TERSESAT KETIKA MEMANCING IKAN

TERSESAT KETIKA MEMANCING IKAN

 Oleh : Kusdianto

 Berjam-jam nasib seorang tenaga local Tiger Riset Tim tersesat dihutan PT. Lestari Asri Jaya – Jambi. Berjuang sendiri mencari jalan keluar dari hutan yang belum pernah ia masuki sebelumnya, berjalan melintasi sungai-sungai, menembus semak belukar. Sekujur tubuhnya dipenuhi luka-luka karena tertusuk duri-duri, dan beberapa bekas gigitan makhluk penghisap darah yaitu pacet. Mungkin ia tidak akan pernah melupakan hari itu.

          Dimana saat itu kami sedang melakukan pengambilan kamera jebak ( camera trap ) yang dipasang beberapa bulan yang lalu dihutan PT. Lestari Asri Jaya dan Hutan Lindung Bukit Sosah. Kamera jebak dipasang untuk merekam kehidupan harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrae ) dan satwa lainnya. Kami yang terdiri dari empat orang, yaitu Zulfahmi, Hermanto, Ali usman, dan aku sendiri, Kusdianto.

Pagi yang cerah dibawa sinar mentari pagi, ketika kami sedang asyik menikmati secangkir teh hangat. Sambil bercerita dan bersenda gurau kami tertawa-tawa, entah apa yang sedang kami ceritakan pagi itu, dengan gaya khas nya Hermanto alias gebok memperagakan bermacam gaya humornya yang membuat kami tertawa terbahak-bahak. Ditambah lagi Ali Usman alias Siman garang dengan beragam cerita masa lalunya. Pagi itu memang pagi yang menyenangkan bagi kami bersama, tepatnya hari minggu tanggal 15 mei 2011. sambil mengaduk-aduk masakan Ali Usman terus bercerita tentang masa lalunya, terutama tentang cewek…..hehehehe, sedangkan Hermanto asyik memperagakan gaya humornya sambil memasak nasi. Mmm…, aku sendiri ( Kusdianto ) dan Zulfahmi asyik menikmati suasana dipagi itu sambil menunggu hidangan yang akan disantap bersama.

Suasana pagi itu memang lain terasa, tidak seperti pagi-pagi sebelumnya. Dimana pagi itu kami semua terlihat begitu ceria dan gembira, selalu tertawa-tawa kegirangan oleh humor-humor yang diperagakan Hermanto.

Sebelum hidangan pagi itu disantap, rencanapun telah ditetapkan. Aku bersama Zul akan melakukan pengambilan camera trap yang dipasang tidak jauh dari lokasi camp, sedangkan Hermanto dan Ali akan pergi memancing mencari ikan dengan mengikuti aliran sungai salak yang terdapat disekitar camp.

Setelah hidangan pagi itu siap disantap, kamipun segera sarapan, sebelum melakukan kegiatan yang telah direncanakan masing-masing. Sambil sarapanpun kami sempat bersenda gurau dan tertawa bersama, rasanya pagi itu ada-ada saja yang lucu dan membuat kami tertawa.

Selesai sarapan, dengan tidak sabar Hermanto dan Ali telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk pergi memancing, mulai dari pancingnya, mata pancing, benang, sampai ke umpannya. Semuanya telah disiapkan, hanya tinggal berangkat dan OK. Ali bersama Herman pun segera berangkat meninggalkan camp untuk pergi memancing, mereka menyusuri kehilir sungai salak yang terdapat tidak jauh dari camp. Tentunya semua peralatan pancing telah dipersiapkan. Dan mulailah Ali dan Herman memancing setelah menemukan sebuah lubuk. Lubuk demi lubuk mereka temui disepanjang aliran sungai hingga mereka mendapatkan ikan yang lumayan banyak.

Mereka terus mengikuti aliran sungai untuk mencari lubuk, hingga mereka telah meninggalkan camp sejauh satu kilometer. Ketika memancing terdapat beberapa kejanggalan pada pancing Ali. Dimana pancingnya selalu mengalami patah.

Ikan hasil tangkapan sudah lumayan banyak didapat, namun mereka masih asyik memancing. Tidak terasa haripun sudah siang, kira-kira jam dua belas siang. Karena pancing Ali selalu patah, maka Ali berniat untuk mengganti pancingnya itu dan meninggalkan Herman sendirian dihilir sungai.

