Rimbang Baling #7: buah tampui dan telur kuau

Hari ini adalah hari mencuci dan menjemur, yeiii.. Berhubung kemarin seharian jalan di sungai dan beberapa baju basah juga, pagi-pagi kami serempak deh mencuci. Bang Atta mencarikan akar pohon untuk dipakai sebagai tali jemuran. Matahari juga mendukung karena sudah sejak pagi dia datang bersinar dengan ceria. Hari ini kami akan mengambil kamera di satu lokasi dan jaraknya cukup dekat jadi berangkatnya setelah makan siang nanti.

Setelah mengambil kamera, rencananya teman-teman akan pergi memancing di hulu sungai. Bang Atta, bang Fendy dan bang Amri pun menyiapkan peralatan mancing. Oh ya saat kami baru selesai mencuci, rombongan bang Ramis telah tiba di sungai tempat camp kami. Mereka cepat juga lho jalannya, pagi-pagi sudah sampai di titik sungai ini. Aku hanya melihat mereka dari camp, dari seberang sungai. Mereka masih akan melanjutkan survei lahan sekaligus menandainya dengan cat biru. Kalau mereka akan membuka 5000 hektar, berarti setidaknya satu harimau betina akan kehilangan daerah jelajahnya, tempat hidup dia mencari makan dan membesarkan anak-anaknya. Aku memandangi sekitarku, sungai berbatu yang jernih, hutan yang lebat hijau, tak lama lagi akan berubah wajah jika rencana pembukaan lahan ini menjadi kenyataan.

Rute menuju camera trap

Rute menuju camera trap

Mas Agung tinggal menjaga camp dan menjaga semua jemuran kami. Kami berempat mulai menyusuri hulu sungai. Aku memakai kaos kaki bersih yang kering jadi aku berupaya sebisa mungkin mencari tempat yang dangkal agar kaos kakiku tidak basah. Setelah beberapa saat berjalan di sungai, kami mulai masuk hutan. Semakin ke hulu, batu-batu sungai semakin besar. Bagiku ini agak menyulitkan karena aku takut tergelincir dan jatuh. Aku ngeri nih kalau jatuh di sungai, sudah basah, pasti juga sakit karena batu itu pastinya keras kan. Namun bang Atta lagi-lagi membuatku takjub. Dengan mudahnya dia mengayunkan kakinya berpindah dari satu batu ke batu lain. Sementara dia berpindah dengan lincah dan cepat, aku bergerak sungguh lambat seperti siput yang sedang malas bergerak. Tertatih memilih bagian mana, batu yang mana yang cukup aman kupijak. Bang Atta dengan baik hati menunjukkan jalan mana yang mudah untuk dilewati. Sedangkan bang Amri tepat di belakangku mengawasi. Kadang-kadang kalau musti meniti batang pohon di sungai, bang Amri akan menjulurkan tangannya untukku sebagai pegangan. Ya.. meniti kayu tanpa pegangan membuatku tidak berdaya. Aku tidak percaya pada keseimbanganku.

Terkadang kami melintas di dalam hutan jika air sungai terlalu dalam untuk dilewati. Di beberapa bagian sungai selalu ada lubuk. Nah lubuk inilah tempat tinggal banyak ikan. Melewati lubuk tidak disarankan karena dalamnya bisa setinggi aku bahkan lebih. Begitu masuk hutan langsung disambut oleh pendakian. Pendakiannya tidak begitu sulit meski sedikit tajam. Setelah itu kami melalui terowongan alami, yaitu jalur satwa pada bagian punggungan bukit. Sayangnya dari hasil dua unit kamera jebak yang kami pasang tidak mendapatkan gambar si datuk belang, padahal mangsanya, babi hutan, kijang, dan beruk begitu banyak melimpah. Kemana harimau pergi di hutan Rimbang Baling ini? apakah sudah terlalu banyak yang diburu atau mereka hanya sekedar tidak melewati jalur kamera kami? yaa ada begitu banyak jalan, punggungan, dan sumber air di setiap lembah. Harimau dapat berjalan kemanapun dia suka. Tapi bukan kah harimau biasanya mengikuti kemana mangsanya pergi?

