Cerita Kecil tentang Pengamatan Harimau di Sungai Lisun

Jam menunjukan pukul 7.15  pagi, aku duduk di bangku teras rumahku sambil menikmati secangkir teh manis hangat dan menikmati hisapan demi hisapan asap rokok yang mengepul dimulut. Pagi itu, kamis tanggal 21 agustus 2014, diteras tersebut aku sedang menunggu driver Erizal datang menjemput karena rencananya pagi ini aku bersama teman-teman seperjuanganku akan berangkat menuju kota Sijunjung (Sumatera Barat) untuk melakukan kegiatan Survey Harimau dan satwa besar lainnya, tepatnya di hutan penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling yang sekarang dinamakan Koridor Rimba.

Ada sampai dua jam aku berada diteras rumah menunggu driver Erizal datang. Matahari pun sedikit demi sedikit mulai naik, menandakan hari semakin siang. Batang demi batangan rokokpun telah habis aku hisap dan teh manispun juga telah habis. Akan tetapi tanda-tanda kedatangan driver Erizal belum juga ada.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson mobil, ternyata itu suara klakson mobil yang dikendarai driver Erizal. Sebuah mobil ranger 4WD warna hijau lumut yang menjadi andalan ketika kami menjelajahi alam rimba.

Bergegas aku mengambil semua peralatanku. Mulai dari peralatan pribadi sampai peralatan survey, semua itu aku masukan kedalam mobil ranger yang telah parkir di depan rumahku. Setelah semuanya selesai dimasukan dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku bersama driver Erizal segera berangkat menuju kediaman teman-temanku yang lain untuk menjemputnya. Dimana teman-teman aku itu adalah Amri, Ali Usman dan Yulius Ependy.

Sesampainya di tempat mereka, aku melihat mereka masih asyik mengemas peralatannya masing-masing. Dan aku pun turun dari mobil untuk menghampiri mereka, serta ngobrol-ngobrol sejenak sebelum kami meluncur menuju kota Sijunjung.

Selesai berkemas, mereka langsung memasukan peralatannya ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat. Mobil yang dikendarai oleh driver Erizal melaju kencang di jalan raya Pekanbaru-Taluk kuantan.

Dalam perjalanan kali ini cuaca sedikit mendung, terlihat awan yang semula berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi hitam. Sepertinya akan turun hujan untuk membasahi bumi.

Memang, tidak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya yang membuat pandangan sedikit terhalang, sehingga driver Erizal sedikit memperlambat dan mengurangi kecepatan mobilnya.

Karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat maka target perjalanan hari ini tidak tercapai yaitu Kota Sijunjung. Kami pun beristirahat di Kota Taluk kuantan, rencananya perjalanan ini akan dilanjutkan esok harinya.

Pagi menjelang dan matahari telah memancarkan sinarnya di ufuk Timur. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kota Sijunjung, sebuah kabupaten yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat. Di daerah Sijunjung ini aku bersama teman-temanku akan melakukan survey nantinya. Sesampainya di Kota Sijunjung, kami menuju kesebuah desa yang berdampingan langsung dengan hutan yaitu Desa Pinang Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung.

Sebelum kita sampai di Desa Pinang Durian Gadang ini, kita dapat melihat pemandangan yang indah, bukit-bukit menjulang tinggi ditumbuhi pepohonan yang rimbun dan dinding-dinding batu yang menjadi penghiasnya.

Di Desa Pinang Durian Gadang ini kami menemui kepala jorong nya terlebih dahulu untuk melapor sebab kami memasuki daerah mereka. Setelah melapor dan meminta izin, kami mencari sebuah lokasi untuk bermalam dan beristirahat. Malam ini kami tidak menumpang menginap dirumah warga, akan tetapi kami mencari sebuah lokasi yang terdapat di ujung desa tersebut.

Di ujung desa tersebut ada suatu lokasi penghijauan yang dilakukan oleh pihak kehutanan, disitulah kami mendirikan tenda sebelum kami memasuki kawasan hutan untuk melakukan survey.

