Kambing Hutan: Penakluk Bukit Tinggi

Selain kambing ternak yang kita kenal selama ini, ada juga kerabatnya yang hidup di hutan, yaitu Kambing hutan Capricornis sumatraensis atau bahasa inggrisnya Sumatran serow. Termasuk dalam famili Bovidae, kambing hutan memiiki daerah persebaran yang terbatas di Malaysia, Thailand dan Indonesia. Sesuai dengan nama inggrisnya, Sumatran serow, Kambing hutan di Indonesia hanya di temui di hutan-hutan di Sumatera, itupun di daerah perbukitan. Preferensi habitat yang cukup spesifik ini menyebabkan penelitian terhadap jenis satwa yang satu ini menjadi cukup menantang karena memerlukan effort yang lebih. Dengan camera trap (kamera jebak) yang digunakan untuk pemantauan harimau sumatra di Suaka Margasatwa Rimbang Baling, kambing hutan terekam melintas di punggungan bukit pada ketinggian 811 meter di atas permukaan laut pada tanggal 16 dan 30 Januari 2012. Ini adalah temuan pertama kali bagi tim sejak program riset harimau dimulai di akhir tahun 2004. SM Rimbang Baling sebelumnya telah disurvei pada tahun 2006, namun keberadaan kambing hutan saat itu tidak diperoleh dari 40 unit kamera yang jebak yang dipasang. Untuk tiba ke lokasi ini, tim membutuhkan waktu lebih dari setengah hari berjalan. huiiih, masih teringat setiap langkah dan bulir-bulir  keringat yang menemani perjalanan dari camp hingga ke lokasi kamera..

Berat kambing hutan berkisar antara 50-140 kg dengan panjang badan 140-180 cm. Tubuh berbulu coklat atau hitam dengan bagian atas umumnya berwarna gelap dan aksen putih di bagian leher hingga perut. Baik jantan maupun betina sama-sama memiliki tanduk sebagai alat untuk mempertahankan diri dari serangan.

Kambing hutan pada umumnya hidup secara soliter, namun terkadang berjalan dalam grup kecil. Seperti harimau, kambing hutan mempertahankan suatu wilayah dalam hutan, sebagai tempat untuk mencari makanan berupa dedaunan dan rumput serta untuk tempat tinggal. Kambing hutan menandai wilayahnya dengan kotoran dan air seni.

Kambing hutan termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan PP No. 7 Tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Sedangkan CITES memasukkan kambing hutan kedalam appendix I yang berarti peredarannya diatur secara ketat dan harus dengan izin kepala negara. Meski hidup pada daerah perbukitan, keberadaan kambing hutan terancam oleh tingkat perburuan yang tinggi untuk diperdagangkan daging, kulit serta bagian tubuh lain seperti kepala dan tanduk yang dipercaya memiliki khasiat menyembuhkan sakit. Informasi keberadaan kambing hutan di Provinsi Riau sebelumnya dibuktikan oleh kepala kambing hutan yang diperdagangkan.  IUCN menempatkan kambing hutan dengan status Vulnerable (VU) yaitu sebagai spesies yang rentan mengalami kepunahan.

Kambing hutan adalah mangsa utama bagi harimau sumatera karena keberadaan mangsa utama lainnya yaitu rusa sambar dan kijang tidak sebanyak di daerah dataran rendah. Memastikan bahwa perburuan tidak menjadi ancaman bagi kambing hutan adalah penting demi menjamin harimau memiliki mangsa yang cukup. Jika tidak, harimau akan terpaksa mencari mangsa yang lain yang mungkin mendorongnya hingga masuk ke pemukiman dan memangsa ternak masyarakat.

Pustaka

IUCN Red list http://www.iucnredlist.org

ARKive Images of Life on Earth http://www.arkive.org/sumatran-serow/capricornis-sumatraensis/#text=All

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s