Indah Namun Terancam: Rafflesia, Harimau dan Danto

Bunga Rafflesia Merah-Putih

Bunga Rafflesia Merah-Putih

Alam kita ini kaya namun juga terancam oleh keserakahan manusia, kenapa? Karena semua itu ada di sana. Menariknya, dari sekian banyak hutan yang saya datangi, baru di Lanskap Rimbang Baling sebagai salah satu bentang alam yang terletak di Sumatera bagian tengah. Di sana terhampar berbagai bukit yang menawan yang dialiri puluhan anak sungai.

Selama saya menjelajahi kawasan tersebut, saya menjumpai bunga Rafflesia yang ternyata teridentifikasi sebagai rafflesia merah atau yang biasa juga disebut Cendawan Muka Rimau (Rafflesia hasselti). Saya pun mencoba menelusuri bunga unik dan langka ini melalui sumber atau referensi. Bunga Rafflesia adalah genus tumbuhan bunga parasit. Ia ditemukan di hutan hujan Indonesia oleh seorang pemandu dari Indonesia yang bekerja untuk Dr. Joseph Arnold tahun 1818 dan dinamai berdasarkan nama Thomas Stamford Raffles, pemimpin ekspedisi itu. Ia terdiri atas kira-kira 27 spesies (termasuk empat yang belum sepenuhnya diketahui cirinya seperti yang dikenali oleh Meijer 1997), semua spesiesnya ditemukan di Asia Tenggara, di semenanjung Malaya, Kalimantan, Sumatra, dan Filipina. Tumbuhan ini tidak memiliki batang, daun ataupun akar yang sesungguhnya. Rafflesia merupakan endoparasit pada tumbuhan merambat dari genus Tetrastigma (famili Vitaceae), menyebarkan haustoriumnya yang mirip akar di dalam jaringan tumbuhan merambat itu. Satu-satunya bagian tumbuhan Rafflesia yang dapat dilihat di luar tumbuhan inangnya adalah bunga bermahkota lima. Pada beberapa spesies, seperti Rafflesia arnoldii, diameter bunganya mungkin lebih dari 100 cm, dan beratnya hingga 10 kg. Bahkan spesies terkecil, Rafflesia manillana, bunganya berdiameter 20 cm. Bunganya tampak dan berbau seperti daging yang membusuk, karena itulah ia disebut “bunga bangkai” atau “bunga daging”. Bau bunganya yang tidak enak menarik serangga seperti lalat dan kumbang kotoran, yang membawa serbuk sari dari bunga jantan ke bunga betina.

Tak jauh dari bunga langka ini saya menemukan tanda keberadaan harimau Sumatera berupa jejak. Senang dengan temuan keberadaan harimau, saya pun mencoba mencari tanda keberadaan lainnya disekitar lokasi, saya terperangah saat menemukan bekas jerat yang mengindikasikan jerat itu adalah jerat harimau dan dari pengamatan saya, dilihat dari bekas cakaran di pohon sekitar jerat dan tanaman muda yang ambruk semua, jerat ini telah mendapat harimau.

Siapa yang tidak tahu harimau yang saat ini di Indonesia hanya ada di Sumatra. Harimau Sumatera dalam bahasa ilmiahnya disebut Panthera tigris sumatrae adalah subspesies harimau terkecil di dunia. Harimau Sumatera cenderung mempunyai warna paling gelap di antara semua subspesies harimau lainnya yaitu mulai dari kuning kemerah-merahan hingga oranye tua, pola hitamnya berukuran lebar dan jaraknya rapat kadang kala rapat.

Pada hari yang sama, saya juga melihat beberapa ekor burung rangkong terbang dengan suaranya yang bergemuruh memecah keheningan rimba. Rangkong yang saya temui adalah dari jenis rangkong papan dengan nama latin Buceros bicornis. Masyarakat Sumatera Barat mengenalnya dengan sebutan Burung Danto. Burung rangkong papan dewasa berukuran sangat besar, dengan panjang mencapai 160cm. Burung ini memiliki bulu berwarna hitam, dan tanduk kuning-hitam di atas paruh besar berwarna kuning. Kulit mukanya berwarna hitam dengan bulu leher berwarna kuning kecoklatan. Bulu ekor berwarna putih dengan garis hitam tebal di tengah. Tanduk burung Rangkong Papan berongga dan tidak padat. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Jantan dan betina dapat dibedakan dengan mudah dari matanya. Mata burung betina berwarna biru, sedangkan burung jantan bermata merah. Burung cantik ini mendiami hutan – hutan hujan yang masih memiliki tutupan pohon tinggi yang saat ini kian sulit ditemui akibat perambahan dan pembalakan liar. Burung ini sangatlah cantik dengan cula yang ada diparuhnya sehingga mengundang beberapa pemburu akibat dari tingginya permintaan akan paruh tersebut. Kita bisa bayangkan untuk paruh burung yang bagus, harganya hingga 6 juta rupiah.

Sayangnya, perasaan yang gembira dan berbunga bunga bak sepasang kekasih yang baru berjumpa setelah sekian lama berpisah ini langsung hilang seketika. Kenapa demikian, karena saya bertemu dengan 2 orang pemburu yang sedang menenteng senapan angin model Lee Enfield Cal. 5,56. Kami berbincang sekitar 1 jam diatas punggungan bukit yang menjadi saksi bisu pertemuan yang tidak pernah direncanakan ini. Saat saya tanya berburu apa “ kami berburu burung Danto nak “ jawab mereka dengan entengnya.