Esok harinya, mulailah kami melakukan kegiatan survey. Arah yang dituju adalah Sungai Lisun yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi kami sekarang.

Pertama kami memasuki pekebunan karet masyarakat setempat sebelum kami mencapai hutan. Kami terus bergerak kearah utara mencapai hutan yang lebat. Jalan yang di ikuti adalah jalan setapak yang terdapat dipunggungan bukit, jalan setapak ini sering digunakan masyarakat setempat jika mereka pergi ke daerah Sungai Lisun untuk mencari ikan, burung dan gaharu.

Setapak demi setapak kami berjalan, menuju bukit dengan ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Lambat tapi pasti kami terus berjalan sambil melakukan pengamatan terhadap apa yang ada disekeliling kami terutama pengamatan terhadap keberadaan Harimau maupun satwa besar lainnya.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, carriel dipundak tetap bergantung yang menambah beratnya langkah kaki. Namun, itu tidak menyurutkan langkah kaki kami untuk terus berjuang mendaki puncak 900 meter tersebut.

Selangkah demi selangkah akhirnya kami menyelesaikan transek yang pertama (1 x transek berjarak 1 km), di dalam satu transek terdapat 10 segmen (ruas-ruas transek, 1 segmen = 100 meter).

Selesai transek yang pertama, maka kami segera melanjutkan transek yang kedua. Puncak 900 meter masih jauh di depan, kami terus berjuang untuk mencapainya. Akan tetapi tak terasa hari sudah sore, matahari sudah condong ke arah barat, sedangkan puncak 900 meter masih berjarak sekitar satu kilometer lagi. Tentu saja dengan jarak satu kilometer tersebut terasa jauh, apalagi kondisinya menaik dan juga haripun sudah sore serta di atas puncak tersebut kami tidak akan mendapatkan air. Maka kami memutuskan untuk melereng bukit untuk mencari sumber air dan beristirahat disana. Melereng dan menurun mencari sumber air, melewati lereng yang berbatu. Sebelum senja merangkak, kami telah menemukan sumber air di sebuah lereng bukit, dan kami pun mendirikan tenda di sana untuk beristirahat.

Senja pun merangkak dan gelap datang tanpa diterangi sang rembulan. Kami pun beristirahat dibawa bentangan terpal hitam sebagai pelindung dari dinginnya malam.

Disaat pagi menjelang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak 900 meter dari permukaan laut untuk melakukan transek yang berikutnya. Semangat pagi dan tenaga penuh estra kami bergerak menuju puncak 900 meter tersebut. Mendekati puncak 900 meter, kami melewati jalan berbatu, perlu kehati-hatian untuk melewatinya, jika tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya. Batuannya cukup tinggi dan terjal, sehingga kami memerlukan bantuan tangan untuk menaikinya.

Dengan bercucuran keringat di badan, akhirnya kami tiba dipuncak 900 meter. Teriakan demi teriakan dilontarkan diatas puncak menandakan kami telah berhasil menaikinya.

Kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan yang indah. Terlihat bukit-bukit menjulang tinggi yang ditumbuhi pepohonan yang lebat dan rimbun. Sungguh indah alam ini, mari kita sama-sama menjaga keindahannya ini.

Di atas puncak tersebut; semilir angin, hangatnya matahari, rindangnya dedaunan membuat pikiran tenang dan mendadak ngantuk. Namun, perjalanan belum usai. Kami harus kembali menuruni puncak tersebut menuju sungai lisun.

Setelah melepaskan lelah dan penat serta menikmati pemandangan indah, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun. Langkah demi langkah kami tidak luput dari pengamatan. Sekitar 200 meter dari tempat kami beristirahat, kami menemukan kotoran yang kami perkirakan milik  harimau. Ukuran atau kondisi terkait kotoran yang kami amati itu kami tulis ke dalam buku data serta diabadikan dalam bidikan kamera yang selalu kami bawa untuk keperluan dokumentasi.

