Disaat hutan tak lagi sempurna

Oleh : Kusdianto

 


Hutan disulap menjadi lahan Perkebunan dan

Pemukiman masyarakat

Perkampungan masyarakat yang terdapat dikawasan Ex.PT IFA

Perkampungan masyarakat yang terdapat dikawasan Ex.PT IFA

Daerah yang ada dikawasan hutan Exs PT IFA beberapa tahun silam merupakan kumpulan pohon-pohon lebat yang rapat. Beberapa bagiannya juga terdapat bencah, tanah berair. Sekarang pemandangan seperti itu susah ditemui didaerah ini. Meskipun masih ada pepohonan tetapi tidak lagi rapat. Kawasan tersebut telah banyak yang mendiaminya. Telah banyak masyarakat yang membuat perkampungan dikawasan ini. Satu diantara perkampungan penduduk dikawasan ini adalah Estapet. Penduduk yang membuat perkampungan didaerah ini menyulap pepohonan besar dan lebat menjadi rumah dan areal lahan perkebunan. Kawasan ini dahulunya masih banyak didiami si datuk besar yakni gajah, sekarang mereka seperti kebingungan mencari tempat tinggal mereka yang aman dan nyaman.

Seperti sebuah mimpi, hutan yang dulunya adalah rumah bagi para binatang dan tempat dimana mereka mencari makan. Sekarang telah menjadi perkampungan, dan ladang masyarakat. Kawasan hutan exs PT.IFA ini contohnya. Tiada lagi tempat para binatang untuk berlindung, seperti gajah dan harimau. Pembukaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat untuk dijadikan perkampungan dan lahan perkebunan, membuat gajah dan harimau kehilangan tempat tinggal. Sungguh menyedihkan…..!! Padahal didaerah ini masih terdapat beberapa sekumpulan gajah liar dan harimau Sumatera.

Pembukaan lahan oleh masyarakat dikawasan Ex.PT IFA

Pembukaan lahan oleh masyarakat dikawasan Ex.PT IFA

Jadi, tidak heran bila kita pergi kedaerah ini akan menjumpai sekumpulan gajah-gajah liar yang berliaran. Bahkan kadang kala para gajah-gajah liar ini merusak rumah dan tanaman masyrakat yang ada disekitar daerah ini. Masyarakat yang bermukim didaerah ini rata-rata berasal dari luar daerah. Dan jumlahnya lumayan cukup banyak, hingga mencapai sekitar 800 kepala keluarga.

Camera Trap

Zulfahmi sedang melakuka pemasangan camera trap

Zulfahmi sedang melakukan pemasangan camera trap

Ada beberpa lokasi pemasangan camera trap dikawasan hutan PT. Lestari Asri Jaya dan Hutan lindung Bukit Sosah.  Dan terdapat dua jenis camera yang dipasang dikawasan ini yaitu jenis Bussnel dan Reconix. Camera ini dipergunakan untuk merekam keberadaan satwa-satwa liar yang terdapat dikawasan ini, terutama Harimau Sumatra ( Panthera tigris sumatrae ).

Jika anda melewati atau memasuki hutan PT. Lestari Asri Jaya dan Hutan Lindung Bukit Sosah ini, anda harus berhati-hati, karena disana terdapat beberapa camera pengintai yang siap menjempret anda. Camera yang memiliki sensor imframerah yang telah didesain dalam camera tersebut, camera ini akan menyempret dengan sendirinya jika ada benda yang melintasinya.

Hujan yang mengguyur di akhir-akhir bulan januari ini sampai minggu pertama bulan pebruari, tidak menyurutkan semangat kami untuk terus berjuang mencari lokasi yang tepat untuk dilakukan pemasangan camera. Camera trap ( kamera jebakan ) akan menjadi saksi bisu, bahwa dikawasan ini masih terdapat harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ).