Penangkapan liar dan hilangnya habitat hutan mengancam keberadaan spesies ini. Burung Rangkong Papan dan Harimau sumatra dievaluasikan sebagai hampir terancam di dalam IUCN Red List dan didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Pertanyaan saya adalah : Dimanakah para penegak hukum negeri ini? Ada apa dengan Undang Undang Konservasi Hayati?

Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000.000,00(seratusjuta rupiah)

Oleh: Agung Suprianto.

Referensi :

http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau_sumatera.

http://id.wikipedia.org/wiki/Raflesia.

http://id.wikipedia.org/wiki/Rangkong_papan.

Iklan

Aie Tombuak Batu

Petualangan  kami menelusuri pedalaman Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling tiba-tiba terhenti oleh suguhan alam yang sangat menakjubkan. Bagi saya ini merupakan air terjun yang paling indah yang pernah saya jumpai.  Tak henti mata menatap keindahan air terjun yang unik ini dimana airnya keluar  dari lobang batuan dinding tebing .

DSCN5242_

Di Balik Cerita Lama Sang Penginput Data

Masih terlintas dipikiran kenangan waktu jumpa pertama kali dengan sang raja hutan “Harimau” langsung di alam liar. Tanggal saya sudah lupa tapi tahun masih ingat, yaitu tahun 2008 saat pemasangan kamera jebak di Taman Nasional Tesso Nilo. Kala itu saya bersama tim mengecek kamera jebak di blok paling bawah TN Tesso Nilo untuk menuju camp pertama kami melewati akasia HPH Rimba Lazuardi atau kami menyebutnya “RL”. Satu tim terdiri dari empat orang dengan dua leader untuk teknisi pemasangan kamera jebak dan dua lagi dari masyarakat lokal.

Singkat saja pagi yang indah di Camp Gerhan selesai sarapan tim dibagi menjadi dua untuk mengecek dua lokasi pemasang kamera jebak yang dipasang secara sistematis. Dari Camp Gerhan ke lokasi kamera sekitar empat kilometer kalau berjalan lurus. Hari itu tidak ada firasat buruk dari saya hingga tiba di perbatasan akasia dan hutan muda atau disebut belukar di jalan eks HPH Inhutani 4 tepatnya di tanah lapang berpasir yang belum tertutup dengan pakis resam, saya bersama tenaga lokal menjumpai jejak dari sang raja hutan berserahkan dimana-mana dan sempat-sempatnya sang raja hutan juga buang air kencing di jalan yang kami lalui.

Semakin semangat saya untuk cepat mengecek kamera jebak yang terpasang karena saya berpikir sang raja hutan akan lewati kamera jebak. Langkah kakiku mulai dipercepat menelusuri jejak sang raja hutan yang kebetulan satu arah menuju pengecekan kamera jebak. Sekitar 300 meter saya berjalan setelah melewati pakis resam kami menjumpai jejak sang raja hutan berserahkan di tanah berpasir sepertinya sang raja hutan bermain-main berguling-guling di pasiran. Rasa penasaran saya semakin kuat kalau sang raja pasti lewat kamera yang kami pasang, di perkirakan sekitar 1 kilometer jarak lokasi pemasangan kamera jebak .

Saya coba mengikuti terus jejak sang raja hutan sampai di jalan eks logging lama hingga jelan yang tadinya lebar menjadi menyempit karena tertutup oleh pakis resam dan hanya bisa dilewati oleh orang. Sekitar dua meteran saya lewati pakis resam dan langsung terpanah kaget melihat sang raja hutan sedang santai berbaring sambil menatap saya beberapa detik beratapan sang raja hutan langsung berlari menembus belukar sekencang-kencangnya dan saya pun terpukau terdiam seperti patung.

Kalau mengingat kejadian itu ada perasaan senang ada juga perasaan sedih. Senangnya saya bisa melihat jelas tatapan mata sang raja hutan predator tingkat atas rantai makan. Tatapan sang raja hutan itu membuat saya tidak bisa bergerak selama beberapa detik, hanya bisa berdiri melihatnya saling tatap hingga sang raja hutanpun lari dengan kencangnya.

Sempat terlintas dipikiran seandainya sang raja itu menerkam apa yang bisa saya lakukan dengan jarak sekitar tiga meter walaupun memegang sebilah parang apa saya sanggup untuk melawannya??? tanda tanya besar untuk saya sendiri tapi mungkin Tuhan berkata lain dan hingga saat ini saya masih bisa menulis cerita pendek yang bisa dibagikan dan dibaca.

Enam tahun sudah berlalu kini seiring waktu yang bergulir seiring juga habitat sang rasa hutan dikit demi dikit habis untuk pembukan ladang  oleh orang-orang yang tidak bisa berbagi ruang untuk satwa liar dan hanya berpikiran untuk masa depan mereka.

Disini saya di depan komputer hanya bisa melihat sang raja hutan melalui hasil foto-foto yang pernah terdokumentasi oleh kamera jebak, hutan-hutan yang pernah saya kunjungi untuk penelitian bersama teman-teman satu tim riset pun banyak terganti oleh sawit.

Tas ransel yang dibawa bukan seberapa beratnya, tapi ada hal kebahagian ketika itu untuk menemukan sang raja hutan walaupun dengan cara melihatnya melalui kamera jebak. Itu saja membuat kami bahagia. Setiap medan yang curam terjal selalu menjadi tantangan di setiap lokasi yang berbeda punya cerita-cerita yang unik.

