Antara Kami, Tuhan dan Hutan “Sekelumit Kisah Kegiatan Pendokumentasian Keberadaan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Cagar Alam Bukit Bungkuk Riau”

Sekilas Cagar Alam Bukit Bungkuk

Cagar Alam Bukit Bungkuk merupakan Kawasan Suaka Alam (KSA) di bawah Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau. CA Bukit Bungkuk seluas 20.000 Ha terletak di Kabupaten Kampar, Propinsi Riau dengan status hukum berupa SK Menteri Kehutanan No. 173/Kpts-II/1986. Kawasan ini memiliki tipe ekosistem hutan pegunungan tropis basah ditandai dengan banyaknya aliran sungai yang mengalir deras. Sebagai kawasan cagar alam dengan zero management-nya maka kegiatan prioritas yang kami lakukan adalah penelitian berupa pemasangan camera trap untuk mengetahui keberadaan langsung satwa liar. Camera trap merupakan sebuah perangkat guna mempermudah kegiatan pendokumentasi secara visual dari keberadaan satwa liar dalam suatu wilayah. Cerita ini disajikan dengan perpaduan “resep” yang “dibumbui” dengan berbagai kondisi aktual dilapangan serta ulasan ilmiahnya. Berikut merupakan cerita dari kegiatan multiday trip kami di Cagar Alam Bukit Bungkuk semoga dapat bermanfaat bagi pembaca dan sebagai media penyampaian informasi dan advokasi terhadap kawasan tersebut.

Hari 1 “Desa Ini Unik”

Matahari terbit kala pagi memandu kami untuk bergegas mengemasi perbekalan sebelum berangkat menuju Bengkalis. Hari ini tepatnya Selasa (5/6/2012) sebuah eksekusi buah perencaan yang kami lakukan dimulai. Penjelajahan yang kami lakukan akan sangat lama hingga 16 hari kedepan  olehkarena itu perbekalan yang dipersiapkan selain peralatan penelitian berupa sesuatu yang wajib untuk dibawa yaitu logistik makanan yang begitu banyak harus dibeli. Saking banyaknya sampai banyak yang terlupa, membuat kami harus berhenti setiap ada pasar yang dilintasi. Perjalanan panjang melintasi kelokan jalan hingga perbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat. “Wonderful” kata pertama yang terucap melihat eloknya pemandangan selama perjalanan.

Tibalah di Desa Balung, desa terakhir sekaligus berbatasan langsung dengan kawasan hutan tujuan kami. Di sini kami bermalam di rumah Pak Sili, kepala desa sekaligus orang yang dituakan dalam adat desa ini. Kehidupan masyarakat desa ini sangat khas sebagai masyarakat pedesaan yang ramah dengan emic dan ethic suku minang. Mayoritas penduduknya merupakan suku minang dengan bahasa minangnya. Mereka bermatapencaharian utama dibidang perkebunan yaitu karet, kelapa sawit, dan gambir. Selain itu penduduk juga memanfaatkan sumberdaya alam langsung seperti air untuk MCK dari aungai didepan rumah dan buah – buahan yang tumbuh hijau disekeliling desa. Sebagai remote area desa ini memiliki keterbatasan aksesibilitas karena jalan desa masih berupa tanah dan makadam. Keterbatasan ini menyebabkan kemajuan desa ini terhambat.

Hari 2 “Sengatan Matahari”

                Petualangan dimulai, bergegas kami mengangkat tas carrier seraya berpamitan kepada penduduk setempat. Perjalanan menyusuri perkebunan dengan kanopi yang terbuka. Untuk daerah yang dilintasi garis katulistiwa, kondisi ini menyebabkan panas menyengat. Seringkali langkah kaki terhenti demi seteguk kesegaran. Betapa kagetnya fisik ini menghadapi jalanan panjang dan panas ini. Setapa demi setapak menuju tempat bermalam dilalui sangat berat mengantarkan kami tiba di pondok Pak Silitonga.