“ her….., aku duluan ya “ Ali berkata pada Herman

“ ya “ jawab Herman singkat

Akhirnya Ali pergi meninggalkan Herman sendirian dihilir sungai dan dia menuju kehulu sungai untuk mengganti pancingnya yang patah. Rencananya Ali memancing sambil pulang. Ali terus berjalan sendirian mengikuti kehulu sungai, sesekali dia melempar pancingnya ketika mendapatkan lubuk yang dikiranya terdapat banyak ikan. Begitulah seterusnya, Ali memancing sendirian tanpa ditemani Herman lagi. Hingga disuatu lubuk Ali mendapatkan beberapa ekor ikan Baung yang lumayan besar yang membuat hati Ali begitu senang, akan tetapi dia tidak menyadari bahwa aliran sungai yang dia ikuti itu bukanlah menuju kearah camp melainkan menjauh dari camp. Tanpa menyadari sedikitpun Ali terus berjalan mengikuti aliran sungai tersebut kearah hulu hingga dia semakin jauh meninggalkan posisi camp dan Herman yang mengikutinya dibelakang. Dalm pikiran Ali bahwa aliran sungai yang dia telusuri itu adalah sungai yang mereka lewati sebelumnya yaitu sungai salak. Namun ternyata salah, sungai yang dia ikuti adalah cabang sungai salak, Ali telah tersesat. Sedangkan Herman mengira Ali telah pulang ke camp duluan, sehingga dia juga menyusul untuk pulang, sebab hari telah siang dan waktunya untuk istirahat serta perutpun telah terasa lapar. Herman berjalan mengikuti jalan yang semula mereka lewati. Herman pun tiba di camp, namun Ali tidak ditemuinya disana. Kemana Ali ? pikir Herman.

Lalu Herman bertanya pada kami yang berada di camp.

“ Ali sudah pulang belum ?” Tanya Herman.

“ belum ada.” Jawab kami.

“ kemana ya Ali, padahal tadi dia duluan pulang. Tapi kok dia tidak ada di camp.” Tanya Herman dalam hati.

Herman mencoba untuk berteriak memanggil Ali, sebab sudah waktunya untuk makan siang.

“ Huuuuuuuuuuu…….Ali, pulaaaaaaang. Waktunya makan siang.” Panggil Herman.

Beberapa kali Herman memanggil Ali, namun tiada jawaban yang terdengar dari Ali. Akhirnya kamipun makan siang tanpa Ali.

Selesai makan siang, Herman mencoba untuk menyusul Ali ketempat pertama mereka mancing, akan tetapi Herman tidak menemukannya. Dan Herman pun kembali lagi ke camp. Hati kami mulai kwatir dengan keadaan Ali. Jangan-jangan Ali tersesat.

Kembali ke Ali. Lama sudah Ali berjalan mengikuti aliran sungai tersebut, berjalan dan terus berjalan. Dan memancing ketika mendapatkan lubuk.  Tetapi Ali belum juga mengetahui bahwa dia telah jauh meninggalkan Herman. Perasaannya mengatakan bahwa Herman selalu ada dibelakang mengikutinya. Akan tetapi Ali telah kehilangan jejak sewaktu berjalan pulang. Dan merasa perjalanan pulang ke camp begitu jauh, akhirnya Ali  menyadari bahwa dirinya telah tersesat dan Herman tidak ada dibelakangnya serta menyadari bahwa aliran sungai yang dia ikuti itu ternyata salah, akibatnya, semuanya diluar rencana dan perkiraan Ali. Maka dia mulai berteriak memanggil-manggil nama Herman.

“ Her……..Her……Her…” teriak Ali memanggil Herman

Ali selalu berteriak memanggil nama Herman, akan tetapi tiada jawabanpun yang dia dapat. Sehingga Ali berteriak sekencang-kencangnya.

“ Huuuuuuuuuuuuuu………huuuuuuuu……” teriak Ali dengan kencang.

“ Huuuuuuuuuuuuuu………huuuuuuuu……” Ali kembali berteriak, namun tiada juga jawaban yang dia dapat.

Teriakan demi teriakan yang Ali lakukan untuk memanggil Herman belum membuahkan hasil. Ali terus berjalan sambil teriak-teriak, dia tidak tahu kemarah arah yang akan dia tuju untuk bisa sampai di camp. Ali benar-benar telah bingung, hanya teriakan yang bisa dia lakukan agar ada orang yang mendengarnya. Sampai tergorokannya terasa sakit karena selalu teriak, namun tiada juga balasan yang didapat.

Walaupun tiada jawaban yang didapat, Ali terus berusaha sendiri mencari arah jalan pulang yaitu camp. Dan beberapa tanda yang dia berikan disetiap jalan yang dia lewati, seperti patahan kayu, sobekan celana, dan beberapa ikan.

Letih, capek dan lapar itulah yang Ali rasakan. Beberapa kali tubuhnya terjatuh dan terjungkir karena tersanjung akar, dan begitu banyaknya duri-duri yang menusuk kulitnya serta segerombolan makhluk penghisap darah yang mengerayap ditubuhnya yaitu PACET. Akan tetapi semua itu tiada dipedulikannya, dalam pikirannya yang ada cuma Dimana? dan Kemana? jalan pulang. Dengan sisa-sisa tenaga Ali terus berjalan sambil berteriak, cacing diperutnya sudah berbunyi meminta makan. Namun Ali tidak ada membawa makanan, terpaksa dia harus menahan lapar.

