Ketika Isi Rimba Tak Lagi Bersahabat

Artikel yang sangat menarik dari Liputan6.com

http://berita.liputan6.com/progsus/200410/87273/class=’vidico’

Kami mengenal bagian hutan yang dimaksud. Kami pun kadang berjumpa dengan orang Kubu. Diperlukan jauh lebih banyak dari sekedar rapat dan janji untuk memastikan hutan itu ada dan mampu memberi penghidupan bagi manusia dan satwa liar.

—————–

Matahari baru saja terbit di belantara Taman Nasional Bukit Tiga Puluh (TNBT) di Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Dari balik rimbun pepohonan, sinar mentari pun mulai menghangatkan belantara di hutan tropis ini. Hari itu cuaca memang cukup bersahabat. Cerahnya sang surya juga membangkitkan semangat baru bagi suku Anak Dalam yang dikenal juga sebagai Orang Kubu atau Anak Rimba. Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah penduduk asli yang tinggal di tengah rimba seluas 127.698 hektare itu. Keceriaan Orang Rimba ini setidaknya juga terlihat dari keluarga Tumenggung Ali, pemimpin kelompok Orang Rimba di Bukit Tiga Puluh.

Maklumlah Tumenggung Ali sudah lama tak melihat cuaca secerah ini di hutan Bukit Tiga Puluh. Beberapa hari terakhir pada pertengahan September silam, matahari memang selalu tertutup asap tebal akibat pembakaran hutan. Lantaran asap itu pula, Ali dan Orang Rimba lainnya tak bisa pergi ke hutan. Beruntung saat persediaan makanan mereka hampir habis, asap akibat ulah beberapa perusahaan perkebunan ini juga ikut menipis. Matahari pun tak malu-malu lagi menyinarkan cahayanya.

Hari nan cerah ini pun membuat Ali segera mengambil keputusan untuk membawa keluarganya pergi manda. Manda adalah istilah bagi suku Anak Dalam untuk berangkat pergi ke hutan mencari makan. Di hutan belantara mereka akan berburu binatang, mencari buah jernang, dan sumber-sumber makanan lainnya.

Manda dilakukan selama berhari-hari tergantung pada sumber makanan yang mereka dapat. Karena waktunya yang tak menentu inilah, maka saat manda, mereka selalu membawa seluruh anggota keluarga. Rumah, mereka tinggal begitu saja tanpa sedikit pun khawatir bakal dimasuki orang lain.

Saat pergi manda, Ali biasanya mengajak tetangganya, Bakri, untuk bergabung. Namun kali ini Bakri ternyata tak bisa ikut pergi manda. Sudah tiga hari ini Bakri menderita sakit. Paru-parunya terasa sesak dan perutnya melilit. Dia tidak mengetahui jenisnya penyakit yang dideritanya. Yang jelas, penyakit tersebut muncul sejak asap tebal akibat pembakaran hutan menutupi hampir seluruh permukaan hutan Bukit Tiga Puluh.

Melihat Bakri jatuh sakit, Ali pun berjanji segera pulang dan membawakan sebagian hasil buruannya untuk keluarga Bakri. Dalam tradisi suku Anak Dalam, tolong-menolong antarkeluarga memang sesuatu yang diwajibkan. Ketika satu keluarga sakit dan tidak bisa pergi manda, keluarga lainnya wajib memberikan sebagian hasil manda mereka kepada keluarga yang sakit.

Alhasil dengan sakitnya Bakri, Ali pun pergi manda hanya dengan ditemani istri dan enam orang anaknya. Dengan peralatan seadanya, selama beberapa hari, mereka akan tinggal di hutan. Mereka berburu babi, labi-labi (sejenis kura-kura) atau binatang apa pun yang bisa diburu. Ali sekeluarga pun juga mencari jernang (buah/getah dari rotan) dan makanan lainnya.