                Perkebunan karet (Hevea brasiliensis) menjadi mata pencaharian utama dimana memiliki nilai ekonomi yang tinggi namun disisi lain system tanam yang monokultur menyebabkan pemiskinan keragaman vegetasi maupun berpengaruh terhadap kondisi abiotik lingkungan seperti tutupan tajuk yang sangat ringan hingga pemiskinan hara dan kelembaban udara. Hal ini lah yang menyebabkan iklim mikro pada tegakan karet terasa sangat panas.

Hari 3 “Temannya Bebek”

Perjalanan pendakian bukit dengan kondisi terbuka akibat pembukaan lahan, Kamis (7/6/2012). Sesekali kami berteriak “yang banyak” dan disahut teriakan dari kejauhan “temannya bebek” oleh pekerja pembuka lahan yang tak lain adalah anak buah Pak Silitongan. Yunus dan Taufik namanya. Kala membalas teriakan kami mereka sambil bekerja membersihkan hutan untuk kebun gambir. Malam sebelumnya mereka kami racuni dengan lelucon alih bahasa seperti “banyak” yang dalam bahasa jawa berarti “angsa” yang masih sekerabat dengan bebek.

Ironi sebuah kehidupan dimana hutan terus dibuka demi mata pencaharian. Hal ini memerlukan solusi konkrit agar timbul equilibrium antara keduanya. Ketergantungan masyarakat pedalaman akan ekonomi menyebabkan hutan sebagai “mesin pemasok utama” untuk memenuhinya. Perlu adanya pendampingan multipihak terhadap fenomena diatas. Salah pendekatan sedikit saja akan memicu konflik sosial dan sumberdaya alam.

Hari 4 “Rute ke Rute”

                Kami menuju lokasi pemasangan kamera trap di grid N111 setelah semalam mengadakan briefing singkat pemasangan stasiun pertama ini. Perjalanan dari flyingcamp tempat kami bermalam menuju lokasi pemasangan tidaklah jauh akan tetapi karena masih dalam tahap aklimatisasi maka perjalanan ini kami banyak terhenti untuk istirahat. Yah, rute ke rute.

Setibanya pada lokasi yang strategis lalu pemasangan kamera pun dilakukan. Kamera dipasang berpasangan. Pembagian tugas selama pemasangan yaitu pembersihan lahan, pemasangan kamera trap, pencatatan dan pendokumentasi dengan beban tugas 4 orang. Setelah tugas pemasangan terlaksana segera kami angkat carrier, tetiba terkaget karena sudah penuh dengan semut. Walhasil, kami bersihkan dahulu. “yah, namanya kerja di hutan” celetuk Bang Gebok salah satu anggota tim yang sudah berusia 44 tahun.

                Grid merupakan deliniasi kawasan menggunakan petak kuadran berukuran 2 x 2 km² dalam grid besar 17 x 17 km². Metode ini memudahkan dalam proses sampling sistematis terhadap pendugaan keberadaan satwa prioritas survey seperti Harimau Sumatera dan satwa lainnya.

Hari 5 “Menghentikan Sungai”

                Hari ke 5, fisik telah terbiasa dengan kondisi pedalaman rimba Bukit Bungkuk. Seperti biasa, rutinitas dimulai dengan packing dan cleaning lokasi flying camp. Perjalanan pun dilanjutkan. Kami menyusuri hulu sungai Angky. Sepanjang perjalanan dijumpai bendungan guna mengangkut kayu tebangan illegal. Seketika terhenyak melihat konflik dihati, di satu sisi jiwa naturalis muncul di satu sisi terhenyak akan kehidupan merana para penebang kayu. Semua hanya demi sesuap nasi. Lantas siapakah yang mesti dibela. Ah, ini tak menjadi soal yang pasti tak lebih dari carrying capacity dari si rimba. Perjalanan kami lanjutkan ke lokasi camp selanjutnya di tepi sungai ini. Hal ini guna mempermudah akses untuk mendapatkan air konsumsi.