Setelah kotoran itu dicatat ke dalam buku data dan diabadikan dalam bidikan kamera, maka kami kembali melanjutkan perjalanan. Berjarak 100 meter, kami kembali menemukan kotoran tersebut, sepertinya puncak bukit ini sudah menjadi pelintasannya. Dan sangat cocok sekali jika disini dipasang kamera jebak untuk mengambil gambarnya secara langsung. Kami kembali mencatat kotoran tersebut ke dalam buku data yang tak lepas dari genggaman.

Selesai mendata kotoran harimau, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun dengan menuruni puncak 900 meter ke arah utara. Menurut info dari masyarakat setempat bahwa sungai tersebut dijadikan tempat masyarakat untuk mencari ikan. Sebab dikatakannya sungai ini terkenal dengan banyak ikan berbagai jenis, salah satunya adalah ikan baung dan ikan barau. selain itu, lokasi sungai ini juga dijadikan masyarakat untuk mencari burung dan gaharu.

Dalam perjalanan menuju Sungai Lisun, banyak bekas-bekas camp/tenda masyarakat yang kami temukan, kemungkinan ini digunakan untuk beristirahat sebelum mereka sampai ke tujuannya.

Sesampainya di sungai, kami mencoba mencari lokasi untuk mendirikan camp. Kebetulan waktu itu kondisi sungai sedang surut. Terlihat bebatuan pada sungai tersebut sudah banyak yang berlumut, sepertinya sudah lama tidak terjadi banjir pada sungai ini.

Pagi yang cerah, sang mentari memancarkan sinarnya dari ufuk Timur. Kami bergegas menuju hulu Sungai Lisun untuk melakukan survey, mencari keberadaan Harimau dan satwa lainnya. Menyusuri sungai dengan melawan arus, sekitar tiga kilometer atau sekitar tiga transek yang dilakukan. Dalam tiga transek tersebut, kami menemukan beberapa tanda keberadaan satwa, seperti Tapir dan Babi hutan. Selain temuan satwa, kami juga menemukan beberapa bekas pondok masyarakat yang terdapat dipinggir-pinggir sungai. Sepertinya Sungai Lisun ini menjadi tempat yang strategis untuk masyarakat mencari kebutuhan hidup, seperti mencari ikan, mencari burung dan mencari gaharu.

Sungai Lisun juga menjadi tempat dimana kami melakukan survey. Setelah melakukan survey dibagian hulunya, kami melanjutkan survey ke arah hilirnya. Dipinggir-pinggir sungai ini terdapat banyak jalan setapak masyarakat, sehingga dengan mudah kami mengikuti jalan setapak tersebut menuju arah hilir sungai, sesekali kami menyeberangi sungai yang harusnya lumayan deras, meskipun kedalamannya hanya satu meter tapi sangat menyulitkan kami untuk menyeberanginya. Jika pijakan tidak kuat, siap-siaplah terpeleset dan jatuh kedalam air. Bahkan, jika tidak mampu menahan air maka kami akan hanyut terbawa arus.

Berhasil menyeberangi sungai yang cukup luas itu, perjalanan dilanjutkan mendaki bukit yang terdapat dipinggir sungai tersebut dan mencari jalan setapak menuju hilir sungai. Lebih kurang 500 meter kami berjalan mengikuti jalan setapak tersebut, kami turun kembali ke sungai dan menelusuri aliran sungai.

Setelah berjalan setengah jam menelusuri sungai, kami menemukan bekas pondok masyarakat yang terlihat masih kokoh dan kuat, didepan pondok tersebut terdapat pulau kecil dengan bebatuan kerikil yang bertaburan di atasnya.

Melihat hari sudah sore maka kami memutuskan untuk memasang tenda di pondok masyarakat tersebut dan beristirahat di sana.

Dalam perjalanan ini kami tidak begitu banyak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa, hanya keberadaan babi hutan dan beruang yang kami temukan, masing-masing tanda jejak dan cakaran di pohon.

Disaat malam mulai merangkak, kami pun beristirahat melepaskan kelelahan dan keletihan berjalan di siang harinya, hingga pagi menjemput.

