impian terakhir suku anak dalam

suku anak dalam

Di penghujung tahun 2011 yang baru saja lewat, saya bersama tim menempuh perjalanan lebih kurang 10 jam dari Pekanbaru di Provinsi Riau menuju Rimbo Bujang di Provinsi Jambi. Bersama mobil daihatsu hiline berwarna hijau daun atau yang sering kami sebut “ranger hijau”, kami kembali menuju kawasan hutan yang menjadi penghubung hutan Bukit Tigapuluh dan hutan Rimbang Baling. Salah satu bagian dari perjalanan tersebut yang meninggalkan kesan yang begitu kuat bagi saya adalah ketika kami menemui sekelompok suku anak dalam yang berdiam di pinggir kawasan hutan di Hutan Lindung Bukit Sosa.

sungai di hutan

sungai di hutan

Ditemani sinar matahari senja dan diantara kepul asap rokok, telinga saya terkesima oleh setiap bait ucapan yang dilontarkan Pak Bujang, pemimpin kelompok orang rimba itu. “kami tahu PT itu punya hak untuk mengolah hutan karena merak sudah ada izin dari pemerintah. Hanya kami minta pembagian yang jelas saja, di bagian mana yang bisa tetap untuk penghidupan kami. Sudah ada yang datang dan menjanjikan  kalau perusahaan telah menyisakan lebih kurang dua ribu hektar untuk suku anak dalam, namun belum ada kejelasan tentang ini. Kami lahir dan besar disini. Ketika hutan masih luas kami terbiasa berpindah-pindah ke bagian hutan yang lain. Namun kini, hutan telah semakin sedikit. Kami bisa belajar untuk hidup menetap di satu tempat, tapi dengan syarat masih ada kawasan hutan tempat kami untuk mandau: mencari jernang, berburu bari dan labi-labi, memanfaatkan apa yang hutan sediakan..” 

Saya tertegun. Bahkan ketika kebudayaan mereka yang hidup berpindah tempat musti hilang berganti hidup menetap, bahkan ketika kawasan hutan yang dulu mereka rajai kini telah hilang, dan bahkan ketika keberadaan mereka terhimpit oleh konsumsi berlebihan masyarakat perkotaan , mereka, masyarakat suku anak dalam, penghuni dan penjaga hutan di sumatra, tetap dengan kebijksanaan mereka, tetap dengan penghormatan mereka terhadap hak orang lain. Bahwa hutan dan segala isinya bukanlah milik seseorang atau satu kelompok, tapi hutan adalah milik bersama yang seharusnya dibagi.

Masyarakat suku anak dalam siap untuk menerima keberadaan kita. Mereka siap untuk berbagi dengan kita. Akankah kita punya niatan yang sama dengan mereka?

Iklan

Belajar Menghormati Alam dari Orang Rimba

Orang Rimba merupakan salah satu komunitas masyarakat adat di Indonesia yang mendiami Taman Nasional Bukit Duabelas, Provinsi Jambi dan terletak di perbatasaan tiga kabupaten yaitu Batang Hari, Tebo dan Sarolangun.

Mereka tinggal secara berkelompok sekitar 59 kelompok dan kalau dihitung jumlah populasi mereka saat ini kurang lebih sekitar 3500 jiwa (menurut perhitungan 2010). Yang menarik dari Orang Rimba adalah mereka terkenal sangat arif terhadap lingkungan. Hingga saat ini Orang Rimba masih mempertahankan tradisi budaya dari nenek moyang yang berpusat pada hutan sebagai sumber filosofisnya.

