ketika transek dan bukit menjadi satu di rimbang baling

Sore berganti malam. Setelah kami makan malam, kami ngobrol-ngobrol dan membuka peta grid yang akan disurvei. Sambil menikmati segelas susu hangat dan makanan kecil, tak terasa waktu menunjukkan jam 11 malam. Berarti, saatnya istirahat dan mengumpulkan tenaga untuk survey besok. Aku ambil sleeping bag dan merebahkan diri di matras. Cuaca malam ini cerah dan tentu saja dingin, karena perbukitan yang membentang di hutan ini. Elevasi di gps tertulis 600 mdpl. Camp irigasi ini berada di koordinat S 00 15 55,6 E 100 49 19,5. darimana air mengalir sampai jauh

Matahari perlahan muncul dari ufuk timur. Walau masih terasa dingin, aku bangun dan turun ke sungai untuk cuci muka. Setelah itu, aku mengambil air dan memasaknya di kompor trangia untuk membuat 4 gelas susu hangat. 10 menit kemudian, 4 gelas susu hangat dah siap untuk diminum. Kawan-kawan yang lain telah bangun dan ikut beraktivitas. Bang Gebok memasak nasi dan aku memasak sambal dan sayur untuk sarapan dan bekal makan siang. Tak lupa, aku mandi pagi untuk mengurangi rasa dingin dan juga supaya lebih segar. Jam 8, kami sarapan dengan menu sambal ikan teri dan sayur sawi manis. Setengah jam setelah sarapan, kami packing dan bersiap-siap untuk memulai transek.

Jam 10, kami mulai bergerak. Hari ini, Jum”at, 16 Januari 2009,tim 1 dan tim 2 harus pisah. Tim 1 yang terdiri dari dari Zul dengan anggota Bang Gebok, Ucok dan juga aku, bergerak ke arah barat. Sementara Tim 2 yang terdiri dari Pendy, dengan anggota Agung,I’al,Pendy (anak Bang Gebok) bergerak ke arah utara.

Setelah 300 meter, meninggalkan camp, random arah yang dipakai untuk transek pertama ini adalah 278 derajat ke arah barat. Transek pertama telah dimulai, yang berada pada koordinat S 00 17 47,0 E 100 49 30,3 di grid M 137 dengan elevasi 786 mdpl. Pada segmen I & II di jalan yang kami lewati, kami menemukan kotoran harimau yang sudah berumur 2 minggu-an. Kamera dikeluarkan dan kotoran harimau itu diphoto dan disimpan di plastic untuk dibawa ke pekanbaru agar dapat dijadikan sample. Hari ini cuaca berawan dengan suhu 20 derajat celcius. Sepanjang transek perbukitan tinggi terbentang di kiri kanan kami. Aku masih semangat walaupun rute yang kami lewati cukup terjal dengan kemiringan 45 derajat. Hipchain menunjukkan 500 meter, dan survey berhenti karena kami mau makan siang.

Menu makan siang hari ini sama dengan menu sarapan tadi yaitu sambal ikan teri dan sayur sawi manis. Setelah makan, kami melanjutkan transek hari ini. Tampak punggungan yang akan kami lewati dengan kondisi agak berkabut dan juga mendaki lagi. Jam setengah 2 siang, transek pertama selesai. Aku membuka buku data, mencatat kondisi hutan yang kanopinya tertutup, dengan serasah yang tipis.

Jalur yang kami lewati ini, merupakan jalur penduduk dari Desa Mangunai Tinggi menuju Pangkalan Serai. Jam setengah dua, transek pertama selesai. Posisi masih di Grid M 137 dengan elevasi 884 mdpl di koordinat S 00 17 52,1 E 100 49 51,6. Keringat yang membasahi baju lapanganku dan juga kabut tipis yang menyelimuti hutan ini, menambah nikmat perjalanan ini. 15 menit kami beristirahat dan saatnya memulai random arah 120 derajat untuk memulai transek ke-2. Rute yang kami lewati masih berupa punggungan agak terjal dengan tutupan kanopi yang agak rapat. Jam 2 siang, transek ke-2 dimulai. Dengan koordinat S 00 17 56,7 E 100 50 00,6 di grid N 137 dengan elevasi 950 mdpl. Berarti hampir 100 meter kami mendaki punggungan ini untuk memulai transek yang baru.

selimut kabutPengamatan membutuhkan lebih konsentrasi dengan medan seperti ini, karena kondisinya punggungan yang panjang, suhu yang cukup dingin dan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan yang tinggi. Pada transek yang ke-2 ini, kami tidak menemukan jejak harimau,yang ada hanya jejak babi, tapir, dan juga terdengar suara burung rangkong yang melintas, serta suara ungko dan siamang yang terdengar di lembah. Jam 16.20 transek ke-2 selesai. Aku mencatat koordinat di buku data yaitu S 00 18 11,3 E 100 50 24,3 di Grid N 137 dengan elevasi 1.198 mdpl. Rasanya seperti di kaki Gunung Merapi. Karena hari telah sore, kami berencana untuk ngecamp disini. Aku dan Bang Gebok orang mendirikan tenda, Zul dan Ucok turun ke lembah untuk mencari tambahan air. Setelah mendirikan tenda, aku menyiapkan 4 gelas susu hangat untuk menjelang malam. Jam setengah 6 sore, Zul dan Ucok turun ke lembah mencari air. Bang Gebok masak nasi dan aku masak sambal untuk makan malam dengan air sisa tadi pagi yang kami bawa di jerigen ukuran 2 liter. Senja berangsur berganti malam. Nasi dan sambal telah siap kami masak. Jam setengah 8 malam, napak olehku cahaya senter dari lembah, senang rasanya melihat kedua temanku datang dengan semangat dan juga membawa air untuk bekal esok hari. Tanpa berlama-lama, kami menyantap makan malam yang menunya sama dengan hari kemarin. Selepas makan, kami ngorol-ngobrol mengenai perjalanan hari ini. Sambil ngobrol, aku masak air untuk membuat 4 gelas susu dan tak lupa snack. Susu hangat seakan menyegarkan badanku.Perjalanan hari ini cukup melelahkan. Setelah satu jam kami ngorol-ngobrol, aku mulai merasa ngantuk. Perlahan, aku ambil sleeping bag dan mulai bersiap-siap untuk tidur.