Kawasan hutan PT.Lestari Asri Jaya dan hutan lindung bukit sosah menjadi tempat tinggal harimau sumatera saat ini. Walaupun kawasan ini kurang begitu nyaman bagi mereka, namun hanya inilah tempat yang bisa dijadikan rumah bagi harimau yang ada disekitar daerah ini. Apalagi kawasan PT.Lestari Asri Jaya ini, tidak akan lama lagi akan dijadikan hutan industri. Sekarang saja telah banyak masyarakat yang mulai membuka lahan didaerah ini untuk dijadikan lahan perkebunan. Hanya hutan lindung bukit sosah yang menjadi harapan kita kedepan nya, untuk menjadi rumah bagi harimau tersebut. Mengingat inilah harimau satu-satunya yang masih bertahan di Indonesia, setelah harimau Jawa dan Bali punah. Semoga hutan lindung bukit sosah tetap bisa bertahan.

Jejak Harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.LAJ

Jejak Harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.LAJ

Setelah dilakukan penjelajahan dikawasan ini, terdapat beberapa titik keberadaaan harimau Sumatera yang ditemui, baik itu merupakan tanda tapak / jejak, kotoran maupun tanda cakaran nya dipohon. Untuk merekam keberadaan nya ini, maka dilakukan pemasangan camera penjebak pada dua puluh titik pemasangan. Dengan jarak antara camera yang satu dengan yang lainnya berjarak sekitar dua kilometer. Kamera dipasang berpasangan, agar kita mendapatkan kedua sisinya yaitu sisi kiri dan kanan.

Camera jenis bussnel memakai image size 5 M pixel, dengan capture number 2 photo, dan intervalnya 15 detik, serta menggunakan sensor level normal / high. sedangkan camera jenis reconix menggunakan sensitive medium, dengan picture per trigger 2, picture interval 3, dan quid period 30 detik, serta resolutionnya 3,1 mp.

Camera trap dan peralatannya

Camera trap dan peralatannya

Beberpa lokasi keberadaan harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.Lestari Asri Jaya

Nama umum Nama latin GPS keterangan
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Tapak / Jejak
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Tapak / Jejak
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Kotoran

Pemasangan camera dilakukan selama dua mingguan, mulai dari akhir bulan januari sampai pertengahan bulan pebruari. Sebelumnya telah dilakukan pra survey terhadap kawasan ini, namun setelah di nyatakan bisa untuk dilakukan pemasangan. Maka barulah dilakukan pemasangan camera tersebut. Dan pada akhir bulan pebruari ini akan dilakukan kembali pengecekkan terhadap camera – camera tersebut.

Semoga camera-camera yang dipasang pada dua kawasan ini dapat merekam keberadaan harimau Sumatera tersebut.

*****Salam rimba*****

Konflik Manusia – Satwa Liar, Mengapa Terjadi?

Konservasi Alam Edisi III Tahun 2009 (Penulis: Siti Chadidjah Kaniawati)

Beberapa tahun terakhir sering terjadi konflik antara manusia dan satwa liar. Catatan berikut ini mendaftar sederetan pertikaian yang pernah terjadi di berbagai wilayah di Sumatera.

Di Nanggore Aceh Darusalam konflik manusia-harimau dari 1998 sampai Maret 2009 tercatat 47 kali; antara 2008 hingga Maret 2009, Jambi didera 16 konflik, dan di Bengkulu, pada 2008 tercatat 10 konflik. Sementara itu, konflik manusia-gajah pada 2007 terjadi 31 kali dan pada 2008 terjadi 26 kali. Konflik itu terjadi di empat provinsi: NAD, Sumatera Utara, Riau dan Jambi.

Kubu satwa liar yang sering bertikai dengan manusia melibatkan gajah, harimau, orang utan, buaya, dan beruang. Meski konflik juga terjadi di provinsi-provinsi lain, nampaknya pertikaian gajah dan harimau di Sumatera terbilang sengit.

Konflik tak kunjung usai itu cenderung menimbulkan sikap negatif pada diri manusia, yaitu terbunuhnya satwa liar. Efek terburuk konflik bukan hanya jatuhnya korban manusia atau satwa liar, tapi juga berkurangnya apresiasi manusia terhadap satwa liar, yang selanjutnya muncul efek detrimental atas upaya konservasi.

Jika dibiarkan, perlahan tapi pasti, bumi akan menambah panjang daftar satwa yang punah.

Pertikaian yang terus terjadi mendorong pemerintah dan para pihak terkait untuk duduk bersama dan merumuskan ketentuan dalam penanganan dan pencegahan konflik yang optimal.