Haripun semakin sore, kira-kira jam empat sore. Ali terus berjalan mencari dan mencari dimana jalan menuju arah pulang kecamp. Ali sudah kebingungan, tidak tahu lagi kemarah arah yang harus dia tuju. Hanya teriakan demi teriakan yang bisa dia lakukan. Namun tiada jawabanpun yang dia dapat. Hampir tak terasa bagi Ali kalau hari akan beranjak senja, dia telah kian jauh jaraknya dari Herman dan camp yang ditinggalkan. Segala tenaga dan usaha benar-benar telah dikerahkan, manakala perasaan putus asa diam-diam mulai menyelinap dihati Ali. Dengan demikian Ali mencoba untuk duduk di atas sebuah pohon yang tumbang sambil menyeka keringat dan melepas lelah serta berdoa kepada Tuhan agar ditunjukan jalan pulang yaitu camp. Ali benar-benar telah bingung dan tidak tahu lagi kemana jalan menuju pulang. Ali telah berjam-jam berputar-putar dihutan yang belum pernah dia masuki sebelumnya. Sampai-sampai dia tertidur diatas pohon tersebut karena kelelahan.

Haripun beranjak senja, namun Ali belum juga kembali ke camp. Kamipun merasa cemas dan kwatir dengan keadaan Ali, maka diputuskan untuk menyusul dan mencarinya. Zul dan Herman akhirnya berangkat untuk mencari Ali dengan mengikuti arah jejaknya. Disepanjang jalan Zul dan Herman selalu berteriak memanggil-manggil Ali.

“ Ali…….Ali…..Ali….” teriak Zul memanggil nama Ali

“ Huuuuuuuu………huuuuuuuuuu…” Herman pun berteriak sekencangnya.

Teriakan terus dilontarkan oleh Zul dan Herman agar Ali mendengarnya. Mereka terus berjalan mengikuti kemana jejak Ali.

Berjarak sekitar seribu lima ratus meter dari camp, Zul dan Herman menemukan pancing Ali yang ditancapkannya ditepi sungai. Yakinlah mereka bahwa Ali berjalan menuju arah itu, maka mereka terus berteriak memanggil nama Ali. Ketika itu haripun sudah gelap, siang telah berganti malam. Namun Ali belum juga ditemukan.

Hanya diterangi lampu senter, Zul dan Herman terus berjalan mencari Ali. Disepanjang jalan mereka terus berteriak memanggil nama Ali. Sedangkan Ali sendiri telah terlelap disebuah pohon yang tumbang kerena kelelahan.

Hanya beberapa menit Ali terlelap dipohon itu, Dia pun terbangun kembali dan segera berteriak. Begitu pula dengan Zul dan Herman, mereka juga berteriak-teriak memanggil Ali. Akhirnya Ali mendengar teriakan dari Zul dan Herman, walaupun teriakan itu terdengar sayup. Ali pun segera berlari mencari arah suara tersebut sambil teriak-teriak.

“ Huuuuuuuuu……aku disini “ teriak Ali.

“ Aliiiiiiiii……Aliiiiiiii..” balas Zul.

Mendengar namanya dipanggil, Ali yakin itu teman-temannya. Maka dia terus berlari menuju suara tersebut. Berlari dan terus berlari didalam kegelapan tanpa diterangi cahaya.

“Aliiiiiiiiiiiii…..” Zul kembali berteriak.

Suara itu semakin jelas terdengar ditelinga Ali, oleh sebab itu dia terus berlari mencari arah suara tersebut. Dengan napas yang ngos-ngosan, akhirnya Ali bertemu dengan Zul dan Herman. Senang dan tenanglah hatinya.

Akhirnya mereka pulang bersama menuju camp.

Setibanya di camp, Ali duduk dengan tertunduk lesu. Wajahnya terlihat pucat. Segera aku suguhkan secangkir teh panas, sebelum perutnya di isi makanan. Setelah istirahat sebentar dan minum teh panas, raut wajah Ali tampak lebih segar. Barulah malam itu kami menyuguhkan makanan pada Ali untuk mengisi perutnya yang kosong. Namun, Ali kelihatannya begitu sulit untuk menelan makanannya, sebab tenggorokannya terasa sakit setelah berteriak-teriak seharian.

Walaupun demikian, kami semua telah merasa bahagia dan senang, karena Ali telah kembali dan kami bisa berkumpul bersama lagi. Kejadian ini menjadi pembelajaran bagi kami semua, agar lebih berhati-hati. Terutama hindari sendirian saat memancing ikan dihutan, apalagi hutan yang belum kita kenali seluk beluknya. ( cerita ini dikutip dari Ali usman )

One thought on “TERSESAT KETIKA MEMANCING IKAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s