mengejar target di ujung kamera

Oleh : Kusdianto

Team riset bersama W.K Fletcher

Mentari masih saja asyik menerangi bumi tanpa lelah. Cahaya terasa panas menyentuh kulit. Maklum jam menunjukkan pukul 14 .00 wib. Meskipun beberapa hari terakhir hujan asyik menyapa memandikan bumi. Berdasarkan program dari kantor kami diperintahkan untuk ke lapangan dan menemani tamu dari Kanada yaitu W.K Fletcher seorang Profesor Emertus University of British Colombia dan istrinya Donna yang bertugas pengambilan gambar di Lanskap Tesso Nilo-TNBT. Segala logistik dilapangan sudah dipersiapkan. Tinggal Ready.Go….

Tiga unit mobil Tap Ranger yang kami gunakan melaju kencang dari arah kota Pekanbaru menuju desa Lubuk kambing Pronvinsi Jambi yang dikendarai Rudi, Erizal dan Zul. Team Research Sumatran Tiger begitulah nama team kami. Rombongan yang ikut dalam Team tersebut adalah Karmila parakasi, Zulfahmi, Harry kurniawan, Kusdianto, Fendy Fredly penjaitan, Agung Suprianto, dan Eka saptayuda.

Setelah menempuh perjalanan selama 7 jam, akhirnya kami sampai di desa Lubuk kambing ( Camp FZS ). Dan memutuskan untuk beristirahat saja di sebuah penginapan yang terdapat di kota Tebo-Jambi.

Keesokkan harinya, kami melanjutkan perjalanan menuju TNBT. Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam, akhirnya kami sampai di Taman nasional Bukit30 ( TNBT ). Sebuah taman yang dilindungi pemerintah dan menjadi tempat tumbuhnya berbagai tanaman dan satwa liar akibat semakin kurangnya lahan tempat mereka tinggal. TNBT terletak di dua propinsi yaitu propinsi Riau dan propinsi Jambi.

W.K Fletcher sedang mengambil gambar tanaman Kincung

Hari pertama tim mengajak W.K fletcher dan  Donna kelokasi Camp Granit TNBT yang berada didaerah Sebrida, kabupaten INHU-Riau. Berdasarkan program,, kami mengajakan W.K fletcher akan mengambil beberapa sample jenis pohon dan tanaman. Tim bersama Fletcher beserta Donna bergerak menuju bukit lancang dengan berjalan kaki. Jarak bukit lancang dari camp granit sekitar 2 kilometer. Tim terus berjalan menaiki bukit lancang tersebut, hingga akhirnya tim menemukan tanaman Kincung. W.K fletcher segera mengeluarkan kamera yang tiada terlepas dari pundaknya. Dan mencari posisi untuk pengambilan gambar. W.K fletcher mengambil beberapa gambar kincung tersebut, baik dari sisi kiri, kanan dan atas. Hasilnya memang bagus dan cantik. Setelah W.K fletcher selesai, kincung tersebut tidak luput dari sorotan kamera Donna.  Donna beberapa kali merekam tanaman kincung tersebut, hingga benar-benar mendapatkan gambar kincung yang cantik.

W.K Fletcher mengambil gambar pohon Meranti Batu

Selesai pengambilan gambar kincung, tim kembali berjalan menaiki bukit lancang. Dipertengahan bukit lancang tersebut terdapat pohon Meranti batu. W.K Fletcher dan Donna kembali mengambil beberapa gambar pohon meranti batu tersebut. Selesai pengambilan gambar pohon meranti batu, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit lancang. Setibanya dipuncak bukit lancang, tim menemukan pohon Mersawa yang begitu besar. W.K fletcher kembali mengeluarkan kameranya untuk pengambilan gambar. Sementara itu matahari sudah tepat di atas kepala, pertanda hari sudah menunjukan pukul 12.00 siang dan waktunya istirahat.

Bak fotografer professional dan tak mau kehilangan momentum, W.K fletcher dan Donna tetap melakukan pengambilan gambar pohon Mersawa tersebut meskipun kami memutuskan untuk berisitirahat sampai hasilnya gambar yang di ambil benar-benar bagus.

