Tiger Needs Cover: hutan tetap yang utama bagi harimau

“knowledge is power”

Jika bisa disampaikan  secara singkat, apa temuan yang terpenting dalam tulisan ilmiah “Tiger Needs Cover” ini?

Penelitian ini menemukan bahwa, dalam kondisi tertentu, harimau dapat menggunakan kawasan hutan tanaman akasia, perkebunan sawit, dan perkebunan karet sebagai wilayah jelajahnya.  Namun , harimau cenderung menghindari perkebunan dan lebih memilih hutan.  Kondisi yang disukai harimau, selain ketersediaan mangsa yang cukup, adalah, jarak yang tidak terlalu jauh dari titik pusat blok hutan berukuran besar (>50,000 ha), tutupan tumbuhan bawah yang rapat, serta tingkat aktivitas manusia yang minimal.

Temuan lain yang cukup menyentak adalah banyaknya hutan bernilai tinggi sebagai habitat harimau yang berada di luar sistem perlindungan, dan oleh karenanya sangat terancam. Sebagai contoh adalah kawasan di daerah hulu sungai Kampar dan di daerah sekitar Sungai Gaung, Indragiri Hilir. Di beberapa tempat, kawasan hutan bernilai tinggi tersebut sedang, atau telah dialokasikan untuk, dikonversi menjadi HTI atau perkebunan.

Apakah ini menunjukkan bahwa untuk tetap lestari, harimau butuh hutan yang luas?

Ya, untuk kelestariannya harimau memerlukan terjaganya keutuhan hutan yang cukup luas. Hasil studi sebelumnya oleh Franklin dkk menunjukkan bahwa satu ekor harimau Sumatera jantan memerlukan kawasan seluas minimal 11600 hektar. Dalam kondisi yang telah terfragmentasi, habitat dan populasi harimau mungkin dapat dipulihkan dengan membangun keterhubungan antar blok hutan yang terpisah-pisah. Dengan pengelolaan khusus, sebagian kawasan hutan tanaman dan perkebunan bisa dioptimalkan sebagai habitat tambahan, jalur lintasan, maupun ‘batu loncatan’ bagi harimau sehingga meraka dapat bergerak dari satu blok hutan ke blok hutan lain. Misalnya untuk mengunjungi kerabatnya dan saling memperkaya keragaman genetika.

Apa pesan utama yang ingin disampaikan penulis kepada publik lewat tulisan “Tiger needs cover” ini?

Pesan yang ingin disampaikan kepada publik adalah bahwa pelestarian harimau, khususnya dalam kondisi ketika hutan habitat harimau telah banyak dikonversi dan terfragmenasi, memerlukan berbagai pendekatan baru yang kreatif dengan didasarkan pada data dan analisa yang akurat.  Studi ini hanyalah sebuah awal dari upaya kita memahami karakteristik habitat yang dibutuhkan/disukai oleh harimau. Dari hasil studi ini, kita dapat mengidentifikasi upaya apa yang diperlukan untuk memulihkan habitat dan populasi harimau. Hal ini sejalan dengan komitmen pemulihan habitat dan populasi harimau yang disepakati secara global oleh 13 negara-negara sebaran harimau, termasuk Indonesia tahun lalu

Bagaimana kajian yang dimuat oleh jurnal PLOSOne ini berkontribusi  bagi upaya konservasi harimau?

Penelitian ini menyelidiki dan membandingkan secara sistematis penggunaan habitat oleh harimau di berbagai tutupan lahan, tidak hanya di hutan tetapi juga di kawasan perkebunan. Studi ini juga melihat penggunaan habitat dalam beberapa skala ruang, sebuah pendekatan penting namun jarang dilakukan dalam penelitian ekologi satwa, terlebih harimau. Tekad pemerintah Indonesia dan masyarakat global untuk memulihkan populasi harimau harus dimulai dengan pemahaman yang mendalam tentang ekologi harimau dan diikuti dengan langkah-langkah strategis dan aksi nyata baik di lapangan maupun di ruang-ruang pengambil kebijakan.

Paper Tiger Needs Cover dapat diunduh disini: http://awsassets.wwf.or.id/downloads/tigers_need_cover.pdf
-cuplikan interview dengan penulis utama: Sunarto, PhD-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s