Penyelundup Harimau Sumatra di Tangkap!!

Jakarta (21/7)-Dua orang yang terlibat dalam sindikat perdagangan liar harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) berhasil ditangkap oleh Satreskrim Poltabes Pekanbaru, Riau, 17 Juli lalu. Yoga Rusdiansyah (26) dan Hidayat Saldi (45) saat ini dalam pemeriksaan polisi setelah ditemukan barang bukti berisi enam kepala harimau, lima lembar kulit dan lebih dari tujuh kilo tulang harimau. Hasil perburuan ilegal tersebut sedianya akan dikirim ke Malaysia.

Menurut Kasat Reskrim Poltabes Pekanbaru, AKP Sapta Marpaung, saat ini Yoga telah ditetapkan sebagai tersangka karena tertangkap dengan barang bukti, sementara status Hidayat sebagai penghubung masih ditelaah lebih lanjut. Barang bukti tersebut dikirim dari seseorang bernama Edi dari Medan. Hidayat menerima kabar mengenai kiriman tersebut dan menyampaikannya pada Yoga yang bertugas sebagai kurir. Kiriman tersebut ditujukan pada Gito yang bertugas membersihkan hasil buruan tersebut sebelum dikirim ke Malaysia. Keberadaan Gito saat ini masih belum jelas.

Berdasarkan pengakuan tersangka, kegiatan ini telah berlangsung selama tiga tahun dan bisa mencapai lima kali pengiriman dalam satu bulan. Jalur yang dipilih adalah jalur laut dan darat untuk sampai ke Malaysia. Saat dikonfirmasi mengenai hal ini Kepala BKSDA Riau, Trisnu Danisworo, menyampaikan bahwa jalur darat lebih sulit diawasi dibandingkan jalur udara. Menurutnya lagi ada kemungkinan harimau tersebut bukan berasal dari Riau tapi Sumatera Utara mengingat kiriman berasal dari Medan. Trisnu berjanji akan mengkoordinasikan temuan ini dengan BKSDA setempat.

Kemungkinan sebaliknya disampaikan oleh Koordinator Tiger Protection Unit dan Pengawasan Perdagangan Satwa WWF, Osmantri. Ia menyebutkan bisa saja hasil buruan itu berasal dari Riau, karena Medan terkenal sebagai tempat penampungan hasil perburuan satwa di Sumatera. Menurutnya lagi telah terbentuk sindikasi perdagang liar dengan pengumpul satwa langka di tiap provinsi sebelum dikumpulkan ke Medan.

Data WWF Indonesia menunjukkan terdapat sekitar 192 individu harimau Sumatera di Riau pada 2007. Berdasarkan riset menggunakan camera dan video jebak,saat ini telah teridentifikasi setidaknya 30 individu harimau Sumatera di Riau, yang populasinya tersebar di Tesso Nilo, Kerumutan, Rimbang Baling dan koridor antara Rimbang Baling dan Bukit Tigapuluh. Hingga kini riset tersebut masih terus berlanjut.

Menurut Syamsidar, staff komunikasi WWF-Indonesia di Riau, data WWF menunjukkan telah terbunuh 46 harimau dalam rentang waktu 1998-2009. “Ini adalah jumlah yang terdata. Jika memang benar enam tengkorak harimau yang akan dijual ke Malaysia adalah harimau yang berasal dari Riau tentu angka ini akan terus bertambah. Kami sangat menyayangkan sekali. Karena harimau sumatera adalah binatang yang dilindungi oleh undang-undang seharusnya semua pihak bertanggung jawab. Baik itu pemerintah, pengusaha, dan masyarakat perlu kesadaran untuk perlindungan habitat harimau,’’ lanjutnya.

Chairul Saleh, ahli spesies dan konservasi WWF-Indonesia menambahkan agar penyelidikan tidak berhenti disini, “Kasus ini harus diusut tuntas sampai ke pengadilan, jangan sampai hanya kurirnya saja yang ditangkap. Harus diusahakan melalui kasus ini untuk membongkar jarigan perdagangan satwa dilindungi yang dilakukan lintas provinsi bahkan lintas negara sampai pada pelaku utama dari sindikat perdagangan ini dihukum seberat-beratnya,”.

Apabila terbukti bersalah, tersangka bisa dijerat pasal 21 dan 40 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 mengenai Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Hukuman maksimal yang bisa diperoleh tersangka apabila terbukti bersalah adalah lima tahun penjara dan denda sebesar 100 juta rupiah.

Perdagangan illegal harimau dan bagian tubuhnya merupakan salah satu isu utama yang dibahas oleh tiga belas negara yang menjadi habitat alami harimau di dunia dalam serangkaian pertemuan tingkat tinggi yang dilaksanakan tahun ini. Sebuah naskah Deklarasi mengenai Konservasi Harimau telah dibuat oleh tigabelas negara pada Pre Tiger Summit 12-14 Juli 2010 di Bali. Dalam naskah deklarasi tersebut diusulkan langkah-langkah nyata yang akan diambil oleh pemerintah untuk menekan perdagangan illegal harimau. Deklarasi ini akan disepakati dan ditandatangani dalam Pertemuan Kepala Negara mengenai Konservasi Harimau Dunia yang akan diadakan di St. Petersburg, Russia pada September tahun ini.

—–

disadur dari http://www.wwf.or.id/?19900/Sindikat-penyelundup-tulang-dan-kulit-Harimau-Sumatera-ditangkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s