Salah satu hasil dari “kebersamaan” itu adalah terbitnya Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2008 tentang Pedoman Penanggulangan Konflik Satwa Liar dan Manusia.

Peraturan ini memuat prinsip-prinsip yang harus diperhatikan dalam penanggulangan konflik, kelembagaan yang perlu dibentuk untuk optimalisasi upaya yang dilakukan, dan prosedur penanggulangan konflik. Selain itu, juga memuat upaya pencegahan konflik dan tindakan pascakonflik.

Bila jatuh korban, baik luka atau meninggal, misalnya, peraturan itu menyatakan adanya kompensasi bagi korban. Tentu saja, korban memenuhi kriteria yang ditetapkan.

Upaya penanggulangan konflik mesti memperhatikan sejumlah hal berikut ini. Yang pertama dan utama, penyelesaian konflik harus berpandangan manusia dan satwa liar sama-sama penting. Lokasi konflik yang tersebar cukup luas, mensyaratkan penanggulangan konflik berorientasi kepada berbagai faktor yang berperan dalam sebuah konflik (site specific).

Dengan demikian, tidak ada solusi tunggal. Penanggulangan konflik memerlukan rangkaian kombinasi berbagai solusi potensial yang komprehensif. Penanggulangan konflik yang komprehensif harus berdasarkan penilaian yang menyeluruh dari keseluruhan daerah jelajah satwa liar (home range based mitigation).

Dan, terakhir, penanggulangan konflik harus melibatkan berbagai pihak terkait, termasuk dunia usaha dan para pengguna lahan skala luas, untuk berbagi tanggungjawab.

Dalam menanggulangi perkelahian satwa-manusia ini juga berlaku pepatah: mencegah lebih baik daripada mengobati. Lantas, bagaimana cara mencegah terjadinya konflik?

Pencegahan dimulai dengan menelisik penyebab konflik. Sejumlah hal menyulut konflik manusia-satwa.

Degradasi dan penyusutan habitat menjadi penyebab utama konflik. Penurunan kualitas dan kuantitas habitat itu memunculkan persoalan ikutan lainnya, seperti perburuan liar. Belum adanya komitmen kuat dari berbagai pihak dan penegakan hukum yang lemah membuat persoalan kkonflik satwa kian rumit.Degradasi dan penyusutan habitat terjadi karena berbagai sebab: perombakan habitat satwa menjadi fungsi lain, yang tidak mendukung kebutuhan ruang dan pakan satwa, perambahan hutan, kebakaran hutan, dan pembangunan infrastruktur tan¬pa berbasis lingkungan hidup.

Di sisi lain, masyarakat juga melakukan perburuan liar terhadap satwa-satwa mangsa, baik karena dipandang menjadi ‘hama’ (babi hutan, misalnya) maupun untuk pemenuhan kebutuhan protein. Akibatnya, sat¬wa pemangsa keluar dari daerah jelajahnya, untuk memenuhi kebutuhan pakan.

Dalam pada itu, penegakan hukum yang lemah dan kurang¬nya pemahaman masyarakat dan pengambil kebijakan di daerah terhadap konservasi satwa liar menambah panjang daftar konflik manusia-satwa liar.

Untuk menekan terjadinya konflik ataupun mengurangi kerugian pada kedua belah pihak, perlu adanya penyamaan persep¬si tentang konservasi satwa liar dan keinginan kuat untuk selalu memasukkan kebutuhan ruang dan pakan satwa liar ke dalam perencanaan pembangunan.

Pemahaman masyarakat yang mendalam tentang interaksi dan keterkaitan antar-komponen dalam suatu ekosistem serta peng¬embangan ekonomi alternatif merupakan upaya-upaya yang harus dibangun untuk menda¬patkan komitmen bersama.

Untuk mewujudkan hal tersebut, sektor-sektor terkait dalam pembangunan harus selalu bergandengan tangan agar langkah yang akan diambil selalu seirama.***

http://www.ditjenphka.go.id/?Page=Artikel&Do=Detail&ID=15P48_08_konflik manusia dengan satwa

Kiat Menghindari dan Mencegah Konflik dengan Harimau

Kiat Mencegah dan Menghindari Konflik dengan Harimau Sumatra

silakan klik link di atas untuk mendapatkan rangkuman kiat-kiat mencegah konflik.  akan lebih baik kalau lembaran ini bisa disebarluaskan kepada yang lain.

