Sejuta Cerita di Bukit Rimbang Bukit Baling

Damai sekali rasanya apabila kita bisa sampai di kawasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Hutan lindung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat ini memiliki luas 136.000 ha. Ada beberapa sungai  mengalir di dalamnya, salah satu diantaranya ialah Sungai Subayang yang merupakan ikon kawasan lindung ini. Banyak sekali masyarakat tinggal disepanjang aliran sungai ini, dan mayoritas adalah Suku Melayu. Mereka sangat menjaga kebersihan sungai, airnya bening dan nyaris tidak ada sampah. Disetiap desa memiliki lubuk yang tidak boleh diganggu ikan-ikannya, baik itu dipancing ataupun dijala, mereka menyebutnya Lubuk Larangan. Sekali dalam setahun apabila waktunya sudah tepat dan kondisi air sedang dangkal, barulah lubuk ini akan dipanen. Beberapa dari penduduk yang tinggal disepanjang sungai ini bermata pencaharian sebagai pencari ikan.

Jonson

Jonson

Sarana transportasi yang digunakan masyarakat ialah perahu mesin atau biasa dengan sebutan Jonson atau Robin (sayangnya bukan Batman dan Robin). Perahu yang berkapasitas 7 hingga 10 orang ini mereka gunakan untuk kegiatan sehari-hari, diantaranya untuk mencari ikan, membawa getah, melangsir bahan bangunan, bahan makanan dan lain-lain. kendaraan ini ibaratnya merupakan nyawa mereka. Bisa dibayangkan apabila perahu ini tidak menggunakan mesin dan mendayung sampan dengan arus sungai yang lumayan deras, pasti akan sulit sekali dan waktu tempuh akan menjadi lebih lama. Senang sekali melihat perahu-perahu ini hilir mudik disepanjang Sungai Sebayang ini, disamping itu masyarakatnya juga sangat ramah.

Pada hari pertama perjalanan, sebelum masuk ke dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling, terlebih dahulu kami singgah di stasiun riset yang dibangun oleh WWF. Alangkah indah tempat ini. Sejak awal hawa sejuk telah menyambut kedatangan kami. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di stasiun yang dibangun tahun 2012. Sungguh sangat nyaman sekali bisa tinggal dan bermalam disini. It’s Amazing!

IMG_6824

Stasiun Riset Subayang

Padahal itu baru luarnya saja, bagaimana di dalamnya??

Satu malam kami tinggal dan beristirahat untuk persiapan perjalanan berikutnya. Pagi menjelang, kicauan burung dan teriakan ungko membangunkan tidur kami yang sangat lelap, ditambah lagi cuaca yang sangat cerah, seolah mendapatkan semangat baru, sungguh menenangkan pikiran. Rasanya tak ingin meninggalkan tempat ini, tapi perjalanan harus tetap dilaksanakan untuk sebuah misi yang lebih berharga lagi yaitu mencari keberadaan Si Datuk Belang yang juga merupakan salah satu satwa endemik Pulau Sumatera yang tinggal di dalam kawasan SM Bukit Rimbang Bukit Baling.

Dihari kedua kami bergegas menuju Desa Dua Sepakat yang berada di hulu Sungai Bio dengan menggunakan Robin. Di dalam perahu terdiri dari 2 (dua tim), yaitu tim 1): Zul, Awir, dan dua orang masyarakat tenaga lokal dari Desa Tanjung Belit. Sedangkan tim 2): saya sendiri, Leonardo, Defni dan Ibrahim. Sementara tim 3): .Kusdianto, Agung, Gebok dan Raus yang masuk dari Desa Mangunai Tinggi di Sumatera barat. Sepanjang perjalanan menuju Desa Dua Sepakat, banyak moment yang bisa kita foto apabila kita membawa kamera, diantaranya ada air terjun, beruk, pantai berbatu, lanskap dan beberapa jenis burung.

Hampir dua jam perjalanan kami berada di dalam perahu menuju desa. Setelah sampai, kami berhenti sejenak untuk berbincang kepada masyarakat di sana untuk sekedar meminta izin dan memberitahukan kegiatan yang akan kami lakukan. Setelah semua telah beres, kami melanjutkan kembali perjalanan menuju Desa Ngungun yang merupakan desa terakhir untuk mendekati kawasan. Jarak dari Desa Dua Sepakat dan Desa Ngungun ini kurang lebih satu jam ditempuh dengan berjalan kaki dan menggunakan sepeda motor.

