ditambah lagi beban yang didalam carrier masih berisi penuh dengan peralatan logistik dan peralatan lainnya. Inilah awal dari petualangan yang sebenarnya, lengkap dengan seragam lapangan, carier dan sepatu boat menambah rasa percaya diri. Tim terlihat gagah dengan ini semua. Pohon yang berdiri tegak dengan daun yang hijau seperti payung yang selalu menjaga kami sepanjang perjalanan.

Setelah sampai di desa ini, kami disambut oleh salah satu masyarakat dan ditawari untuk beristirahat dirumahnya, kami seperti dapat keluarga baru yang begitu baik disini. inilah hidup, perlu rasa peduli antara satu dengan yang lain.

Keesokan harinya pada hari ketiga, kami 2 tim masih bergerak beriringan menuju pinggir grid 17 x 17 dan belum bisa melakukan survey. Kegiatan kali ini adalah survey occupancy mencari tanda keberadaan Harimau Sumatera berdasarkan tanda berupa cakaran di tanah atau di pohon, kotoran dan juga informasi dari masyarakat setempat yang bermukim di sekitar kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling, yang dibagi 20 transek per setiap timnya dalam satu blok .

Kondisi carier masih dipenuhi logistik dan peralatan lainnya, meski lokasinya belum begitu berbukit, tetapi cukup untuk menguras sedikit tenaga. Ada satu kejadian yang sangat lucu pada saat perjalanan ini. Ibrahim adalah salah seorang tenaga lokal baru dari Redang, baru kali ini dia ikut survey, mandah di hutan apalagi menyandang carier adalah dua hal yang baru bagi Ibrahim. Hari pertama dan kedua masih aman karena belum memasuki hutan, baru pada hari yang ketiga mulai berangsur masuk kedalam kawasan.

Dihari yang ketiga ini ada satu kejadian yang sangat tersimpan diingatan saya. Saat kami sedang beristirahat dan menyandarkan karier kami di pohon tumbang yang melintang, semua masih dalam keadaan oke. Ibrahim pun tiba dan langsung ikut meletakkan cariernya di kayu yang sama, tetapi agak sedikit tinggi dari posisi kami yang lebih dulu sampai, maklum aja masih pemula jadi sering tertinggal dibelakang.

Saat kami tengah enak beristirahat, tiba-tiba bunyi “gedebukkk!” spontan kami menolah ke asal suara itu. Ternyata Ibrahim tengah terjungkal ke belakang dibawa oleh carier yang disandangnya. Kami semua kaget, bahkan ada yang ingin tertawa saat melihat kejadian itu, tapi coba ditahan agar Ibrahim tidak malu. Saya langsung bergegas mendekati untuk membantunya yang sedang berusaha untuk membalikkan badannya. Kedua kaki Ibrahim bergerak mengais-ngais mencari tumpuan untuk berdiri, mirip sekali seperti kura-kura. Untung saja Ibrahim tidak mengalami cedera, namun mukanya terlihat pucat, entah karena kaget akibat jatuh tadi atau karena malu. Saya coba memberi semangat kepadanya agar mental tidak drop.

Setelah melanjutkan kembali perjalanan, tawa yang saya tahan sejak tadi terpecah mengingat kejadian Ibrahim yang jatuh tadi, tetapi tetap tanpa sepengetahuan beliau. Wah… sungguh perjalanan yang menyenangkan, tim yang sangat keren, senang sekali bisa mengenal mereka semua. Malam ini kami masih berada dalam satu tenda bersama dengan tim Zul dkk. Camp dibuat cukup besar yang dapat menampung 8 (delapan) orang, di dalam tenda saat malam hari tiba, tawa kami semua baru lepas saat cerita dibuka kembali, Ibrahim pun yang menjadi objek cerita juga ikut tersenyum-senyum. Semoga perjalanan bersama tim ini menjadi suatu bahan menarik untuk diceritakan ke anak cucu kita nanti…

Salam Rimba!

Fendy

Cerita Kecil tentang Pengamatan Harimau di Sungai Lisun

Jam menunjukan pukul 7.15  pagi, aku duduk di bangku teras rumahku sambil menikmati secangkir teh manis hangat dan menikmati hisapan demi hisapan asap rokok yang mengepul dimulut. Pagi itu, kamis tanggal 21 agustus 2014, diteras tersebut aku sedang menunggu driver Erizal datang menjemput karena rencananya pagi ini aku bersama teman-teman seperjuanganku akan berangkat menuju kota Sijunjung (Sumatera Barat) untuk melakukan kegiatan Survey Harimau dan satwa besar lainnya, tepatnya di hutan penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling yang sekarang dinamakan Koridor Rimba.

Ada sampai dua jam aku berada diteras rumah menunggu driver Erizal datang. Matahari pun sedikit demi sedikit mulai naik, menandakan hari semakin siang. Batang demi batangan rokokpun telah habis aku hisap dan teh manispun juga telah habis. Akan tetapi tanda-tanda kedatangan driver Erizal belum juga ada.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson mobil, ternyata itu suara klakson mobil yang dikendarai driver Erizal. Sebuah mobil ranger 4WD warna hijau lumut yang menjadi andalan ketika kami menjelajahi alam rimba.