 

FTT

 

Mungkin suatu saat nanti peran saya akan tergantikan oleh jiwa-jiwa muda yang bersemangat untuk sang raja hutan tetap berada di alam liar dengan habitatnya tanpa ada gangguan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab…

 

Sejuta Cerita di Bukit Rimbang Bukit Baling

Damai sekali rasanya apabila kita bisa sampai di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Hutan lindung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat ini memiliki luas 136.000 ha. Ada beberapa sungai  mengalir di dalamnya, salah satu diantaranya ialah Sungai Subayang yang merupakan ikon kawasan lindung ini. Banyak sekali masyarakat tinggal disepanjang aliran sungai ini, dan mayoritas adalah Suku Melayu. Mereka sangat menjaga kebersihan sungai, airnya bening dan nyaris tidak ada sampah. Disetiap desa memiliki lubuk yang tidak boleh diganggu ikan-ikannya, baik itu dipancing ataupun dijala, mereka menyebutnya Lubuk Larangan. Sekali dalam setahun apabila waktunya sudah tepat dan kondisi air sedang dangkal, barulah lubuk ini akan dipanen. Beberapa dari penduduk yang tinggal disepanjang sungai ini bermata pencaharian sebagai pencari ikan.

Jonson

Jonson

Sarana transportasi yang digunakan masyarakat ialah perahu mesin atau biasa dengan sebutan Jonson atau Robin (sayangnya bukan Batman dan Robin). Perahu yang berkapasitas 7 hingga 10 orang ini mereka gunakan untuk kegiatan sehari-hari, diantaranya untuk mencari ikan, membawa getah, melangsir bahan bangunan, bahan makanan dan lain-lain. kendaraan ini ibaratnya merupakan nyawa mereka. Bisa dibayangkan apabila perahu ini tidak menggunakan mesin dan mendayung sampan dengan arus sungai yang lumayan deras, pasti akan sulit sekali dan waktu tempuh akan menjadi lebih lama. Senang sekali melihat perahu-perahu ini hilir mudik disepanjang Sungai Sebayang ini, disamping itu masyarakatnya juga sangat ramah.

Pada hari pertama perjalanan, sebelum masuk ke dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling, terlebih dahulu kami singgah di stasiun riset yang dibangun oleh WWF. Alangkah indah tempat ini. Sejak awal hawa sejuk telah menyambut kedatangan kami. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun yang dibangun tahun 2012. Sungguh sangat nyaman sekali bisa tinggal dan bermalam disini. It’s Amazing!

IMG_6824

Stasiun Riset Subayang

Padahal itu baru luarnya saja, bagaimana di dalamnya??

Satu malam kami tinggal dan beristirahat untuk persiapan perjalanan berikutnya. Pagi menjelang, kicauan burung dan teriakan ungko membangunkan tidur kami yang sangat lelap, ditambah lagi cuaca yang sangat cerah, seolah mendapatkan semangat baru, sungguh menenangkan pikiran. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat ini, tapi perjalanan harus tetap dilaksanakan untuk sebuah misi yang lebih berharga lagi yaitu mencari keberadaan Si Datuk Belang yang juga merupakan salah satu satwa endemik Pulau Sumatera yang tinggal di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Dihari kedua kami bergegas menuju Desa Dua Sepakat yang berada di hulu Sungai Bio dengan menggunakan Robin. Di dalam perahu terdiri dari 2 (dua tim), yaitu tim 1): Zul, Awir, dan dua orang masyarakat tenaga lokal dari Desa Tanjung Belit. Sedangkan tim 2): saya sendiri, Leonardo, Defni dan Ibrahim. Sementara tim 3): .Kusdianto, Agung, Gebok dan Raus yang masuk dari Desa Mangunai Tinggi di Sumatera barat. Sepanjang perjalanan menuju Desa Dua Sepakat, banyak moment yang bisa kita foto apabila kita membawa kamera, diantaranya ada air terjun, beruk, pantai berbatu, lanskap dan beberapa jenis burung.

Hampir dua jam perjalanan kami berada di dalam perahu menuju desa. Setelah sampai, kami berhenti sejenak untuk berbincang kepada masyarakat di sana untuk sekedar meminta izin dan memberitahukan kegiatan yang akan kami lakukan. Setelah semua telah beres, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Desa Ngungun yang merupakan desa terakhir untuk mendekati kawasan. Jarak dari Desa Dua Sepakat dan Desa Ngungun ini kurang lebih satu jam ditempuh dengan berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor.

Kedua tim beriringan menyusuri jalan yang baru saja didozer menuju Desa Ngungun. Cuaca yang sedikit mendung tak menyurutkan perjalanan kami, ditambah lagi beban yang didalam carrier masih berisi penuh dengan peralatan logistik dan peralatan lainnya. Inilah awal dari petualangan yang sebenarnya, lengkap dengan seragam lapangan, carier dan sepatu boat menambah rasa percaya diri. Tim terlihat gagah dengan ini semua. Pohon yang berdiri tegak dengan daun yang hijau seperti payung yang selalu menjaga kami sepanjang perjalanan.

Setelah sampai di desa ini, kami disambut oleh salah satu masyarakat dan ditawari untuk beristirahat dirumahnya, kami seperti dapat keluarga baru yang begitu baik disini. inilah hidup, perlu rasa peduli antara satu dengan yang lain.