Gambar 

Bendungan Konvensional Untuk Pengangkutan Kayu

Metode pengangkutan melalui bantuan air (sungai) merupakan metode pengangkutan tradisional yang cukup efisien hingga sekarang. Metode ini sangat dipengaruhi oleh debit run off dari sungai tersebut. Dalam ilmu potamologi sungai memiliki 3 tipe yaitu tipe perennial, intermitten dan ephemeral. Tipe ini mempengaruhi debit yang ada. Salah satu solusinya adalah pembuatan bendungan sebagai tabat bagi air dimana sungai yang ada memiliki debit minim.

Hari 6 “Bau Tak Sedap”

                Target hari ini adalah pemasangan kamera pada grid P109 dengan lintasan yang selalu menanjak. Sesekali kami menghela nafas panjang untuk merengkuh setapak demi setapak. Ketika melintasi punggungan terjal seketika bau tak sedap muncul. Ternyata tak jauh dari kaki penulis terdapat seonggok feses sang raja rimba. Ini menjadi berita baik dimana di punggungan ini dapat dipastikan merupakan jalur lintasan Harimau Sumatera. Segera kami bergegas menuju lokasi yang strategis karena memang lokasi ini sebelumnya tidak tersurvey okupansi. Kamera grid kedua terpasang.

Gambar 

Faeses Harimau Sumatera (Lingkaran Kuning)

                Faeses merupakan salah satu jejak yang dapat dijadikan indikator keberadaan satwa liar. Faeses Harimau Sumatera memiliki kharakteristik khas yaitu meninggalkan bulu mangsanya selain itu ukurannya juga besar.

                Okupansi merupakan sebuah survey terhadap habitat dan kelayakan lokasi pemasangan kamera trap. Survey ini dilakukan dengan metode transek dengan panjang jalur 1 km per transek yang terbagi menjadi 10 segmen, tiap segmen sepanjang 100 meter. Data yang dicatat berupa jejak satwa serta kondisi habitatnya.

Hari 7 “Siulan si Murai”

                Hari ini merupakan hari yang spektakuler dimana kami berhasil memasang kamera pada 2 grid sekalgus. Hal ini sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Setelah berhasil memasang kamera trap perjalanan dilanjutkan menuju camp lokasi bermalam. Selama perjalanan kami disibukkan menikmati petualangan sekaligus pengalaman berharga dalam rimba. Tak sadar tibalah di camp. Istirahat sejenak sebelum mendirikan tenda flysheet dan tiba – tiba terdengar siulan indah. “Siapakah gerangan?” tanya penulis dan dijawab oleh salah satu anggota tim lain “Nah, ini si Murai mas”. “Fantastis, inilah surga” jawabku riang.

                Burung Murai adalah burung dengan nada suara panjang dan merdu. Burung ini memiliki nama lain Kucica Hutan dengan nama ilmiah Copsychus malabaricus. Burung ini memiliki core area yang tetap berupa kanopi tajuk dalam hutan. Keindahan suara, morfologi serta warna tubuh burung ini membuat kelestariannya terancam akibat permintaan pasar yang tinggi akan burung ini berakibat meningkatkan harga jual sehingga menjadi salah satu burung terfavorit untuk diburu.

Hari 8 “Lubuk Perut, Lubuk Sungai”

                Perjalanan kali ini melintasi rute yang terjal dan jauh sehingga memaksa tim untuk potong kompas. Dalam perjalanan kami menemukan sungai dengan lubuk yang disinyalir terdapat populasi ikan yang tinggi. Bergegas Kusdianto selaku koordinator lapangan kami memutuskan untuk memancing untuk lauk kami nanti malam. Tim pun dibagi tugas ada yang mencari cacing sebagai umpan dan memancing. Ternyata dugaan kami akurat hanya beberapa saat kail dijatuhkan beberapa ikan pelumpung (ikan gabus) kami dapatkan. Pertanda baik bagi perut kami nanti malam.

