Harimau Sumatra dan Ronny Paslah?

Catatan Perjalanan Pengambilan Camera Trap di Taman Nasional Tesso Nilo, Juli 08

Oleh : Kusdianto

 

Siang itu tanggal 08 Juli 2008, tim Lancang Kuning bergerak menuju lokasi camera trap (CT) yang dipasang beberapa bulan yang lalu oleh Agung dan teman-temannya, tepatnya pada bulan April 2008, tim ini terdiri dari 4 (empat) orang diantaranya : Agung, Mila, Koes, dan Jamin. Tim didrop dari Flying Squad camp menuju pos Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang ada di Lancang Kuning dengan menggunakan mobil Ranger yang dikendarai oleh Ronny Paslah. Eit, jangan sampai berpikir ini Ronny Paslah kiper Nasional Paling tersohor di Indonesia pada era 1960an yang pensiun dari kegemarannya menggagalkan usaha lawan untuk menjebol gawang dan kemudian beralih kegemaran menjadi sopir. Ronny Paslah kami adalah seorang pria bersahaja nan lucu yang berdedikasi pada keluarganya dan konservasi lingkungan. Hari ini tim istirahat di pos TNTN dan melakukan perjalanan esok harinya untuk melakukan pengambilan CT yang dipasang pada grid AB13 (TNTN). Pemasangan camera trap di hutan Tesso Nilo telah dimulai sejak tahun 2004. Kegiatan ini adalah bagian dari kegiatan riset Harimau Sumatra yang diinisiasi oleh WWF Indonesia, Direktorat Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam DEPHUT dan Virginia Tech.

Pagi yang cerah, matahari diufuk Timur telah memancarkan sinarnya. Suara Owa/Ungko begitu merdu terdengar di telingaku, mereka saling balas membalas satu sama yang lainnya, menambah asyik suasana dipagi itu, apalagi sambil menikmati secangkir teh panas. Pagi itu tanggal 09 Juli 2008, saat bangun pagi aku (koes) berharap agar kondisi tubuhku sehat-sehat saja agar aku bisa melakukan kegiatan ini (pengambilan CT) dengan lancar dan baik tidak seperti pada bulan yang lalu. Sebelum berangkat kami terlebih dahulu mempersiapkan perlengkapan dan peralatan kemudian sarapan pagi, Selesai sarapan, aku bersama 3 orang temanku bergerak menuju lokasi kamera pada grid AB13(TNTN), sekitar 1,5 km dari pos TNTN Lancang Kuning. Aku bersama 3 orang temanku berjalan mengikuti bekas jalan logging yang banyak ditumbuhi pohon-pohon akasia. Sekitar 1 (satu) jam kami berjalan menyusuri jalan logging tersebut, akhirnya kami sampai di lokasi kamera, dan melakukan pengecekan. Kondisi kamera masih aktif, jumlah counter menunjukkan angka nol, kemungkinan film habis. Selesai pengecekan kami segera mencabut kamera tersebut untuk dibawa pulang. Karena target pemasangan telah selesai, kamera ini rencananya akan dipasang dilokasi perluasan TNTN ( Nanjak Makmur). Selesai pengambilan kamera kami melanjutkan perjalanan menuju sungai Sawan, sungai Sawan ini sekitar 3 km dari pos TNTN atau 1,5 km dari lokasi kamera grid AB13(TNTN). Setibanya di sungai Sawan kami terkejut, Sungai Banjir!! Terpaksa kami harus membuat sebuah rakit untuk menyeberangi sungai Sawan tersebut. Dengan keahlian yang ada kami mencoba membuat sebuah rakit dari pohon-pohon Mahang yang terdapat disekitar sungai Sawan tersebut. Pohon-pohon Mahang disusun dengan rapi terdiri dari 3 (tiga) lapis dan diikat menggunakan tali. Selesai rakit dibuat kami segera menaiki peralatan/barang-barang keatas rakit tersebut untuk di bawa keseberang sungai, sedangkan kami harus berenang melawan arus sungai karena rakit yang dibuat hanya bisa ditumpangi oleh peralatan saja!!. Setibanya diseberang sungai kami istirahat sejenak sebelum kami mendirikan camp ditepi sungai Sawan ini,. Camp ini dibuat oleh Agung dan beberapa temannya saat melakukan pemasangan kamera pada bulan April yang lalu. Camp ini dinamakan camp Sawan karena terletak dipinggir sungai Sawan. Rute hari ini dari pos TNTN Lancang kuning sampai sungai Sawan, dengan kondisi medan sedikit berbukit, serta tutupan kanopi yang agak terbuka. Selain itu ada 4 (empat) jenis satwa yang teridentifikasi menurut tanda jejak diantaranya : Sus srofa atau babi hutan (tanda jejak), Tapirus indicus atau tapir (tanda jejak), Elephas maximus atau gajah (tanda jejak), dan Felis (tanda jejak). Malam harinya di camp sawan Mila mengalami sakit perut (penyakit Maag nya kambuh), kemarin Mila telat makannya, akibatnya seperti ini, sedangkan aku, Agung, dan Jamin tidak bisa berbuat apa-apa, kami bingung karena obat Maag tidak kami bawa. Kasihan Mila. huhu