Namun perlahan tapi pasti, ruang hidup mereka kini terancam akibat maraknya perluasan perkebunan kepala sawit ke areal Taman Nasional Bukit Duabelas. Nah seperti apa kondisi mereka saat ini? dan bagaimana Orang Rimba beradaptasi dengan masyarakat luar dengan tetap mempertahankan kelestarian hutan yang menjadi indentitas Orang Rimba?. Arie Utami* beberapa waktu berkesempatan berbincang dengan Kepala Adat Orang Rimba, Tumengung, Mijak dan Pengendum, saat mereka berada Jakarta bersama Kelompok Makekal Bersatu (KMB) untuk menyuarakan hak-hak mereka dan ancaman yang terjadi di dalam rimba tempat tinggal mereka. Berikut perbincangan mereka.

Bagaimana kehidupan Orang Rimba saat ini?
Ruang hidup kami terdesak, rimba kami terancam. Kami Orang Rimba yang tinggal di dalam bukit Duabelas yang jaraknya berkilo-kilometer jauhnya dari peradaban modern saat ini terancam karena perluasaan perkebunan sawit dan juga terdesak atas nama konservasi.

Pembukaan perkebunan sawit secara besar-besaran membuat dampak yang sangat besar bagi kehidupan Orang Rimba. Saat ini pohon-pohon untuk acara adat sulit ditemukan karena sudah berganti menjadi tanaman monokultur saja seperti sawit atau pembukaan hutan untuk perkebunan lain.

Apa yang dirasakan Orang Rimba dengan semakin sempitnya ruang hidup di Bukit Duabelas?

Orang Rimba hidup dari alam dan sangat menghormati segala bentuk pemberian dari alam. Bahkan penanda kehidupan Orang Rimba adalah sebuah pohon. Indentitas kami seperti hilang ketika pepohonan kami hilang berubah menjadi lahan perkebunan. Kehidupan kami bergantung pada bercocok tanam dan berburu. Saat ini hutan tempat kami berburu sangat sempit dan juga hewan-hewan yang dulu banyak di hutan sudah berkurang seperti rusa dan kancil.

Di sungai, air yang biasanya kami langsung minum dari sungai-sungai yang ada di hutan. Tidak ada sumur di dalam rimba. Air sungai pun tidak sembarangan. Mereka hanya minum air yang airnya bening. Bila mereka memasak air, airnya juga diambil dari sungai. Umumnya sungai di rimba airnya sangat jernih dan sangat mengundang siapapun untuk meminumnya. Implikasi dari cara Orang Rimba meminum air adalah larangan untuk buang air besar maupun kecil di dalam sungai-sungai di rimba. Mereka buang air besar di darat. Istilah untuk itu adalah bingguk.

Namun kini tak bisa lagi air sungai langsung kami minum. Perkebunan sawit menggunakan pestisida dan pupuk yang limbahnya mengalir ke sungai-sungai, tepat kami biasa mengambil air dan luasan sungai itu menjadi lebih dangkal. Sekarang air harus kami masak terlebih dahulu sebelum di minum karena limbah pestisida tersebut sangat merusak air dan tubuh kami menjadi sering sakit.

Pembukaan lahan yang dilakukan beberapa masyarakat (bukan Orang Rimba) pun menjadi salah satu ancaman untuk kami. Mereka sering membuka hutan dengan membakar. Dan hal itu sangat dilarang oleh hukum adat Orang Rimba. Walaupun dahulu kami tinggal berpindah-pindah, kami tidak diperbolehkan menghancurkan alam. Hukum adat di Orang Rimba berlaku untuk semua bahkan ketika Ketua Adat melakukan kesalahan mereka pun mendapatkan hukuman yang sama. Salah tetap salah, itulah keadilan.

Bisakah Orang Rimba beradaptasi dengan pengaruh kehidupan modern di luar?

Kehidupan kami sederhana, hanya di sebuah bilik dan hutan lah tempat kami hidup. Kami tahu kehidupan dahulu dan saat ini memang sangat berbeda tetapi kami tetap menghormati segala perubahaan. Contoh kecil belakang ini masyarakat kami banyak yang menggunakan pakaian layaknya masyarakat lain karena kami menghormati tamu yang sering berkunjung ke tempat kami.