Keesokan harinya pada hari ketiga, kami 2 tim masih bergerak beriringan menuju pinggir grid 17 x 17 dan belum bisa melakukan survey. Kegiatan kali ini adalah survey occupancy mencari tanda keberadaan Harimau Sumatera berdasarkan tanda berupa cakaran di tanah atau di pohon, kotoran dan juga informasi dari masyarakat setempat yang bermukim di sekitar kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling, yang dibagi 20 transek per setiap timnya dalam satu blok .

Kondisi carier masih dipenuhi logistik dan peralatan lainnya, meski lokasinya belum begitu berbukit, tetapi cukup untuk menguras sedikit tenaga. Ada satu kejadian yang sangat lucu pada saat perjalanan ini. Ibrahim adalah salah seorang tenaga lokal baru dari Redang, baru kali ini dia ikut survey, mandah di hutan apalagi menyandang carier adalah dua hal yang baru bagi Ibrahim. Hari pertama dan kedua masih aman karena belum memasuki hutan, baru pada hari yang ketiga mulai berangsur masuk kedalam kawasan.

Dihari yang ketiga ini ada satu kejadian yang sangat tersimpan diingatan saya. Saat kami sedang beristirahat dan menyandarkan karier kami di pohon tumbang yang melintang, semua masih dalam keadaan oke. Ibrahim pun tiba dan langsung ikut meletakkan cariernya di kayu yang sama, tetapi agak sedikit tinggi dari posisi kami yang lebih dulu sampai, maklum aja masih pemula jadi sering tertinggal dibelakang.

Saat kami tengah enak beristirahat, tiba-tiba bunyi “gedebukkk!” spontan kami menolah ke asal suara itu. Ternyata Ibrahim tengah terjungkal ke belakang dibawa oleh carier yang disandangnya. Kami semua kaget, bahkan ada yang ingin tertawa saat melihat kejadian itu, tapi coba ditahan agar Ibrahim tidak malu. Saya langsung bergegas mendekati untuk membantunya yang sedang berusaha untuk membalikkan badannya. Kedua kaki Ibrahim bergerak mengais-ngais mencari tumpuan untuk berdiri, mirip sekali seperti kura-kura. Untung saja Ibrahim tidak mengalami cedera, namun mukanya terlihat pucat, entah karena kaget akibat jatuh tadi atau karena malu. Saya coba memberi semangat kepadanya agar mental tidak drop.

Setelah melanjutkan kembali perjalanan, tawa yang saya tahan sejak tadi terpecah mengingat kejadian Ibrahim yang jatuh tadi, tetapi tetap tanpa sepengetahuan beliau. Wah… sungguh perjalanan yang menyenangkan, tim yang sangat keren, senang sekali bisa mengenal mereka semua. Malam ini kami masih berada dalam satu tenda bersama dengan tim Zul dkk. Camp dibuat cukup besar yang dapat menampung 8 (delapan) orang, di dalam tenda saat malam hari tiba, tawa kami semua baru lepas saat cerita dibuka kembali, Ibrahim pun yang menjadi objek cerita juga ikut tersenyum-senyum. Semoga perjalanan bersama tim ini menjadi suatu bahan menarik untuk diceritakan ke anak cucu kita nanti…

Salam Rimba!

Fendy

Berburu ikan ketemu “Pemburu” ikan

Seperti biasanya hari-hari di lapangan, aktivitas dijalani dari pagi hingga pagi lagi begitu seterusnya. Mulai mempersiapkan kebutuhan kegiatan lapangan hinggga istirahat semua berlalu sepanjang hari. Setelah seharian berkutat dengan pengumpulan data lapangan, saat tiba senja hingga menjelang terbit matahari di lewati dengan aktivitas kecil sembari istirahat di sekitar camp.

Pengukuran diameter pohon pada plot sampling cadangan karbon di TNTN

Pengukuran diameter pohon pada plot sampling cadangan karbon di Taman Nasional Tesso Nilo

Namun hari ini cuaca sangat bersahabat, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang selalu turun hujan di kala langit mulai terlihat gelap. “Wah cuacanya bagus malam ini” ujarku selepas makan malam. Sejenak terlintas ide di otak untuk pergi memancing di sungai dekat camp. Sembari menunggu asupan yang baru dikonsumsi nyaman diperut, peralatan dan kebutuhan mancing dipersiapkan.

Beberapa anggota tim satu persatu mulai bergerak menuju hilir sungai lengkap dengan peralatan memancing. Sementara aku masih bimbang sejenak menentukan tujuan, kuputuskan tujuan memancing ke hulu sungai tidak jauh dari camp.

Perburuan dimulai, Beberapa saat tidak ada pergerakan di ujung kail..”namanya juga berburu,meski sabar” gumamku dalam hati. Nyamuk dan Agas setia menemani sesekali dengan gigitan dan nyanyian sumbang di daun telingah kiri dan kanan, orkestra wajib ditepi sungai gak boleh nolak pastinya…heheheehehe.

Saat yang di nanti-nanti tak kunjung datang, seakan mengisaratkan untuk pindah spot mancing yg lain. Sesaat kemudian aku mulai bergerak ke hulu dengan beberapa kali mencoba meletakkan ujung kail kedasar sungai. masih sama halnya yang terjadi beberapa saat yg lalu pada ujung kailku. sehingga pergerakkan semakin menjauh kearah hulu sungai. Satu spot mancing terpilih dengan harapan ada keberuntungan.

Dengan bermodalkan kesabaran akhirnya keberuntungan mulai mendekat, gerakan demi gerakan mulai rajin terjadi diujung kail. bebrapa ekor ikan berbagai ukuran dan jenis mulai berlabuh kedaratan.

