beruang yang nakal

Pagi itu kami yang tim riset harimau yang terdiri dari Rano, Awir, dan Adi dan saya sendiri sebagai ketua tim, berangkat meninggalkan Camp Jebuk. Nama itu diberikan oleh Adi yang dalam bahasa Melayu berarti Besar. Kebetulan Adi merupakan penduduk asli Pekanheran, Kabupaten Indragiri Hilir yang masih menggunakan bahasa Melayu dalam keseharian. Perjalanan ini  kami cicil sedikit demi sedikit yang membawa kami pada punggungan bukit yang sangat nyaman untuk dilewati hingga tiba waktu untuk membuka perbekalan yang sengaja kami masak di pagi hari sebagai bekal makan siang.

Setelah makan siang dan menghisap beberapa batang rokok, perjalanan kami lanjutkan sambil mengamati lintasan yang kami lewati guna mencari target survei: data keberadaan satwa liar. Cakaran beruang dan jejak babi memenuhi buku data yang kami isi.

Waktu telah menunjukan pukul setengah lima sore. yang terlintas pada benak kami adalah mencari tempat peristirahatan untuk malam hari. Sambil melanjutkan perjalanan mata terus mengamati tempat yang aman untuk mendirikan camp. Perjalanan kami terhenti pada sebuah sungai. Setelah mengecek kondisi sekitar, kami sepakat di lokasi ini tidak bisa mendirikan camp. Lalu saya dan Awir naik ke atas bukit mencari tempat untuk membuat camp, sedangkan Rano dan Adi tetap berada di sungai sambil mengisi perbekalan air untuk dibawa ke camp.

“Turun!” tiba-tiba terdengar olehku teriakan dari bawah.

Aku terkejut, lalu menjawab, setengah berteriak, “kenapa? ada yang terluka?”

“tidak,… Ada beruang!” kembali teriakan dari arah sungai terdengar menjawab.

Akupun mengambil sebilah parang dan turun ke sungai. Jarak antara bukit dengan sungi tidak jauh, hanya sekitar 100 meter. Sesampainya di tepi sungai, kulihat Rano dan Adi sedang terdiam dan sekitar 3 meter di samping kanan mereka, ada seekor beruang madu yang meraung-raung. Dia terlihat marah, mungkin karena lokasi bemainnya terusik oleh kedatangan kami.

Tetapi sepertunya beruang tersebut hanya menggertak kami. Aku melihat Rano memegang sebilah parang, sedangkan Adi hanya pasrah. Dari cerita yang pernah aku dengar, kalau kita jumpa beruang, sebaiknya kita langsung menghardiknya. Beruang di depan kami memperhatikan gerak-gerak kami bertiga. Aku coba untuk mendekat, tetapi beruang tersebut ikut pula bergerak. Lalu aku menghardiknya dan memukul-mukul batang pohon kecil. Usaha itu ternyata berhasil. Perlahan-lahan, beruang tersebut pergi meninggalkan kami menuju punggungan bukit.

Keesokan harinya, aku melihat kembali lokasi kami berjumpa dengan beruang tersebut. Tempatnya memang menjadi lintasan dan tempat bermainnya. Beruang itu kira-kira berumur 2 tahun lebih, dilihat dari bulunya yang kasar. Di kepalanya ada bekas luka,mungkin terkena kayu.

Beruang madu merupakan jenis paling kecil dari kedelapan jenis beruang yang ada di dunia. Sifat-sifat beruang madu adalah sebagai berikut :

– Bulunya pendek, mengilau, dan pada umumnya hitam ( namun terdapat pula     yang berwarna coklat kemerahan maupun abu-abu).

– Mata berwarna coklat atu biru.

– Hampir setiap beruang madu mempunyai tanda di dada yang unik ( warnanya biasanya kuning, oranye atau putih dan kadang- kadang bertitik-titik).

– Hidung dari beruang madu relatif lebar tetapi tidak terlalu moncong.

– Kepalanya relatif besar sehingga dapat menyerupai anjing, kupingnya kecil- bundar dan dahinya yang penuh daging terkadang tampak berkerut.

– Mempunyai lidah yang panjang ( paling panjang dari semua jenis beruang yang ada).

– Lengan yang melengkung ke dalam, telapak yang tidak berbulu, dan kuku yang panjang,membuatnya dapat teradaptasi memanjat pohon.

– Tangannya relatif besar dibandingkan dengan ukuran badan.

Beruang madu mempunyai penciuman yang sangat tajam, sehingga dapat mencium bekas injakan satwa lain ataupun manusia. Penyebaran beruang madu terlihat di seluruh Asia Tenggara dari ujung Timur Hindia dan bagian Utara Birma sampai ke Laos, Kamboja, Vietnam dan Thailand sampai ke Selatan di Malaysia, dan Pulau Sumatera dan Borneo. Penyebaran beruang madu telah sangat mengecil karena perburuan dan kehilangan habitat.