Begitu juga yang kami inginkan untuk rumah kami, rimba kami, hutan kami di Bukit Duabelas. Masyarakat harus menghormati apa yang ada di Bukit Duabelas bersama menjaga dan menghormati seluruh isinya.

Sumpah orang Rimba : “Ber-ayam kuau, berkambing kijang, berkerbau rusa, beratap lipai, berdinding banir.” Artinya mereka pantang memakan hewan yang diternakan, dan untuk rumah mereka tidak menebang pohon.

copas dari http://greeneration.tumblr.com/post/13307270033/belajar-menghormati-alam-dari-orang-rimba

lebih lanjut tentang Orang Rimba silakan kesini http://perpustakaanrimba.wordpress.com/tentang-orang-rimba/

Pola Perburuan Ilegal Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat

Konservasi Alam Edisi III Tahun 2009 (Penulis: Dian Risdianto)

Pemahaman tentang konservasi satwa liar yang tipis dan lemahnya penegakan hukum menyebabkan perburuan terlihat lumrah dan legal. Hal itu dapat memunculkan masalah serius, yaitu kepunahan satwa liar.

Harimau sumatera, Panthera tigris sumatrae, satu di antara sembilan subspesies harimau di dunia, dan satu-satunya subspecies harimau yang masih hidup di Indonesia. Dua subspesies harimau lain yang pernah mendiami Nusantara sudah dinyatakan punah: harimau bali (P.t. balica) pada 1940-an dan harimau jawa (P.t. sondaica) pada 1980-an (Ramono dan Santiapillai, 1994; Seidensticker et al.,1999).

Hasil penilaian populasi dan kelayakan habitat pada 1992 menyimpulkan hanya ada 500 individu harimau sumatera yang masih bertahan hidup (Ministry of Forestry 1994). World Conservation Union (IUCN) juga menetapkan harimau sumatera sebagai spesies kritis yang terancam punah (IUCN 2007).

Status kritis itu belum mampu menghentikan perburuan illegal harimau sumatera, sehingga populasinya terus menyusut. Saat ini diperkirakan tersisa 250 individu dewasa harimau sumatera yang masih betah hidup di delapan dari setidaknya 18 kawasan yang diduga sebagai tempat hidupnya (Departemen Kehutanan 2007).

Informasi pola perburuan ilegal harimau sumatera dan satwa mangsanya diperlukan untuk menentukan strategi pen¬anganan yang tepat dan efektif. Berkaitan dengan hal itu, dilakukan penelitian ini di Taman Nasional Kerinci Seblat dan seki¬tarnya.

Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi harimau yang paling signifikan di dunia (Wikramanayake et al., 1998). Populasi terbesar harimau su¬matera berada di kawasan ini dengan 136 ekor harimau sumatera yang masih bertahan hidup (Linkie 2005 dalam Departemen Kehutanan 2007).

Tilson & Traylor-Holzer (1994) menduga ada sekitar 36 harimau sumatera diburu secara ilegal pada awal 1990-an. Selama 1998 – 2002, sekitar 253 harimau sumatera dibunuh atau ditangkap hidup-hidup, dengan rata-rata 51 harimau sumatera per tahun (Shepherd dan Magnus, 2004).

Tidak mengejutkan, bila Indonesia dipandang sebagai sumber tulang harimau terbe¬sar di dunia dan pemasok utama untuk pasar organ tubuh dan produk harimau di Asia Timur. Selama 1973 – 1993, sebanyak 44,5 persen dari 8.981 kg tulang harimau yang masuk Korea Sela¬tan berasal dari Indonesia (Mills dan Jackson, 1994). Selain untuk ekspor, perdagangan bagian-bagian tubuh harimau sumatera, seperti kulit, kumis dan tulang, juga cukup marak di pasar do¬mestik (Shepherd dan Magnus, 2004).

