Indonesia tuan rumah pertemuan Harimau dunia

Siaran Pers Bersama Kementerian Kehutanan

anak harimau di koridor biologi RB-B30

Jakarta, Indonesia –Pada tanggal 12 – 14 Juli 2010, di Nusa Dua, Bali, Kementerian Kehutanan bekerjasama dengan Global Tiger Initiative-World Bank akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan pertemuan penting dunia yaitu  “Pre-Tiger Summit Partners Dialogue Meeting” yang akan dihadiri oleh delegasi dari 13 (tiga belas) negara yang memiliki harimau alam (Tiger Range Countries/TRCs) yaitu Bangladesh, Bhutan, China, India, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, dan Vietnam.

Pertemuan itu akan dihadiri pula oleh para pakar, lembaga internasional seperti CITES dan IUCN, LSM nasional/internasional (WCS, WWF, FFI, ZSL, RARE, IFAW, PKHS, LIF), Forum HarimauKita, media masa, lembaga donor (USAID, AUSAID, GEF, BMZ-German, DFID, USAID, UK, Korea, Belanda, New Zealand, Canada, Finlandia, Perancis, Denmark, Norwegia, Russia,  Slovenia, Spanyol, GEF, ADB, US Fish & Wildlife, Panthera, Smithsonian Conservation Biologi Institute, dll).

Pertemuan di Bali ini merupakan pertemuan persiapan sebelum dilaksanakannya Konferensi Internasional Konservasi Harimau tingkat kepala negara “World Tiger Summit” di Saint-Peterburg Rusia pada tanggal 15-18 September 2010. Menurut Menurut Ir. Darori, MM. Direktur Jenderal PHKA – Kementerian Kehutanan, dalam pertemuan yang akan diselenggarakan di Nusa Dua – Bali itu, diharapkan para delegasi akan bersama-sama merumuskan naskah Rencana Pemulihan Harimau Dunia (Global Tiger Recovery Plan)sebagai kesepakatan antar negara untuk pelestarian harimau dan konsep ‘Deklarasi Para Kepala Negara (Leaders Declaration)’ yang akan dibahas dalam pertemuan tingkat kepala negara di Rusia. Ditingkat Nasional, Pemerintah Indonesia yang dipimpin oleh Kementerian Kehutanan dan didukung oleh mitra serta insitusi terkait juga telah merumuskan naskah serupa di tingkat nasional (National Tiger Recovery Program).

“Kami berharap pertemuan ini dapat menghasilkan naskah Program Pemulihan Harimau Dunia sebagai upaya bersama dalam mencari solusi menghadapi ancaman-ancaman yang dihadapi harimau di dunia,  termasuk harimau Sumatera, dan mendua-kali-lipatkan populasinya di alam pada tahun 2022,” kata Dr. Ir. Harry Santoso Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati – Departemen Kehutanan. Lebih lanjut, dalam pertemuan ini juga diharapkan dapat dipetakan komitmen dan dukungan finansial dari berbagai pihak untuk upaya pelestarian satwa kharismatik tersebut.

Dalam konteks persiapan pertemuan tingkat Kepala Negara di Rusia, Pertemuan di Bali merupakan tindak lanjut proses pertemuan antar negara yang pernah diadakan sebelumnya di Kathmandu, Nepal dan Hua-Hin, Thailand. Pertemuan yang diadakan di Kathmandu, Nepal pada Oktober 2009 menghasilkan kesepakatan untuk meningkatkan populasi harimau dunia menjadi dua kali lipat pada tahun 2022, sedangkan pertemuan tingkat menteri untuk pelestarian harimau di Hua-Hin, Thailand telah menghasilkan Deklarasi untuk mendukung konservasi harimau dunia.

Saat ini harimau berada pada kondisi kritis. Spesies harimau diseluruh dunia saat ini hanya tersisa sekitar 3200 individu  yang meliputi enam sub-spesies yaitu harimau Sumatera, Bengal, Amur, Indochina, Cina Selatan, dan Malaya. Ancaman utama kepunahannya mencakup hilang dan terfragmentasinya  habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal, serta konflik dengan masyarakat yang tinggal di sekitar habitat harimau.

Sub-spesies yang ada di Indonesia, harimau sumatera, dengan populasi sekitar 400 individu, mewakili 12 persen dari total populasi harimau di dunia – kondisi ini telah menempatkan Indonesia sebagai negara kunci dalam pelestarian harimau di dunia.

”Ironisnya, habitat harimau sumatera telah menyusut hampir 50% dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Sekitar 70% dari habitat tersisa tersebut berada di luar kawasan konservasi yang tersebar pada setidaknya  20 petak hutan yang terisolasi satu dengan lainnya. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa sebagian besar populasi harimau sumatera yang tersisa tidak dalam perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, menjadi penting bagi warga negara Indonesia untuk segera merapatkan barisan dan mengambil langkah konservasi yang kongkret dan tepat, agar  harimau sumatera tidak bernasib sama dengan kedua saudaranya yang lebih dahulu punah, yaitu harimau jawa dan bali,” kata Hariyo T. Wibisono, Ketua Forum HarimauKita.

“Penyelamatan habitat yang tersisa, restorasi kawasan kritis, serta mengimplementasikan tata ruang yang mendukung pembangunan secara lestari—untuk memberikan wilayah jelajah yang cukup bagi harimau sumatera serta meminimalisir kemungkinan konflik dengan manusia, perlu menjadi agenda bersama dalam penyelamatan satwa dilindungi ini,” kata Dr. Efransjah, CEO WWF-Indonesia. Lebih lanjut menurutnya, penyelamatan hutan, penataan ruang secara lestari dan restorasi kawasan kritis habitat harimau sumatera juga sangat sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia kepada dunia dalam upaya mengurangi emisi karbon dari deforestasi dan degradasi hutan.

Untuk informasi lebih lanjut:
Dr. Ir. Harry Santoso
Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati -Kemenhut
Telp 021-5720227
WWF-Indonesia :  Nazir Foead +62 811977604
Forum Harimau Kita : Hariyo T. Wibisono +62 8121099557

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s