dan perjalanan kami berlanjut (Camera trapping survey July 2008)

Hutan Nanjak Makmur adalah bagian dari blok hutan Tesso Nilo yang merupakan hutan hujan tropis dataran rendah terakhir di Pulau Sumatra. Disebut hutan Nanjak Makmur karena area ini adalah bekas konsesi hutan produksi milik HPH Nanjak Makmur. Pada bagian hutan ini tim riset harimau Sumatra WWF Indonesia melakukan survey keberadaan si belang dengan menggunakan kamera intai (camera trap).

Camera trap atau kamera intai adalah alat survey yang sampai saat ini dipercaya memberikan bukti yang shahih (reliable evidence). Dengan desain khusus (sensor suhu tubuh), kamera intai mampu menjempret secara otomatis jika dilalui oleh suatu objek. Pada lokasi ini, sebanyak 20 pasang kamera dipasang pada 20 grid  imajiner 2x2km yang telah dipilih, dengan jarak antar kamera tidak lebih dari 3,9 Km. Setiap bulan selama 3 bulan survey kamera-kamera ini dicek sekaligus mengganti batterei dan film. Film yang diperoleh dari setiap pengecekan kamera kemudian dicetak negatifnya dan hasilnya secara digital didokumentasikan ke dalam bentuk CD. Hasil digital inilah yang kemudian diolah dan dianalisa sehingga hasil survey yang dilakukan bisa diketahui

Pemasangan kamera intai pada area hutan Nanjak Makmur dilakukan pada bulan Juli 2008. Tim survey dibagi ke dalam dua tim kecil masing-masing beranggotan 4 orang dan satu orang pemimpin tim. Saat memulai pemasangan 2 pasang kamera intai pertama, tim kecil kami dibagi ke dalam sub kecil; tim A terdiri dari Eka dan Darwis akan memasang kamera di grid P11, tim B terdiri dari Fendy, Mila dan Gebog akan memasang kamera di grid Q12. Hari pertama melakukan pemasangan kamera intai, tim 2 (Tim Barat ) mengalami musibah, yaitu jari telunjuk kanan Darwis, salah seorang pemandu lokal kami terkena parang Eka. Luka tersebut cukup parah, jari Darwis nampak hampir putus. Setelah mencoba menghentikan pendarahan, Eka lalu memutuskan memanggil bantuan dari Pekanbaru. Bantuan ini berupa mobil penjemput yang menunggu di pinggir hutan. Eka dan Darwis harus berjalan lebih kurang 6 Km untuk sampai ke pinggir hutan.

Darwis

 

Akhirnya, Darwis dilarikan ke Pekanbaru untuk mendapatkan pengobatan yang lebih baik. Eka dan Darwis dijemput oleh driver Erizal menggunakan mobil Rocky. Sedangkan Fendy, Mila dan Gebog tetap melanjutkan kegiatan pemasangan kamera.

 

Eka meninggalkan sepucuk surat yang menerangkan secara singkat kecelakaan yang terjadi dengannya dan Darwis. Kamera yang sedianya mereka pasang, belum juga terpasang karena kecelakaan tersebut terjadi dalam perjalanan menuju target grid. Eka berjanji akan bergabung bersama tim pada hari berikutnya. Namun, kami yang masih berada di dalam hutan Nanjak Makmur tidak jua tidak bertemu dengannya. Setelah selesai memasang kamera intai di lokasi ketiga, kondisi tim menurun. Fendy merasakan gejala malaria mulai merambah dalam tubuhnya. Sedangkan Gebog sehari sebelumnya terpaksa beristirahat karena kakinya kram. Pada hari ketiga itu kami berada di posisi yang membingungkan, berada diantara ketidakpastian suntikan tenaga untuk tim. Kami tidak mungkin melanjutkan perjalanan hanya bertiga sedangkan barang, peralatan survey dan logistik kami untuk 5 orang. Kami tidak mungkin memasang semua kamera di target grid jika camp kami masih di lokasi awal (grid P12). Dan, kami tidak bisa menghubungi siapapun. Jauh di tengah hutan, telpon genggam mulai dari merk Nokia buatan Eropa sampai Samsung produk Asia dengan segala jaringan yang iklannya berseliweran dimana-mana: Xl, Telkomsel, Indosat, dll… ternyata semua KEOK. Satu-satunya alat komunikasi ampuh yang tim kami punya, telpon genggam satelit pinjaman dari WWF US, dibawa oleh Eka ke Pekanbaru, yang dikemudian hari kami ketahui, telah turut berjasa menyelamatkan jari Darwis. Telpon canggih tersebut menjadi jaminan biaya operasi jari Darwis sebelum uang pengobatan dari kantor cair.

 

Akhirnya tim barat hanya mampu menyelesaikan pemasangan di tiga grid. Kami memutuskan untuk menghentikan trip ini dan kembali ke Pekanbaru karena kondisi yang tidak memungkinkan. Berat rasanya, leaving things undone. Tapi ini pilihan yang harus kami ambil. Toh, ini bukan akhir dari segalanya. Bulan berikutnya saat kondisi kami sudah pulih, kami akan kembali menyelesaikan target yang tersisa. Dan kecelakaan yang menimpa anggota tim kami adalah satu contoh resiko kegiatan di hutan belantara. Mungkin saja menjadi andil menurunnya kondisi kami, tapi pasti tidak akan menyurutkan semangat kami. Hikmah yang kami petik dari perjalanan bulan Juli ini adalah, safety teman-teman, sekali lagi.

 

enjoy the adventure

save the tiger

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s