Singingi

pertama kali mengetahui namanya, ditelingaku terdengar seperti irama merdu yang dengan lembut mengalun. sungai singingi adalah sahabat sungai kuantan. kedua sahabat karib inilah yang menjadi nadi bagi masyarakat di kabupaten yang namanya diambil dari nama mereka, KUANtan SINGingi.

bagi ftt, singingi adalah tempat yang senantiasa membuat rindu membuncah. saya tak pernah tahu mengapa.., hingga akhirnya saya berkesempatan untuk menyapanya pertama kali di bulan april. saat itulah saya dapatkan jawabannya. sungainya besar, airnya jernih dan bening seperti air minum botolan dan galon yang dijual di warung-toko dan supermarket. bahkan dari atas bukit, bebatuan yang berada didasarnya dapat terlihat dengan jelas. melihatnya dari atas, rasa tak sabar ingin membuka sandal, melepaskan baju tuk berenang menyelaminya datang menggebu-gebu. kujejakkan kaki ke dalamnya, airnya wiiih diiiinggggiiiin..  tak sadar sayapun tersenyum. tak perlu jauh-jauh ke gunung leuser di aceh sana untuk menikmati sungai bening pembuat rindu. segera kubergabung dengan teman-teman yang telah lebih dulu membenamkan diri dalam singingi. menikmati kesegarannya dan kesejukan pagi bersama hijaunya sekeliling singingi.

kali kedua saya menemuinya. sengaja saya memilih tempat tidur paling kanan. agar ketika bangun keesokan harinya dan kupalingkan wajahku ke kanan, singingi yang pertama kali kutangkap. siapa yang tidak akan betah dengan pemandangan pagi seperti ini?

view from my sleeping spot

sementara saya menikmati sekitar singingi yang masih tertutup kabut pagi, teman-teman masih terbelai dalam tidur lelapnya. entah bermimpi apa..

folks at tent

yang tidur diapit dua ranger juga sepertinya masih asik dalam sleeping bag masing-masing. kecuali bang rhony dan bang erizal yang lebih memilih menikmati hangatnya ranger.

folks between rangers

saat matahari menjejakkan diri lebih tinggi, semua kantung tidur sudah kosong ditinggal penghuninya. ada yang langsung memenuhi panggilan pagi dan ada yang masih berusaha menggenapkan nyawanya. sementara tim logistik dengan sigap menyiapkan sarapan.

egy nyambel

saat sedang menunggui egy mengolah cabe-bawang-tomat menjadi sambal, fendy yang baru selesai laporan pagi bersuara, “sungainya beda sekarang”. hah., pikirku, emang sungainya sebagian berubah jadi jalan? (kami tiba malam hari sehingga tidak dapat memperhatikan kondisi singingi saat itu juga) “airnya keruh. rasanya aneh. mungkin karena ada orang nebang kayu di seberang. kayunya ada tuh di bawah”. lanjut fendy lagi. duh., lega hati saya. tapi, eitss.. orang nebang? kayu? penasaran, saya turun juga ke bawah. di tempat biasanya kami menaruh pakaian ganti sudah ditempati oleh tumpukan balok kayu. di seberang sungai tampak bekas-bekas tebangan.

tumpukan kayu

saya terus lanjut ke bawah, ke sungai. sesampainya di sana kujejalkan kakiku ke dalam air. dinginnya masih seperti pertama kali saya kesini. tapi airnya jauh lebih keruh. sedih. ntah sudah berapa pohon yang ditebang disana.

baru saja coba mengalihkan rasa sedih karena temuan di pinggir sungai dengan sarapan yang menggoda mata dan perut, tiba-tiba terdengar suara keras dan cempreng. datangnya dari arah hulu. “waah…” seru harry. “pantas airnya keruh. ditambang orang!”. karena tidak mengerti, saya bertanya pada agung maksud omongan harry. “orang cari emas. ini suara dompengnya, mesin penyedot pasir” terang agung. rasa sesak kontan menusuk dada saya. saya bahkan belum sempat berkomentar tentang penambang emas ini saat raungan chainsaw terdengar dari arah seberang. lengkaplah pagi itu. suara mesin penambang emas dan mesin penumbang pohon bersaingain memenuhi ruang udara singingi. tidak menyisakan secuil ruang pun untuk aliran sungai singingi terdengar.

PETI

PETI, penambang emas tanpa izin adalah kegiatan yang sudah lama menghantui sungai-sungai di riau. meski sudah berusaha diberantas, mereka seperti plak pada gigi yang tetap kembali datang meski sudah dibersihkan. kegiatan ilegal ini tidak hanya akan memporak-porandakan kualitas air sungai singingi, tapi juga orang-orang yang mencari nafkah dari kegiatan perikanan. limbah dari kegiatan penambangan emas akan menabur racun mematikan bagi berbagai jenis ikan dan udang. tidak terlupa, ancaman bagi kesehatan manusia.

selama pertumbuhan manusia masih seperti deret ukur, artinya penambahannya terjadi begitu cepat dalam hitungan waktu yang singkat, tekanan terhadap sumber daya alam akan semakin bertambah besar. karena begitu banyak mulut yang harus disuapi, begitu banyak perut yang minta diisi. tapi mungkin jika kita tidak rakus menjarah apa yang tampak oleh mata dan bisa mengendalikan nafsu konsumsi, kita bisa berpikir lebih jernih bahwa sumbar daya alam tidak untuk dihabiskan bagi kehidupan sekarang ini, tapi untuk bekal bagi generasi mendatang.

saya pribadi berharap, semoga tidak ada emas secuil pun yang mereka temukan di singingi bagian hulu ini, sehingga singingi tidak terus tercemari oleh limbah mesin mereka. dan saat kembali pada trip berikutnya, masih kami temukan singingi seperti yang terekam dalam ingatan kami.

damai singingi

enjoy the adventure,

save our forests, rivers & wildlife

2 thoughts on “Singingi

  1. wah lagi lagi berita menyedihkan ya. padahal, di awal tulisan, saya dah sempat terlena dan menikmati semua memori tentang keindahan singingi yang pernah saya nikmati dan berharap cerita seru tentang keindahannya saja yang akan mewarnai tulisan ini.

    sambil menatap kebun jagung dan merenung beberapa hari terakhir ini saya sempat membayangkan jalur ‘koridor’ bukit tigapuluh dan rimbang baling. singingi adalah salah satu nadinya. itulah salah satu dari sedikit daerah di riau yang bisa diharapkan sebagai tempat berziarah untuk merasakan hutan alam yang rindah dan sungai yang jernih. seandainya daerah itu bisa ‘dikembangkan’ (atau mungkin lebih tepat ‘dibiarkan/dikembalikan’) jadi jalur hijau, jalur wisata, maka kehidupan orang riau mungkin bisa jadi lebih berwarna. tidak segaring saat ini yang hari-harinya didominasi dengan asap kebakaran atau debu jalan.

    tapi realita ternyata bicara beda. ternyata singingipun kini telah tercemar.
    jangan menyerah. mari kita ajak sebanyak mungkin pihak untuk kembalikan singingi yang asri. tulisan ini bisa jadi titik pangkalnya. foto-foto pemandangan sungai dengan kabut paginya benar-benar menyihir…

  2. sip mas! yang jelas kita juga gak rela tempat, mungkin, the only remaining escape, dari rutinitas di pekanbaru. terlebih beberapa bulan terakhir yang serasa dibombardir oleh asap dan pemadaman listrik yang makin parah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s