membelah sumbar mencari si belang [bagian 2]

Saat-saat indah pun telah tiba.. Tanpa perasaan ragu, tim mulai menurunkan kariel satu-persatu dari dalam mobil ranger yang sangat setia menemani kami sepanjang perjalanan. Kariel yang selama 4 (hari) hanya berdiam di atas mobil, kini mulai menunggangi ssaat di puncakemua punggung tim.

Udara dingin, awan gelap mulai menghampiri kami. Dengan semangat yang bergerilya, kami mulai melangkah menjauhi perkampungan mengarah ke lokasi untuk mencari posisi yang strategis untuk mendirikan tenda..

 

Semua personil tampak kelihatan sibuk mencari kegiatan masing-masiang. Mulai dari mencari kayu api, kayu tiang tenda sampai bagian masak-memasak. Tidak butuh waktu yang lama, tenda telah berdiri dengan kokoh, hidangan malam juga telah siap sedia, semua personil berkumpul untuk menikmati hidangan makan malam.

 

 

Karena ulahnya Bang Gebok yang sangat usil yang selalu menjahili Ucok salah satu dari team zul, seketika tawa kamipun memecah keheningan malam yang sangat gelap-gulita. Walau usianya telah tua, Bang Gebok sangat terkenal dengan keusilannya. Karena keusilan nya, sampai-sampai dia tidak menghiraukan atau merasa canggung bahwa salah satu dari kami adalah anak nya yaitu Fendi. Walau begitu, mereka tetap kelihatan akrab,tidak seperti antara bapak dan anak.

 

Disela-sela canda dan tawa, kami mulai membuka selembar-demi selembar peta lokasi yang akan disurvey. Harimau 01, Zul(leader), leo (team member), Ucok (team member) dan Gebok ( pemandu) menetapkan lokasi survey yang mengarah ke Pangkalan Serai. Sementara Harimau 04, Fendy(leader), Agung(leader02), Al (team member) dan Fendi (team member) mengambil lokasi menuju Pangkalan Kapas. Setelah selesai berbagi lahan survey, matras yang sedari tadi terbentang telah menanti, dan kami mulai mengambil posisi masing-masing. . suara-suara yang tadinya pun dalam seketika hilang ditelan dingin nya malam dan terlena menuju pembaringan.

 

Sepertinya suasana dingin adalah ciri khas perbukitan, mata seolah-olah enggan untuk terbuka, tubuh pun juga sepertinya tidak mau terlepas dari selimut karena terbuai oleh suasana dingin. Hari ini 16 januari 2009, pagi ini adalah dimana saat yang paling sedih dimana Harimau 01 akan berpisah dengan Harimau 04. tapi apa mau dikata, ini sudah menjadi kesepakatan antara tim.

 

Perjalanan pertama pun dimulai,ketinggian 600 mdpl membuka awal petualangan kami. Target pertama kami menuju bukit yang ketinggian nya lebih kurang 1200 mdpl. Punggungan demi punggungan kami lalui, keringat bercucuran dengan sangat deras hingga membasahi pakaian kami. Sesampai di atas puncak, mata kami terpana pada keindahan alam yang dikelilingi hutan dan bukit. Bahkan kami bisa melihat desa mangunai tinggi dari atas walau telah sayup-sayup.

 

Rokok dan Nutrisari adalah andalan utama penghilang lelah dalam sejenak sambil menikmati indah nya pemandangan perbukitan Rimbang Baling. Ditengah dingin nya udara perbukitan dan tanpa disadari air mata menetes dari balik kelopak mata saya. saya melihat jalur yang biasa dilalui satwa telah rusak karena aktifitas manusia yang memanfaat kan hutan untuk mengambil kayu. Betapa sangat disayangkan alam yang indah ini dirusak oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab hanya karena kepuasan sesaat dan tidak memikirkan apa dampak kedepannya. jalur logging

Hari demi hari telah kami lalui. Bukit, sungai, tebing berbatu juga telah kami lalui. Terkadang terjatuh, tetapi itu tidak membuat kami gentar, yang ada hanyalah harapan akan mendapat tanda si belang. Tetapi, mulai awal sampai akhir penjelajahan (transek) kami tidak juga mendapatkan tanda-tanda keberadaannya. Adapun temuan yang lain dari harimau adalah: Beruang (Helarctos malayanus),Tapir (Tapirus indicus), Babi (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Rusa (Cervus unicolor) dan berberapa Primata.

