gajah yang kebingungan dibulan Agustus 2008

 

Pada tanggal 18 Agustus 2008, tim kembali turun ke lokasi untuk melanjutkan kegiatan pemasangan kamera yang sempat tertunda pada bulan Juli, serta melakukan pengecekan kamera pada tiga pasang kamera di tiga lokasi yang telah terpasang pada trip sebelumnya. Kali ini tim terdiri dari 4 orang: 2 dari riset dan 2 pemandu lokal.

 

Pemasangan kamera dilakukan pada 7 (tujuh) titik sampel, diantaranya : Grid Q10, R11, S10, S12, V11, T13, dan S14.

Selama melakukan kegiatan pemasangan kamera intai, tim menemukan beberapa keberadaan satwa, baik menurut jejak maupun kotoran.

Diantaranya :

– Panthera tigris sumatrae (harimau) (jejak)

– Sus scrofa (babi hutan) (jejak)

– Elephas maximus (gajah) (jejak dan kotoran)

– Tapirus indicus (tapir) (jejak)

– Helarctos malayanus (beruang) (jejak)

– Neofelis nebulosa (macan dahan) (jejak)

Muntiacus muntjak (kijang) (jejak)

Cervus unicolor (rusa sambar) (jejak)

– Felis bengalensis (kucing hutan) (jejak)

Banded palm civet (musang) (jejak)

 

a wandering elephantTanggal 25 Agustus 2008, seorang anggota tim, Kusdianto, melihat seekor gajah jantan yang berjalan gontai dan seolah tidak memperdulikan kami yang ada disekitarnya. Sepertinya gajah itu kebingungan, karena cucu-cucu Adam datang dan merusak hutan, rumah yang selama ini dia diami. Saat itu sang gajah terlihat kebingungan mencari tempat yang bisa dijadikan tempat perlindungan karena dia tidak tahu harus lari kemana agar terhindar dari dampak kerakusan manusia. Hutan mereka telah dicabik-cabik, kematian pun sedang mengintai mereka.  Di tengah kebingungannya, sang gajah mungkin bertanya dalam hati, “mengapa manusia harus menghancurkan apa yang telah dibangun oleh alam ini??”

 

 

Pembukaan hutan

Berdasarkan hasil investigasi (tersembunyi) kami dengan masyarakat yang kami temui dalam hutan ini, pembukaan lahan hutan dilakukan oleh masyarakat desa Pangkalan Gondai. Lahan ini rencananya akan dijadikan areal pemekaran desa Pangkalan Gondai. Rencana tersebut telah disetujui oleh BPD dan Batin Palabi (Batin=tokoh adat masyarakat, yang dituakan), Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Riau. Pembukaan hutan juga dilakukan oleh masyarakat Sei. Medang. Yang menjadi Tuan Takur (pemilik modal terbesar, pemilik lahan) disini adalah Abdul Arifin. Lokasi pembukaan lahan ini tepatnya pada titik koordinat : S00 08 08.5 dan E101 44 11.7 Di lapangan tim juga menemukan sebuah alat berat jenis Eskavator milik Abdul Arifin.

a settlement to be

Illegal logging

Kegiatan pencurian kayu alam juga kami temukan masih marak di hutan Nanjak Makmur ini. Kawasan hkayu yang belum diangkututan yang sebenarnya tengah sulit bernafas ini makin menderita karena pohon-pohon besar terakhirnya terus dihabisi. Banyaknya jalan bekas logging sisa kegiatan operasional HPH Nanjak Makmur memudahkan para pembalak merenggut sisa-sisa kehidupan di hutan ini.

 

 

Pencari kulit Resak

Mencari kulit Resak adalah salah satu mata pencarian masyarakat yang ada disekitar kawasan hutan Nanjak Makmur, terutama masyarakat Sei.Medang dan Kampung Bukit. Kulit Resak adalah bahan baku untuk membuat minuman alkohol tradisional. Kulit Resak diambil dari kulit pohon Resak. Kulit resak ini kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Setelah kering, kulit resak ini kemudian dimasukkan ke dalam air yang diambil dari batang bunga Enau. Setelah direndam beberapa saat, air tersebutlah yang menjadi minuman alkohol tradisional.

Menurut masyarakat yang kami temui di dalam kawasan hutan Nanjak Makmur, ternyata kulit Resak ini cukup mahal harganya. Satu ikat (berdiameter sekitar 30 cm dan panjang sekitar 50 cm) harganya bisa mencapai Rp. 20,000 . Seorang pengumpul kulit resak biasanya mengumpulkan paling sedikit 50 ikat kulit resak. Untuk mencari kulit Resak ini, para pengambil kulit resak harus tidur di hutan 1 minggu hingga 2 minggu untuk mencari pokok pohon resak, mengambil kulitnya lalu menjemurnya hingga kering. Jika sedang tidak beruntung, waktu selama itu kadang-kadang mereka tidak menemukan pohon Resak. “Pohon Resak di hutan Nanjak Makmur ini sudah tidak banyak lagi dan sulit untuk dicari.” keluh seorang pencari kulit resak.

kusdianto dan kulit resak yang sedang dikeringkan

Berdasarkan temuan kami di lapangan, meski pengambilan kulit resak ini berskala kecil dibanding pembukaan hutan dan illegala logging, kegiatan ini juga termasuk kegiatan yang merusak hutan. Kulit resak diambil dari batang terbawah sampai ke batang pucuk pohon. Untuk dapat mengambil kulit resak di semua bagian, pohon resak biasanya ditumbangkan (ditebang). Setidaknya 100 meter sekitar pohon resak akan terbuka karena kegiatan ini. Bayangkan jika ada 50 orang pencari kulit resak yang mengambil kulit resak setiap bulan. Dalam satu tahun, sekitar 6 hektar hutan akan terbuka, belum termasuk semai-semai yang ikut mati karena terinjak-injak kaki para pengambil kulit resak. apakah ini bisa terus dibiarkan?

 

 

 

 

 

 

enjoy the adventure

save the tiger

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s