Buah Tampui

Buah Tampui

Dalam perjalanan menuju sungai, kami mengambil buah Tampui. Nah ini dia buah ketiga yang aku temui dalam perjalananku di Rimbang Baling. Setelah Cempedak, Rambai, kini giliran Tampui. Seperti halnya buah Rambai yang baru kali ini kujumpai, perjumpaan dengan buah Tampui bagiku adalah yang pertama kali. Kulit buahnya berwarna oranye tua seperti warna kulit sang datuk belang. Ukuran dan isi buahnya seperti manggis. Isi buahnya ada 4-6 biji, tergantung besar buahnya. Rasa buah Tampui manis dan sedikit pahit. Kata bang Amri, rasa pahit ini karena buahnya sedikit terlalu masak. Kata Wikipedia, buah tampui hanya ada di Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Kalimantan. Ternyata buah ini masih berkerabat dengan buah Rambai, buah aku jumpai sebelumnya dalam perjalanan ini.

Sembari mencicipi buah Tampui ini aku berpikir, betapa banyaknya sumber-sumber kehidupan yang disediakan oleh hutan yang dapat dimanfaatkan oleh kita, manusia. Udara yang segar, air yang begitu jernih, pemandangan yang indah, buah-buahan pemberi energi dan vitamin, ikan sungi yang lezat, kayu, akar serta rotan, burung dengan kicauan dan warnanya yang beraneka, gerak-gerik serta suara satwa liar yang misterius sekaligus membuat takjub, semua.. semua ada ketika hutan masih alami, masih utuh, tidak terganggu ataupun rusak. Tanpa mengubah wajah hutan, manusia dapat mengambil banyak manfaat, manusia dapat hidup dari hutan. Kita hanya perlu menggali, mencari tahu tentang sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk hidup. Hutan menyediakan semua yang manusia butuhkan untuk hidup. Untuk hidup, bukan untuk sekedar gaya, atau pamer, atau untuk memuaskan ego. Kita hanya perlu bijak dalam memanfaatkan itu semua sehingga dapat dinikmati oleh banyak orang, oleh generasi kita saat ini dan generasi yang akan datang. Sudah sangat banyak hutan-hutan alam yang berubah menjadi perkebunan, aku dan tim sangat beruntung masih berkesempatan menikmati hutan Rimbang Baling ini.

Bang Atta mengejutkan lamunanku dengan sebutir telur di tangannya. “Ini telur Kuau” katanya. “Lho kok bisa sama bang Atta?” tanyaku. “Iya ga sengaja ketemu waktu mau mengambil Tampui, rupanya ada Kuau dekatnya, hampir aja ketangkap, tapi langsung lari dan ninggalin telurnya”, terang bang Atta. Ternyata tanpa kami sadari, ada burung Kuau dekat kami berjalan, sayang tidak sempat terlihat olehku. Melihat satwa liar dengan langsung di habitatnya di hutan hujan tropis seperti di Sumatera adalah sebuah kesempatan langka. Jika mendapat kesempatan itu, artinya kita mendapat anugrah. Telur kuau yang diserahkan ke bang Atta kepadaku terasa hangat tapi segera kuserahkan kembali padanya, “masih hangat nih, taruh kembali ih di sarangnya, siapa tau lagi dierami”. Udah bawa aja, kuau pasti ga balik lagi kesini. Kalau tempatnya sudah diketahui manusia, ga mau lagi dia balik, langsung nyari tempat lain. Bang Fendy lalu mengambil telur yang di tanganku dan berkata, “ini baru keluar telurnya, belum dierami, makanya masih hangat, baunya pun amis, coba cium”. Aku mendekatkan telur itu ke hidungku, tapi tidak tercium bau apa-apa. Mungkin indra penciumanku sedang eror nih, hahah. Burung Kuau Raja (Argusianus argus), disebut juga sebagai burung Merak Sumatera, adalah jenis burung yang tidak dapat terbang. Jika Merak di Jawa berwarna hijau maka Kuau ini berwarna coklat dan biru. Suaranya yang merdu dapat kita dengar setiap kali berada di dalam hutan. Nama Kuau mungkin berasal dari suara yang dikeluarkannya, “uau…” kira-kira seperti itu lah yang aku dengar tiap hari selama berada di hutan Rimbang Baling ini.