Tetap fokus mengawasi gerakan-gerakan diujung kail hingga beberapa saat, sampai lupa mengawasi tempat sekitar. sayup – sayup cengkrama anggota tim yang lain di camp terdengar dari tempatku memancing. Dan akhirnya ada gerakan yang memancingku untuk segera mengamatinya. Setelah tau sumber gerakan itu, sejenak konsentrasiku kosong tak tau untuk ngapain…

Setelah menyadari bahwa yang membuat gerakan mendekat  kearahku, dengan dibantu dengan penerangan lampu kepala (Headlamp) yang cukup bagus,  berjarak sekitar 7 meter terlihat jelas seekor Macan Dahan (Nofelis diardi).

Seekor Macan dahan (Neofelis diardi) sedang mengamati sesuatu dari atas batang kayu yang melintang di atas sungai

Seekor Macan dahan (Neofelis diardi) sedang mengamati sesuatu dari atas batang kayu yang melintang di atas sungai

Dengan tenang segera kukeluarkan camera dari dalam daypack yang melekat dipunggung. Takut akan kehilangan momen beberapa photo berhasil kurekam tanpa menyadari bahwa ketersedian batterai kamera di ambang kehilangan daya…

Beberapa saat macan dahan(Neofelis diardi) memperhatikan sungai yang mengalir dibawahnya, mungkin ia juga mencoba keberuntungan sama seperti saya, namun dengan caranya sendiri. memang ada rasa kesal pada diri sendiri, gara-gara batterai kehilangan momen yang sangat berharga sekali. Sejalan dengan pergantian batterai kamera, Macan dahan (Neofelis diardi) berlalu pergi menjauh dan tak terlihat lagi.

Malam pun mulai beranjak larut, segera kukemas beberapa ekor ikan hasil buruan malam ini dan selanjutnya bergerak menyusur tepi sungai menuju pulang ke camp.

By: Eggy Phinoes

Cerita Kecil tentang Pengamatan Harimau di Sungai Lisun

Jam menunjukan pukul 7.15  pagi, aku duduk di bangku teras rumahku sambil menikmati secangkir teh manis hangat dan menikmati hisapan demi hisapan asap rokok yang mengepul dimulut. Pagi itu, kamis tanggal 21 agustus 2014, diteras tersebut aku sedang menunggu driver Erizal datang menjemput karena rencananya pagi ini aku bersama teman-teman seperjuanganku akan berangkat menuju kota Sijunjung (Sumatera Barat) untuk melakukan kegiatan Survey Harimau dan satwa besar lainnya, tepatnya di hutan penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling yang sekarang dinamakan Koridor Rimba.

Ada sampai dua jam aku berada diteras rumah menunggu driver Erizal datang. Matahari pun sedikit demi sedikit mulai naik, menandakan hari semakin siang. Batang demi batangan rokokpun telah habis aku hisap dan teh manispun juga telah habis. Akan tetapi tanda-tanda kedatangan driver Erizal belum juga ada.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson mobil, ternyata itu suara klakson mobil yang dikendarai driver Erizal. Sebuah mobil ranger 4WD warna hijau lumut yang menjadi andalan ketika kami menjelajahi alam rimba.

Bergegas aku mengambil semua peralatanku. Mulai dari peralatan pribadi sampai peralatan survey, semua itu aku masukan kedalam mobil ranger yang telah parkir di depan rumahku. Setelah semuanya selesai dimasukan dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku bersama driver Erizal segera berangkat menuju kediaman teman-temanku yang lain untuk menjemputnya. Dimana teman-teman aku itu adalah Amri, Ali Usman dan Yulius Ependy.

Sesampainya di tempat mereka, aku melihat mereka masih asyik mengemas peralatannya masing-masing. Dan aku pun turun dari mobil untuk menghampiri mereka, serta ngobrol-ngobrol sejenak sebelum kami meluncur menuju kota Sijunjung.

Selesai berkemas, mereka langsung memasukan peralatannya ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat. Mobil yang dikendarai oleh driver Erizal melaju kencang di jalan raya Pekanbaru-Taluk kuantan.

Dalam perjalanan kali ini cuaca sedikit mendung, terlihat awan yang semula berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi hitam. Sepertinya akan turun hujan untuk membasahi bumi.

Memang, tidak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya yang membuat pandangan sedikit terhalang, sehingga driver Erizal sedikit memperlambat dan mengurangi kecepatan mobilnya.

Karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat maka target perjalanan hari ini tidak tercapai yaitu Kota Sijunjung. Kami pun beristirahat di Kota Taluk kuantan, rencananya perjalanan ini akan dilanjutkan esok harinya.

Pagi menjelang dan matahari telah memancarkan sinarnya di ufuk Timur. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kota Sijunjung, sebuah kabupaten yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat. Di daerah Sijunjung ini aku bersama teman-temanku akan melakukan survey nantinya. Sesampainya di Kota Sijunjung, kami menuju kesebuah desa yang berdampingan langsung dengan hutan yaitu Desa Pinang Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung.

Sebelum kita sampai di Desa Pinang Durian Gadang ini, kita dapat melihat pemandangan yang indah, bukit-bukit menjulang tinggi ditumbuhi pepohonan yang rimbun dan dinding-dinding batu yang menjadi penghiasnya.