Pagi itu, tepatnya hari jumat, kami kembali melakukan aktivitas yaitu melakukan survey mencari tanda-tanda keberadaan Harimau dan satwa besar lainnya yang ada di kawasan ini. Kali ini kami menuju arah barat, melewati hutan yang lebat. Hawa dingin dan keheningan langsung membekap ketika melewati  punggungan bukit. Jalan yang kami lewati nyaris tidak tersentuh matahari karena rapatnya pepohonan dan kabut yang menyelimuti hutan.

Disini fauna hutan mulai terlihat, monyet-monyet dan beruk bisa dijumpai hampir disepanjang perjalanan. Tidak cuma monyet dan beruk, ungko dan siamang pun mulai mengeluarkan suara merdunya. Dari kejauhan kami mendengar suara ungko dan siamang sahut bersahutan satu sama lainnya. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas nya seolah-olah mereka sedang bernyanyi di dalam kegembiraan.

Dengan adanya suara ungko dan siamang yang saling bersahutan, maka bisa dikatakan keasrian hutan ini masih terjaga seperti yang kami lewati saat ini.

Kami terus berjalan menuju arah Barat, menyusuri hutan yang lebat dan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Serasah yang tebal menyulitkan kami untuk menemukan kebaradaan satwa. Hanya keberadaan babi hutan yang dapat kami temukan. Sebelum matahari terbenam kami telah kembali lagi ke pondok.

Malamnya kami mencoba diskusi untuk kegiatan esok harinya. Hari esoknya kami rencanakan untuk kembali menyusuri aliran Sungai Lisun. Tanpa kami sadari, malam itu hujan turun dengan derasnya sehingga membuat air sungai banjir dan keruh. Karena air sungai naik maka kami tidak bisa menyusurinya, airnya terlalu deras dan dalam. Maka diputuskan untuk membuat rintisan di pinggir sungai tersebut. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan dua orang pemuda yang sedang mencari burung Rangkong, atau masyarakat menyebutnya burung Onggang dan gaharu. Salah satu pencari burung Rangkong tersebut bernama Tulus yang berasal dari Desa Durian Gadang. Saat ditemui mereka sedang menumbangi pohon gaharu yang mereka temui. Disamping mereka terdapat senapan angin yang mereka gunakan untuk berburu burung Rangkong tersebut.

Kami sempat ngobrol-ngobrol sama mereka. Mengapa mereka mencari burung Rangkong tersebut? “Karena harga jualnya yang tinggi” jawabnya. Burung tersebut hanya kepalanya saja yang diambil dan dijual. Dikatakannya, saat ini burung tersebut sudah sangat sulit untuk ditemui karena sudah termasuk langkah. Kami pun menjelaskan bahwa saat ini burung Rangkong tersebut adalah burung yang dilindungi. Mendengar perkataan kami mereka hanya diam. Kami juga menjelaskan begitu pentingnya kita menjaga kelestarian hutan.

Setelah bercerita panjang lebar sama mereka, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pengamatan terus kami lakukan, mengamati apa yang ada disekeliling kami. Baru berjalan sekitar satu kilometer, kami kembali bertemu dengan enam orang masyarakat yang katanya berasal dari Desa Sesawa, Kecamatan Sijunjung. Kami pun kembali berbincang-bincang, rupanya mereka sedang mencari ikan di Sungai Lisun ini. Berbagai macam alat tangkap ikan yang mereka bawa, pancing, jala, jaring dan tembak ikan. Hasil tangkapannya ini akan dijual kepada masyarakat sekitar.

Memang sungai lisun ini terkenal dengan berbagai macam jenis ikan. Dan ikannya juga lumayan banyak. Maka tidak heran jika masyarakat setempat pergi ke daerah Sungai Lisun ini untuk mencari ikan. Apalagi lokasinya juga tidak terlalu jauh dari perkampungan. Hanya membutuhkan waktu empat jam, mereka sudah sampai di sungai tersebut. Itu perjalanan mereka karena mereka juga sudah hafal jalan untuk menuju daerah ini. Belum tentu dengan kami yang masih buta dengan daerah ini, karena kami hanya mengandalkan peta dan gps sebagai penunjuk jalan.