Telur kuau bentuknya seperti telur ayam, berwarna krem, dengan satu ujungnya yang sangat lancip. Kami putuskan untuk membawa telur kuau pulang. Kami tidak langsung pulang ke camp melainkan melanjutkan perjalanan ke bagian hulu sungai. Ada lubuk yang kami tuju. Aku tidak ikut memancing, hanya menemani bang Atta+bang Fendy+bang Amri. Hari masih terang ketika kami tiba di lubuk tujuan. Memancing disini mereka menargetkan ikan baung. Ikan baung termasuk ikan sungai yang menjadi kesukaan kami. Bentuknya mirip dengan ikan lele, hanya ikan baung tidak pipih dan dagingnya lebih tebal dibanding lele. Memancing ikan baung biasanya dilakukan malam hari karena pada saat gelap lah ikan baung keluar dari persembunyiaannya untuk mencari makanan. Mula-mula bang Atta yang mendapat ikan, seekor baung kecil. Lalu bang Fendy mendapat ikan tilam. Setelah itu cukup lama teman-teman tidak mendapat apapun. Bang Amri sendiri belum juga berhasil mendapat ikan satupun, tapi tali pancingnya sudah putus sampai 2x karena tersangkut ranting kayu. Baru ketika matahari telah kembali ke peraduannya dan hari menjadi gelap, bang Fendy pindah ke seberang lubuk. Tak lama kemudian umpannya dimakan, seekor baung cukup besar ada di ujung pancingnya, “rajo gedek” serunya bersemangat. Rajo gedek adalah sebutan untuk ikan baung yang besarnya seukuran pandang lengan atau lebih. Malam telah turun dengan penuh dan kami ditemani suara air sungai yang mengalir, serangga dan burung kuau. Setelah mendapat tujuh ekor ikan, kami putuskan untuk kembali ke camp.

Lubuk sungai tempat mancing

Lubuk sungai tempat mancing

Jika pada saat berangkat tadi aku berjalan dengan sangat hati-hati karena jalur sungai yang kami lewati, maka perjalanan malam hari membawa sensasi yang sangat berbeda. Hutan di saat malam, terlebih tanpa sinar bulan, sungguh sangat sangat gelap. Kami berjalan hanya mengandalkan senter kecil di kepala masing-masing. Kami berusaha menjaga jarak agar antara satu dengan yang lain tidak terpisah jauh. Meski sudah memiliki senter sendiri, saya masih tetap kelabakan dengan perjalanan kembali ke camp saat ini. Khawatir jatuh, tersesat, disergap segerombolan pacet, diserunduk babi hutan, dll melonjak 10x lipat dibanding saat berjalan di hari terang. Sempat dalam hati aku menyesali kenapa tadi pagi tidak tinggal di camp saja menjaga jemuran. Tapi begitu setitik cahaya tampak tak jauh di depan dan kami memasuki bagian sungai yang aku kenali, aku langsung merasa tenang dan penyesalan yang tadi ada lalu kutepis jauh-jauh. Tinggal di camp memang tidak membuatku harus komat-kamit dalam hati membaca doa meminta perlindungan sepanjang perjalanan, tidak membuatku mengucurkan peluh, tidak membuatku takut jatuh; tapi dengan ikut perjalanan hari ini, pengalaman serta pengetahuanku bertambah dan isi hutan rimbang baling dapat kunikmati, sebagai rimbawan yang hidup di maha taman rimba rayanya. Dalam hati aku puas dengan pilihan yang aku buat. Kalau memang ada banyak pacet yang menghinggap, ya pas nanti mandi ajalah baru panik ;-)

Kucing Batu: Kucing Pemilik Coat Tercantik

Setelah minggu lalu kita mengenal kucing congkok yang lebih sering ditemui pada hutan yang setengah terbuka, minggu ini kita berkenalan dengan jenis kucing liar lain yang juga menghuni hutan Sumatera. Kucing ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kucing liar tercantik karena pola coat yang dimilikinya memang menarik. Dia adalah Kucing Batu atau Marbled Cat  Pardofelis marmorata. Diantara kelima jenis kucing liar yang terfoto di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, Provinsi Riau, kucing batu yang paling mirip dengan kucing congkok dilihat dari ukurannya dan dari pola belangnya di bagian kaki. Kucing batu sedikit lebih besar dibanding kucing congkok, ukuran badannya mulai dari 45-62 cm dengan panjang ekor 356-550 mm, sedangkan beratnya berkisar 2.4-3.7 kg.

Kucing batu juga dianggap kucing liar menarik dan mungkin sedikit misteri karena ciri-ciri fisiknya yang banyak kesamaan dengan jenis kucing berukuran sedang-besar, terutama macan dahan. Kucing batu memiliki pola belang pada badan menyerupai bentuk awan, pola yang juga menjadi ciri khas macan dahan. Kesamaan lainnya adalah gigi taring bagian atas yang besar dan bentuk tapak kaki yang lebar. Namun tengkorak kucing batu lebih pendek dan bulat seperti tengkorak macan (panthera) dan lynx. Ekor kucing batu tebal dan panjang yang menunjukkan bahwa kucing batu adalah hewan arboreal yaitu menghabiskan banyak waktu dengan berada di atas pohon.  Seperti beberapa kucing liar lain; kucing batu memiliki garis hitam vertikal di dahi hingga mata.