Di Desa Pinang Durian Gadang ini kami menemui kepala jorong nya terlebih dahulu untuk melapor sebab kami memasuki daerah mereka. Setelah melapor dan meminta izin, kami mencari sebuah lokasi untuk bermalam dan beristirahat. Malam ini kami tidak menumpang menginap dirumah warga, akan tetapi kami mencari sebuah lokasi yang terdapat di ujung desa tersebut.

Di ujung desa tersebut ada suatu lokasi penghijauan yang dilakukan oleh pihak kehutanan, disitulah kami mendirikan tenda sebelum kami memasuki kawasan hutan untuk melakukan survey.

Esok harinya, mulailah kami melakukan kegiatan survey. Arah yang dituju adalah Sungai Lisun yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi kami sekarang.

Pertama kami memasuki pekebunan karet masyarakat setempat sebelum kami mencapai hutan. Kami terus bergerak kearah utara mencapai hutan yang lebat. Jalan yang di ikuti adalah jalan setapak yang terdapat dipunggungan bukit, jalan setapak ini sering digunakan masyarakat setempat jika mereka pergi ke daerah Sungai Lisun untuk mencari ikan, burung dan gaharu.

Setapak demi setapak kami berjalan, menuju bukit dengan ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Lambat tapi pasti kami terus berjalan sambil melakukan pengamatan terhadap apa yang ada disekeliling kami terutama pengamatan terhadap keberadaan Harimau maupun satwa besar lainnya.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, carriel dipundak tetap bergantung yang menambah beratnya langkah kaki. Namun, itu tidak menyurutkan langkah kaki kami untuk terus berjuang mendaki puncak 900 meter tersebut.

Selangkah demi selangkah akhirnya kami menyelesaikan transek yang pertama (1 x transek berjarak 1 km), di dalam satu transek terdapat 10 segmen (ruas-ruas transek, 1 segmen = 100 meter).

Selesai transek yang pertama, maka kami segera melanjutkan transek yang kedua. Puncak 900 meter masih jauh di depan, kami terus berjuang untuk mencapainya. Akan tetapi tak terasa hari sudah sore, matahari sudah condong ke arah barat, sedangkan puncak 900 meter masih berjarak sekitar satu kilometer lagi. Tentu saja dengan jarak satu kilometer tersebut terasa jauh, apalagi kondisinya menaik dan juga haripun sudah sore serta di atas puncak tersebut kami tidak akan mendapatkan air. Maka kami memutuskan untuk melereng bukit untuk mencari sumber air dan beristirahat disana. Melereng dan menurun mencari sumber air, melewati lereng yang berbatu. Sebelum senja merangkak, kami telah menemukan sumber air di sebuah lereng bukit, dan kami pun mendirikan tenda di sana untuk beristirahat.

Senja pun merangkak dan gelap datang tanpa diterangi sang rembulan. Kami pun beristirahat dibawa bentangan terpal hitam sebagai pelindung dari dinginnya malam.

Disaat pagi menjelang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak 900 meter dari permukaan laut untuk melakukan transek yang berikutnya. Semangat pagi dan tenaga penuh estra kami bergerak menuju puncak 900 meter tersebut. Mendekati puncak 900 meter, kami melewati jalan berbatu, perlu kehati-hatian untuk melewatinya, jika tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya. Batuannya cukup tinggi dan terjal, sehingga kami memerlukan bantuan tangan untuk menaikinya.

Dengan bercucuran keringat di badan, akhirnya kami tiba dipuncak 900 meter. Teriakan demi teriakan dilontarkan diatas puncak menandakan kami telah berhasil menaikinya.

Kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan yang indah. Terlihat bukit-bukit menjulang tinggi yang ditumbuhi pepohonan yang lebat dan rimbun. Sungguh indah alam ini, mari kita sama-sama menjaga keindahannya ini.

Di atas puncak tersebut; semilir angin, hangatnya matahari, rindangnya dedaunan membuat pikiran tenang dan mendadak ngantuk. Namun, perjalanan belum usai. Kami harus kembali menuruni puncak tersebut menuju sungai lisun.

Setelah melepaskan lelah dan penat serta menikmati pemandangan indah, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun. Langkah demi langkah kami tidak luput dari pengamatan. Sekitar 200 meter dari tempat kami beristirahat, kami menemukan kotoran yang kami perkirakan milik  harimau. Ukuran atau kondisi terkait kotoran yang kami amati itu kami tulis ke dalam buku data serta diabadikan dalam bidikan kamera yang selalu kami bawa untuk keperluan dokumentasi.

Setelah kotoran itu dicatat ke dalam buku data dan diabadikan dalam bidikan kamera, maka kami kembali melanjutkan perjalanan. Berjarak 100 meter, kami kembali menemukan kotoran tersebut, sepertinya puncak bukit ini sudah menjadi pelintasannya. Dan sangat cocok sekali jika disini dipasang kamera jebak untuk mengambil gambarnya secara langsung. Kami kembali mencatat kotoran tersebut ke dalam buku data yang tak lepas dari genggaman.

Selesai mendata kotoran harimau, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun dengan menuruni puncak 900 meter ke arah utara. Menurut info dari masyarakat setempat bahwa sungai tersebut dijadikan tempat masyarakat untuk mencari ikan. Sebab dikatakannya sungai ini terkenal dengan banyak ikan berbagai jenis, salah satunya adalah ikan baung dan ikan barau. selain itu, lokasi sungai ini juga dijadikan masyarakat untuk mencari burung dan gaharu.

Dalam perjalanan menuju Sungai Lisun, banyak bekas-bekas camp/tenda masyarakat yang kami temukan, kemungkinan ini digunakan untuk beristirahat sebelum mereka sampai ke tujuannya.