Bergegas aku mengambil semua peralatanku. Mulai dari peralatan pribadi sampai peralatan survey, semua itu aku masukan kedalam mobil ranger yang telah parkir di depan rumahku. Setelah semuanya selesai dimasukan dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku bersama driver Erizal segera berangkat menuju kediaman teman-temanku yang lain untuk menjemputnya. Dimana teman-teman aku itu adalah Amri, Ali Usman dan Yulius Ependy.

Sesampainya di tempat mereka, aku melihat mereka masih asyik mengemas peralatannya masing-masing. Dan aku pun turun dari mobil untuk menghampiri mereka, serta ngobrol-ngobrol sejenak sebelum kami meluncur menuju kota Sijunjung.

Selesai berkemas, mereka langsung memasukan peralatannya ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat. Mobil yang dikendarai oleh driver Erizal melaju kencang di jalan raya Pekanbaru-Taluk kuantan.

Dalam perjalanan kali ini cuaca sedikit mendung, terlihat awan yang semula berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi hitam. Sepertinya akan turun hujan untuk membasahi bumi.

Memang, tidak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya yang membuat pandangan sedikit terhalang, sehingga driver Erizal sedikit memperlambat dan mengurangi kecepatan mobilnya.

Karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat maka target perjalanan hari ini tidak tercapai yaitu Kota Sijunjung. Kami pun beristirahat di Kota Taluk kuantan, rencananya perjalanan ini akan dilanjutkan esok harinya.

Pagi menjelang dan matahari telah memancarkan sinarnya di ufuk Timur. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kota Sijunjung, sebuah kabupaten yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat. Di daerah Sijunjung ini aku bersama teman-temanku akan melakukan survey nantinya. Sesampainya di Kota Sijunjung, kami menuju kesebuah desa yang berdampingan langsung dengan hutan yaitu Desa Pinang Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung.

Sebelum kita sampai di Desa Pinang Durian Gadang ini, kita dapat melihat pemandangan yang indah, bukit-bukit menjulang tinggi ditumbuhi pepohonan yang rimbun dan dinding-dinding batu yang menjadi penghiasnya.

Di Desa Pinang Durian Gadang ini kami menemui kepala jorong nya terlebih dahulu untuk melapor sebab kami memasuki daerah mereka. Setelah melapor dan meminta izin, kami mencari sebuah lokasi untuk bermalam dan beristirahat. Malam ini kami tidak menumpang menginap dirumah warga, akan tetapi kami mencari sebuah lokasi yang terdapat di ujung desa tersebut.

Di ujung desa tersebut ada suatu lokasi penghijauan yang dilakukan oleh pihak kehutanan, disitulah kami mendirikan tenda sebelum kami memasuki kawasan hutan untuk melakukan survey.

Esok harinya, mulailah kami melakukan kegiatan survey. Arah yang dituju adalah Sungai Lisun yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi kami sekarang.

Pertama kami memasuki pekebunan karet masyarakat setempat sebelum kami mencapai hutan. Kami terus bergerak kearah utara mencapai hutan yang lebat. Jalan yang di ikuti adalah jalan setapak yang terdapat dipunggungan bukit, jalan setapak ini sering digunakan masyarakat setempat jika mereka pergi ke daerah Sungai Lisun untuk mencari ikan, burung dan gaharu.

Setapak demi setapak kami berjalan, menuju bukit dengan ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Lambat tapi pasti kami terus berjalan sambil melakukan pengamatan terhadap apa yang ada disekeliling kami terutama pengamatan terhadap keberadaan Harimau maupun satwa besar lainnya.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, carriel dipundak tetap bergantung yang menambah beratnya langkah kaki. Namun, itu tidak menyurutkan langkah kaki kami untuk terus berjuang mendaki puncak 900 meter tersebut.

Selangkah demi selangkah akhirnya kami menyelesaikan transek yang pertama (1 x transek berjarak 1 km), di dalam satu transek terdapat 10 segmen (ruas-ruas transek, 1 segmen = 100 meter).

Selesai transek yang pertama, maka kami segera melanjutkan transek yang kedua. Puncak 900 meter masih jauh di depan, kami terus berjuang untuk mencapainya. Akan tetapi tak terasa hari sudah sore, matahari sudah condong ke arah barat, sedangkan puncak 900 meter masih berjarak sekitar satu kilometer lagi. Tentu saja dengan jarak satu kilometer tersebut terasa jauh, apalagi kondisinya menaik dan juga haripun sudah sore serta di atas puncak tersebut kami tidak akan mendapatkan air. Maka kami memutuskan untuk melereng bukit untuk mencari sumber air dan beristirahat disana. Melereng dan menurun mencari sumber air, melewati lereng yang berbatu. Sebelum senja merangkak, kami telah menemukan sumber air di sebuah lereng bukit, dan kami pun mendirikan tenda di sana untuk beristirahat.