Kucing batu diketahui memiliki daerah persebaran di hutan tropis indomalaya termasuk kawasan kaki pegunungan himalaya bagian barat hingga Nepal dan barat daya China, hingga ke bagian selatan di pulau Sumatera dan pulau Borneo. Negara-negara termasuk daerah perseberannya adalah Bhutan; Brunei Darussalam; Cambodia; China; India; Indonesia (Kalimantan, Sumatera); Lao People’s Democratic Republic; Malaysia (Peninsular Malaysia, Sabah, Sarawak); Myanmar; Nepal; Thailand; Vietnam. Di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, kucing batu turut terekam oleh kamera jebak (camera trap) yang dipasang dengan target utama harimau sumatra. Dari informasi yang diperoleh dari kamera jebak, diketahui bahwa kucing batu mendiami kawasan hutan alam rawa gambut Kerumutan, dataran rendah Tesso Nilo dan koridor hingga perbukitan di Rimbang Baling. Dari survei yang dilakukan mulai Desember 2004-Februari 2012, ada total 51 foto kucing batu yang diperoleh dengan foto terbanyak berasal dari SM Rimbang Baling.

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai prilaku kucing batu karena minimnya survei dan riset terhadap kucing cantik ini. Namun dari kamera jebak diketahui bahwa kucing batu ini tidak terlalu aktif di pagi hari, namun ketika menjelang siang hingga matahari terbenam (jam 11 siang – 6 sore), dan lebih tidak begitu aktif  lagi di malam hari. Hal ini sedikit berkebalikan dari prilaku kucing batu yang diperkirakan lebih nokturnal. Dari pantauan terhadap kucing batu yang hidup di penangkaran, kucing batu dapat hidup hingga 12 tahun. Masa kehamilan 66-82 hari dengan masa subur mulai umur 21-22 bulan. Kucing batu memangsa tupai, tikus, burung dan reptil kecil.

Ancaman utama terhadap kucing batu adalah hilangnya habitat. Provinsi Riau yang juga merupakan habitat kucing batu telah kehilangan sekitar 60% tutupan hutan alam sejak tahun 1980-an. Dengan laju kehilangan hutan yang sangat tinggi, sangat mungkin kita kehilangan kucing cantik ini tanpa sempat mempelajarinya. Kucing batu termasuk satwa liar yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No 5 Tahun1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Lembaga konservasi internasional IUCN memasukkan kucing batu kedalam kategori rentan punah (Vulnerable). Meski memiliki coat yang begitu cantik, kucing batu sangat jarang ditemukan di perdagangan ilegal satwa liar. Namun ancaman perburuan dan perdagangan tetap tidak boleh dianggap sepele, untuk itu CITES telah memasukkan kucing batu ke dalam Appendix I yang berart tidak boleh diperdagangkan dan peredarannya diatur secara ketat atas izin presiden.

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Redlist http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/16218/0

ARKive http://www.arkive.org/marbled-cat/pardofelis-marmorata/image-G24620.html#text=All

CITES http://www.cites.org/eng/resources/species.html

Tiger Needs Cover: hutan tetap yang utama bagi harimau

“knowledge is power”

Jika bisa disampaikan  secara singkat, apa temuan yang terpenting dalam tulisan ilmiah “Tiger Needs Cover” ini?

Penelitian ini menemukan bahwa, dalam kondisi tertentu, harimau dapat menggunakan kawasan hutan tanaman akasia, perkebunan sawit, dan perkebunan karet sebagai wilayah jelajahnya.  Namun , harimau cenderung menghindari perkebunan dan lebih memilih hutan.  Kondisi yang disukai harimau, selain ketersediaan mangsa yang cukup, adalah, jarak yang tidak terlalu jauh dari titik pusat blok hutan berukuran besar (>50,000 ha), tutupan tumbuhan bawah yang rapat, serta tingkat aktivitas manusia yang minimal.

Temuan lain yang cukup menyentak adalah banyaknya hutan bernilai tinggi sebagai habitat harimau yang berada di luar sistem perlindungan, dan oleh karenanya sangat terancam. Sebagai contoh adalah kawasan di daerah hulu sungai Kampar dan di daerah sekitar Sungai Gaung, Indragiri Hilir. Di beberapa tempat, kawasan hutan bernilai tinggi tersebut sedang, atau telah dialokasikan untuk, dikonversi menjadi HTI atau perkebunan.