Sesampainya di sungai, kami mencoba mencari lokasi untuk mendirikan camp. Kebetulan waktu itu kondisi sungai sedang surut. Terlihat bebatuan pada sungai tersebut sudah banyak yang berlumut, sepertinya sudah lama tidak terjadi banjir pada sungai ini.

Pagi yang cerah, sang mentari memancarkan sinarnya dari ufuk Timur. Kami bergegas menuju hulu Sungai Lisun untuk melakukan survey, mencari keberadaan Harimau dan satwa lainnya. Menyusuri sungai dengan melawan arus, sekitar tiga kilometer atau sekitar tiga transek yang dilakukan. Dalam tiga transek tersebut, kami menemukan beberapa tanda keberadaan satwa, seperti Tapir dan Babi hutan. Selain temuan satwa, kami juga menemukan beberapa bekas pondok masyarakat yang terdapat dipinggir-pinggir sungai. Sepertinya Sungai Lisun ini menjadi tempat yang strategis untuk masyarakat mencari kebutuhan hidup, seperti mencari ikan, mencari burung dan mencari gaharu.

Sungai Lisun juga menjadi tempat dimana kami melakukan survey. Setelah melakukan survey dibagian hulunya, kami melanjutkan survey ke arah hilirnya. Dipinggir-pinggir sungai ini terdapat banyak jalan setapak masyarakat, sehingga dengan mudah kami mengikuti jalan setapak tersebut menuju arah hilir sungai, sesekali kami menyeberangi sungai yang harusnya lumayan deras, meskipun kedalamannya hanya satu meter tapi sangat menyulitkan kami untuk menyeberanginya. Jika pijakan tidak kuat, siap-siaplah terpeleset dan jatuh kedalam air. Bahkan, jika tidak mampu menahan air maka kami akan hanyut terbawa arus.

Berhasil menyeberangi sungai yang cukup luas itu, perjalanan dilanjutkan mendaki bukit yang terdapat dipinggir sungai tersebut dan mencari jalan setapak menuju hilir sungai. Lebih kurang 500 meter kami berjalan mengikuti jalan setapak tersebut, kami turun kembali ke sungai dan menelusuri aliran sungai.

Setelah berjalan setengah jam menelusuri sungai, kami menemukan bekas pondok masyarakat yang terlihat masih kokoh dan kuat, didepan pondok tersebut terdapat pulau kecil dengan bebatuan kerikil yang bertaburan di atasnya.

Melihat hari sudah sore maka kami memutuskan untuk memasang tenda di pondok masyarakat tersebut dan beristirahat di sana.

Dalam perjalanan ini kami tidak begitu banyak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa, hanya keberadaan babi hutan dan beruang yang kami temukan, masing-masing tanda jejak dan cakaran di pohon.

Disaat malam mulai merangkak, kami pun beristirahat melepaskan kelelahan dan keletihan berjalan di siang harinya, hingga pagi menjemput.

Pagi itu, tepatnya hari jumat, kami kembali melakukan aktivitas yaitu melakukan survey mencari tanda-tanda keberadaan Harimau dan satwa besar lainnya yang ada di kawasan ini. Kali ini kami menuju arah barat, melewati hutan yang lebat. Hawa dingin dan keheningan langsung membekap ketika melewati  punggungan bukit. Jalan yang kami lewati nyaris tidak tersentuh matahari karena rapatnya pepohonan dan kabut yang menyelimuti hutan.

Disini fauna hutan mulai terlihat, monyet-monyet dan beruk bisa dijumpai hampir disepanjang perjalanan. Tidak cuma monyet dan beruk, ungko dan siamang pun mulai mengeluarkan suara merdunya. Dari kejauhan kami mendengar suara ungko dan siamang sahut bersahutan satu sama lainnya. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas nya seolah-olah mereka sedang bernyanyi di dalam kegembiraan.

Dengan adanya suara ungko dan siamang yang saling bersahutan, maka bisa dikatakan keasrian hutan ini masih terjaga seperti yang kami lewati saat ini.

Kami terus berjalan menuju arah Barat, menyusuri hutan yang lebat dan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Serasah yang tebal menyulitkan kami untuk menemukan kebaradaan satwa. Hanya keberadaan babi hutan yang dapat kami temukan. Sebelum matahari terbenam kami telah kembali lagi ke pondok.

Malamnya kami mencoba diskusi untuk kegiatan esok harinya. Hari esoknya kami rencanakan untuk kembali menyusuri aliran Sungai Lisun. Tanpa kami sadari, malam itu hujan turun dengan derasnya sehingga membuat air sungai banjir dan keruh. Karena air sungai naik maka kami tidak bisa menyusurinya, airnya terlalu deras dan dalam. Maka diputuskan untuk membuat rintisan di pinggir sungai tersebut. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan dua orang pemuda yang sedang mencari burung Rangkong, atau masyarakat menyebutnya burung Onggang dan gaharu. Salah satu pencari burung Rangkong tersebut bernama Tulus yang berasal dari Desa Durian Gadang. Saat ditemui mereka sedang menumbangi pohon gaharu yang mereka temui. Disamping mereka terdapat senapan angin yang mereka gunakan untuk berburu burung Rangkong tersebut.