Udara pagi itu terasa dingin hingga tubuh ini malas untuk bangun, namun aku paksakan untuk duduk dan langsung menghidupkan api untuk memanaskan tubuh. Setelah api menyala aku mengambil air untuk dimasak, aku lihat teman-teman masih tertidur, sedangkan Mila kelihatannya masih merasakan perutnya sakit, karena semalam penyakit Maag yang pernah dideritanya kambuh lagi, tapi kami tidak bisa berbuat banyak karena obat Maag tidak kami bawa. Hari ini tanggal 10 Juli 2008, selesai sarapan pagi, sekitar pukul 10:00 WIB tim bergerak meninggalkan camp sawan menuju lokasi camp. Satu jam sudah kami berjalan meninggalkan camp sawan dengan mengikuti bekas jalan logging yang sudah banyak ditumbuhi oleh pakis resam, tiba-tiba saja Mila merasakan kamera digitalnya hilang!! lalu Mila mengeceknya ternyata benar kamera digitalnya tidak ada lagi didalam tempatnya. Tanpa pikir panjang kami segera menelusuri jalan yang kami lewati tadi untuk melakukan pencarian, hingga akhirnya kami tiba lagi di camp sawan dan melakukan pengecekkan pada camp tersebut, mungkin saja kamera tertinggal, namun usaha kami gagal kamera tersebut tidak ditemukan, maka Mila terpaksa merelakan kamera tersebut hilang ditelan rimbunnya resam. Kami istirahat sejenak untuk melepaskan lelah, setelah itu baru kami melanjutkan perjalanan mengikuti bekas jalan logging yang begitu banyak ditumbuhi pakis resam. Jam menunjukan pukul 12:00 WIB, perut sudah terasa lapar, kamipun mencari tempat yang nyaman beristirahat untuk makan siang. Namun Mila tidak berselera untuk makan, mungkin saja Mila masih mengingat kameranya yang hilang atau mungkin saja Mila masih merasa kenyang. Selesai makan siang kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi camp Rotan, namun baru sekitar 300 m kami berjalan, hujan turun walaupun tidak deras. Kami istirahat sejenak sambil menunggu hujan reda. Sekitar 30 menit kami istirahat akhirnya hujan reda, dan kamipun melanjutkan perjalanan. Pukul 14:20 WIB kami tiba di camp Rotan, untuk melanjutkan perjalanan ke camp Mantap tidak mungkin lagi, karena lokasi camp Mantap sekitar 4 km dari camp Rotan. camp Mantap ini terdapat di sungai Doli, dan akhirnya diputuskan untuk istirahat di camp Rotan saja. Hari ini kami tidak melakukan pengambilan kamera. Rute perjalanan hari ini dari sungai sawan sampai camp Rotan berjarak sekitar 2 km, dengan kondisi medan agak datar, serta tutupan kanopi yang agak terbuka, serta ada 3 (tiga) jenis satwa yang teridentifikasi hari ini diantaranya : Sus srofa atau babi hutan (tanda jejak), Tapirus indicus atau tapir (tanda jejak), Elephas maximus atau gajah (tanda jejak).