Senja pun merangkak dan gelap datang tanpa diterangi sang rembulan. Kami pun beristirahat dibawa bentangan terpal hitam sebagai pelindung dari dinginnya malam.

Disaat pagi menjelang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak 900 meter dari permukaan laut untuk melakukan transek yang berikutnya. Semangat pagi dan tenaga penuh estra kami bergerak menuju puncak 900 meter tersebut. Mendekati puncak 900 meter, kami melewati jalan berbatu, perlu kehati-hatian untuk melewatinya, jika tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya. Batuannya cukup tinggi dan terjal, sehingga kami memerlukan bantuan tangan untuk menaikinya.

Dengan bercucuran keringat di badan, akhirnya kami tiba dipuncak 900 meter. Teriakan demi teriakan dilontarkan diatas puncak menandakan kami telah berhasil menaikinya.

Kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan yang indah. Terlihat bukit-bukit menjulang tinggi yang ditumbuhi pepohonan yang lebat dan rimbun. Sungguh indah alam ini, mari kita sama-sama menjaga keindahannya ini.

Di atas puncak tersebut; semilir angin, hangatnya matahari, rindangnya dedaunan membuat pikiran tenang dan mendadak ngantuk. Namun, perjalanan belum usai. Kami harus kembali menuruni puncak tersebut menuju sungai lisun.

Setelah melepaskan lelah dan penat serta menikmati pemandangan indah, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun. Langkah demi langkah kami tidak luput dari pengamatan. Sekitar 200 meter dari tempat kami beristirahat, kami menemukan kotoran yang kami perkirakan milik  harimau. Ukuran atau kondisi terkait kotoran yang kami amati itu kami tulis ke dalam buku data serta diabadikan dalam bidikan kamera yang selalu kami bawa untuk keperluan dokumentasi.

Setelah kotoran itu dicatat ke dalam buku data dan diabadikan dalam bidikan kamera, maka kami kembali melanjutkan perjalanan. Berjarak 100 meter, kami kembali menemukan kotoran tersebut, sepertinya puncak bukit ini sudah menjadi pelintasannya. Dan sangat cocok sekali jika disini dipasang kamera jebak untuk mengambil gambarnya secara langsung. Kami kembali mencatat kotoran tersebut ke dalam buku data yang tak lepas dari genggaman.

Selesai mendata kotoran harimau, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun dengan menuruni puncak 900 meter ke arah utara. Menurut info dari masyarakat setempat bahwa sungai tersebut dijadikan tempat masyarakat untuk mencari ikan. Sebab dikatakannya sungai ini terkenal dengan banyak ikan berbagai jenis, salah satunya adalah ikan baung dan ikan barau. selain itu, lokasi sungai ini juga dijadikan masyarakat untuk mencari burung dan gaharu.

Dalam perjalanan menuju Sungai Lisun, banyak bekas-bekas camp/tenda masyarakat yang kami temukan, kemungkinan ini digunakan untuk beristirahat sebelum mereka sampai ke tujuannya.

Sesampainya di sungai, kami mencoba mencari lokasi untuk mendirikan camp. Kebetulan waktu itu kondisi sungai sedang surut. Terlihat bebatuan pada sungai tersebut sudah banyak yang berlumut, sepertinya sudah lama tidak terjadi banjir pada sungai ini.

Pagi yang cerah, sang mentari memancarkan sinarnya dari ufuk Timur. Kami bergegas menuju hulu Sungai Lisun untuk melakukan survey, mencari keberadaan Harimau dan satwa lainnya. Menyusuri sungai dengan melawan arus, sekitar tiga kilometer atau sekitar tiga transek yang dilakukan. Dalam tiga transek tersebut, kami menemukan beberapa tanda keberadaan satwa, seperti Tapir dan Babi hutan. Selain temuan satwa, kami juga menemukan beberapa bekas pondok masyarakat yang terdapat dipinggir-pinggir sungai. Sepertinya Sungai Lisun ini menjadi tempat yang strategis untuk masyarakat mencari kebutuhan hidup, seperti mencari ikan, mencari burung dan mencari gaharu.

Sungai Lisun juga menjadi tempat dimana kami melakukan survey. Setelah melakukan survey dibagian hulunya, kami melanjutkan survey ke arah hilirnya. Dipinggir-pinggir sungai ini terdapat banyak jalan setapak masyarakat, sehingga dengan mudah kami mengikuti jalan setapak tersebut menuju arah hilir sungai, sesekali kami menyeberangi sungai yang harusnya lumayan deras, meskipun kedalamannya hanya satu meter tapi sangat menyulitkan kami untuk menyeberanginya. Jika pijakan tidak kuat, siap-siaplah terpeleset dan jatuh kedalam air. Bahkan, jika tidak mampu menahan air maka kami akan hanyut terbawa arus.

Berhasil menyeberangi sungai yang cukup luas itu, perjalanan dilanjutkan mendaki bukit yang terdapat dipinggir sungai tersebut dan mencari jalan setapak menuju hilir sungai. Lebih kurang 500 meter kami berjalan mengikuti jalan setapak tersebut, kami turun kembali ke sungai dan menelusuri aliran sungai.