Apakah ini menunjukkan bahwa untuk tetap lestari, harimau butuh hutan yang luas?

Ya, untuk kelestariannya harimau memerlukan terjaganya keutuhan hutan yang cukup luas. Hasil studi sebelumnya oleh Franklin dkk menunjukkan bahwa satu ekor harimau Sumatera jantan memerlukan kawasan seluas minimal 11600 hektar. Dalam kondisi yang telah terfragmentasi, habitat dan populasi harimau mungkin dapat dipulihkan dengan membangun keterhubungan antar blok hutan yang terpisah-pisah. Dengan pengelolaan khusus, sebagian kawasan hutan tanaman dan perkebunan bisa dioptimalkan sebagai habitat tambahan, jalur lintasan, maupun ‘batu loncatan’ bagi harimau sehingga meraka dapat bergerak dari satu blok hutan ke blok hutan lain. Misalnya untuk mengunjungi kerabatnya dan saling memperkaya keragaman genetika.

Apa pesan utama yang ingin disampaikan penulis kepada publik lewat tulisan “Tiger needs cover” ini?

Pesan yang ingin disampaikan kepada publik adalah bahwa pelestarian harimau, khususnya dalam kondisi ketika hutan habitat harimau telah banyak dikonversi dan terfragmenasi, memerlukan berbagai pendekatan baru yang kreatif dengan didasarkan pada data dan analisa yang akurat.  Studi ini hanyalah sebuah awal dari upaya kita memahami karakteristik habitat yang dibutuhkan/disukai oleh harimau. Dari hasil studi ini, kita dapat mengidentifikasi upaya apa yang diperlukan untuk memulihkan habitat dan populasi harimau. Hal ini sejalan dengan komitmen pemulihan habitat dan populasi harimau yang disepakati secara global oleh 13 negara-negara sebaran harimau, termasuk Indonesia tahun lalu

Bagaimana kajian yang dimuat oleh jurnal PLOSOne ini berkontribusi  bagi upaya konservasi harimau?

Penelitian ini menyelidiki dan membandingkan secara sistematis penggunaan habitat oleh harimau di berbagai tutupan lahan, tidak hanya di hutan tetapi juga di kawasan perkebunan. Studi ini juga melihat penggunaan habitat dalam beberapa skala ruang, sebuah pendekatan penting namun jarang dilakukan dalam penelitian ekologi satwa, terlebih harimau. Tekad pemerintah Indonesia dan masyarakat global untuk memulihkan populasi harimau harus dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang ekologi harimau dan diikuti dengan langkah-langkah strategis dan aksi nyata baik di lapangan maupun di ruang-ruang pengambil kebijakan.

Paper Tiger Needs Cover dapat diunduh disini: http://awsassets.wwf.or.id/downloads/tigers_need_cover.pdf
-cuplikan interview dengan penulis utama: Sunarto, PhD-

Merajut Asa Bagi Sang Raja Rimba

saatnya pihak perusahaan mengambil peran dalam konservasi harimau sumatra

 

Harimau sumatera adalah ibarat jiwa bagi tubuh belantara Sumatera. Kehadirannya sulit dilihat, namun keberadaan dan auranya sungguh kuat terasa. Dialah satwa karismatis yang ditakuti sekaligus dikagumi. Dengan jumlah populasi harimau dan habitatnya yang berkurang drastis, kini Sumatera terancam kehilangan jiwanya.

Terancamnya harimau sumatera dan habitatnya adalah indikasi goyangnya keseimbangan lingkungan bumi Andalas. Meningkatnya jumlah penduduk yang diikuti dengan peningkatan kebutuhan pembangunan perekonomian telah mengakibatkan hilangnya sebagian besar habitat harimau. Bukan itu saja, keberadaan harimau juga mendapat tekanan dari pemburu – yang menginginkan setiap bagian dari tubuhnya – dan pembunuhan akibat konflik dengan manusia. Berbagai tekanan tersebut telah mengancam populasi harimau secara global hingga pada titik terburuk. Hutan sebagai habitat utama harimau sumatera kini telah banyak tergerus. Sebagian besar hutan di wilayah Sumatera kini telah berubah menjadi lahan tanaman akasia dan perkebunan sawit. Kedua komoditas tersebut, bersama dengan karet, kopi, dan tanaman lain kini telah membentuk wajah baru Sumatera. Meskipun demikian, tidaklah banyak gunanya kalau kita hanya saling menyalahkan. Kini saatnya mengubah ancaman menjadi peluang.