Keseharian Ali memang berbeda dengan suku Anak Dalam yang tinggal di Taman Nasional Bukit Dua Belas di Jambi. Sebagian besar Orang Rimba di hutan seluas 60.500 hektare itu masih hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Sedangkan Ali termasuk yang sedikit menyimpang dari cara hidup kebanyakan Orang Kubu.

Ali sudah tinggal di rumah permanen, tidak lagi mengembara terus-menerus dan tinggal dalam sudung atau bivak. Dia juga telah melepaskan dirinya dari kelompok keluarga luasnya. Dengan kata lain, Ali lebih memilih tinggal bersama anak dan istrinya saja.

Kendati demikian, sebagai Orang Rimba, Ali tak bisa meninggalkan tradisi manda. Maklum, manda adalah satu-satunya cara yang diketahuinya untuk menyambung hidup. Sementara dalam menentukan arah manda, Ali melihat bulan dan musim yang ada. Pada musim kemarau seperti saat ini, biasanya memperoleh labi-labi di sungai, sudah merupakan hasil yang cukup besar. Tak mengherankan, bila ia bersama anggota keluarganya melangkahkan kaki telanjang mereka ke arah sungai.

Sembari berjalan ke sungai, mereka juga berharap bisa memetik beberapa buah jernang. Sayangnya harapan ini tak bisa terwujud. Belakangan, buah jernang memang sulit dicari karena banyak pohon yang dibakar dan dibabat oleh para pencari kayu dan perusahaan pemegang hak penguasaan hutan (HPH). Buah jernang adalah bahan baku kosmetik yang harga per keranjangnya sekarang mencapai Rp 200 ribu.

Maraknya pembabatan hutan adalah satu hal yang sangat memprihatinkan bagi Ali dan warga suku Orang Rimba lainnya. Kini, hutan semakin sempit dan sumber makanan menjadi menipis. Pembakaran hutan juga membuat penyakit-penyakit baru mulai muncul. “Keadaan hutan nih [sekarang hampir] habis. Nah, kita susah. Sebab pindah-pindah lagi nanti susah,” keluh Ali.

Kendati isi rimba tak lagi bersahabat, Ali dan keluarganya tetap menjalani kehidupan dengan apa adanya. Mereka pun tetap bersemangat melakukan manda, termasuk perjalanan kali ini. Setelah beberapa jam berjalan, sampailah mereka di sebuah kali yang disebut Sungai Larangan. Di Bukit Tiga Puluh, ada beberapa sungai yang menyimpan banyak labi-labi. Satu di antaranya adalah Sungai Larangan.

Namun setelah sekian lama menyusuri alur Sungai Larangan, mereka tak menemukan satu pun labi-labi. Ali pun memutuskan mendirikan sudung atau bivak untuk beristirahat. Setelah sudung selesai dibuat, mereka mengeluarkan bekal makanan pada hari pertama ini berupa segepok pisang. Pisang itu pun mereka bakar terlebih dahulu sebelum disantap. Bagi suku Anak Dalam, pisang adalah makanan pokok, selain umbi-umbian yang ditemui di hutan. Sederhana memang, soalnya nasi masih dianggap sesuatu yang mewah karena harus dibeli.

Di sela-sela keluarga yang sedang asyik menikmati pisang, sesungguhnya Ali tengah risau dengan semakin sedikitnya areal mencari makanan di hutan. Rimba sepertinya kian tak bersahabat. Ali sebenarnya telah mencoba keluar dari hutan dan hidup sebagaimana suku lain di pinggir hutan. Namun ternyata itu bukan upaya yang mudah. Dia tak kerasan tinggal di perkampungan lantaran terbiasa hidup di hutan belantara.

Kini, sambil menunggu tenaga pulih, Ali cuma bisa termenung. Di tengah celoteh tiga anak kecilnya yang riang seolah tanpa beban, Ali berharap semoga saja hari ini bisa cepat mendapatkan kura-kura untuk dijual. Rupanya, Tuhan hari ini tengah tersenyum. Seiring dengan kecemasan Ali yang mulai mengental, dari kejauhan Udin berteriak kegirangan. Putranya itu baru saja berhasil menangkap seekor labi-labi.