Kita hidup di pulau Sumatra tidak sendiri, melainkan bersama Harimau Sumatra, satwa kharismatik yang menjadi simbol kekayaan hayati negeri kita. Dengan luas pulau dan hutan-hutan Sumatra yang terbatas dan tidak akan pernah bertambah, satu-satunya cara agar kita dan semua makhluk hidup lain dapat hidup berdampingan adalah dengan saling menghormati keberadaan masing-masing.
Akhir-akhir ini banyak berita konflik harimau-manusia yang diedarkan oleh media cetak dan online. kalau kita sadari bahwa bumi ini juga milik makhluk hidup yang lain, tentu kita harusnya bisa saling menjaga dan bukannya saling mencelakai.
Semoga tidak perlu lagi ada harimau yang harus mati tanpa belum sempat menunaikan tugasnya sebagai top predator yang mengendalikan populasi satwa-satwa herbivora..
dan manusia tidak perlu selalu curiga dan dendam pada makhluk lain.
mari kita berbagi ruang dan sumberdaya.

Harimau di Tahun Harimau

Penamaan konflik manusia dengan Harimau merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Memasuki pertengahan tahun 2010 yang masih disebut tahun Harimau berdasarkan hitungan tarikh tahun Tionghua kerap disebut Shio Harimau. Penanggalan Tahun tersebut menimbulkan beragam tafsir tergantung siapa yang menafsir, seperti versi kesenangan hingga ancaman. Tahun Harimau juga sejalan dengan ancaman terhadap keberadaan Harimau Sumatera yang diduga kian terancam seiring ekpolitasi hutan dengan nama pembangunan. Laju pembangunan yang mengedepankan sektor perkebunan berimbas memupuskan harapan hidup dan memperkecil akses hidup bagi Harimau yang secara langsung memutus akses mata rantai makanan, dengan eksploitasi hutan di kantung-kantung populasi Harimau. Kantung populasi tersebut tersebar dari Lampung, Riau hingga yang terbanyak populasinya di Provinsi Aceh. Beberapa Taman Nasional di Pulau ini tak mampu menopang daya dukung habitat bagi populasi Harimau di Sumatera. Bahkan sering terdengar Harimau bermain di tatanan enclave, ini juga indikasi bahwa Taman Nasional bukan habitat yang baku untuk kawasan proteksi habitat Harimau. Seiring dengan itu Harimau terdengar mengancam penduduk bahkan mata pencaharian penduduk, dan secara otomatis masyarakat cemas merasa terganggu dengan kehadiran Harimau dan disebut dengan konflik yang kerap disebut dengan konflik manusia dan Harimau. Padahal penamaan konflik juga merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Karena Harimau hidup hanya mencari makanan dan mempertahankan kawasannya dan makanan tersebut kadang berada di kawasan pemukiman, satwa mangsa berupa ternak di desa seperti sapi, kambing dan sebagainya dan kerap juga mengancam manusia. Sehingga kadang satwa Harimau yang hadir di desa membuat suasana mencekam. Kahadiran Harimau menjadi momok dan berimbas pada pembunuhan berencana terhadap Harimau oleh masyarakat desa. Laju pembunuhan juga berdampak sistematis pada penurunan jumlah populasi. Harimau mati terjerat akibat jeratan sengaja maupun tak sengaja seperti terkena jeratan Babi dan Rusa atau Harimau sengaja dijerat untuk diperdagangkan. Harimau mati diburu untuk kulitnya hingga Harimau dipelihara oleh manusia. Hal ini yang selalu menimpa top predator tersebut.