Setelah berjalan setengah jam menelusuri sungai, kami menemukan bekas pondok masyarakat yang terlihat masih kokoh dan kuat, didepan pondok tersebut terdapat pulau kecil dengan bebatuan kerikil yang bertaburan di atasnya.

Melihat hari sudah sore maka kami memutuskan untuk memasang tenda di pondok masyarakat tersebut dan beristirahat di sana.

Dalam perjalanan ini kami tidak begitu banyak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa, hanya keberadaan babi hutan dan beruang yang kami temukan, masing-masing tanda jejak dan cakaran di pohon.

Disaat malam mulai merangkak, kami pun beristirahat melepaskan kelelahan dan keletihan berjalan di siang harinya, hingga pagi menjemput.

Pagi itu, tepatnya hari jumat, kami kembali melakukan aktivitas yaitu melakukan survey mencari tanda-tanda keberadaan Harimau dan satwa besar lainnya yang ada di kawasan ini. Kali ini kami menuju arah barat, melewati hutan yang lebat. Hawa dingin dan keheningan langsung membekap ketika melewati  punggungan bukit. Jalan yang kami lewati nyaris tidak tersentuh matahari karena rapatnya pepohonan dan kabut yang menyelimuti hutan.

Disini fauna hutan mulai terlihat, monyet-monyet dan beruk bisa dijumpai hampir disepanjang perjalanan. Tidak cuma monyet dan beruk, ungko dan siamang pun mulai mengeluarkan suara merdunya. Dari kejauhan kami mendengar suara ungko dan siamang sahut bersahutan satu sama lainnya. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas nya seolah-olah mereka sedang bernyanyi di dalam kegembiraan.

Dengan adanya suara ungko dan siamang yang saling bersahutan, maka bisa dikatakan keasrian hutan ini masih terjaga seperti yang kami lewati saat ini.

Kami terus berjalan menuju arah Barat, menyusuri hutan yang lebat dan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Serasah yang tebal menyulitkan kami untuk menemukan kebaradaan satwa. Hanya keberadaan babi hutan yang dapat kami temukan. Sebelum matahari terbenam kami telah kembali lagi ke pondok.

Malamnya kami mencoba diskusi untuk kegiatan esok harinya. Hari esoknya kami rencanakan untuk kembali menyusuri aliran Sungai Lisun. Tanpa kami sadari, malam itu hujan turun dengan derasnya sehingga membuat air sungai banjir dan keruh. Karena air sungai naik maka kami tidak bisa menyusurinya, airnya terlalu deras dan dalam. Maka diputuskan untuk membuat rintisan di pinggir sungai tersebut. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan dua orang pemuda yang sedang mencari burung Rangkong, atau masyarakat menyebutnya burung Onggang dan gaharu. Salah satu pencari burung Rangkong tersebut bernama Tulus yang berasal dari Desa Durian Gadang. Saat ditemui mereka sedang menumbangi pohon gaharu yang mereka temui. Disamping mereka terdapat senapan angin yang mereka gunakan untuk berburu burung Rangkong tersebut.

Kami sempat ngobrol-ngobrol sama mereka. Mengapa mereka mencari burung Rangkong tersebut? “Karena harga jualnya yang tinggi” jawabnya. Burung tersebut hanya kepalanya saja yang diambil dan dijual. Dikatakannya, saat ini burung tersebut sudah sangat sulit untuk ditemui karena sudah termasuk langkah. Kami pun menjelaskan bahwa saat ini burung Rangkong tersebut adalah burung yang dilindungi. Mendengar perkataan kami mereka hanya diam. Kami juga menjelaskan begitu pentingnya kita menjaga kelestarian hutan.

Setelah bercerita panjang lebar sama mereka, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pengamatan terus kami lakukan, mengamati apa yang ada disekeliling kami. Baru berjalan sekitar satu kilometer, kami kembali bertemu dengan enam orang masyarakat yang katanya berasal dari Desa Sesawa, Kecamatan Sijunjung. Kami pun kembali berbincang-bincang, rupanya mereka sedang mencari ikan di Sungai Lisun ini. Berbagai macam alat tangkap ikan yang mereka bawa, pancing, jala, jaring dan tembak ikan. Hasil tangkapannya ini akan dijual kepada masyarakat sekitar.

Memang sungai lisun ini terkenal dengan berbagai macam jenis ikan. Dan ikannya juga lumayan banyak. Maka tidak heran jika masyarakat setempat pergi ke daerah Sungai Lisun ini untuk mencari ikan. Apalagi lokasinya juga tidak terlalu jauh dari perkampungan. Hanya membutuhkan waktu empat jam, mereka sudah sampai di sungai tersebut. Itu perjalanan mereka karena mereka juga sudah hafal jalan untuk menuju daerah ini. Belum tentu dengan kami yang masih buta dengan daerah ini, karena kami hanya mengandalkan peta dan gps sebagai penunjuk jalan.

Kami tidak sempat bercerita banyak dengan mereka, karena mereka bergegas pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Dan begitu pula kami, juga melanjutkan perjalanan menuju hilir sungai sebelum hari beranjak sore.