ungkoHari ini, Sabtu, 17 Januari 2009, kami memulai survey setelah sarapan dan packing barang. Jalur yang dilewati tak jauh beda dengan kemarin. Punggungan panjang dan sedikit terjal dengan tutupan hutan yang rapat. Saat kami sampai di puncak bukit dengan sedikit pakis resam, tampak jelas terhampar bukit barisan di depan kami. Sesekali kabut tipis menyelimuti perbukitan tersebut. Gunung Sago terlihat samara-samar dari kejauhan. 3 hari kami ngecamp di punggungan, karena untuk turun ke sungai, medannya terjal dan tidak memungkinkan. Beruang kami jumpai secara langsung ketika mendaki punggungan. Sedangkan mangsa yang lain, kami hanya menemukan jejak seperti babi ( Sus scrofa), rusa ( Cervus unicolor), kijang ( Muntiacus muntjak), ungko ( Hylobates agilis ) , siamang ( Presbytis sindactus), kuau ( Argusianus argus), rangkong. 12 hari telah kami lalui di Rimbang Baling ini. Hari ke-11, 20 transek telah selesai.berakit he hilir

Memasuki hari ke-12, kami harus menempuh 8 km lagi menuju Desa Pangkalan Serai. Hari ke-12 ini, kami mengangsur perjalanan dengan melewati punggungan dan melintas sungai. Memasuki hari ke-13, di sore hari kami berjumpa dengan penduduk Desa Pangkalan Serai yang mencari gaharu. Perjalanan ke desa masih 6 km lagi. Kami singgah di pondok pencari gaharu tersebut dan berbincang-bincang dengan mereka. Jam menunjukkan pukul 3 sore. Kami memutuskan untuk membuat rakit, karena kalau ditempuh dengan jalan kaki, memerlukan waktu 2 hari lagi menuju desa. 4 buah kayu mahang ditebang dan dirangkai dengan rotan untuk dijadikan rakit. Pagi haripun menjelang. Desa Pangkalan Serai masih 6 km lagi. Setelah sarapan dan packing barang, kami mulai berakit- rakit menuju desa. Jam setengah sebelas pagi, tim telah memulai perjalanan hari ini. Sungai ini memiliki lebar 13 meter dan juga terdapat jeram-jeram kecil. Jam 12 siang, kami istirahat.

sungai batuKami bersemangat berakit, sampai akhirnya rakit kami tersangkut di kelokan sungai yang cukup deras. Karena tersangkut, rotan yang mengikat rakit, kami putuskan dan rakitnya kami tarik ke tepi sungai untuk diperbaiki. Ukuran rakit, kami perkecil, hanya untuk membawa carrier, sedangkan kami mengapung di air dan mengendalikan arah rakit ketika berbelok di sungai. Setelah kami istirahat, memperbaiki rakit, perjalanan di air, kami lanjutkan. 2 orang di depan bertugas mengendalikan rakit jika berbelok ke kiri atau ke kanan, sedangkan 2 orang di belakand bertugas mengurangi kecepatan rakit di tikungan sungai. Ternyata dingin juga berendam di sungai ini selama berjam-jam. Ketika rakit melewati kelokan sungai yang ada jeram kecilnya, kami bersorak untuk membangkitkan semangat. Tak terasa, jam menunjukkan pukul 6 sore. Perjalana kami di air tidak dapat dilanjutkan karena rakit kami hancur. Hujan pun seakan ikut menemani kami. Sepuluh menit kami istirahat. Hujan belum juga berhenti. Perjalanan kami lanjutkan dengan berjalan kaki. Dengan kondisi basah kuyup dan agak menggigil, aku langkahkan kaki bersama teman-teman. 1 km lagi menuju desa Pangkalan Serai. Setetelah 45 menit berjalan, mengikuti kebun karet dan pinggiran sungai, tampak dari kejauhan cahaya senter. Ternyata ada penduduk yang sedang mencari ikan. Tak jauh dari situ, tampak cahaya lampu pertanda ada pemukiman. Alhamdullilah.. akhirnya kami sampai di Desa Pangkalan Serai. Kami beristirahat di rumah salah seorang penduduk sekalian mencari speed untuk menuju ke Desa Gema.

rice fieldsKeesokan harinya, kira-kira jam 9 pagi, kami naik speed menuju desa Gema. Jam 11 siang, kami sampai di Desa Gema. Lalu memberi kabar ke Pekanbaru, bahaw kami dah bisa dijemput hari ini. Jam 9 malam, Bang Erizal dengan mengendarai Rocky, sampai di Desa Gema. Kami yang telah menunggu dan juga telah bersiap-siap, segera menaiki mobil dan pulang ke Pekanbaru. Aku bertanya dalam hati, “ Kemanakah Harimau yang kotorannya kami temukan itu bermain?

Terima kasih Rimbang Baling… Ada habitat harimau yang harus kita jaga kelestariannya.

One thought on “ketika transek dan bukit menjadi satu di rimbang baling

  1. Ping-balik: Bom waktu di Rimbang Baling « Raflis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s