Gambar 

Lubuk Tempat Memancing

                Lubuk terbentuk dari gentle slope pada badan sungai yang menyebabkan aliran air terhambat sehingga suspenden load sedikit terbawa arus sungai. Hal ini membuat kondisi dasar lubuk biasanya sangat dalam serta berlumpur yang merupakan tempat potensial untuk berkembangbiaknya beberapa jenis ikan.  CA Bukit Bungkuk memiliki banyak lubuk sungai. Jenis ikan yang dapat ditemui diantaranya jenis yang menyukai lumpur seperti ikan gabus, cat fish, dan lele.

Hari 9 “Mencari Air”

                Hari ke 9 terlampaui dengan fisik yang kian terkuras namun ini tak menyurutkan semangat kami. Setelah melakukan pemasangan kamera trap pada grid Q110 yang tak lain dekat dengan lokasi flying camp kami. Setibanya di camp perasaan begitu lega terbayang malam ini dapat cepat istirahat guna memulihkan stamina. Setelah memasang tenda kegiatan selanjutnya adalah membersihkan tubuh yang penuh keringat dilanjutkan dengan memasak. Dua orang anggota tim yaitu Andri dan Bang Gebok meluncur menuju sumber air yang sebelumnya telah dipetakan pada survey okupansi sebelumnya. “Kok cepat mengambil airnya?” tanya penulis. Ternyata jawabannya adalah sumber air kering. Lantas, kami membuka peta dan mencari sumber air baru. Berhasil, akhirnya kami dapat menemukan sumber air berupa sungai kecil walaupun harus melintasi terjalnya lereng.

                Dalam kondisi survival di tengah hutan air merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi demi kelangsungan hidup kita. Cara menemukan air adalah dengan cara dinamis yaitu mendatangi lokasi potensial yang memiliki sumber air seperti lembah dan bentukan sungai yang dapat diproyeksikan melalui peta maupun observasi lapangan. Selain itu terdapat beberapa cara statis dimana kita dapat memanfaatkan hujan untuk ditampung airnya.

Hari 10 “Kantung Semar”

                Rute perjalanan hari ini cukup menanjak. Sesekali kami harus merengkuh akar agar dapat terbantu melangkah. Siang hari yang panas kami berhenti sejenak untuk menikmati nasi berbalut sambal ikan yang telah dimasak semalam. Sembari makan siang kami disajikan juga pemandangan lanskap CA Bukit Bungkuk karena posisi yang tepat pada puncak bukit tertinggi. “Elok nian” sahut kami. Setelah cukup istirahat perjalanan dilanjutkan menuruni punggungan. Tak seberapa jauh dari tempat kami beranjak tumbuh bunga kantong semar. “Time to take picture” sahutku kepada tim yang lain. Kami mengabadikan bunga langka ini.

Gambar 

Kantung Semar

                Kantung semar merupakan genus Nepenthes dengan nama Inggrisnya Tropical pitcher plant dan merupakan flora karnivora. Flora ini memangsa serangga kecil seperti lalat, semut dan belalang yang hinggap pada bunganya. Didalam “perut” kantong semar terdapat enzim nephentesis yang mampu mencerna mangsanya menjadi protein untuk pertumbuhan flora ini.

Hari 11 “Paradise of Climber”

                Pagi hari kami terbangun dari camp dan seperti biasa segeralah mengemasi perbekalan untuk melanjutkan pemasangan kamera trap. Perjalanan kali ini sungguh mengesankan. Bagaimana tidak, rute yang kami tapaki adalah bukit batu terjal. Berkali – kali kami harus menggapai bebatuan untuk dapat mencapai puncak bukit yang satu dengan yang lain. Ini mirip ekspedisi climbing di Himalaya. Topografi perbukitan grid yang dituju sangatlah berat bahkan kami harus sering meluruskan kaki agar tidak terjadi kram dan cidera otot.

