bergelut dengan resam diantara perbukitan


Termenung setelah melewati tebalnya tumbuhan pakis resam

YULIUS EPENDY duduk termenung di sela-sela teriknya panas matahari, setelah selesai berjuang melewati tebalnya tumbuhan pakis resam yang menutupi jalan-jalan bekas jalan logging. Tidak dapat dihindari lagi, pendy begitu dia biasa disapa terpaksa harus merayap menembus pakis resam tersebut, karena dikiri kanan jalan yang dilewatinya terdapat jurang yang terjal. Pelan tapi pasti itulah pendy, walaupun pelan tapi dapat juga menembusnya. Kadang kala harus jungkir balik karena kaki tersanjung batang-batang resam yang keras. Setelah jatuh kemudian bangkit lagi, pantang menyerah.

Walaupun begitu, pendy tetap bersemangat menembus tebalnya pakis resam. Membuka jalan untuk teman-temannya yang ada dibelakang mengikutinya. Sesekali pendy terbatuk-batuk karena menghirup serbuk pakis resam tersebut.

Sesekali juga pendy memandang ke atas sambil mengusap keringat yang terus membasahi wajah dan tubuhnya. Dan setelah berjalan beberapa jam, pendy merasa kakinya sudah terasa lelah dan tubuhnya sudah bermandikan keringat. Namun begitu tumbuhan pakis resam yang dilewati belum juga selesai ditembus.

mendaki bukit yang terjal

Terlepas dari padatnya tumbuhan pakis resam, pendy harus menuruni lembah-lembah dan mendaki bukit-bukit yang lumayan terjal. Lembah demi lembah pendy turuni dan bukit demi bukit dia daki dengan penuh semangat.

Walau melewati tebing sekalipun. Tiada kata menyerah dan tiada kata tidak bisa. Sebelum semuanya dicoba.

Bermain dengan tumbuhan pakis resam dan perbukitan bukan kali ini saja dialami pendy, akan tetapi sudah berkali-kali dialaminya selama dia bergabung bersama tim riset harimau sumatera.

Pendy ikut bergabung bersama tim riset harimau sumatera dari tahun 2008 sampai sekarang, walaupun statusnya masih Tenaga lokal, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu tim dalam melakukan kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh WWF Indonesia.

Dan saat ini tim kami terdiri dari empat orang, yaitu Yulius Ependy, Leonardo subali, Amrizal, dan saya Kusdianto, yang sedang melakukan survey occupancy didaerah koridor Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling- Cagar Alam Bukit Bungkuk, kabupaten Kampar-Riau, mencari tanda-tanda keberadaan harimau Sumatra dan mamalia besar lainnya. Kami mengumpulkan informasi dari masyarakat sekitar tentang tanda-tanda keberadaan harimau. Tanda-tanda tersebut kami perlukan untuk mendukung studi populasi dan distribusi harimau Sumatra yang tengah dilaksanakan oleh WWF Indonesia dimana saya ikut bergabung.

Setelah informasi terkait didapat, kami akan melakukan penjelajahan didaerah tersebut yang dinamakan Survey Occupancy Harimau Sumatra dan Mamalia Besar lainnya. Kemudian akan dilakukan pemasangan kamera jebak ( camera trap) pada beberapa lokasi sample untuk mendapatkan informasi yang akurat guna mendukung penelitian yang sedang dilakukan. Ini survey yang pertama kami lakukan dikawasan ini.

Dalam perjalanan yang begitu panjang banyak rintangan yang ditempuh tim, baik berupa tumbuhan pakis resam yang sulit dilewati sampai mendaki bukit yang begitu terjal, dengan cuaca yang kurang bersahabat. Pada saat ini cuaca sangat sulit ditebak, dalam kondisi cuaca yang panas tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dan akhirnya menurunkan hujan. Mungkin ini akibat pemanasan global yang terjadi di negeri ini.

Hari berganti dan terus berganti. Setiap kali sang perkasa siang menunjukan wujudnya pasti akan hilang dan bersembunyi, sejalan dengan keadaannya menurut qodrat dan kehendak yang ditentukan Yang Maha Kuasa. Hampir-hampir tak terasa tim sudah hamper satu minggu didalam hutan belantara ini, hingga akhirnya tim sampai ditepi sebuah sungai yang dinamakan Sungai Batang Ulak.

PENEBANGAN LIAR

Sungai Batang Ulak yang dijadikan Track untuk mengambil kayu olahan oleh masyarakat setempat.

Tim menemukan masyarakat yang melakukan penebangan liar disepanjang aliran sungai BATANG ULAK. Masyarakat tersebut mengambil kayu balok yang di hanyutkan disungai batang ulak menuju sungai durian desa Siabu. Kayu-kayu yang dihanyutkan berjumlah ratusan tual dengan panjang satu tual empat meter.

Belum diketahui pasti siapa yang menghanyutkan kayu-kayu tersebut. Pada kayu-kayu tersebut tertulis nama VIKIX. Setelah kami telusuri sungai batang ulak tersebut menuju hulu, kami menemukan kembali beberapa tumpukan kayu olahan. Serta menemukan beberapa orang masyarakat yang sedang menghanyutkan kayu-kayu mereka, salah satunya bernama Ijal. Dia berasal dari Pasaman Timur ( SUMBAR ), dan telah bekerja mengolah kayu dikawasan ini selama 4 tahun, sekarang ia berdomisili didesa Siabu. Serta mempunyai induk semang atau Toke yang menampung kayu-kayu mereka yang juga berdomisili didesa Siabu, namun Ijal enggan untuk menyebutkan namanya.