Sudah sepuluh hari kami berada di dalam hutan dan telah menyelesaikan sebanyak tujuh belas transek. Target yang harus dicapai sebanyak dua puluh transek maka masih tersisa tiga transek lagi yang harus dilakukan.

Pagi itu tanggal 3 september 2014 adalah hari terakhir kami. Hari ini kami akan menyelesaikan transek yang masih tersisa. Perjalanan ini tidak lagi menyusuri Sungai Lisun, akan tetapi menaiki bukit dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut sebelum kami turun menuju desa terdekat yaitu Desa Pinang Durian Gadang. Dengan semangat kami mulai menaiki bukit tersebut sambil melakukan pengamatan, perjalanan ini begitu menantang fisik dan mental. Apalagi jalan yang dilewati begitu sulit karena bukitnya begitu terjal, ditambah lagi fisik yang sudah menurun.

Langit terlihat gelap, sepertinya akan turun hujan, sedangkan kami masih asyik menaiki bukit terjal tersebut. Belum lagi kami sampai di puncak bukit, tiba-tiba hujan turun cukup deras, sehingga membuat langkah terhenti dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujannya semakin deras maka kami membentangkan terpal untuk berlindung dari derasnya hujan. Sampai tengah hari hujannya baru reda, maka kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Setelah sampai diketinggian 600 meter dari permukaan laut, kami melewati bukit gundul. Bukit tersebut hanya ditumbuhi tanaman pakis resam tanpa adanya pepohonan yang melindunginya. Selain gundul, bukit tersebut juga terdapat bebatuan lumayan tinggi dan terjal, ini menyulitkan kami untuk menaikinya.

Setelah berjalan satu setengah jam melewati bukit gundul, barulah kami mencapai keteduhan pepohonan yang masih tersisa dipuncak bukit tersebut. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami terus menaiki puncak bukit hingga sampai pada puncak tertingginya yaitu dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Dari puncak bukit ini kami bisa melihat perkampungan yang kami lewati sebelumnya, namun terlihat samar sebab tertutup kabut.

Di puncak bukit ini, kami kembali menemukan jalan setapak menuju perkampungan. Sepertinya jalan ini sering dilewati masyarakat ketika mereka pergi ke hutan. Dengan adanya jalan setapak ini maka kami tidak merasa kesulitan lagi, apalagi jalannya menurun tidak terlalu banyak menguras tenaga. Hanya saja, ketika itu fisik kami benar-benar sudah menurun, ditambah lagi bekal air minum juga telah habis sehingga membuat langkah kami sedikit lemah.

Perkampungan memang sudah terlihat, akan tetapi masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di perkampungan tersebut. Fisik semakin melemah, sehingga membuat perjalanan terasa semakin berat. Hanya semangat yang membuat kami kuat. Lambat tapi pasti, akhirnya kami tiba di perkampungan Pinang Durian Gadang dan menyelesaikan survey yang kami lakukan. Disini kami disambut dengan baik oleh masyarakatnya, mereka dengan senang hati menerima kedatangan kami. Maka kami pun istirahat dan menginap di salah satu rumah warga sebelum kami kembali ke Pekanbaru. Esok harinya, barulah driver Erizal datang menjemput setelah kami mengabarinya. Dan kami pun meninggalkan perkampungan Pinang Durian Gadang menuju Kota Pekanbaru.

Ini hanyalah cerita kecil tentang perjalanan kami disaat melakukan kegiatan survey Harimau dan satwa besar lainnya di kawasan Koridor Rimba, tepatnya di Kecamatan Sijunjung, Sumatera Barat.

Oleh: Kusdianto

 

 

 

 

 

 

 

Rimbang Baling #7: buah tampui dan telur kuau

Hari ini adalah hari mencuci dan menjemur, yeiii.. Berhubung kemarin seharian jalan di sungai dan beberapa baju basah juga, pagi-pagi kami serempak deh mencuci. Bang Atta mencarikan akar pohon untuk dipakai sebagai tali jemuran. Matahari juga mendukung karena sudah sejak pagi dia datang bersinar dengan ceria. Hari ini kami akan mengambil kamera di satu lokasi dan jaraknya cukup dekat jadi berangkatnya setelah makan siang nanti.

Setelah mengambil kamera, rencananya teman-teman akan pergi memancing di hulu sungai. Bang Atta, bang Fendy dan bang Amri pun menyiapkan peralatan mancing. Oh ya saat kami baru selesai mencuci, rombongan bang Ramis telah tiba di sungai tempat camp kami. Mereka cepat juga lho jalannya, pagi-pagi sudah sampai di titik sungai ini. Aku hanya melihat mereka dari camp, dari seberang sungai. Mereka masih akan melanjutkan survei lahan sekaligus menandainya dengan cat biru. Kalau mereka akan membuka 5000 hektar, berarti setidaknya satu harimau betina akan kehilangan daerah jelajahnya, tempat hidup dia mencari makan dan membesarkan anak-anaknya. Aku memandangi sekitarku, sungai berbatu yang jernih, hutan yang lebat hijau, tak lama lagi akan berubah wajah jika rencana pembukaan lahan ini menjadi kenyataan.

