Harimau di Tahun Harimau

Penamaan konflik manusia dengan Harimau merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Memasuki pertengahan tahun 2010 yang masih disebut tahun Harimau berdasarkan hitungan tarikh tahun Tionghua kerap disebut Shio Harimau. Penanggalan Tahun tersebut menimbulkan beragam tafsir tergantung siapa yang menafsir, seperti versi kesenangan hingga ancaman. Tahun Harimau juga sejalan dengan ancaman terhadap keberadaan Harimau Sumatera yang diduga kian terancam seiring ekpolitasi hutan dengan nama pembangunan. Laju pembangunan yang mengedepankan sektor perkebunan berimbas memupuskan harapan hidup dan memperkecil akses hidup bagi Harimau yang secara langsung memutus akses mata rantai makanan, dengan eksploitasi hutan di kantung-kantung populasi Harimau. Kantung populasi tersebut tersebar dari Lampung, Riau hingga yang terbanyak populasinya di Provinsi Aceh. Beberapa Taman Nasional di Pulau ini tak mampu menopang daya dukung habitat bagi populasi Harimau di Sumatera. Bahkan sering terdengar Harimau bermain di tatanan enclave, ini juga indikasi bahwa Taman Nasional bukan habitat yang baku untuk kawasan proteksi habitat Harimau. Seiring dengan itu Harimau terdengar mengancam penduduk bahkan mata pencaharian penduduk, dan secara otomatis masyarakat cemas merasa terganggu dengan kehadiran Harimau dan disebut dengan konflik yang kerap disebut dengan konflik manusia dan Harimau. Padahal penamaan konflik juga merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Karena Harimau hidup hanya mencari makanan dan mempertahankan kawasannya dan makanan tersebut kadang berada di kawasan pemukiman, satwa mangsa berupa ternak di desa seperti sapi, kambing dan sebagainya dan kerap juga mengancam manusia. Sehingga kadang satwa Harimau yang hadir di desa membuat suasana mencekam. Kahadiran Harimau menjadi momok dan berimbas pada pembunuhan berencana terhadap Harimau oleh masyarakat desa. Laju pembunuhan juga berdampak sistematis pada penurunan jumlah populasi. Harimau mati terjerat akibat jeratan sengaja maupun tak sengaja seperti terkena jeratan Babi dan Rusa atau Harimau sengaja dijerat untuk diperdagangkan. Harimau mati diburu untuk kulitnya hingga Harimau dipelihara oleh manusia. Hal ini yang selalu menimpa top predator tersebut.

Penegakkan hukum untuk melindungi satwa kebanggaan Pulau Sumatera ini lemah, tak sebanding dengan keteranan namanya. Pertanyaan tersulit untuk dijawab, ”Bagaimana jika Harimau punah apakah yang akan terjadi bagi kondisi ekologi di daerah tersebut?”, “Apakah yang terjadi di hutan tersebut?” contoh kasus seperti yang terjadi Pulau Bali dan Pulau Jawa dimana satwa Harimau punah. Tapi dampaknya tak berpengaruh secara langsung. Harimau Jawa punah dan pada ranah ekologi juga tidak menjelaskan secara eksplisit bagaimana hilangnya rantai makanan, tak ada kejadian apapun di hutan Pulau Jawa dan Bali. Bahkan secara pragmatis di Pulau Bali kunjungan turis dari dulu hingga sekarang ramai berdatangan dan menjadi sumber ekonomi daerah tersebut. Ini juga terjadi di Pulau Jawa yang menjadi pusat bisinis nusantara yang menjadi macannya ekonomi Indonesia. Tak ada Harimau tak berpengaruh, juga tak ada analisis kuat tentang hilangnya Harimau juga hutannya kemudian berpangaruh, butuh argumen ilmiah terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Juga di Pulau Sumatera ketika Harimau tinggal ratusan ekor bahkan puluhan. Apakah dengan hilangnya habitatnya akan berpengaruh kepada tatananekologi dan mata rantai makanan? Atau kita hanya kehilangan satu species yang paling terkenal di dunia? Harimau Sumatera punah di hutan Sumatera dan hutannya menjadi kota dan menjadi ladang bisnis seperti di pulau Jawa dan bali. Kita gunakan analisa mudah dan tak perlu terlalu jenius untuk menganalisis hal ini; satwa Harimau yang memakan daging yang berasal dari satwa Rusa dan Rusapun memakan tanaman dan tanaman memakan unsur hara. Tanaman mati akan dimakan bakteri atau unsur hara dan unsur hara akan dimakan oleh pohon, pohon juga intermediate dan mati. Pohon mati diserap serangga penghancur dan Serangga penghancur tersebut dimakan Burung dan Burungpun dimakan Ular, satwa Ularpun dimakan oleh Cerpelai, Cerpelaipun dimakan Harimau. Simbiosis mutuliasme antara pemangsa dimangsa terjadi di alam berputar sesuai porsinya dan kesemuanya itu dimakan oleh manusia sang Mega Predator melalui jargon pembangunan dan manusia pun mati digrogoti penyakit melalui virus dan bakteri.

