(Hari Ke 2) Menuju Sungai Batang Ulak

Aku yang terbangun karna suara canda Siamang (Hylobates Sindactylus) yang bermain-main di pepohonan menyambut pagi dan sang mentari.

Sinar mentari yang mencoba menembus sela-sela pohon, seakan ingin  ikut bermain dilantai hutan. Udara yang dingin menusuk tulang dan embun pagi masih menyelimuti sekitar camp kami, membuat aku malas untuk keluar dari sleepingbag. Di tambah lagi Badan masih terasa lemas, tapi aku coba tuk duduk dan mengumpulkan nyawa yang masih bermain di alam mimpi.

Jam di tangan menunjukkan pukul 6:30, Teman-teman yang masih tidur berselimutkan sleeping kini mulai terbangun satu persatu, ada yang masak air hangat, ada juga siapin masak bahan masakan untuk  sarapan, aku berdiri untuk mengambil peralatan mandi. Lalu aku pergi ke sungai, saat ku jatuhkan kaki ke sungai airnya begitu dingin dan terbuai aku ingin memanjakan diri sambil berendam.  Selesai berendam badan begitu segar  dan di camp sudah menanti susu yang akan menghangatkan tubuhku, beranjakku meninggalkan sungai menuju camp. Susu dan sarapan pagi sudah terhidang tinggal di nikmati, selesai sarapan berlanjut bongkar tenda dan sebagian packing barang. Hari ini pindah camp menuju sungai batang ulak…ayo bergerakk…..

Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan orang kampung yang membawa beras satu karung 20 kilo, peralatan masak, drigen 20 liter yang terisi bensin dan ada juga yang bawa gergaji kayu “shinsaw” . dalam hati aku bertanya…mau kemana mereka?…dan apa yang mereka kerjain di hutan ini?

ZUl & Orang Pengambil kayu

Karena satu jalan lalu kami mencoba mengikuti mereka, karena jalan aku lambat jadi tidak bisa mengikuti langkah kaki mereka. Tapi Aku tetap terus berjalan bersama mambo dan agung, jalan yang tadi lebar kini mulai menyempit tertutup resam. Tapi masih ada lorong untuk jalan setapak yang hanya bisa dilalui oleh orang, tidak lama berjalan di balik rimbunan resam yang sedikit tinggi aku mendengar obrolan orang. Lalu aku mulai bergegas mendekati rupanya teman-teman sedang mengobrol dengan orang kampung tadi berpapasan, sambil duduk melepas lelah dan mendengarkan obrolan mereka.

Sekilas saja aku mendengar kalau orang kampung ini berasal dari sumbar yang bekerja sebagai pengambil kayu, karena kalau di sumbar orang kampung ini tidak bisa mengambil kayu sebab adat desa yang melarang untuk menebang pohon…sementara kalau di riau bebas dan tidak ketat larangannya itu kata mereka, maaf…untuk nama orang ini aku sudah tidak ingat lagi, makanya tidak di cantumkan…

Hingga istirahat selesai dan mereka melanjutkan perjalanan tujuannya yaitu sungai batang ulak, suara perutku mulai berbunyi. Si zul kasih usul bagaimana sebelum melanjutkan perjalanan kita makan dulu, bener juga kataku…lalu di keluarin priuk nasi dari carrel egy, aku juga mengeluarin piring sendok dan lauknya. Setelah itu baru di bagi dengan si mambo di piring supaya adil merata dan met makan siang.

Selesai makan seperti kemarin langsung packing bergerak, dalam hati berkata kali ini aku harus biasa  seperti teman-teman, ayo berangkat si fendy bersorak sambil berjalan…yo…yo…yo di iringi kata teman-teman yang lain. Hari rencananya masang kamera di jalan logging yang kami lewati, memang jalan ini sudah bertahun-tahun tidak aktif oleh kendaran, tapi jalan ini masih aktif untuk orang yang mau pergi mancing ke sungai batang ulak atau ke Desa Siabu dengan berjalan kaki.

Satu kilo baru berjalan akhirnya aku berjumpa lagi dengan rombongan yang tadi, mereka sedang istirahat dan masak untuk makan siang. duluan ya bang itu kataku sambil berjalan meninggalkan mereka yang sedang duduk santai, sedikit mendaki setelah melewati mereka dan si agung memanggil dari atas pendakian supaya aku sedikit cepat berjalannya . soalnya harus mengejar teman di depan yang sedang mencari lokasi pemasangan kamera, tiba di mana teman-teman sudah menunggu kami. Lalu sambil istirahat kami berdiskusi untuk pasang kamera, lokasi pemasangan sudah di tentukan…untuk itu tim di bagi menjadi dua, satu tim pasang si zul, fendy dan egy. Lalu aku, agung mambo dan si kus mencari tempat camp di sungai batang ulak… Setelah selesai diskusi lalu tim mulai bergerak.

Tim Diskusi Untuk Pemasangan kamera jebak

Di lihat dari peta sekitar dua kilometer lagi sampai di sungai batang ulak, jalan yang di lalui menurun hingga sampai sungai dan bisa lebih cepat, ayo jalan kita harus cepat sampai sungai…itu kata agung, Sampai di sungai jam 17:30 kami masih bingung karena belum dapat tempat untuk mendirikan camp, staminaku mulai menurun di tambah harus berjalan melawan arus sungai, biarpun dangkal selutut tapi itu buat langkahku berat.

Melawan Arus Sungai Batang Ulak

Dalam hatiku bicara sampai berapa jauh lagi aku harus berjalan??…, mana badan rasanya sudah mau roboh. Dengan sisa tenaga aku coba pelan-pelan melawan arus sungai hingga mendapatkan tempat camp…Agung yang mendapatkan lokasi camp memanggilku. Betapa bahagianya aku mendengar itu dan entah dari mana tenaga hilang datang lagi…jadi lebih semangat karena dengar itu.  Sampai di lokasi camp…Akhirnya tas ransel ini bisa di turunkan dari pundak ini, terasa badan begitu ringan lega rasanya dan aku duduk di tepi sungai sambil istirahat . Sepuluh menit berlalu aku melihat Agung dan Kusdianto yang sedang membuat camp, mambo masak air untuk buat teh hangat. Dalam hatiku berkata…maaf ya teman-teman aku belum bisa bantu, soalnya badanku masih berat untuk bergerak.

Santai di camp sambil masak air.

Tenda selesai didirikan, sambil mengobrol di temani teh hangat dan menunggu Zulfahmi, fendy dan egy datang. Suara perut sudah mulai berbunyi mambo langsung mengeluarkan mie kering untuk cemilan mengganjal sementara, selang beberapa saat mie yang di makan habis. Zul,fendy dan egy sampai di camp. Sambil mereka beristirahat lalu aku buatkan teh untuk mengembalikan staminanya.  Perjalanan hari sungguh melelahkan berjalan sekitar tujuh kilometer, melintasi resam dan berjalan melawan arus sungai…, sisa dua titik lokasi pemasangan kamera. Perjalanan keluar masih sekitar lima hari lagi dari sini, sempat sih terlintas di benakku untuk balik lagi. Tapi hatiku melarangnya karena belum pernah aku turun bersama semua tim riset, membawa ransel dan berpetualang mencari sang raja rimba…

“Apapun itu rintangannya besok aku akan hadapi…sampai jumpa esok hari menyusuri sungai batang ulak….”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s