primadona dari rimba

Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan buah yang satu ini. Walaupun, sering kali buah ini di hindari oleh beberapa orang karena aromanya, tetapi buah ini sangat familiar ditengah-tengah masyarakat. Petai(Parkia Speciosa) merupakan salah satu buah   yang dapat dikonsumsi secara langsung maupun bahan makanan olahan yang sangat lezat. Khususnya pada masyarakat menengah kebawah. Tetapi sebagian dari kita belum mengetahui khasiat dari buah tersebut. Ternyata pada buah petai(Parkia Speciosa) banyak mengandung gula alami seperti sukrosa, glukosa dan fruktosa dengan kombinasi serat yang dapat dengan cepat menambah stamina. Selain mengandung  gula alami Petai(Parkia Speciosa) juga banyak mengandung protein, karbohidrat, Vitamin A, zat besi dan juga kalium yang sangat tinggi. Karna dengan kandungan yang begitu banyak menurut beberapa penelitian menyebutkan bahwa mengkonsumsi buah petai(Parkia Speciosa) dapat mengurangi resiko kematian pada penderita stroke hingga mencapai 40%(The New journal England of Madicine). Selain dapat mengurangi resiko kematian pada penderita Stroke, mengkonsumsi buah petai(Parkia Speciosa) sebagai bagian dari makanan sehari-hari, juga baik untuk membantu mengurangi resiko terjangkit/mengobati dari beberapa penyakit seperti Anemia, Tekanan darah tinggi, Luka lambung, sembelit dan lain-lain. Dari mana kita dapat menemukan buah tersebut?. Ternyata bukan hanya dari hasil tanaman yang dengan sengaja di tanam oleh beberapa masyarakat, namun kita masih bisa mendapatkan dari dalam rimba(hutan). Ternyata bukan hanya nilai kayu (tangible)semata yang bisa kita dapatkan dari dalam hutan, tetapi juga buah-buahan dan beberapa nilai lain termasuk didalamnya oksigen (O2), Air (H2o),rekreasi,buru,(Intangible). Artinya hanya berkisar 7-9% nilai kayu(tangible) dari nilai sebenarnya. Sementara untuk nilai yang lain dari hutan (intangible) mencapai berkisar 91-93%. Jika nilai dari suatu hutan hanya dilihat dari nilai kayu saja, tentunya banyak nilai yang lain terabaikan dari nilai hutan sesungguhnya. Ketika hutan telah mengalami degradasi dan deporestasi (sekarang), untuk generasi berikutnya mungkin tidak akan mendapatkan beberapa nilai penting dari nilai hutan sesungguhnya dari suatu hutan.

P3K (Pertolongan Petai Pada Kelelahan)

Pagi ini (jum’at,22 April 2009) begitu serasa tidak seperti hari biasanya, sinar mentari begitu garang menembus kerasnya tutupan hijau dedaunan. Kicauan burungpun begitu merdu menyanyikan lagu syukur atas karunia alam. Dari tanah sedikit bersih dan datar berukuran 4 X 4 meter (kurang lebih) terdengar suara anak manusia(anggota tim) memecahkan cerahnya pagi itu. Dengan di temani secangkir teh hangat dan jellyfruit sisa semalam. Dan diiringi sejuknya udara pagi.

Di sudut yang lain 4 anak manusia itu sibukkan dengan aktipitas rutin setiap pagi datang. Dari sudut yang tidak jauh berbeda terdengar nyanyian yang sedikit agak sumbang. “wah…mungkin bekal logistic kita mungkin gak cukup sampai kita selesai survey…”. Nyanyian itu sedikit membuat pagi ini sedikit kehilangan keindahannya.

Obrolan pagi pun ikut mengiringi aktifitas rutin pagi itu. “kita hemat-hemat aja, mungkin didepan (rencana survey) banyak sungai” harap fendy. “selagi masih ada sungai, mudah-mudahan pasti ada ikan” Lele bakarsemangat kepar.

Akhirnya pagi itu berakhir dengan keceriaan kembali. Seperti biasa kemudian tim melangkahkan kaki melanjutkan survey, diawali pukul 9 pagi tim bergerak menyusuri anak sungai, punggungan dan lembahan.     Disepanjang perjalanan (transek) nyanyian sumbang kami digantikan oleh paduan suara dari atas dahan dan ranting pepohonan, sesekali sang herbifor(KIJANG)ikut nimrung menyanyikan nada-nada nuansa rocker dipagi menjelang siang itu. Setelah meninggalkan beberapa ratus meter perjalan, akhirnya kami harus di hadapkan dengan satu fenomena alam karna aktifitas manusia (ex.jalan logging) yang telah merampas naungan hijau sebelumnya.

“Panas banget ya…bisa tambah hitam neh” sambil menumpahkan setetes air putih di tenggorokannya aku memberi semangat kawan-kawan yang sudah sangat kelelahan. Di tengah perjalanan, angle pengamatan kami tertuju pada satu sudut.

Sejenak suasana sedikit hening seakan tidak percaya dengan apa yang kami lihat. “petaiiiiiiiii…..!!!!..”sontak kami berteriak “panjat….Panen Petai.” kamipun melupakan kelelahan, seakan mendapat energi yang ukuran listriknya hingga mencapai ribuan kw. Setelah peristiwa itu tak ada lagi nada-nada sumbang di tanah bersih  berukuran 4x4m lagi. Dan tiada hari yang lebih indah tanpa petai, hingga titik terakhir transek bahkan hingga titik penjemputan bekal logistic masih terjaga kecukupannya. Kesedihan pun menjalari tubuh kami setelah meninggalkan wilayah itu. Suatu saat kalau kita kembali ketempat ini masihkah penolong itu masih dengan kokohnya tegak menyongsong langit? Rasanya mustahil, tangan-tangan kreatif mengoperasikan lempengan tajam (cainsaw) telah menuju mendekati keberadaanya. Karna keberadaanya termasuk pada daerah cat merah.Terima kasih petaiku sayang, semoga engkau masih kutemui menjulang kelangit.

Salam

Egy&Fendy

One thought on “primadona dari rimba

  1. aku paling suka foto para maniak petainya heheheee… sangat naturalis, ekspresif dan bau petai heheheee…. semangat!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s