Harimau adalah bukti agungnya hutan kita di Pulau Sumatera, kebanggaan sosial budaya yang menempatkan Harimau sebagai simbologi keperkasan sang alam. Tak ada satwa yang diperlakukan dalam sejarah Sumatera yang diagungkan begitu dahsyat di hutan ini selain Harimau. Bahkan simbol Harimau terkesan mistis dan angker ini dibuktikan di Pulau Sumatera, penyebutan Nenek, Datok ini simbologi yang mengukuhkan eksistensi hutan Sumatera. Sosial budaya menyelamatkan Harimau, sebagai contoh masyarakat di sekitar hutan akan selalu was-was jika di hutan mereka ada Harimau, bahkan ada perlakuan khusus jika memasuki hutan itu agar tak berjumpa dengan Harimau. Konon jika bertemu Harimau membuat yang bertemu akan menjadi gila di kemudian hari dan mulutpun terkunci, maka iring-iringan doa dikumandangkan agar masuk ke hutan tak berjumpa dengan satwa besar itu. Perlakuan agung terhadap satwa Harimau terdengar di negeri India dan Tinghoa yang memperlakukan hal sama. Mereka menghargai dengan meletakan simbol Harimau yakni shio Harimau ke dalam hitungan tarikh mereka. Harimau begitu tegar, Harimau begitu anggun, Harimau memiliki kekuatan alam.

Seiring maraknya konflik Harimau yang terjadi di Pulau Sumatera dan pembukaan wilayah baru untuk alasan pembangunan di hutan di rumah Harimau, hutan yang selalu dibuka untuk kebun besar yang akan menyempitkan daya dukung Harimau berjelajah. Ini membuat status keberadaan Harimau terjepit sakit di antara roda-roda pembangunan yang mengindahkan kaedah konservasi. Kondisi saat ini adalah robeknya kantung-kantung populasi Harimau di Pulau Sumatera yang berada beberapa provinsi seperti di Lampung, Sumatera Barat, Riau dan kantung populasi terbesar di Provinsi Aceh. Kesalahan berulang-ulang dalam mendisain hutan melalui konsep tata ruang akan selalu dan selalu mengorbankan Harimau sang raja hutan dan pengikutnya satwa-satwa di hutan. Peluang untuk itu ada, dengan memasukan perencanaan Tata Ruang Pulau Sumatera berbasis ekosistem. Ini merupakan solusi strategis dalam upaya pembangunan sektor kehutanan berkelanjutan di Pulau Sumatera yang berbasis pendekatan ekologi untuk menyelamatkan populasi Harimau dan hutan sebagai rumahnya.

Shio Harimau atau Tahun Harimau menandakan bahwa Harimau akan masuk dalam kondisi kritis dan keterancaman habitat dan populasi atau kondisi yang akan menguntungkan bagi Harimau. Penuh harapan bahwa Tahun Shio Harimau ini akan menandakan bahwa Harimau akan bertambah baik jumlah populasinya. Seiring perbaikan signifikan terhadap habitat dan berproses pada dinamika populasi, atau telah diprediksi oleh orang-orang terdahulu dari tafsir petuah kuno di Sumatera ”Harimau Mati Meninggalkan Belang” Harimau telah ditakdirkan mati dan punah seperti layaknya mati sang Raja yang selalu dikenang sepanjang masa.

ditulis oleh: Azhar Lampoh

dimuat di Harian WASPADA Sumatra Utara

foto&gambar:

http://vanpoerba.wordpress.com/2010/01/05/macan-di-2010/

One thought on “Harimau di Tahun Harimau

  1. sepakat dengan artikel yang menggugah insan untuk ikut menjaga kelestarian bumi, satwa harimau mau tidak mau harus tetap dilindungi, diantaranya pihak pengembang harus bertanggung jawab (mungkin) melalui CSR-nya….ok lanjutkan perjuangan untuk hijaukan bumi ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s