Merasa sudah cukup istirahatnya, tim pun melanjutkan perjalanan turun ke lembah bukit lancang dan menaiki bukit yang bersebelahan dengan bukit lancang tersebut. Sementara itu matahari sudah agak condong ke barat, kira-kira pukul 2 siang. Angin bertiup sepoi-sepoi. Namun dibukit ini tiada objek yang menarik untuk di ambil gambarnya oleh W.K fletcher dan Donna.  Menjelang sore tim sudah kembali ke camp granit. Sesampainya dicamp granit hari sudah petang, langit sudah mulai agak gelap, malampun hampir turun dan akhirnya menjadi gelap.

Esok harinya W.K fletcher mengambil beberapa gambar tanaman jernang yang terdapat tidak jauh dari camp granit. Sebelum siang W.K fletcher sudah pulang. Dan melanjutkan perjalanan menuju desa Talang Mulia ( SPA ).

W.K Fletcher sedang mengambil posisi untuk melakukan pengintaian

Hari pertama di Spa kami berencana melakukan pengintaian terhadap satwa mangsa seperti Rusa dan kijang. Lokasi ini terdapat dikawasan Exs. PT IFA Desa Anak talang.  Informasi didapat dari Syamsudin ( masyarakat Anak talang ).  Udin ini biasa bekerja sebagai pemburu satwa mangsa tersebut dengan menggunakan senapan dan menggunakan sebuah alat untuk memanggil satwa tersebut.  Alat ini terbuat dari kaleng sardines.  Kaleng sardines ini ditiup dan bunyi yang dikeluarkan mirip suara kijang.

Ada satu lokasi yang biasanya dikunjungi oleh rusa maupun kijang, tempat tersebut adalah sebuah sungai kecil, dimana sungai itu dijadikan tempat minum mereka.  Untuk sampai dilokasi ini kita harus berjalan kaki sejauh 2,5 kilometer dan kita akan melewati ladang-ladang Kubu ( suku pedalaman ).  “Ditenpat inilah biasanya kami berburu rusa maupun kijang. “ ujar Udin “

Dengan keringat yang bercucuran dibadan, tim akhirnya tiba dilokasi yang dimaksud. Dan langsung mencari posisi untuk dilakukan pengintaian.  Menurut Udin kijang maupun rusa biasanya mendatangi tempat ini sekitar pukul 10.00 pagi dan pukul 17.00 sore WIB. Sambil menunggu misi ini berhasil kami mencoba mencari tempat untuk mendirikan tenda, tentunya jauh dari tempat pengintaian tersebut.  Posisi camp yang didapat berjarak sekitar 500 meter dari tempat pengintaian.

Hari pertama W.K Fletcher bersama Donna melakukan pengintaian hanya berdua saja, tanpa ditemani tim maupun Udin.  Tim hanya mengantarkan Fletcher dan Donna kelokasi pengintaian tersebut.  Setelah mereka benar-benar telah mendapatkan posisi yang nyaman untuk dilakukan pengintaian, timpun meninggalkan Fletcher dan Donna. Dengan wajah sedikit kesal dan kecewa Fletcher kembali ke tenda karena tak berhasil membawa jempretan kamera binatang tersebut

Oleh karena itu, keesokan harinya W.K fletcher membutuhkan Udin untuk menemaninya. Udin akan mencoba memanggil-manggil rusa maupun kijang terseebut dengan menggunakan sebuah alat yang telah dipersiapkannya, yaitu sebuah kaleng sardines.

Setibanya dilokasi pengintaian, Udin segera memanjat sebuah pohon untuk tempat dia memanggil satwa tersebut. Sedangkan Fletcher dan Donna juga mengambil posisi mereka masing-masing.

Udin pun segera meniup kaleng sardines tersebut, suaranya mirip seperti suara rusa. Sekitar satu jam lamanya Udin mencoba memanggil-manggil, namun belum juga ada tanda-tanda rusa maupun kijang akan datang ketempat itu.  Lantaran kesal target tak juga menampakkan diri dengan agak kesal W.K fletcher dan Donna meminta Udin untuk meninggalkan mereka berdua saja ditempat itu mengunakan bahasa isyarat. Maklum mereka tidak bisa berbahasa Indonesia begitu juga dengan Udin. Udin pun kembali ke camp. Fletcher dan Donna kembali melakukan pengintaian.  Sementara dilangit matahari telah bergeser ke barat, namun rusa maupun kijang belum juga mendatangi tempat tersebut.  Hingga akhirnya hari beranjak senja, Fletcher dan donna pergi meninggalkan tempat itu tanpa ada satupun gambar rusa maupun kijang yang didapat oleh mereka.