Telah disadari secara meluas bahwa kawasan lindung yang ada saat ini di Sumatera tidak cukup memadai untuk dapat mendukung kehidupan jangka-panjang satwa yang berdaerah jelajah luas seperti harimau sumatera. Oleh sebab itu, selain membutuhkan pengelolaan hutan yang baik, upaya konservasi harimau sumatera juga memerlukan peningkatan peran-aktif pengelola kawasan non-hutan termasuk perkebunan sawit dan Hutan Tanaman Industri (HTI) untuk menambah luas habitat maupun menjamin ketersediaan jalur lintasan/koridor bagi satwa untuk menjelajah. Bersamaan dengan upaya itu, sama pentingnya adalah upaya mencegah dan menangani (potensi) konflik yang terjadi antara harimau dan manusia.

Lebih jauh dari itu, perusahaan juga dapat dan perlu terlibat aktif dalam berbagai upaya mengatasi berbagai ancaman terhadap harimau melalui berbagai upaya seperti pencegahan dan penanganan konflik, pencegahan perburuan dan lain-lain. Semua itu dapat dilakukan melalui berbagai perbaikan dalam praktik pengelolaan dalam proses produksi sawit dan produk turunannya serta industri bubur kertas. Hal itu dapat dilakukan dengan melaksanakan bermacam-macam skema terkait dengan pelestarian lingkungan dan industri yang berkelanjutan yang telah ada, maupun skema lain yang perlu diidentifikasi.

Sebagai pegangan bagi perusahaan, diperlukan sebuah panduan praktis tentang cara-cara memperbaiki praktik  pengelolaan (umum dikenal dengan Better Management Practices/BMP) perkebunan, dan HTI. Buku ini hadir untuk mengisi kebutuhan tersebut.

Buku ini tidak akan berarti apa-apa bagi pelestarian harimau, kecuali jika perusahaan dan pihak-pihak terkait dapat mengadopsi dan menerapkannya dalam praktik sehari-hari. Masih banyak kekurangan dari buku ini. Ujicoba dan pembelajaran terus-menerus kiranya dapat memperkaya khazanah perbaikan praktik perusahaan untuk mendukung konservasi. Jika itu terjadi, kita dapat optimis keduanya akan menang. Harimau lestari, masyarakat sejahtera.

Buku BMP Harimau RAJUT BELANG dapat diunduh disini: http://dl.dropbox.com/u/5541944/BMPHarimau20111112.pdf

 

-dicuil dari Pendahuluan Rajut Belang-

 

Harimau Tesso Nilo: Apa kabarmu kini?

Harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrae ) hanya dijumpai di Pulau Sumatera dan diperkirakan yang tertinggal dibelantara hutan sudah tidak lebih dari 500 ekor, termasuk di Taman Nasional Tesso Nilo, yang saat ini tim riset harimau sumatera melakukan pemasangan camera trap untuk merekam keberadaannya. Sekarang ini, harimau sumatera tercantum sebagai Sangat Kritis dalam daftar Lembaga Konservasi Dunia IUCN dan merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia. Sanaknya, yaitu harimau Bali dan harimau Jawa, sudah punah dalam 50 tahun terakhir. Pengamatan terakhir atas harimau Bali dan harimau Jawa tercatat di akhir tahun 1930-an dan 1970-an.

Populasi harimau banyak tertekan akibat diburu dan semakin berkurangnya luas hutan secara dratis akibat dikonversi untuk penggunaan lain seperti kelapa sawit dan tanaman industri akasia yang cepat pertumbuhannya untuk industri kertas.

Camera trap/kamera intai adalah sebuah alat yang digunakan untuk merekam keberadaan harimau sumatera tersebut dan satwa lainnya. Kamera ini bekerja dengan menggunakan sensor panas tubuh dan tambahan inframerah yang telah didesain didalamnya dan akan merekam dengan sendirinya jika ada satwa yang melintas didepannya.

Pada tahun 2008 yang silam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo juga menjadi tempat/lokasi pemasangan camera trap, yang dilakukan selama tiga bulan, dan mendapatkan 75 bingkai foto dari 6 individu harimau. Itu membuktikan bahwa dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini masih banyak terdapat harimau sumatera atau Datuk Belang (sebutan masyarakat lokal di Pulau Sumatera untuk harimau). Selama periode tersebut, bukan hanya bingkai harimau saja yang didapat, akan tetapi juga terdapat satwa mangsa bagi harimau dan satwa lainnya; seperti babi hutan, kijang, rusa, monyet, tapir, beruang madu, macan dahan, dan gajah yang terfoto. Hal ini membuktikan bahwa Taman Nasional Tesso Nilo kaya dengan jenis mamalia.

