Kamera pengintai si Raja Rimba

kamera intaiSiang itu amat terik, udara terasa panas. Angin pun enggan bertiup. Namun aku besama teman-temanku Leo, Ramli, dan Cik Aman tetap bersemangat dan sigap berjalan mengikuti jalan bekas logging yang penuh tanjakan dan tumbuhan pakis resam.

Aku meninggalkan camp pasir yang terdapat di bibir sungai Segati. Dengan melangkah pasti aku menuju lokasi dimana terdapat kamera intai yang aku pasang beberapa bulan yang lalu. Kali ini akan dilakukan pengambilan kamera. Di sanalah beberapa kamera intai dipasang untuk merekam kehidupan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan satwa lainnya. Langkah aku tiba-tiba terhenti. Carrier besarpun belum turun dari punggung. Mataku menatap tajam pada sebatang tonggak koyak.

“Kameranya hilang !” ujarku pada teman-teman sambil menghela napas panjang. Keringat deras bercucuran dari tubuhku. Aku dan kawan-kawan terhenyak karena kamera otomatis yang dipasang bulan sebelumnya telah raib diambil pencuri. Alih-alih mendapat foto satwa, alat yang dipasang justru lenyap. Sambil mengamati tanda-tanda pengrusakan aku mencatat observasinya kedalam buku lapangan yang tak pernah lepas dari genggamanku.

Itu adalah lokasi ketiga ( blok ketiga ) dimana kami, tim riset harimau sumatera memasang kamera intai dihutan nanjak makmur.

Kelelahan berjalan mengecek kamera yang biasanya terbayar oleh melihat hasil jempretan yang didapat, kini semakin bertambah karena kekesalan. Namun semua kepahitan itu harus ditelan.

Selain itu, kamera intai juga banyak yang diganggu / dirusak oleh sekumpulan gajah liar.

Dari 19 unit kamera yang dipasang, 5 unit yang dirusak.

Kamera dipasang pada 10 titik sample, dengan jumlah kamera 19 unit. 2 dari 10 titik sample tersebut dipasang parallel.

Kamera yang dirusak oleh sekumpulan gajah liar tersebut terdapat pada grid M8, o10, dan grid N9.

Pada grid N9 ini, kamera intai hancur dan berserakan, poket kamera tersebut hilang. Tim telah mencoba mencarinya, namun hasilnya nihil.

Kamera intai ini adalah alat yang digunakan untuk merekam kehidupan harimau sumatera dan jenis satwa lainnya. Tanpa alat tersebut sangat sulit untuk meneliti harimau sumatera dan berbagai jenis satwa di hutan sumatera yang amat sulit untuk diamati secara langsung.

Dan kamera intai tersebut telah dipasang selama tiga bulan pada blok ini, namun tidak ada mendapatkan gambar harimau. Hasilnya NIHIL. Termenung

Selain itu, tim juga tidak menemukan tanda-tandanya. Baik menurut tanda jejak maupun kotorannya. Kemungkinan harimau tersebut enggan untuk bermain disini, karena terdapat banyaknya aktivitas manusia, seperti PERAMBAHAN.

Pada kawasan hutan nanjak makmur ini terdapat banyaknya masyarakat yang membuka lahan untuk dijadikan lahan perkebunan. Padahal hutan ini telah menjadi Taman Nasional. Namun sebagian masyarakat tidak memperdulikan hal itu, mereka tetap saja melakukan perambahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s