Penegakkan hukum untuk melindungi satwa kebanggaan Pulau Sumatera ini lemah, tak sebanding dengan keteranan namanya. Pertanyaan tersulit untuk dijawab, ”Bagaimana jika Harimau punah apakah yang akan terjadi bagi kondisi ekologi di daerah tersebut?”, “Apakah yang terjadi di hutan tersebut?” contoh kasus seperti yang terjadi Pulau Bali dan Pulau Jawa dimana satwa Harimau punah. Tapi dampaknya tak berpengaruh secara langsung. Harimau Jawa punah dan pada ranah ekologi juga tidak menjelaskan secara eksplisit bagaimana hilangnya rantai makanan, tak ada kejadian apapun di hutan Pulau Jawa dan Bali. Bahkan secara pragmatis di Pulau Bali kunjungan turis dari dulu hingga sekarang ramai berdatangan dan menjadi sumber ekonomi daerah tersebut. Ini juga terjadi di Pulau Jawa yang menjadi pusat bisinis nusantara yang menjadi macannya ekonomi Indonesia. Tak ada Harimau tak berpengaruh, juga tak ada analisis kuat tentang hilangnya Harimau juga hutannya kemudian berpangaruh, butuh argumen ilmiah terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Juga di Pulau Sumatera ketika Harimau tinggal ratusan ekor bahkan puluhan. Apakah dengan hilangnya habitatnya akan berpengaruh kepada tatananekologi dan mata rantai makanan? Atau kita hanya kehilangan satu species yang paling terkenal di dunia? Harimau Sumatera punah di hutan Sumatera dan hutannya menjadi kota dan menjadi ladang bisnis seperti di pulau Jawa dan bali. Kita gunakan analisa mudah dan tak perlu terlalu jenius untuk menganalisis hal ini; satwa Harimau yang memakan daging yang berasal dari satwa Rusa dan Rusapun memakan tanaman dan tanaman memakan unsur hara. Tanaman mati akan dimakan bakteri atau unsur hara dan unsur hara akan dimakan oleh pohon, pohon juga intermediate dan mati. Pohon mati diserap serangga penghancur dan Serangga penghancur tersebut dimakan Burung dan Burungpun dimakan Ular, satwa Ularpun dimakan oleh Cerpelai, Cerpelaipun dimakan Harimau. Simbiosis mutuliasme antara pemangsa dimangsa terjadi di alam berputar sesuai porsinya dan kesemuanya itu dimakan oleh manusia sang Mega Predator melalui jargon pembangunan dan manusia pun mati digrogoti penyakit melalui virus dan bakteri.

Harimau adalah bukti agungnya hutan kita di Pulau Sumatera, kebanggaan sosial budaya yang menempatkan Harimau sebagai simbologi keperkasan sang alam. Tak ada satwa yang diperlakukan dalam sejarah Sumatera yang diagungkan begitu dahsyat di hutan ini selain Harimau. Bahkan simbol Harimau terkesan mistis dan angker ini dibuktikan di Pulau Sumatera, penyebutan Nenek, Datok ini simbologi yang mengukuhkan eksistensi hutan Sumatera. Sosial budaya menyelamatkan Harimau, sebagai contoh masyarakat di sekitar hutan akan selalu was-was jika di hutan mereka ada Harimau, bahkan ada perlakuan khusus jika memasuki hutan itu agar tak berjumpa dengan Harimau. Konon jika bertemu Harimau membuat yang bertemu akan menjadi gila di kemudian hari dan mulutpun terkunci, maka iring-iringan doa dikumandangkan agar masuk ke hutan tak berjumpa dengan satwa besar itu. Perlakuan agung terhadap satwa Harimau terdengar di negeri India dan Tinghoa yang memperlakukan hal sama. Mereka menghargai dengan meletakan simbol Harimau yakni shio Harimau ke dalam hitungan tarikh mereka. Harimau begitu tegar, Harimau begitu anggun, Harimau memiliki kekuatan alam.

Seiring maraknya konflik Harimau yang terjadi di Pulau Sumatera dan pembukaan wilayah baru untuk alasan pembangunan di hutan di rumah Harimau, hutan yang selalu dibuka untuk kebun besar yang akan menyempitkan daya dukung Harimau berjelajah. Ini membuat status keberadaan Harimau terjepit sakit di antara roda-roda pembangunan yang mengindahkan kaedah konservasi. Kondisi saat ini adalah robeknya kantung-kantung populasi Harimau di Pulau Sumatera yang berada beberapa provinsi seperti di Lampung, Sumatera Barat, Riau dan kantung populasi terbesar di Provinsi Aceh. Kesalahan berulang-ulang dalam mendisain hutan melalui konsep tata ruang akan selalu dan selalu mengorbankan Harimau sang raja hutan dan pengikutnya satwa-satwa di hutan. Peluang untuk itu ada, dengan memasukan perencanaan Tata Ruang Pulau Sumatera berbasis ekosistem. Ini merupakan solusi strategis dalam upaya pembangunan sektor kehutanan berkelanjutan di Pulau Sumatera yang berbasis pendekatan ekologi untuk menyelamatkan populasi Harimau dan hutan sebagai rumahnya.

