Trenggiling: Penyendiri yang Suka Semut

Sejak pertama kali tim memasang camera trap (kamera jebak) di Lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh di akhir tahun 2004, keberadaan trenggiling Manis Javanica atau Sunda pangolin baru terekam di tahun 2011 yaitu di kompleks Hutan Lindung Bukit Sosa pada bulan Maret dan Taman Nasional Tesso Nilo pada bulan Agustus.

Dari 2 video dan 6 foto yang diperoleh dari kamera jebak yang utamanya digunakan untuk memantau keberadaan harimau sumatra, trenggiling terpantau beraktivitas pada larut malam hingga subuh hari (jam 2-4). Satwa bersisik ini berukuran 520 mm dengan berat 7.5 kg untuk jantan, dan betina 450 mm dengan berat 4.2 kg. Tubuh trenggiling ditutupi oleh sisik mulai dari kepala hingga ekor dengan warna kuning, coklat dan hitam.

Trenggiling

Selain beraktivitas pada malam hari, trenggiling juga diketahui sebagai satwa yang hidup soliter dengan mangsa utama adalah semut dan rayap. Trenggiling bahkan bisa memanjat pohon untuk mendapatkan sarang semut. Untuk mempertahankan diri, trenggiling akan melindungi bagian bawah badannya yang tidak bersisik dengan cara menggulung ekornya hingga menutupi sampai ke punggung sehingga membentuk seperti bola.

Distribusi trenggiling mencakup hampir seluruh wilayah Asia Tenggara yaitu Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Jawa), Thailand, Malaysia, Brunai Darussalam, Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja. Satwa ini dijumpai di hutan-hutan primer maupun sekunder dataran rendah – ketinggian 1700 m dan beberapa di wilayah budidaya manusia seperti perkebunan. Homerange trenggiling diperkirakan seluas 6.97 hektar.

Populasi satwa soliter ini hingga kini tidak diketahui. Namun IUCN pada tahun 2010 mengkategorikan trenggiling sebagai Endangared yang berarti menghadapi keterancaman tinggi untuk punah di alam. Di Indonesia, trenggiling termasuk satwa dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Trenggiling juga dimasukkan kedalam Appendix II CITES yang berarti satwa ini dapat diperdagangkan secara internasional dengan pembatasan kuota namun tidak diperkenankan mengambil dari alam.

Trenggiling merupakan jenis satwa yang cukup sering diburu untuk diperdagangkan, baik untuk pasar lokal maupun internasional. Tingginya perdagangan trenggiling didorong oleh kepercayaan bahwa bagian-bagian tubuh berupa kulit, sisik dan dagingnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Belum ada penelitian yang membuktikan secara ilmiah khasiat trenggiling mengobati penyakit. Sisiknya sendiri merupakan protein keratin yang juga ditemukan pada lapisan terluar kulit, pada rambut dan kuku jari manusia. Sehingga manfaat dari sisik trenggiling tidak lain adalah untuk melindungi tubuh trenggiling, sama halnya keratin pada kulit dan kuku pada manusia adalah untuk melindungi bagian dalam tubuh kita. Jadi, jangan percaya jika ada yang mengatakan menggunakan bagian tubuh trenggiling bisa menyembuhkan penyakit!. Ingat hukum penawaran dan permintaan. Jika tidak ada permintaan maka penawaran tidak akan ada. Jika tidak ada permintaan terhadap bagian tubuh trenggiling, maka perburuan dan perdagangan terhadap satwa penyendiri ini akan turun dengan sendirinya.

knowledge is power

Pustaka

IUCN Red list http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/12763/0

EDGE http://www.edgeofexistence.org/mammals/species_info.php?id=1410

Panduan Pengenalan Jenis Jenis Satwa Dilindung di Indonesia. WWF – PHKA 2003

5 thoughts on “Trenggiling: Penyendiri yang Suka Semut

  1. Ping-balik: Kucing Congkok: Indikator Kerusakan Hutan | Belang sumatra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s