Meskipun telah ada dokumen Strategi dan Rencana Aksi Kon¬servasi Harimau Sumatera sejak 1994–direvisi pada 2007, na¬mun, sampai saat ini perburuan ilegal harimau sumatera belum dapat tertangani dengan baik dan efektif.

Upaya penegakan hukum masih belum optimal untuk memberantas perburuan ilegal kucing besar ini. Hal itu disebab¬kan banyak faktor, salah satunya, kurangnya data tentang pola per¬buruan ilegal harimau sumatera.

Penelitian selama Januari 2004 hingga Januari 2008 ini, membuka tabir beberapa pola perburuan harimau.  Sebanyak 97 persen pemburu berasal dari etnis lokal yang ting¬gal di sekitar habitat harimau. Ketrampilan para pemburu di¬peroleh secara turun temurun dari para pendahulunya atau dari orang yang suka berburu harimau.

Di sisi lain, etnis lokal di seki¬tar Kerinci Seblat memiliki penghormatan tradisional terhadap harimau sumatera (Nugraha 2005). Saat terjadi konflik antara harimau dan manusia, masyarakat lokal menggelar upacara adat permohonan maaf. Masyarakat percaya, kehadiran harimau di pemukiman merupakan sebuah bentuk teguran. Dengan de¬mikian, nampak penghormatan tradisional etnis lokal itu telah mengendur.

Sebagian besar pemburu ber¬mata pencaharian petani. Sekitar 70 persen dari 1,4 juta penduduk yang tinggal di sekitar Kerinsi Seblat adalah petani (Komponen A: Park Management Kerinci Seblat – ICDP 2002). Hal ini juga berarti berburu harimau sumat¬era bukanlah aktivitas yang dapat dijadikan sebagai sumber utama pendapatan ekonomi.

Sekitar 52 persen perburuan ilegal harimau dilakukan pemburu yang berdomisili di desa yang berbatasan dengan  Kerinci Seblat. Sisanya, 48 persen dilakukan oleh orang dari desa yang tidak berbatasan langsung. Secara statistik, orang dari dua tempat domisili itu berpeluang sama untuk menjadi pemburu harimau.

Sebagian besar pemburu bermotif komersial, bukan karena konflik manusia dengan harimau sumatera. Motif inilah yang mendorong perburuan dilakukan secara regular, dengan jaringan perburuan dan perdagangan ilegal yang terjalin rapi dan terorganisir.

Perburuan umumnya dilaku¬kan secara berkelompok dengan memakai jerat dan senjata api yang dilakukan pada siang hari. Perburuan pada siang hari ini diduga berhubungan dengan alat berburu yang digunakan dan pola aktivitas harian hari¬mau sumatera.

Para pemburu juga memiliki jaringan tetap dengan penam¬pung atau pembeli hasil buruan. Tak jarang, para penampung juga menjadi pemodal bagi pemburu, dengan memberikan sejumlah uang dan/atau peralatan buru. Nowell (2000) menyatakan, In¬donesia mempunyai pasar lokal perdagangan produk harimau yang substansial dan terorgani¬sir. Di pasar gelap domestik, kulit harimau menjadi primadona, sedangkan di pasar gelap interna¬sional, tulangnya menjadi objek utama perdagangan untuk obat tradisional China.

Untuk menangkal perburuan ilegal, beberapa langkah bisa diambil: 1. menumbuhkan dan menerapkan kembali penghor¬matan tradisional masyarakat lokal terhadap harimau sumatera; 2. Pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal; 3. Penyadartahuan dan pendidikan konservasi hidupan liar yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal dan masyarakat umum; 4. Melibatkan masyarakat lokal dalam pengamanan dan pengelolaan taman nasional; 5. Pembuatan pos jaga di jalur-jalur akses masuk kawasan Kerinci Seblat, menutup akses masuk yang rawan diguna¬kan untu perburuan ilegal, dan patroli anti-perburuan ilegal se¬cara rutin.