Dilihat dari ketersediaan mangsa dan tutupan hutannya sebenarnya sangat mendukung untuk tempat si belang bernaung, tetapi mengapa kami tidak mendapatkan temuan tentang keberadaannya; baik kotoran maupun cakaran nya. Mungkin karena hujan yang hampir tiap hari dan juga tutupan serasah yang terlalu padat. Walau begitu saya tetap berpikiran positif dan juga mensyukuri apa yang diberikan yang Maha Kuasa karena kami tepuncak indahtap dijaga olehNya.

 

 

Perjalanan kali ini adalah perjalanan yang sangat menyenangkan!!! bagiamana ceritanya? .. saya merasa sedang bermimpi bila sedang berdiri diatas bukit yang paling tinggi, seolah-olah awan yang melintas dapat dijangkau oleh tangan. Mata tidak pernah berhenti melihat perbukitan, mulut pun juga tidak pernah berhenti mengucap syukur kepada TUHAN yang telah menciptakan Dunia yang begitu indah.

 

Pulang….pulang ….pulang…

 

Itulah kata-kata yang keluar disaat transek telah selesai, terlebih kami telah berada di sungai yang akan membawa kami mengarah ke Desa Pagkalan kapas. Peta dan GPS tidak pernah lepas dari genggaman untuk mengetahui dimana posisi terakhir. Menurut perhitungan, kami akan sampai di desa kurang lebih 3 (tiga) hari. Hari pertama kami mencoba menyisiri pinggiran sungai karena kondisi air sedang banjir dan berharap akan ada jalan orang pencari ikan. Kami tetap mengikuti pinggiran sungai, tetapi hingga sore, jalur yang kami harapkan tidak jua ketemu dan segera memutuskan untuk membuka tenda.

 

Hari kedua saat perjalanan pulang.

Pagi yang cerah, angin yang bertiup dengan lembut telah membangunkan tidur kami. Setelah melihat kondisi air yang telah surut, kami memutuskan untuk melalui sungai. Awalnya kami seperti ragu tapi setelah ada yang memulai, kami langsung ikut serta mengapung dengan menggunakan Kariel. Yu….hu……, kami begitu menikmati aliran air yang membawa kami ke hilir. Teriakan rasa senang tak pernah berhenti, apalagi saat menemui jeram. Seolah-olah kami tidak memperdulikan lagi bebatuan yang seseali bergesekan dengan pantat kami.

 

 

Tiga jam lama nya kami mengapung. Kondisi badan mulai melemah karna kedinginan. Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat. Tanpa disadari tidak jauh dari tempat kami istirahat, kami melihat ada beberapa rumpun bambu. Rumpun bambu tersebut seolal-olah memanggil manggil kami untuk menggunakannya. Kami sama-sama berteriak, yu…huuuuu…. kita naik rakit….,  yu..hu….. Seperti anak kecil yang baru dikasih permen, kami menari-nari kecil dipinggiran pantai sungai. Kami lalu bergegas menuju target. Sebagian ada yang mencari rotan untuk pengikat rakit. Disaat tengah asik memandangi sekiling, mata saya tertuju pada sebuah pohon. Kontan saya berteriak, “hoy…. ada batang durian! lihat itu!!” kataku sambil menunjuk ke batang durian di depan mata. Mata kamipun langsung tertuju pada batang durian itu.