Kami sempat ngobrol-ngobrol sama mereka. Mengapa mereka mencari burung Rangkong tersebut? “Karena harga jualnya yang tinggi” jawabnya. Burung tersebut hanya kepalanya saja yang diambil dan dijual. Dikatakannya, saat ini burung tersebut sudah sangat sulit untuk ditemui karena sudah termasuk langkah. Kami pun menjelaskan bahwa saat ini burung Rangkong tersebut adalah burung yang dilindungi. Mendengar perkataan kami mereka hanya diam. Kami juga menjelaskan begitu pentingnya kita menjaga kelestarian hutan.

Setelah bercerita panjang lebar sama mereka, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pengamatan terus kami lakukan, mengamati apa yang ada disekeliling kami. Baru berjalan sekitar satu kilometer, kami kembali bertemu dengan enam orang masyarakat yang katanya berasal dari Desa Sesawa, Kecamatan Sijunjung. Kami pun kembali berbincang-bincang, rupanya mereka sedang mencari ikan di Sungai Lisun ini. Berbagai macam alat tangkap ikan yang mereka bawa, pancing, jala, jaring dan tembak ikan. Hasil tangkapannya ini akan dijual kepada masyarakat sekitar.

Memang sungai lisun ini terkenal dengan berbagai macam jenis ikan. Dan ikannya juga lumayan banyak. Maka tidak heran jika masyarakat setempat pergi ke daerah Sungai Lisun ini untuk mencari ikan. Apalagi lokasinya juga tidak terlalu jauh dari perkampungan. Hanya membutuhkan waktu empat jam, mereka sudah sampai di sungai tersebut. Itu perjalanan mereka karena mereka juga sudah hafal jalan untuk menuju daerah ini. Belum tentu dengan kami yang masih buta dengan daerah ini, karena kami hanya mengandalkan peta dan gps sebagai penunjuk jalan.

Kami tidak sempat bercerita banyak dengan mereka, karena mereka bergegas pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Dan begitu pula kami, juga melanjutkan perjalanan menuju hilir sungai sebelum hari beranjak sore.

Sudah sepuluh hari kami berada di dalam hutan dan telah menyelesaikan sebanyak tujuh belas transek. Target yang harus dicapai sebanyak dua puluh transek maka masih tersisa tiga transek lagi yang harus dilakukan.

Pagi itu tanggal 3 september 2014 adalah hari terakhir kami. Hari ini kami akan menyelesaikan transek yang masih tersisa. Perjalanan ini tidak lagi menyusuri Sungai Lisun, akan tetapi menaiki bukit dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut sebelum kami turun menuju desa terdekat yaitu Desa Pinang Durian Gadang. Dengan semangat kami mulai menaiki bukit tersebut sambil melakukan pengamatan, perjalanan ini begitu menantang fisik dan mental. Apalagi jalan yang dilewati begitu sulit karena bukitnya begitu terjal, ditambah lagi fisik yang sudah menurun.

Langit terlihat gelap, sepertinya akan turun hujan, sedangkan kami masih asyik menaiki bukit terjal tersebut. Belum lagi kami sampai di puncak bukit, tiba-tiba hujan turun cukup deras, sehingga membuat langkah terhenti dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujannya semakin deras maka kami membentangkan terpal untuk berlindung dari derasnya hujan. Sampai tengah hari hujannya baru reda, maka kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Setelah sampai diketinggian 600 meter dari permukaan laut, kami melewati bukit gundul. Bukit tersebut hanya ditumbuhi tanaman pakis resam tanpa adanya pepohonan yang melindunginya. Selain gundul, bukit tersebut juga terdapat bebatuan lumayan tinggi dan terjal, ini menyulitkan kami untuk menaikinya.

Setelah berjalan satu setengah jam melewati bukit gundul, barulah kami mencapai keteduhan pepohonan yang masih tersisa dipuncak bukit tersebut. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami terus menaiki puncak bukit hingga sampai pada puncak tertingginya yaitu dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Dari puncak bukit ini kami bisa melihat perkampungan yang kami lewati sebelumnya, namun terlihat samar sebab tertutup kabut.

Di puncak bukit ini, kami kembali menemukan jalan setapak menuju perkampungan. Sepertinya jalan ini sering dilewati masyarakat ketika mereka pergi ke hutan. Dengan adanya jalan setapak ini maka kami tidak merasa kesulitan lagi, apalagi jalannya menurun tidak terlalu banyak menguras tenaga. Hanya saja, ketika itu fisik kami benar-benar sudah menurun, ditambah lagi bekal air minum juga telah habis sehingga membuat langkah kami sedikit lemah.

Perkampungan memang sudah terlihat, akan tetapi masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di perkampungan tersebut. Fisik semakin melemah, sehingga membuat perjalanan terasa semakin berat. Hanya semangat yang membuat kami kuat. Lambat tapi pasti, akhirnya kami tiba di perkampungan Pinang Durian Gadang dan menyelesaikan survey yang kami lakukan. Disini kami disambut dengan baik oleh masyarakatnya, mereka dengan senang hati menerima kedatangan kami. Maka kami pun istirahat dan menginap di salah satu rumah warga sebelum kami kembali ke Pekanbaru. Esok harinya, barulah driver Erizal datang menjemput setelah kami mengabarinya. Dan kami pun meninggalkan perkampungan Pinang Durian Gadang menuju Kota Pekanbaru.

Ini hanyalah cerita kecil tentang perjalanan kami disaat melakukan kegiatan survey Harimau dan satwa besar lainnya di kawasan Koridor Rimba, tepatnya di Kecamatan Sijunjung, Sumatera Barat.

Oleh: Kusdianto