Kedua tim beriringan menyusuri jalan yang baru saja didozer menuju Desa Ngungun. Cuaca yang sedikit mendung tak menyurutkan perjalanan kami, ditambah lagi beban yang didalam carrier masih berisi penuh dengan peralatan logistik dan peralatan lainnya. Inilah awal dari petualangan yang sebenarnya, lengkap dengan seragam lapangan, carier dan sepatu boat menambah rasa percaya diri. Tim terlihat gagah dengan ini semua. Pohon yang berdiri tegak dengan daun yang hijau seperti payung yang selalu menjaga kami sepanjang perjalanan.

Setelah sampai di desa ini, kami disambut oleh salah satu masyarakat dan ditawari untuk beristirahat dirumahnya, kami seperti dapat keluarga baru yang begitu baik disini. inilah hidup, perlu rasa peduli antara satu dengan yang lain.

Keesokan harinya pada hari ketiga, kami 2 tim masih bergerak beriringan menuju pinggir grid 17 x 17 dan belum bisa melakukan survey. Kegiatan kali ini adalah survey occupancy mencari tanda keberadaan Harimau Sumatera berdasarkan tanda berupa cakaran di tanah atau di pohon, kotoran dan juga informasi dari masyarakat setempat yang bermukim di sekitar kawasan Bukit Rimbang Bukit Baling, yang dibagi 20 transek per setiap timnya dalam satu blok .

Kondisi carier masih dipenuhi logistik dan peralatan lainnya, meski lokasinya belum begitu berbukit, tetapi cukup untuk menguras sedikit tenaga. Ada satu kejadian yang sangat lucu pada saat perjalanan ini. Ibrahim adalah salah seorang tenaga lokal baru dari Redang, baru kali ini dia ikut survey, mandah di hutan apalagi menyandang carier adalah dua hal yang baru bagi Ibrahim. Hari pertama dan kedua masih aman karena belum memasuki hutan, baru pada hari yang ketiga mulai berangsur masuk kedalam kawasan.

Dihari yang ketiga ini ada satu kejadian yang sangat tersimpan diingatan saya. Saat kami sedang beristirahat dan menyandarkan karier kami di pohon tumbang yang melintang, semua masih dalam keadaan oke. Ibrahim pun tiba dan langsung ikut meletakkan cariernya di kayu yang sama, tetapi agak sedikit tinggi dari posisi kami yang lebih dulu sampai, maklum aja masih pemula jadi sering tertinggal dibelakang.

Saat kami tengah enak beristirahat, tiba-tiba bunyi “gedebukkk!” spontan kami menolah ke asal suara itu. Ternyata Ibrahim tengah terjungkal ke belakang dibawa oleh carier yang disandangnya. Kami semua kaget, bahkan ada yang ingin tertawa saat melihat kejadian itu, tapi coba ditahan agar Ibrahim tidak malu. Saya langsung bergegas mendekati untuk membantunya yang sedang berusaha untuk membalikkan badannya. Kedua kaki Ibrahim bergerak mengais-ngais mencari tumpuan untuk berdiri, mirip sekali seperti kura-kura. Untung saja Ibrahim tidak mengalami cedera, namun mukanya terlihat pucat, entah karena kaget akibat jatuh tadi atau karena malu. Saya coba memberi semangat kepadanya agar mental tidak drop.

Setelah melanjutkan kembali perjalanan, tawa yang saya tahan sejak tadi terpecah mengingat kejadian Ibrahim yang jatuh tadi, tetapi tetap tanpa sepengetahuan beliau. Wah… sungguh perjalanan yang menyenangkan, tim yang sangat keren, senang sekali bisa mengenal mereka semua. Malam ini kami masih berada dalam satu tenda bersama dengan tim Zul dkk. Camp dibuat cukup besar yang dapat menampung 8 (delapan) orang, di dalam tenda saat malam hari tiba, tawa kami semua baru lepas saat cerita dibuka kembali, Ibrahim pun yang menjadi objek cerita juga ikut tersenyum-senyum. Semoga perjalanan bersama tim ini menjadi suatu bahan menarik untuk diceritakan ke anak cucu kita nanti…

Salam Rimba!

Fendy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s