Dibalik kegagalan itu, W.K fletcher dan Donna mendapatkan gambar seekor kupu-kupu yang cantik.  Menurut mereka kupu-kupu itu adalah kupu-kupu yang tercantik di Asia yang pernah mereka temui.

Bermalam di lokasi Exs. PT. IFA usai sudah. Meskipun hasil yang diperoleh belum maksimal kami memutuskan pindah ke Batang Nilo ( TNTN ) yang terletak di Kabupaten Pelalawan. Batang Nilo adalah nama sungai, anak sungai kampar dekat kuala terusan. Didalam legenda rakyat Pelalawan. Sungai nilo diberi nama oleh Tuk Demang serial. Waktu itu Tuk Demang Serial memudiki sungai kampar, kemudian beliau bertemu sebuah sungai yang hitam airnya. Ditanyakan kepada pengiringnya apa nama sungai itu, tiada seorangpun yang mengetahuinya.

Kemudian Tuk Demang Serial memerintahkan anak buahnya mengayuhkan perahunya terus kehulu. Tiba-tiba mereka terhalang oleh sebatang pohon kayu yang tumbang melintangi sungai itu dari seberang. Untuk melewati kayu itu, terpaksa harus dipotong. Lalu, Tuk Demang Serial memotong kayu tersebut  yang hanya tinggal terasnya saja  dengan menggunakan Beliung. Disaat itu, dari teras kayu keluarlah cairan hitam kemerah-merahan seperti Nila. Oleh Tuk Demang Serial, nila itu diambilnya dan saat itulah ia berkata “ karena sungai ini belum bernama, sedangkan kayu ini ada tuahnya, maka mulai saat ini sungai ini hamba namakan” sungai batang nilo”.

Semenjak itu, hingga sekarang sungai itu dinamakan orang sungai Batang nilo.

Team bersama W.K Fletcher menyusuri sungai Nilo

Saat ini sungai nilo sedang surut, tim bersama Fletcher dan Donna terpaksa harus menggunakan 2 unit perahu motor ( pompong ) untuk menuju muara sungai nilo tersebut.

Permukaan sungai tampak tenang dibawah cahaya matahari yang mulai naik.  Pompong yang membawa tim mulai bergerak menuju muara sungai nilo.  Pompong bergerak meliuk-liuk menghindari kayu-kayu yang ada disungai tersebut dan meluncur membelah air melawan arus.  Air sungai beriak-riak, membuat tanaman yang ada dibibir sungai berayun-ayun dihempas gelombang.

Suasana tenang dibawah cahaya matahari yang terik, kecuali suara mesin pompong yang keras seakan-akan memekakkan telinga.  Diperjalanan menuju muara sungai nilo, tim menemukan beberapa pohon sialang yang terdapat dipinggir sungai nilo tersebut. Fletcher dan Donna mencoba mengambil gambar pohon sialang tersebut.  Setelah mengambil beberapa gambar, tim kembali melanjutkan perjalanan menuju muara sungai.

Selang beberapa menit kemudian, tim akhirnya tiba dimuara sungai nilo ( pertemuan antara Sungai Nilo dengan Sungai Sawan ).  Tim istirahat dimuara sungai ini, karena pompong hanya bisa sampai disini.  Disebabkan air sungai lagi surut. Kemudian tim mencoba mencari posisi untuk mendirikan tenda, sementara itu matahari sore makin bergeser ke barat. Awan yang jauh dicakrawala perlahan-lahan berarak dan mengumpal menjadi satu.  Angin berembus agak kencang dan mulai terasa dingin. Pertanda bahwa mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Sehelai daun terlepas dari ranting dan melayang dipermukaan air bersama angin yang menderu.  Angin dingin makin keras bertiup dan menggugurkan lebih banyak lagi daun-daun. Gerimispun mulai turun satu-satu dan angin dingin yang lembab bertiup kencang, membuat permukaan air tersibak membentuk riak-riak kecil.  Tidak lama kemudian hujan turun begitu deras. Timpun istirahat didalam tenda yang telah dipersiapkan.