Rute menuju camera trap

Rute menuju camera trap

Mas Agung tinggal menjaga camp dan menjaga semua jemuran kami. Kami berempat mulai menyusuri hulu sungai. Aku memakai kaos kaki bersih yang kering jadi aku berupaya sebisa mungkin mencari tempat yang dangkal agar kaos kakiku tidak basah. Setelah beberapa saat berjalan di sungai, kami mulai masuk hutan. Semakin ke hulu, batu-batu sungai semakin besar. Bagiku ini agak menyulitkan karena aku takut tergelincir dan jatuh. Aku ngeri nih kalau jatuh di sungai, sudah basah, pasti juga sakit karena batu itu pastinya keras kan. Namun bang Atta lagi-lagi membuatku takjub. Dengan mudahnya dia mengayunkan kakinya berpindah dari satu batu ke batu lain. Sementara dia berpindah dengan lincah dan cepat, aku bergerak sungguh lambat seperti siput yang sedang malas bergerak. Tertatih memilih bagian mana, batu yang mana yang cukup aman kupijak. Bang Atta dengan baik hati menunjukkan jalan mana yang mudah untuk dilewati. Sedangkan bang Amri tepat di belakangku mengawasi. Kadang-kadang kalau musti meniti batang pohon di sungai, bang Amri akan menjulurkan tangannya untukku sebagai pegangan. Ya.. meniti kayu tanpa pegangan membuatku tidak berdaya. Aku tidak percaya pada keseimbanganku.

Terkadang kami melintas di dalam hutan jika air sungai terlalu dalam untuk dilewati. Di beberapa bagian sungai selalu ada lubuk. Nah lubuk inilah tempat tinggal banyak ikan. Melewati lubuk tidak disarankan karena dalamnya bisa setinggi aku bahkan lebih. Begitu masuk hutan langsung disambut oleh pendakian. Pendakiannya tidak begitu sulit meski sedikit tajam. Setelah itu kami melalui terowongan alami, yaitu jalur satwa pada bagian punggungan bukit. Sayangnya dari hasil dua unit kamera jebak yang kami pasang tidak mendapatkan gambar si datuk belang, padahal mangsanya, babi hutan, kijang, dan beruk begitu banyak melimpah. Kemana harimau pergi di hutan Rimbang Baling ini? apakah sudah terlalu banyak yang diburu atau mereka hanya sekedar tidak melewati jalur kamera kami? yaa ada begitu banyak jalan, punggungan, dan sumber air di setiap lembah. Harimau dapat berjalan kemanapun dia suka. Tapi bukan kah harimau biasanya mengikuti kemana mangsanya pergi?

Buah Tampui

Buah Tampui

Dalam perjalanan menuju sungai, kami mengambil buah Tampui. Nah ini dia buah ketiga yang aku temui dalam perjalananku di Rimbang Baling. Setelah Cempedak, Rambai, kini giliran Tampui. Seperti halnya buah Rambai yang baru kali ini kujumpai, perjumpaan dengan buah Tampui bagiku adalah yang pertama kali. Kulit buahnya berwarna oranye tua seperti warna kulit sang datuk belang. Ukuran dan isi buahnya seperti manggis. Isi buahnya ada 4-6 biji, tergantung besar buahnya. Rasa buah Tampui manis dan sedikit pahit. Kata bang Amri, rasa pahit ini karena buahnya sedikit terlalu masak. Kata Wikipedia, buah tampui hanya ada di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Ternyata buah ini masih berkerabat dengan buah Rambai, buah aku jumpai sebelumnya dalam perjalanan ini.

Sembari mencicipi buah Tampui ini aku berpikir, betapa banyaknya sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita, manusia. Udara yang segar, air yang begitu jernih, pemandangan yang indah, buah-buahan pemberi energi dan vitamin, ikan sungi yang lezat, kayu, akar serta rotan, burung dengan kicauan dan warnanya yang beraneka, gerak-gerik serta suara satwa liar yang misterius sekaligus membuat takjub, semua.. semua ada ketika hutan masih alami, masih utuh, tidak terganggu ataupun rusak. Tanpa mengubah wajah hutan, manusia dapat mengambil banyak manfaat, manusia dapat hidup dari hutan. Kita hanya perlu menggali, mencari tahu tentang sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk hidup. Hutan menyediakan semua yang manusia butuhkan untuk hidup. Untuk hidup, bukan untuk sekedar gaya, atau pamer, atau untuk memuaskan ego. Kita hanya perlu bijak dalam memanfaatkan itu semua sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang, oleh generasi kita saat ini dan generasi yang akan datang. Sudah sangat banyak hutan-hutan alam yang berubah menjadi perkebunan, aku dan tim sangat beruntung masih berkesempatan menikmati hutan Rimbang Baling ini.