Menyusul tangkapan perdana Udin, wajah Ali pun tak lagi muram. Keluarga Ali semakin bersemangat. Beberapa ekor labi-labi pun mereka temukan lagi. Sepanjang sisi Sungai Larangan yang seolah tak berbatas mereka acak-acak agar semua labi-labi panik dan keluar ke permukaan air.

Hari ini, Tuhan dan Sungai Larangan benar-benar memberikan berkah kepada keluarga Ali. Mereka ternyata tak harus menunggu berhari-hari untuk mendapatkan labi-labi. Buktinya yang mereka dapatkan pun tak hanya satu dua ekor, namun tiga karung. Jumlah yang lumayan banyak, memang. Dengan hasil yang tak terduga ini, Ali memutuskan segera mengakhiri mandanya.

Matahari yang sudah mulai tenggelam tak menyurutkan niatnya untuk segera pulang ke rumah. Pikirannya masih terngiang pada Bakri, tetangganya yang sedang sakit.

Sesampainya di rumah, sebagian labi-labi atau kura-kura ini pun segera dikumpulkan di sebuah kandang khusus. Esok hari, sebagian labi-labi ini akan dijual kepada “orang terang”–demikian mereka menyebut penduduk desa. Sementara sisanya akan dimakan dan dibagi kepada keluarga Bakri.

Saat pagi tiba, seluruh keluarga Ali pun mulai sibuk. Seorang anaknya telah diutus ke rumah Bakri untuk mengantar beberapa ekor labi-labi. Sementara dua anak perempuannya yang lain mempersiapkan kura-kura yang hendak dijual. Di belakang rumah, Udin ternyata telah berbaju dan sudah siap di atas sepeda motornya. Kesan sebagai Orang Rimba sama sekali hilang dengan penampilan barunya ini.

Hari ini seolah menjadi hari besar bagi keluarga tersebut. Seluruh keluarga berharap agar Ali dan Udin bisa menjual labi-labi yang mereka tangkap kemarin dengan harga yang tinggi. Dengan sepeda motor yang dibeli dari hasil menjual buah jernang, mereka pun pergi ke orang terang yang biasa membeli berbagai hasil hutan tangkapan Orang Rimba.

Sebagai keluarga suku Anak Dalam, keluarga Ali memang sudah mengenal transaksi uang. Interaksi yang intensif dengan orang terang atau warga desa membuat mereka pun mulai mengenal nilai uang dan cara penggunaannya. Hebatnya, Ali mulai tahu bagaimana mengelola uang untuk kebutuhan yang lebih besar. Dia sudah tahu bagaimana menabung, sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam kamus Orang Rimba lainnya.

Penjualan hari ini lumayan bagus. Tak kurang dari Rp 3 juta mereka peroleh dari menjual labi-labi. Uang ini adalah jumlah yang cukup untuk membeli beras dan lauk-pauk selama sebulan. Alhasil, hari ini, Ali kembali ke rumahnya dengan hati yang berbunga. Seiring malam tiba, Ali dan istri di beranda rumah dan bernyanyi bahagia.

Di tengah kesunyian belantara, setidaknya beberapa hari ini dia tak lagi merasa risau akan nasib keluarganya. Walau demikian, hati kecilnya tetap menyimpan kepedihan. Areal hutan semakin sempit. Penebangan kayu hampir terjadi setiap hari. Asap akibat kebakaran hutan pun terjadi hampir setiap tahun. Sementara sumber penghidupan di hutan semakin sedikit. Akankah Orang Rimba bisa bertahan di tengah desakan yang tak bisa mereka lawan itu?

One thought on “Ketika Isi Rimba Tak Lagi Bersahabat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s