Shio Harimau atau Tahun Harimau menandakan bahwa Harimau akan masuk dalam kondisi kritis dan keterancaman habitat dan populasi atau kondisi yang akan menguntungkan bagi Harimau. Penuh harapan bahwa Tahun Shio Harimau ini akan menandakan bahwa Harimau akan bertambah baik jumlah populasinya. Seiring perbaikan signifikan terhadap habitat dan berproses pada dinamika populasi, atau telah diprediksi oleh orang-orang terdahulu dari tafsir petuah kuno di Sumatera ”Harimau Mati Meninggalkan Belang” Harimau telah ditakdirkan mati dan punah seperti layaknya mati sang Raja yang selalu dikenang sepanjang masa.

ditulis oleh: Azhar Lampoh

dimuat di Harian WASPADA Sumatra Utara

foto&gambar:

http://vanpoerba.wordpress.com/2010/01/05/macan-di-2010/

Dampak Kerusakan Hutan Terhadap Harimau Sumatra

Disadur dari Laporan Khusus Masalah Kehutanan di Indonesia
BBC Indonesia 9 Juni 2010
Hutan AcehHutan Ulu Masen Kecamatan Mane Geumpang Kabupaten Pidie menjadi habitat harimau Sumatra di Aceh

Pembalakan liar atau illegal logging merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya populasi harimau Sumatra, selain perburuan dan konflik dengan manusia.

Data Sementara survey lima lembaga memperkirakan jumlah harimau Sumatra terbesar berada di kawasan hutan Aceh.

Di pondok milik Community Response Unit CRU di kawasan Gumue, Banta, penduduk setempat, menceritakan habitat harimau Sumatra di Blang Raweuh yang merupakan kawasan Savana di kawasan hutan Ulu Masen Kecamatan Mane Geumpang Kabupaten Pidie.

”Saya sering melihat harimau Sumatra di hutan Ulu Masen”, kata Bantal.

Hutan Ulu Masen merupakan salah satu habitat harimau Sumatra di Aceh selain Taman Nasional Gunung Leuser.

Penelitian yang dilakukan 2007-2009 oleh lima lembaga termasuk Departemen Kehutanan menyebutkan populasi harimau Sumatra di Aceh paling besar.

Koordinator program konservasi harimau Wildlife Conservation Society, Hariyo T Wibisono mengatakan, data sementara hasil penelitian populasi harimau Sumatra dewasa di Aceh masih ada sekitar 150-200 ekor.

”Penilaian status terkini terhadap harimau Sumatera di hampir 80% habitat yang tersisa dari 2007 hingga 2009, data awal yang bisa disimpulkan bahwa populasi terbesar di Aceh terutama di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan Bentang Alam, Ulu Masen. Saya bisa katakan sekitar 150 sampai 200 harimau yang tersisa”.

Program Director Flora Fauna Indonesia Aceh, Dr. Matthew Linkie, mengatakan Aceh merupakan salah satu habitat harimau Sumatra terbesar, karena kondisi hutan yang masih lestari.

”Itu merupakan kabar yang bagus dari populasi harimau yang sehat dan kemungkinan stabil. Aceh merupakan tempat yang penting untuk harimau, ada beberapa tempat habitat harimau di Sumatra yang bisa jadi terbesar di dunia, selain Asia dan Rusia”.

Daya jelajah luas

HarimauHarimau Sumatra memiliki daya jelajah yang luas

Hariyo memperkirakan jumlah harimau Sumatra mencapai 500-700 ekor di sejumlah habitat yang diteliti.

Pada 1994 diperkirakan populasi harimau Sumatra terutama di taman-taman Nasional yang ada di Sumatra sekitar 400-500 ekor.

Tetapi kedua data itu tidak bisa dibandingkan karena menggunakan metode penelitian yang berbeda.