Bang Atta mengejutkan lamunanku dengan sebutir telur di tangannya. “Ini telur Kuau” katanya. “Lho kok bisa sama bang Atta?” tanyaku. “Iya ga sengaja ketemu waktu mau mengambil Tampui, rupanya ada Kuau dekatnya, hampir aja ketangkap, tapi langsung lari dan ninggalin telurnya”, terang bang Atta. Ternyata tanpa kami sadari, ada burung Kuau dekat kami berjalan, sayang tidak sempat terlihat olehku. Melihat satwa liar dengan langsung di habitatnya di hutan hujan tropis seperti di Sumatera adalah sebuah kesempatan langka. Jika mendapat kesempatan itu, artinya kita mendapat anugrah. Telur kuau yang diserahkan ke bang Atta kepadaku terasa hangat tapi segera kuserahkan kembali padanya, “masih hangat nih, taruh kembali ih di sarangnya, siapa tau lagi dierami”. Udah bawa aja, kuau pasti ga balik lagi kesini. Kalau tempatnya sudah diketahui manusia, ga mau lagi dia balik, langsung nyari tempat lain. Bang Fendy lalu mengambil telur yang di tanganku dan berkata, “ini baru keluar telurnya, belum dierami, makanya masih hangat, baunya pun amis, coba cium”. Aku mendekatkan telur itu ke hidungku, tapi tidak tercium bau apa-apa. Mungkin indra penciumanku sedang eror nih, hahah. Burung Kuau Raja (Argusianus argus), disebut juga sebagai burung Merak Sumatera, adalah jenis burung yang tidak dapat terbang. Jika Merak di Jawa berwarna hijau maka Kuau ini berwarna coklat dan biru. Suaranya yang merdu dapat kita dengar setiap kali berada di dalam hutan. Nama Kuau mungkin berasal dari suara yang dikeluarkannya, “uau…” kira-kira seperti itu lah yang aku dengar tiap hari selama berada di hutan Rimbang Baling ini.

Telur kuau bentuknya seperti telur ayam, berwarna krem, dengan satu ujungnya yang sangat lancip. Kami putuskan untuk membawa telur kuau pulang. Kami tidak langsung pulang ke camp melainkan melanjutkan perjalanan ke bagian hulu sungai. Ada lubuk yang kami tuju. Aku tidak ikut memancing, hanya menemani bang Atta+bang Fendy+bang Amri. Hari masih terang ketika kami tiba di lubuk tujuan. Memancing disini mereka menargetkan ikan baung. Ikan baung termasuk ikan sungai yang menjadi kesukaan kami. Bentuknya mirip dengan ikan lele, hanya ikan baung tidak pipih dan dagingnya lebih tebal dibanding lele. Memancing ikan baung biasanya dilakukan malam hari karena pada saat gelap lah ikan baung keluar dari persembunyiaannya untuk mencari makanan. Mula-mula bang Atta yang mendapat ikan, seekor baung kecil. Lalu bang Fendy mendapat ikan tilam. Setelah itu cukup lama teman-teman tidak mendapat apapun. Bang Amri sendiri belum juga berhasil mendapat ikan satupun, tapi tali pancingnya sudah putus sampai 2x karena tersangkut ranting kayu. Baru ketika matahari telah kembali ke peraduannya dan hari menjadi gelap, bang Fendy pindah ke seberang lubuk. Tak lama kemudian umpannya dimakan, seekor baung cukup besar ada di ujung pancingnya, “rajo gedek” serunya bersemangat. Rajo gedek adalah sebutan untuk ikan baung yang besarnya seukuran pandang lengan atau lebih. Malam telah turun dengan penuh dan kami ditemani suara air sungai yang mengalir, serangga dan burung kuau. Setelah mendapat tujuh ekor ikan, kami putuskan untuk kembali ke camp.

Lubuk sungai tempat mancing

Lubuk sungai tempat mancing

Jika pada saat berangkat tadi aku berjalan dengan sangat hati-hati karena jalur sungai yang kami lewati, maka perjalanan malam hari membawa sensasi yang sangat berbeda. Hutan di saat malam, terlebih tanpa sinar bulan, sungguh sangat sangat gelap. Kami berjalan hanya mengandalkan senter kecil di kepala masing-masing. Kami berusaha menjaga jarak agar antara satu dengan yang lain tidak terpisah jauh. Meski sudah memiliki senter sendiri, saya masih tetap kelabakan dengan perjalanan kembali ke camp saat ini. Khawatir jatuh, tersesat, disergap segerombolan pacet, diserunduk babi hutan, dll melonjak 10x lipat dibanding saat berjalan di hari terang. Sempat dalam hati aku menyesali kenapa tadi pagi tidak tinggal di camp saja menjaga jemuran. Tapi begitu setitik cahaya tampak tak jauh di depan dan kami memasuki bagian sungai yang aku kenali, aku langsung merasa tenang dan penyesalan yang tadi ada lalu kutepis jauh-jauh. Tinggal di camp memang tidak membuatku harus komat-kamit dalam hati membaca doa meminta perlindungan sepanjang perjalanan, tidak membuatku mengucurkan peluh, tidak membuatku takut jatuh; tapi dengan ikut perjalanan hari ini, pengalaman serta pengetahuanku bertambah dan isi hutan rimbang baling dapat kunikmati, sebagai rimbawan yang hidup di maha taman rimba rayanya. Dalam hati aku puas dengan pilihan yang aku buat. Kalau memang ada banyak pacet yang menghinggap, ya pas nanti mandi ajalah baru panik ;-)