Di samping itu, investigasi juga perlu dikembangkan sebagai upaya pencegahan dini dan sumber data bagi penyusunan strategi penegakan hukum. Kegiatan investigasi dan penegakan hukum diutamakan di daerah sekitar ka¬wasan. Tak hanya itu, razia senjata api ilegal juga harus digalakkan oleh instansi berwenang di sekitar kawasan taman nasional ini. Terakhir, koordinasi antar-instansi terkait harus ditingkatkan untuk menangani perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal harimau sumatera.***

http://www.ditjenphka.go.id/?Page=Artikel&Do=Detail&ID=17

Penyelamat Hutan

saat mencari informasi tentang hutan Indonesia baik itu melalui laporan ataupun kliping berita, yang lebih sering didapatkan adalah sisi negatifnya: hutannya rusak, banjir dan longsor akibat hutan yang gundul, kekayaan hayati terancam punah, dan lain sebagainya. jadi, apakah kita masih punya harapan untuk melihat hutan Indonesia menjadi lebih baik? dan atau harimau sumatra yang saat ini sangat kritis jumlahnya di alam bisa terselamatkan dan tetap menjadi simbol nyata kebanggaan kekayaan satwa bangsa ini? jawabannya IYA. harapan itu masih ada. pintu kesempatan masih terbuka. kepedulian, komitmen, kerja keras, dan pantang menyerah adalah modal kita untuk menyelamatkan hutan tersisa yang kita miliki dan kandungan kekayaan hayatinya.  pak sutaji dari lereng wilis, jawa timur, telah memberi contoh nyata pada kita. semoga memberi inspirasi dan motivasi untuk meneladani perjuangan beliau.

disadur dari :

Penyelamat Hutan di Lereng Wilis – KOMPAS/Kamis 26 Agustus 2010

penulis: Runik Sri Astuti

http://sains.kompas.com/read/2010/08/26/09031788/Penyelamat.Hutan.di.Lereng.Wilis-14

KOMPAS.com – Penjarahan kayu tahun 1998 membuahkan puluhan hektar lahan kritis di kawasan hutan lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ini menjadi sumber bencana banjir dan longsor serta matinya sumber air dan sumber ekonomi masyarakat. Namun, berkat kerja keras Sutaji, bencana berhasil dihalau dan hutan pun kembali menghijau.

Dalam kurun waktu sekitar 10 tahun, sedikitnya 61 hektar kawasan hutan yang gundul akibat euforia kebablasan para penebang pohon di kawasan hutan lindung ataupun hutan produktif telah menjadi rimbun kembali. Bahkan, puluhan hektar tanah tegalan dan pekarangan disulap menjadi lahan produktif konservasi yang berfungsi sebagai penyangga keberadaan hutan.

Kemakmuran pun terlimpah tidak saja bagi masyarakat di sekitar hutan, tetapi mengalir jauh hingga radius ratusan kilometer menyusur aliran Sungai Widas dan bermuara pada Sungai Brantas. Ini melintasi separuh wilayah Provinsi Jawa Timur.

Lebih dari 40 sumber mata air dihasilkan dari kegiatan penyelamatan hutan itu. Air dari mata air tersebut bisa mengairi ribuan hektar sawah di sekitarnya. Sumber mata air itu juga menghasilkan pesona wisata air merambat Roro Kuning yang keindahannya memikat wisatawan.

Upaya penyelamatan lingkungan itu dimulai oleh petani dari Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, yang hanya mengenyam bangku sekolah dasar itu. Tanpa bantuan dan hanya berbekal sedikit ilmu pengetahuan, ia berupaya menghentikan kegiatan perambahan hutan.

Sutaji harus berhadapan langsung dengan perambah hutan yang tak lain tetangga dan saudaranya sendiri. Di mata Sutaji, warga hanya korban dari iming-iming uang dan pekerjaan yang dijanjikan oleh bos kayu dari luar kota.