Hutan hujan tropis merupakan habitat utama beruang madu.Karena konversi hutan untuk perkebunan, pertanian, peternakan dan pemukiman, maka habitatnya semakin berkurang. Oleh karena makanan aslinya sudah tidak ada, terkadang beruang madu memakan tanaman pertanian, terutama umbut kelapa, sehingga tanaman tersebut mati. Beruang madu merupakan omnivore yang berarti memakan banyak jenis makanan.

Makanan utamanya adalah serangga (terutama rayap, semut, larva kumbang dan kecoa hutan). Makanan lainnya adalah banyak jenis buah-buahan, apabila tersedia. Beruang juga suka makan madu, kelulut (stingless bees), terkadang memakan bunga tertentu. Rumput dan daun hampir tidak pernah dimakan. Di pinggiran hutan, beruang terkadang memakan umbut jenis palem, dan terkadang memakan jenis mamalia kecil dan burung.

Dalam satu hari, seekor beruang madu berjalan rata-rata 8 km untuk mencari makanannya. Kukunya yang panjang, tajam dan melengkung memudahkan beruang madu untuk menggali tanah, membongkar kayu jabuk, dan rahangnya yang sangat kuat membuat beruang sanggup mengoyak kulit kayu untuk mencari serangga dan madu. Apabila beruang madu memakan buah, biji ditelan utuh, sehingga tidak rusak. Setelah buang air besar,biji yang ada dalam kotoran mulai tumbuh sehingga beruang madu mempunyai peran yang sangat penting sebagai penyebar tumbuhan buah berbiji besar seperti cempedak, durian, lahung, kerantungan dan banyak jenis lain. Perilaku menggali dan membongkar juga bermanfaat untuk mempercepat proses penguraian dan daur ulang yang sangat penting untuk hutan hujan tropis.

Beruang madu dapat berjalan dengan sangat diam, sehingga gerakannya tidak kedengaran. Beruang madu mempunyai tubuh dan stamina yang kuat dan sifat      ‘ pantang mundur’ apabila dalam keadaan terancam atau terkaget seperti halnya apabila terjerat. Pada umumnya, beruang madu tidur pada malam hari di atas atau di dalam batang kayu roboh, atau terkadang di sarang yang dibuat di atas pohon. Penelitian jangka panjang pertama di dunia terhadap beruang madu di alam yang dilakukan di Hutan Lindung Sungai Wain,Balikpapan,Kalimantan Timur, menunjukkan bahwa rata-rata seekor beruang betina memerlukan wilayah jelajah tidak kurang dari 500 Ha untuk hidup dalam setahun. Sedangkan diperkirakan seekor beruang madu jantan memerlukan wilayah jelajah sekitar 1.500 Ha per tahun.

Beruang madu tidak mempunyai musim kawin tertentu, mungkin karena musim buah dan ketersediaan makanan di alam sangat bervariasi. Beruang madu melahirkan di dalam batang kayu yang bolong atau gua kecil dimana anak beruang dilindungi, sehingga cukup besar untuk mengikuti induknya dalam aktivitas sehari-hari. Beruang madu betina hanya memiliki 4 puting susu dibandingkan jenis beruang lain yang biasanya melahirkan beberapa ekor anak dan mempunyai 6 puting susu.

Di hutan alam Kalimantan dan Sumatera, beruang madu dewasa yang sehat hampir tidak dimangsa satwa lain, namun terdapat satu kasus dimana seekor betina tua dan kecil dimakan ular sanca (Phyton reticulates) yang berukuran panjang 7 meter. Beruang madu yang kecil atau sakit, dapat dimangsa macan dahan dan ular. Lembaga Konservasi Dunia (IUCN) baru ( April 2004 ) mengubah klasifikasi status konservasi beruang madu dari ‘ tidak diketahui karena kurang data’ (Data deficient) ke terancam (Vulnerable).

Di Indonesia, beruang madu dilindungi UU sejak 1973 (SK Mentan) diperkuat dengan Peraturan Pemerintah no. 7 tahun 1999 tentang Pemanfaatan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar. Faktor yang mengakibatkan berkurangnya populasi beruang madu termasuk pengrusakan dan fragmentasi hutan alam akibat ulah manusia, kebakaran hutan yang merusak habitatnya. Pelestarian beruang madu harus difokuskan pada pelesterian serta pengelolaan habitatnya, penegakan status hokum beruang madu, pengurangan konflik antar manusia dan beruang di sekitar kawasan hutan, serta penghentian perdagangan beruang dan bagian tubuhnya.

by mambo

referensi dari berbagai sumber.

4 thoughts on “beruang yang nakal

  1. halo rizki,
    trima kasih sudah mampir🙂
    klo yang pas ketemu kemarin sih gak sempat difoto abis dah panik duluan., hehe… tapi nanti klo sempat difotoin deh.

  2. mas bek..,
    mantan penjaga warnet dan skarang penjaga bunderan HI., hehe…
    ini sebagian besar tulisan teman-teman di tim, tiap dari lapangan kan pasti ada cerita baru tuh, jadi coba dituangkan kedalam tulisan, biar ceritanya lebih awet🙂

    salam,
    yg sampe skarang jg masih naik sepeda🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s