 

Tanpa basa-basi lagi, Fendy anak nya bang gebok langsung berenang keseberang untuk mencari disekeliling batang apakah ada yang jatuh..

semenit kemudian, sambil tertawa.. dia menunjuk kan dua buah durian yang telah digenggam nya dan langsung dibawanya menghampiri kami. Santap-menyantap pun dimulai… “ajippppp….” itulah kata-kata yang terucap.

 

Satu jam kemudian rakit selesai. Semua barang langsung dinaikkan, diikat dan ayoooo siap meluncur. Belum jauh, rakit yang kami tunggangi terbentur batu, Brakkk!!!! tali pun terlepas dari ikatannya. Dengan sigap, kami langsung membawa rakit ke tepi untuk direparasi. Kami berusaha sebisa mungkin mengikat rakit ini agar tidak hancur lagi. Perjalanan kembali dimulai, walau satu-persatu tali mulai lepas lagi, kami tetap berusaha menjaga rakit ini tatap terapung karena dialah penolong kami. Di tengah perjalanan ada beberapa orang sedang duduk di bibir batu sambil memegang tangkai pancing. Mereka adalah pencari Gaharu. Kami melihat senyum dan tatapan mereka ke rakit kami. Kemungkinan mereka berkata dalam hati, “dasar orang gila! sungai seperti ini kok pakai rakit?”

“Ayo jangan hiraukan mereka…  lanjut terus..” itulah kata-kata yang keluar dari mulut saya…

 

Sesekali kami turun dari rakit karena kandas dan terjepit batu. tetapi setelah empat (4) jam lamanya berakit, Braaakkkkkk!!! tabarakanpun terjadi. Semua penumpang berhamburan terlempar ke dalam air. Agung yang kami utus di depan sebagai komando telah tertipu, ternyata di depan adalah batu yang sangat besar. Hancurlah sudah semunya. Rakit telah terjepit di batu dan tidak tertolong lagi.

Kariel yang telah terlepas dari ikatannya, langsung kami genggam dan mebawanya ketepi untuk dikeringkan dan istirahat.

 

Rokok. Itulah salah satu penghilang dingin. Sambil menghisap rokok, saya mencoba membuka peta. Setelah melihat posisi berdasarkan kordinat GPS, ternyata desa tidak jauh lagi. Karena badan telah kedinginan,kami memutuskan untuk mengikuti jalan darat mengikuti jalan masyarakat.

Malam telah menghampiri kami, tidak lama kemudia kami melihat ada cahaya senter dari balik pepohonan di pinggir sungai. Malaikat penolong seolah-olah tau keadaan kami. Cahaya senter tidak lain adalah pencari ikan dengan menggunakan perahu motor.

 

Setelah berbincang-bincang, mereka akhirnya membawa kami dengan perahunya menuju perkampungan. Setelah sampai di kampung, kami langsung di sambut hangat. Kami juga tidak menyadari bahwa yang membawa kami itu adalah Pak Hendri, yang tidak lain adalah Pak Kadus. Awalnya saya tidak percaya beliau itu adalah kadus karena dilihat dari wajah masih sangat muda dan masih lajang. Orang nya sangat ramah, bahkan kami langsung ditawari untuk bermalam di rumahnya. Keesokan paginya, tim langsung bergerak menuju Desa Gema dengan menggunakan Perahu Motor. Gema ini adalah titik terakhir perkumpulan masyarakat yang datang dari desa hulu dan titik penjemputan tim.

 

Rasa senang dan rasa syukur sepertinya tak henti-hentinya terucap dari dalam hati disaat melihat pemandangan yang indah-indah disepanjang aliran sungai.perahu motor

 

Apa yang terjadi jika alam ini rusak???

Bagaimana dengan kehidupan satwa???

 

Jangan pernah merasa senang dengan apa yang kamu dapat hari ini

 

Enjoy aja

Salam rimba

F

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s