Dan sekarang pada bulan juli tahun 2011, tim riset harimau sumatera kembali melakukan pemantauan terhadap harimau sumatera tersebut yang ada dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini, juga dengan menggunakan camera trap, sebab harimau tersebut sangat sulit untuk dipantau secara langsung.

Informasi akurat mengenai distribusi dan populasi sangat diperlukan dalam usaha melestarikan harimau Sumatera, satwa kebanggaan yang terancam kepunahan tersebut. Sejak Desember 2004, WWF bekerja sama dengan Depertemen Kehutanan, Virginia Tech, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai melakukan studi untuk mengungkap sebaran dan populasi harimau pada beberapa kawasan di Riau, khususnya di lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh. Beragam metode digunakan dalam riset, termasuk camera trap/kamera intai seperti yang dilakukan di hutan Tesso Nilo.

Dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini terdapat 48 unit camera trap yang terpasang, yang dibagi menjadi 24 lokasi titik pemasangan ( masing-masing camera dipasang berpasangan ). Ada dua jenis camera yang dipasang dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini yaitu kamera jenis Reconix dan Busdnell.

Untuk melakukan pemasangan kamera tersebut tim dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Tim Timur  yang diketuai oleh Zulfahmi, dan melakukan pemasangan sebanyak 9 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 18 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap adalah grid  AI 20, grid AH 19, grid AG 18, grid AI 18, grid AH 17, grid AF 17, grid AG 16, grid AF 15, dan grid AG 14 ( grid 2×2 ). Tim ini masuk dari desa Pontian Mekar.
  2. Tim Tengah yang diketuai oleh Agung Suprianto, dan melakukan pemasangan sebanyak 6 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 12 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap adalah grid AE 20 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium), grid AG 20 ( jenis camera Reconix dan Busdnell ), grid AF 19 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium ), AE 18 ( jenis camera Reconix dan Busdnell ), grid AE 16 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium ), dan grid AD 17 ( jenis camera Reconix ). Tim tengah ini masuk dari PT Rimba Lazuardi ( PT.RL ) atau camp GERHAN.
  3. Tim Barat yang diketuai oleh Efendy Penjaitan, dan melakukan pemasangan sebanyak 9 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 18 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap  adalah grid AC 16 ( jenis camera Reconix dan busdnell ), grid AD 15 ( jenis camera reconix dan buadnell ), grid AC 14 ( jenis camera reconix ), grid AC 20 ( jenis camera reconix ), grid AB 19 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AD 19 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AC 18 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AB 17 ( jenis camera reconix dan busdnell ), dan grid AB 15 ( jenis camera reconix dan busdnell ).

Sebelum tim melakukan pemasangan kamera intai ini, terlebih dahulu tim melakukan survey awal yang disebut survey occupancy untuk mendeteksi keberadaan harimau, mangsa, dan ancaman terhadap habitatnya, dan mengidentifikasi lokasi-lokasi terbaik untuk pemasangan camera trap. Setelah dilakukan survey awal ini, barulah camera intai dipasang ditempat-tempat/grid-grid yang telah ditentukan.

Pertengahan Juli 2011, tim mulai melakukan pemasangan kamera intai tersebut dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Untuk mendapatkan keberadaan harimau dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini, maka kamera intai dipasang selama tiga bulan dengan mengambil tiga sample. Dan setiap bulan nya kamera intai tersebut dilakukan pengecekan untuk pergantian bateray dan memori card.

 Harimau Dataran Rendah

Cara hidup satwa, khususnya harimau, di daerah dataran rendah ini bukan merupakan hal yang misteri lagi. Karena sudah banyak peneliti yang menjelajahi nya yang tidak sulit untuk ditempuh. Jika kita berbicara pelestarian harimau sumatera, khususnya Riau, hutan dataran rendah merupakan habitat yang dapat diharapkan. Walaupun sebagian besar hutan dataran rendah, seperti kita ketahui, telah banyak yang lenyap, yang bergantikan sawit dan akasia. Akan tetapi, hutan Tesso Nilo ini yang juga menjadi tumpuan harapan kita untuk pelestarian harimau tersebut.

Keberadaan harimau di hutan dataran rendah, seperti Tesso Nilo ini memang tidak perlu diragukan lagi. Sudah banyak bukti yang terkumpul bahwa hutan dataran rendah menjadi habitat harimau. Salah satunya di Taman Nasional Tesso Nilo. Seperti penelitian yang dilakukan WWF dan Depertemaen Kehutanan di kawasan ini beberapa waktu yang lalu telah berhasil memotret beberapa individu harimau di Taman Nasional tersebut.