Kami tidak sempat bercerita banyak dengan mereka, karena mereka bergegas pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Dan begitu pula kami, juga melanjutkan perjalanan menuju hilir sungai sebelum hari beranjak sore.

Sudah sepuluh hari kami berada di dalam hutan dan telah menyelesaikan sebanyak tujuh belas transek. Target yang harus dicapai sebanyak dua puluh transek maka masih tersisa tiga transek lagi yang harus dilakukan.

Pagi itu tanggal 3 september 2014 adalah hari terakhir kami. Hari ini kami akan menyelesaikan transek yang masih tersisa. Perjalanan ini tidak lagi menyusuri Sungai Lisun, akan tetapi menaiki bukit dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut sebelum kami turun menuju desa terdekat yaitu Desa Pinang Durian Gadang. Dengan semangat kami mulai menaiki bukit tersebut sambil melakukan pengamatan, perjalanan ini begitu menantang fisik dan mental. Apalagi jalan yang dilewati begitu sulit karena bukitnya begitu terjal, ditambah lagi fisik yang sudah menurun.

Langit terlihat gelap, sepertinya akan turun hujan, sedangkan kami masih asyik menaiki bukit terjal tersebut. Belum lagi kami sampai di puncak bukit, tiba-tiba hujan turun cukup deras, sehingga membuat langkah terhenti dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujannya semakin deras maka kami membentangkan terpal untuk berlindung dari derasnya hujan. Sampai tengah hari hujannya baru reda, maka kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Setelah sampai diketinggian 600 meter dari permukaan laut, kami melewati bukit gundul. Bukit tersebut hanya ditumbuhi tanaman pakis resam tanpa adanya pepohonan yang melindunginya. Selain gundul, bukit tersebut juga terdapat bebatuan lumayan tinggi dan terjal, ini menyulitkan kami untuk menaikinya.

Setelah berjalan satu setengah jam melewati bukit gundul, barulah kami mencapai keteduhan pepohonan yang masih tersisa dipuncak bukit tersebut. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami terus menaiki puncak bukit hingga sampai pada puncak tertingginya yaitu dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Dari puncak bukit ini kami bisa melihat perkampungan yang kami lewati sebelumnya, namun terlihat samar sebab tertutup kabut.

Di puncak bukit ini, kami kembali menemukan jalan setapak menuju perkampungan. Sepertinya jalan ini sering dilewati masyarakat ketika mereka pergi ke hutan. Dengan adanya jalan setapak ini maka kami tidak merasa kesulitan lagi, apalagi jalannya menurun tidak terlalu banyak menguras tenaga. Hanya saja, ketika itu fisik kami benar-benar sudah menurun, ditambah lagi bekal air minum juga telah habis sehingga membuat langkah kami sedikit lemah.

Perkampungan memang sudah terlihat, akan tetapi masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di perkampungan tersebut. Fisik semakin melemah, sehingga membuat perjalanan terasa semakin berat. Hanya semangat yang membuat kami kuat. Lambat tapi pasti, akhirnya kami tiba di perkampungan Pinang Durian Gadang dan menyelesaikan survey yang kami lakukan. Disini kami disambut dengan baik oleh masyarakatnya, mereka dengan senang hati menerima kedatangan kami. Maka kami pun istirahat dan menginap di salah satu rumah warga sebelum kami kembali ke Pekanbaru. Esok harinya, barulah driver Erizal datang menjemput setelah kami mengabarinya. Dan kami pun meninggalkan perkampungan Pinang Durian Gadang menuju Kota Pekanbaru.

Ini hanyalah cerita kecil tentang perjalanan kami disaat melakukan kegiatan survey Harimau dan satwa besar lainnya di kawasan Koridor Rimba, tepatnya di Kecamatan Sijunjung, Sumatera Barat.

Oleh: Kusdianto

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s