Sasaran yang jadi tujuan didaerah Batang nilo ini adalah pengambilan beberapa objek foto tentang berbagai jenis kehidupan beruk / monyet. Dan itu dilakukan selama 4 hari sampai hasil pemotretan betul-betul memuaskan. “Monkey..Monkey”ujar Donna kepada sang suami sambil menunjuk kearah monyet yang asyik bergelantungan

Puas dengan hasil tersebut kami mencari objek yang baru di tempat yang lain sekitar 10 KM dari tempat semula. Namun sebelum kami menuju lokasi tersebut, terlebih dahulu kami beristihat dicamp Playing Squad. Setelah istirahat satu hari penuh, esoknya kami bergerak menuju sungai dengan airnya berwarna coklat dan berarus tidak deras.  Sungai itu adalah sungai Air hitam.  Sebelum sampai disungai ini, kita akan melewati perkebunan masyarakat. Disana akan kita temukan perkebunan sawit masyarakat air hitam dan pondok-pondok kecil yang terbuat dari papan.  Kemudian akan kita temukan bukaan lahan yang luas dengan belukar diatasnya.

Lebar sungai itu mencapai 10 meter.  Ditepi sungai tersebut terdapat jalan setapak yang menuju hulu sungai.  Namun sekarang sungai itu meluap dan menutupi beberapa jalan setapak tersebut. Tim terpaksa harus mengarungi sungai tersebut.

Matahari yang terik terhalang oleh lebatnya daun-daun, membuat disekitar tepi sungai itu menjadi teduh dengan angin yang berdesir-desir didedaunan. Tim terus berjalan mengikuti jalan setapak tersebut menuju hulu sungai, walaupun tim harus mengarungi beberapa jalan yang tergenang air.

Tim telah berjalan sejauh 2 kilometer dan tiba dilokasi Bagan Drum. Dilangit terlihat awan mulai menghitam, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Tim segera mencari posisi untuk mendirikan tenda. Tim mendirikan tenda dilokasi bagan drum ini.

Bagan Drum adalah sebuah nama lokasi yang terdapat di sungai air hitam kanan. Nama ini diberi oleh masyarakat setempat. Dan lokasinya terdapat dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo.

Langit sudah terlihat gelap, mendung membuat hari tampak tua dan malam turun lebih cepat. Tidak lama kemudian, hujan pun turun di iringi angin yang sedikit kencang dan sesekali terdengar suara petir yang menggelegar di atas cakrawala. Hujan baru berhenti malam harinya.

Keesokan harinya, kami menemani Fletcher melakukan pengambilan gambar didaerah bagan drum tersebut menuju arah hulu sungai. Ada beberapa objek gambar yang di ambil oleh fletcher dan Donna. Diantaranya akar-akaran ( liliana ), pohon gaharu, cempedak hutan, dan beberapa jenis bunga.

menyusuri jalan yang tergenang air sungai yang meluap

Sekitar tiga hari kami dilokasi bagan drum ini, selama itu pula hujan selalu datang membasahi bumi. Hingga membuat air sungai semakin naik. Tinggal beberapa jengkal lagi mencapai camp. Malam itu malam keempat kami dibagan drum, air sungai semakin naik, sehingga kami harus berjaga-jaga, bila nanti air sungai meluap. Sebagian barang-barang telah kami kemasi untuk antisipasi jika terjadi banjir. Kami baru bisa tertidur pulas saat air sungai sudah mulai tenang dan sedikit demi sedikit surut.

Paginya, kami memutuskan untuk kembali ke camp Playing squad. kegiatan ini tidak bisa dilanjutkan karena lokasi lagi banjir. Jalan setapak yang kami lalui beberapa hari yang lalu, sekarang telah digenangi air. Sungai itu meluap, kami terpaksa harus mengarungi sungai tersebut. Sesekali kami harus berenang, karena airnya terlalu dalam.

Puas menjelajah hutan dalam deru hujan dan panas akhirnya kami kembali pulang ke pekenbaru dengan segala kenangan yang terukir bersama beragamnnya keadaan yang terasa berkesan. Good bye sir. Good luck for you.. And Nice to meet you.

4 thoughts on “mengejar target di ujung kamera

  1. Sepertinya saya tertarik dengan akar akaran atau yg di sebut liliana.apa bs di upload fotonya,atau mungkin no telpon yg bs di hubungi.tq

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s