Kucing Batu: Kucing Pemilik Coat Tercantik

Setelah minggu lalu kita mengenal kucing congkok yang lebih sering ditemui pada hutan yang setengah terbuka, minggu ini kita berkenalan dengan jenis kucing liar lain yang juga menghuni hutan Sumatera. Kucing ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kucing liar tercantik karena pola coat yang dimilikinya memang menarik. Dia adalah Kucing Batu atau Marbled Cat  Pardofelis marmorata. Diantara kelima jenis kucing liar yang terfoto di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, Provinsi Riau, kucing batu yang paling mirip dengan kucing congkok dilihat dari ukurannya dan dari pola belangnya di bagian kaki. Kucing batu sedikit lebih besar dibanding kucing congkok, ukuran badannya mulai dari 45-62 cm dengan panjang ekor 356-550 mm, sedangkan beratnya berkisar 2.4-3.7 kg.

Kucing batu juga dianggap kucing liar menarik dan mungkin sedikit misteri karena ciri-ciri fisiknya yang banyak kesamaan dengan jenis kucing berukuran sedang-besar, terutama macan dahan. Kucing batu memiliki pola belang pada badan menyerupai bentuk awan, pola yang juga menjadi ciri khas macan dahan. Kesamaan lainnya adalah gigi taring bagian atas yang besar dan bentuk tapak kaki yang lebar. Namun tengkorak kucing batu lebih pendek dan bulat seperti tengkorak macan (panthera) dan lynx. Ekor kucing batu tebal dan panjang yang menunjukkan bahwa kucing batu adalah hewan arboreal yaitu menghabiskan banyak waktu dengan berada di atas pohon.  Seperti beberapa kucing liar lain; kucing batu memiliki garis hitam vertikal di dahi hingga mata.

Kucing batu diketahui memiliki daerah persebaran di hutan tropis indomalaya termasuk kawasan kaki pegunungan himalaya bagian barat hingga Nepal dan barat daya China, hingga ke bagian selatan di pulau Sumatera dan pulau Borneo. Negara-negara termasuk daerah perseberannya adalah Bhutan; Brunei Darussalam; Cambodia; China; India; Indonesia (Kalimantan, Sumatera); Lao People’s Democratic Republic; Malaysia (Peninsular Malaysia, Sabah, Sarawak); Myanmar; Nepal; Thailand; Vietnam. Di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, kucing batu turut terekam oleh kamera jebak (camera trap) yang dipasang dengan target utama harimau sumatra. Dari informasi yang diperoleh dari kamera jebak, diketahui bahwa kucing batu mendiami kawasan hutan alam rawa gambut Kerumutan, dataran rendah Tesso Nilo dan koridor hingga perbukitan di Rimbang Baling. Dari survei yang dilakukan mulai Desember 2004-Februari 2012, ada total 51 foto kucing batu yang diperoleh dengan foto terbanyak berasal dari SM Rimbang Baling.

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai prilaku kucing batu karena minimnya survei dan riset terhadap kucing cantik ini. Namun dari kamera jebak diketahui bahwa kucing batu ini tidak terlalu aktif di pagi hari, namun ketika menjelang siang hingga matahari terbenam (jam 11 siang – 6 sore), dan lebih tidak begitu aktif  lagi di malam hari. Hal ini sedikit berkebalikan dari prilaku kucing batu yang diperkirakan lebih nokturnal. Dari pantauan terhadap kucing batu yang hidup di penangkaran, kucing batu dapat hidup hingga 12 tahun. Masa kehamilan 66-82 hari dengan masa subur mulai umur 21-22 bulan. Kucing batu memangsa tupai, tikus, burung dan reptil kecil.

Ancaman utama terhadap kucing batu adalah hilangnya habitat. Provinsi Riau yang juga merupakan habitat kucing batu telah kehilangan sekitar 60% tutupan hutan alam sejak tahun 1980-an. Dengan laju kehilangan hutan yang sangat tinggi, sangat mungkin kita kehilangan kucing cantik ini tanpa sempat mempelajarinya. Kucing batu termasuk satwa liar yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No 5 Tahun1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Lembaga konservasi internasional IUCN memasukkan kucing batu kedalam kategori rentan punah (Vulnerable). Meski memiliki coat yang begitu cantik, kucing batu sangat jarang ditemukan di perdagangan ilegal satwa liar. Namun ancaman perburuan dan perdagangan tetap tidak boleh dianggap sepele, untuk itu CITES telah memasukkan kucing batu ke dalam Appendix I yang berart tidak boleh diperdagangkan dan peredarannya diatur secara ketat atas izin presiden.

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Redlist http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/16218/0

ARKive http://www.arkive.org/marbled-cat/pardofelis-marmorata/image-G24620.html#text=All

CITES http://www.cites.org/eng/resources/species.html