                Bukit yang terjal memaksa kami menggunakan isyarat atau aba – aba bila ada batuan runtuh. “Rock fall” teriak kami bila ada batu yang runtuh. Isyarat atau aba – aba merupakan salah satu bentuk komunikasi yang telah disepakati bersama. Hal ini untuk mempermudah proses komunikasi di lapangan. Isyarat yang digunakan dapat menggunakan alat bantu seperti bahasa universal, peluit, tangan dan masih banyak lagi. Isyarat atau aba – aba merupakan salah satu bentuk safety procedure dilapangan.

Hari 12 “Kaki Terikat Kuat”

                Kami bermalam melalui bivac sederhana yang hanya berlangit terpal dan beralaskan flysheet. Peralatan flying camp yang minim karena harus menanggalkan carrier kami pada grid sebelah guna mempercepat perjalanan. Pagi ini kami hendak menuju lokasi camp sebelumnya dimana kami meninggalkan beberapa peralatan. Terdengar tidak safety memang tetapi ini sebagai salah satu solusi dalam menanggapi kondisi aktual berupa curamnya medan dan melemahnya fisik. Perjalanan pulang terkesan sangat berat. Medan yang kami lalui terjal sehingga membuat kaki kami terasa sangat berat untuk melangkah dan sesekali kram kaki terjadi. Namun psikis yang masih berdaya juang tinggi mengalahkan fisik yang melemah tadi. Ya, sampailah kami pada camp dengan selamat.

                Kaki merupakan pondasi dimana tubuh kita dapat tegak berdiri. Seringkali bila kerja kaki berlebih terjadi kram. Kram kai merupakan nyeri yang terjadi akibat spasme otot pada kaki akibat kontraksi otot terlalu keras. Bagian yang sering terkena kram kaki adalah otot betis di bawah dan belakang lutut. Penanganannya adalah dengan stretching dan pemijatan bagian kaki yang kram.

Hari 13 dan 14 “Sumatera Rasa Jawa”

                Kami bermalam di bekas camp bekas pembalak liar. Siang yang terik setelah membangun camp tempat bermalam kami segera menuju lokasi pemasangan kamera trap. Kamera trap stasiun target ke 7 kami berhasil terpasang kamera trap. Waktu pun beranjak malam. Kami sempatkan memancing untuk tambahan lauk malam ini. Hari ke 14 kami mengemasi seluruh perlengkapan terutama kamera penulis. Maklum, untuk membeli kamera DSLR harus menabung sangat lama. Perjalanan dilanjutkan melintasi sungai yang berlumut. Beberapa anggota tim terpeleset jatuh dan menjadi candaan anggota tim lainnya. Kami tiba di desa Siabu. Sekilas desa ini nampak seperti pedesaan lain di Riau. Namun apabila kita mendengarkan pembicaraan ternyata mereka adalah suku Jawa. Mayoritas penduduk disini adalah suku Jawa yang merupakan transmigran era Soekarno. Mereka adalah generasi kedua.

 Gambar

Suasana Sore Di Desa “Jawa” Siabu

                Transmigrasi merupakan program pemerintah untuk mendistribusikan penduduknya yang bertujuan mengurangi kemiskinan dan kepadatan penduduk di Pulau Jawa.  Program transmigrasi merupakan program berkelanjutan dimana terdapat pendampingan dan pembinaan masyarakat dibidang mata pencaharian dan kehidupan sosial lainnya. Transmigrasi di Pulau Sumatera bertumpu pada sektor agronomi dengan basis perkebunan kelapa sawit dan karet. Inilah mengapa banyak terdengar istilah “Sumatera Rasa Jawa”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s