Pagi ini tanggal 11 juli 2008, kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi kamera pada grid AC14 (TNTN). Lokasi kamera tersebut berjarak sekitar 1,5 km dari posisi camp rotan, setibanya dilokasi kamera kami segera melakukan pengecekkan dan pengambilan, kamera dalam kondisi aktif, dengan jumlah counter 9 (sembilan), dan 0 (nol). Kamera dipasang berpasangan. Menurut Mila posisi kamera agak mencolok karena dari kejauhan sudah kelihatan pancang tempat dipasangnya kamera, sehingga membuat sebuah gang, sedangkan pohon yang digunakan untuk kamera tidak alami, ini bisa saja satwa mengetahui ada sesuatu disana, ditambahkan Mila kalau bisa kamera tersebut dipasang agak tersembunyi agar tidak diketahui oleh satwa. Kami membenarkan apa yang dikatakan Mila, tapi ada beberapa hal mengapa kamera tersebut dipasang seperti itu, Pertama lokasi kamera, dimana kamera harus dipasang menggunakan pancang. Kedua jarak antara kamera, dimana kamera ini dipasang berpasangan jadi jarak antara kedua kamera sekitar 3 s/d 5 m disesuaikan dengan sensor kamera tersebut. Selesai pengambilan kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi camp mantap yang terdapat dipinggir sungai Doli. Kami mengikuti jalan bekas rintisan Agung dan teman- temannya saat melakukan pemasangan beberapa bulan yang lalu, dengan melewati hutan dan kondisi medan yang agak berbukit serta tutupan kanopi yang tertutup karena disini masih terlihat pohon-pohon besar dan rindang. Sekitar pukul 14:10 WIB kami tiba di sungai Doli dan melihat lokasi camp Mantap telah tertimbun oleh reruntuhan pohon-pohon yang tumbang!! kemungkinan pohon-pohon ini tumbang karena derasnya angin, sehingga kami harus mencari posisi camp kehilir sungai doli. Betapa sedih dan melelahkan rasanya, setelah berjalan seharian kami mendapati camp kami sudah hancur. Tapi sedetik kemudian kami serta merta mengucapkan rasa syukur kami karena kami tidak berada di camp tersebut saat terkena tumbangan pohon-pohon disekitarnya. Angin kencang memang kami rasakan saat berada di camp Rotan. Setelah mendapatkan posisi yang aman, maka kami segera mendirikan camp, sekitar 300 m dari posisi camp mantap, camp ini diberi nama camp datuk. Adapun jenis satwa yang teridentifikasi hari ini sekitar 3 jenis, diantaranya : Sus srofa atau babi hutan (tanda jejak), Tapirus indicus atau tapir (tanda jejak), Elephas maximus atau gajah (tanda jejak).