“Dulu metodenya sangat sederhana hanya semacam menghitung luas jelajah, tidak turun ke lapangan untuk menghitung. Sebagian datang melalui informasi dari staf lapangan, dari masyarakat setempat kemudian dikumpulkan kemudian dikombinasi dan dianalisis sederhana. Sekarang menggunakan metode yang sangat baik dan disepakati oleh semua pihak sehingga hasilnya tidak bisa dikomparasi begitu saja”, kata Hariyo. Habitatnya tergerus dan terjadi fragmentasi, ini mempersempit wilayah utama jelajah harimau

Matthew Linkie menjelaskan salah satu kunci utama dalam metode survey yang digunakan untuk mengetahui populasi harimau Sumatra, dengan melihat menurun atau naiknya populasi harimau di daerah yang dilindungi atau wilayah jelajah harimau.

”Anda bisa melihat dari persentase wilayah jelajah harimau seperti 70% pada tahun pertama dan tahun kedua turun ke 50% kami lebih melihat pada persentase penyebaran harimau yang selalu berubah dari tahun ke tahun itu yang akan kami gunakan dalam monitoring jika polupasi menurun kami akan cari tahu penyebabnya jika karena deforestasi kami akan melakukan konservasi di sekitar habitat harimau tersebut”.

Populasi yang diperkirakan menurun itu membuat harimau Sumatra sejak 1996 dikategorikan sebagai hewan yang sangat terancam kepunahan (critically endangered) oleh International Union for Conservation of Nature IUCN (Cat Specialist Group 2002).

Perkiraan penurunan populasi harimau Sumatra karena jumlah habitatnya berkurang.

Menurut Hariyo, kerusakan habitat merupakan salah satu faktor yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup harimau Sumatra.

”Khusus Sumatra ancaman yang paling tinggi adalah fragmentasi dan penyusutan habitat, karena harimau itu mempunyai daya jelajah yang luas”

”Di Aceh sendiri ada yang bisa mencapai 250 km persegi. Bisa dibayangkan satwa dengan wilayah jelajah yang luas seperti itu kemudian habitatnya tergerus dan terjadi fragmentasi, ini mempersempit wilayah utama jelajah harimau”.

Konflik dengan manusia

Hutan AcehPembalakan hutan menyebabkan habitat harimau tergerus

Selain itu, populasi harimau Sumatra juga terancam karena maraknya perburuan dan konflik dengan manusia.

”Kita melihat indikasi kuat ini berhubungan dengan perdagangan, ditangkap kemudian dimanfaatkan hasilnya”.

Perburuan satwa liar yang menjadi mangsa harimau juga berpengaruh terhadap populasinya. Seperti disampaikan oleh Andoko Hidayat Kepala urusan program Balai Konservasi Sumberdaya Alam NAD.

”Penurunan ini dipicu oleh adanya perusakan hutan yang semakin meningkat dan perburuan rusa atau satwa liar lain yang memungkinkan terputusnya mata rantai makanan harimau”. Ada beberapa kasus yang sudah diselesaikan dengan proses hukum

Berbagai upaya untuk konservasi harimau Sumatra di lakukan di Aceh, salah satunya dengan pencegahan penebangan liar seperti disampaikan oleh Andoko.

”Yang bisa merusak habitat adalah pembalakan liar, kami sudah melakukan penyuluhan dan ada beberapa kasus yang sudah diselesaikan dengan proses hukum”, kata Andoko

Selain dari Balai Konsevasi, berbagai upaya penyelamatan harimau Sumatra dilakukan antara lain dengan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

”Kami dari Wildlife Conservation Society melakukan monitoring status populasi antar waktu, kegiatan anti perburuan dan perdagangan, aktif patroli lapangan dan juga ada unit mitigasi konflik antara harimau dengan manusia.

Ruang jelajah harimau sumatera yang semakin berkurang membuat kemungkinan pertemuan manusia dengan satwa langka itu cukup tinggi. Terutama di sejumlah daerah seperti Aceh Selatan dan Jambi.

Sampai Maret 2010, Taman Nasional Berbak TNB Jambi tercatat dua kali manusia diterkam harimau.

Tahun sebelumnya, Februari-Maret 2009, konflik harimau dan manusia memakan 11 korban di hutan produksi di Kecamatan Sungai Gelam Muaro Jambi.