Hasil foto dari camera intai di Taman Nasional Tesso Nilo, cukup mengagumkan. Betapa tidak, berbeda dengan habitat lain seperti Suaka Margasatwa Kerumutan yang merupakan hutan gambut. Di Taman Nasional Tesso Nilo camera intai banyak mendeteksi jenis-jenis satwa mangsa potensial bagi harimau, seperti kijang ( Muntiacus muntjac ), rusa ( Cervus unicolor ), dan babi hutan ( Suscropa. ).

Sebelum seekor harimau terfoto di lokasi ini, biasanya, lebih banyak satwa mangsa yang terjepret terlebih dahulu. Selama tiga bulan memasang 48 unit camera di 24 lokasi, kami mendapatkan beberapa bingkai foto harimau. Selama periode tersebut, lebih banyak satwa mangsa yang terjepret kamera, seperti babi hutan, rusa, dan kijang yang merupakan mangsa utama harimau. Ini membuktikan bahwa di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini harimau punya cukup makanan. Seperti yang kita ketahui, sebagai pemangsa berbadan besar, harimau memilih satwa berukuran besar ( >20 kg ) sebagai mangsa utamanya. Setiap dua tiga hari harimau umumnya memerlukan seekor mangsa seukuran kijang dan dalam setahun diperlukan sekitar 50 ekor mangsa seperti itu. Harimau memang dapat bertahan hidup dengan mangsa berukuran kecil, namun energy yang diperoleh tidak akan sebanding dengan tenaga yang dihabiskan untuk mendapatkannya. Sebagai akibatnya, harimau tidak akan dapat berkembang biak. Dan bahkan, berpotensi terlibat konflik dengan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pemangsaan ternak.

Di atas tadi telah dikatakan, bahwa di kawasan Taman nasional Tesso Nilo ini terdapat 48 unit kamera intai yang terpasang pada 24 lokasi pemasangan. Dan terbagi tiga tim untuk melakukan pemasangannya, yaitu ; bagian Timur, bagian Tengah, dan bagian Barat. Nah, dari hasil kamera intai tersebut, pada bagian Tengah Taman Nasional Tesso Nilo ini, kamera intai sangat sulit sekali melacak keberadaan harimau tersebut. Berbeda dengan lokasi pada bagian Timur dan bagian Barat, yang dapat melacak beberapa individu harimau. Padahal, pada bagian Timur dan Barat tersebut terdapat beberapa aktifitas masyarakat setempat yang melakukan perambahan dan pembalakan. Terutama pada bagian Timur, jika kita lihat dilokasi ini, begitu banyak aktifitas masyarakat yang kita jumpai, salah satunya perambahan hutan dan pembalakan, serta masyarakat pencari burung, seperti yang ditemukan oleh tim dilapangan.

Akan tetapi, harimau lebih banyak bermain didaerah ini dibandingkan pada daerah bagian tengah yang sama sekali tidak ada aktifitas masyarakat. Terbukti, beberapa camera intai telah merekamnya. Mungkinkah harimau tersebut lebih suka bermain didaerah yang terang/terbuka ? dan mungkinkah harimau tersebut lebih memilih jalur yang mudah dia lalui ?….. benarkah demikian ?

Seperti yang dilaporkan Edi, salah seorang anggota plying squad Taman Nasional Tesso Nilo, tanda-tanda keberadaan harimau tersebut sering dijumpainya disekitar perkebunan akasia milik PT.RAPP yang tidak jauh dari camp playing squad tersebut. Dan juga harimau tersebut sering berkeliaran di daerah simpang silau desa Air Hitam yang membuat resah masyarakat, Edi menambahkan. Perkebunan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo tersebut juga menjadi daerah pergerakan individu-individu harimau yang ada di kawasan ini.  Dengan adanya informasi tersebut membuktikan bahwa harimau sepertinya lebih suka bermain didaerah yang terang, dan daerah yang mudah untuk dilewatinya, dibandingkan dengan hutan yang masih lebat.

Melihat banyaknya masyarakat yang beraktifitas disekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, seperti perambahan hutan dan pembalakan, bisa membuat harimau merasa terganggu dan tidak nyaman. Ketidaknyamanan tersebut bisa mengakibatkan keagresifan harimau, yang berpotensi terjadinya konflik dengan masyarakat secara langsung. Apa yang harus kita lakukan agar tidak terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat tersebut ? haruskah kita menunggu sampai konflik itu terjadi ? ( Kusdianto )