Pagi itu udara hutan basah, sejak tadi malam hujan turun seperti dipompa dari langit sampai menjelang pagi. Hari ini sabtu, tanggal 12 juli 2008, seperti biasa pagi itu kami akan bergerak untuk melakukan pengambilan camera trap. Sebelum berangkat kami terlebih dahulu mempersiapkan perlengkapan dan peralatan dan kemudian sarapan pagi. Selesai sarapan, kamipun berangkat menuju lokasi kamera pada grid AC16 (TNTN), sekitar 1 km dari posisi camp datuk. Diperjalanan kami menemukan beberapa tanda-tanda keberadaan satwa seperti : Sus srofa atau babi hutan (tanda jejak), Elephas maximus atau gajah (tanda jejak), Muntiacus muntjac atau kijang (tanda jejak). Sesampainya dilokasi kamera kamipun langsung melakukan pengecekan dan mencabut kamera tersebut, Kondisi kamera masih dalam kondisi aktif, dengan jumlah counter masing-masing 26 (dua puluh enam), dan 32 (tiga puluh dua). Kamera dipasang berpasangan. Selesai kamera dicabut kamipun melanjutkan perjalanan kelokasi kamera pada grid AD15 (TNTN). Ditengah pejalanan kami mencari tempat yang nyaman untuk beristirahat, sebelum melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu kami ingin menyeka keringat dan melepaskan lelah. Merasa sudah cukup istirahatnya, kamipun melanjutkan perjalanan, sementara dilangit matahari tampak panas, kira-kira pukul 11:00 pagi. Angin bertiup sepoi-sepoi membawa angin kering, kicauan burung tiada terdengar waktu itu, mungkin saja mereka lagi beristirahat dipohon-pohon. Kamipun tiba dilokasi kamera pada grid AD15 (TNTN), seperti biasa kami terlebih dahulu melakukan pengecekkan sebelum kamera tersebut dicabut, kamera masih dalam kondisi aktif, dengan jumlah counter masing-masing 19 (sembilan belas), dan 22 (dua puluh dua). Kamera dipasang berpasangan. Selesai kamera dicabut, kamipun segera kembali menuju camp datuk (sungai doli). Diperjalanan pulang tiba-tiba aku merasakan kepalaku pusing dan perutku sakit serta mual hendak muntah, aku mencoba minum obat Tolak Angin untuk menghilangkan rasa mual, karena hanya itu yang aku bawa. Aku merasa bahwa penyakit Maag aku kambuh lagi, sebab sudah 2 (dua) hari ini aku selalu telat makan siang. Dengan kepala masih pusing dan perut masih terasa sakit aku terus mencoba berjalan menuju posisi camp, walaupun ada beberapa kali aku harus istirahat, aku tidak mau teman-temanku khawatir padaku dan merasa terbebani olehku, maka dari itu aku terus berjalan walaupun pandanganku terasa berkunang-kunang hingga akhirnya kami sampai di camp Datuk (sungai doli) dan aku langsung merebahkan tubuhku untuk istirahat hingga sore harinya.

Keesokan harinya, minggu 13 juli 2008, saat bangun pagi aku berharap agar perutku tidak sakit lagi, karena hari ini adalah hari terakhir perjuangan kami melakukan pengambilan kamera traping di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Seperti biasa selesai sarapan pagi kami bersiap-siap untuk meninggalkan camp datuk (sungai doli) untuk melakukan pengambilan kamera traping, karena ada satu titik lagi yang akan dicabut yaitu tepatnya pada grid AE14 (TNTN) sekitar 4 km dari posisi camp datuk (sungai doli), setelah peralatan dan perlengkapan selesai di pecking, kamipun bergerak meninggalkan camp datuk (selamat tinggal camp datuk). Kami menemukan tanda ancaman seperti Ilegal logging yang kemungkinan mereka beroperasi sekitar 3 bulan yang lalu, karena dilihat dari bekasnya masih baru, sekitar 1 km dari posisi kamera. Pukul 14:00 WIB kamipun akhirnya sampai dilokasi kamera, walaupun beberapa kali kami mengalami salah jalan, karena kami tidak mengikuti rute yang lama, akan tetapi kami membuat rute yang baru. Perjalanan hari ini adalah perjalanan yang terakhir dan perjalanan yang melelahkan, selain rute nya yang panjang juga kita harus berhati-hati dengan mahkluk penghisap darah yaitu PACET yang menggelikan!! Selesai kamera dicabut kamipun melanjutkan perjalanan menuju muara sungai Doli, rencananya di sana kami akan dijemput oleh Adi (pemuda desa Lubuk Kembang Bunga) dengan menggunakan pompong. Tepat pukul 15.00 Wib kami tiba ditempat penjemputan yang telah dijanjikan dan ternyata Adi bersama pompongnya telah standby menunggu kami. Tanpa basa basi kamipun menaiki pompong tersebut dan segera berangkat menuju desa Lubuk Kembang Bunga dengan menyusuri sungai Doli dan sungai Nilo. Perjalanan menyusuri sungai Nilo sangat menyenangkan. Pemandangan yang berbeda dapat kami nikmati setelah beberapa hari berkawan dengan ramahnya senandung burung-burung dan Ungko, dan terus menerus di goda oleh jalinan RESAM yang ruwet. Sore itu juga kami tiba di desa Lubuk Kembang Bunga, disambut oleh hembusan angin dingin.. bbrrrrr…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s