Masyarakat yang melakukan penebangan liar didaerah ini rata-rata berasal dari daerah Sumatra barat, mereka berjumlah belasan orang dan terbagi beberapa kelompok. Dan menggunakan sungai batang ulak sebagai track mereka.

TARGET DITEMUKAN

Harimau Sumatera ( phantera tigris sumatrae )

Sudah delapan belas hari delapan belas malam tim melakukan penjelajahan dihutan mencari keberadaan harimausumatera dalam kegiatan yang dinamakan survey occupancy harimau sumatera dan mamalia besar lainnya. Dalam waktu yang sekian lama tim belum juga menemukan keberadaan harimau tersebut, hingga akhirnya tim sampai disuatu kampung kecil/ladang-ladang masyarakat dan tim beristirahat disana. Ladang-ladang masyarakat yang dibuka pada tahun 2007 silam, dengan luas 200 ha. Lokasi ini rencananya dijadikan untuk pemekaran desa Sei.Rambai, kecamatan Kampar kiri, kabupaten Kampar- RIAU. Disini tim mendapatkan beberapa informasi tentang keberadaan harimau sumatera dan mamalia besar lainnya, seperti gajah, beruang dan tapir.

Menurut cerita masyarakat sekitar, didaerah ini terdapat 15 ekor harimau yang sering berkeliaran didaerah pembukaan lahan masyarakat sei rambai ini. Namun belum pernah terjadi konflik dengan masyarakat sekitar. Untuk memastikan informasi ini, tim mencoba melakukan penjelajahan disekitar daerah ini selama tiga hari. Pada hari pertama, tim tidak menemukan keberadaannya. Akan tetapi pada hari kedua tim melakukan survey didaerah ini, tim menemukan keberadaan harimau tersebut. yang terdapat dilokasi pembukaan lahan masyarakat.  Jejak tersebut ditemukan dibekas jalan logging, kemudian jejak diidentifikasi dan dicetak dalam plastic trasparan serta difoto. Diperkirakan harimau tersebut melintasi jalan ini pada pagi hari, terlihat dari bekas jejaknya yang masih basah. Dengan kondisi tanah yang berpasir, ukuran jejak tersebut 11 x 12,5 cm ( P x L ), dengan jarak langkah sepanjang 62 cm.

tapak harimau

Didaerah ini tim hanya menemukan satu individu harimau saja, bukan 15 individu seperti yang diceritakan masyarakat setempat.

Terlihat Leonardo subali sedang mencatat temuan keberadaan harimau Sumatra tersebut dalam buku data yang selalu dipegangnya. Leonardo yang juga ikut bergabung bersama tim riset dari tahun 2007 hingga sekarang.

Selain informasi harimau, tim juga mendapatkan informasi tentang keberadaan Gajah Sumatra. Seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat. Tiga bulan yang lalu tepatnya pada bulan pebruari, ada satu ekor gajah Sumatra yang berkeliaran didaerah ini. Namun setelah tim melakukan penjelajahan, tim tidak menemukan keberadaannya, baik menurut tanda jejak maupun tanda kotorannya.

Selain keberadaan harimau Sumatra, tim juga menemukan beberapa keberadaan satwa besar lainnya, diantaranya : TAPIR ( Tapirus indicus ) dan Beruang ( Helarctos malayanus ). Dan beberapa satwa mangsa, diantaranya : Babi ( Sus scropa ) dan Rusa ( Cervus unicolor ). Keberadaan satwa-satwa ini terdapat diberbagai tempat selama dilakukannya survey.

Catatan :

Ada beberapa tanaman dan buah-buahan yang dapat kita jumpai dihutan koridor ini untuk dikomsumsi sehari-hari, diantaranya :

Tanaman Kincung

Jika anda menjelajah didaerah ini, maka anda akan banyak menjumpai tanaman ini yang bias dikomsumsi sebagai tambahan makanan anda. Bentuknya cantik dan berwarna merah, tanaman ini bias dicampur dengan sambal maupun dengan ikan, apalagi ikan Baung……..hehehehe. mencari ikannya juga tidak sulit, disini juga terdapat banyak ikan, anda hanya perlu sebuah pancing untuk menangkapnya. Kalau anda belum pernah merasakan tanaman ini, maka anda termasuk orang yang rugi.

Anda mau merasakan nikmatnya tanaman ini, datanglah dan carilah disekitar hutan-hutan yang terdekat dengan anda. Maka anda akan menemukan tanaman ini dan rasakan kenikmatannya.

Buah Rotan

Selain tanaman Kincung, buah rotan juga bias anda konsumsi sebagai makanan. Bentuknya kecil dan bulat. Warnanya kekuning-kuningan, Jika buah ini sudah masak warnanya akan berubah menjadi hitam. Rasanya sedikit asam dan sedikit manis, kira-kira rasa apa ya….hehehehe. anda mau tahu, rasakan saja sendiri ya.

Dari dua jenis makanan ini, masih ada yang dapat kita konsumsi dilapangan, seperti cempedak hutan. Akan tetapi pada saat ini cempedak hutan belum musimnya berbuah.

cerita&foto by koes

3 thoughts on “bergelut dengan resam diantara perbukitan

  1. Saat berpuluh juta manusia pindah ke kota besar dan memenuhinya hingga melampaui batas, kalian malah menyingkir ke hutan demi mencari jejak Sang Belang Sumatera. Hebat kawan. Terus share kabar di sana ya, Semangat ^^

  2. sip. terima kasih dukungan semangatnya mba ghina. pasti kami usahakan selalu menuliskan cerita dari perjalanan kami. salam dari sumatra.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s