Memberi contoh

Sutaji sedih ketika membayangkan bagaimana warga desa jika kawasan hutan telah habis dibabat? Tak hanya pekerjaan yang hilang, lingkungan tempat tinggal mereka yang berbatasan langsung dengan hutan pasti juga hancur akibat banjir atau tebing yang longsor.

Sutaji - Kompas Image

Karena keprihatinan itulah, anak petani desa ini bergerilya dari satu orang ke orang lain, dari satu rumah ke rumah lain untuk mengampanyekan penghentian penebangan hutan dan mengoordinasi warga mengusir bos kayu yang hanya memanfaatkan tenaga dan kebodohan masyarakat untuk kepentingan sendiri.

Awalnya Sutaji mendapat penolakan keras. Ia dicemooh. ”Apa anakmu bisa dikasih makan kayu?” kata Sutaji menirukan ucapan pamannya sendiri.

Namun, dia tak menyerah. Ia justru tercambuk untuk berbicara pada setiap kesempatan, dari acara kumpul petani di sawah sampai pada pertemuan perangkat desa.

Hasilnya tidaklah mengecewakan. Lambat laun kesadaran warga mulai terbangun. Tanpa mau kehilangan momentum yang luar biasa mengharukan itu, Sutaji langsung memberikan contoh dengan menanami kembali kawasan hutan yang gundul.

Petani yang kehidupannya sendiri kala itu masih susah, rela menyisihkan waktu, tenaga, dan biaya dengan menyediakan ribuan bibit tanaman untuk ditanam di hutan. Ada pohon jati, sengon, mindi, cengkeh, trembesi, mangga, rambutan, dan avokad.

Pada 2000, Sutaji sempat meminta bantuan bibit kepada Perum Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan. Namun, permintaannya ditolak.

Di tengah perjalanan menghijaukan kembali kawasan hutan, tidak semua tanaman yang ditanam Sutaji tumbuh maksimal. Beberapa di antaranya bahkan mati. Ia pun kemudian menyadari bahwa butuh pengetahuan tentang tanaman yang cocok untuk kawasan hutan yang masuk wilayah Kesatuan Pemangkuan Hutan Kediri itu.

Tingkatkan kesejahteraan

Ketua Kelompok Tani Sidodadi, Desa Bajulan, ini lantas melobi sejumlah instansi pemerintah agar diikutkan pelatihan mengenai tanaman. Dari pelatihan itulah, Sutaji mendapatkan pengetahuan tentang jenis tanaman dan cara bercocok tanam di kawasan hutan.

Sutaji lalu mengajak petani membuat sistem persawahan terasering di lereng-lereng pegunungan yang curam untuk menahan aliran air yang sangat deras pada musim hujan.

Setelah menyelamatkan hutan, ayah dari dua anak ini kemudian berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan yang tidak memiliki lahan pertanian produktif. Caranya, antara lain, dengan memanfaatkan hutan untuk pertanian, tanpa mengubah, apalagi merusak, fungsi hutan itu sendiri.

Misalnya, menanam tanaman perkebunan yang bernilai ekonomis di bawah tegakan tanaman inti. Mereka harus cermat memilih jenis tanaman karena tidak semuanya bisa berkembang di bawah paparan sinar matahari yang kurang dari 100 persen.

Sejauh ini yang sudah menghasilkan adalah tanaman kopi, kakao, umbi porang, dan pohon atsiri. Hasil tanaman perkebunan itulah yang diambil masyarakat untuk menghidupi keluarga mereka. Sedangkan hasil tanaman hutan menjadi milik Perum Perhutani.

Selain bertani, sebagian masyarakat juga mendapatkan nilai tambah keekonomian dari kawasan wisata Roro Kuning yang mengandalkan pesona hutan dan air terjunnya. Ada yang menjadi penjaga loket, pedagang kaki lima, dan petugas pengelola lainnya.

Terbukanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat telah mencegah eksodus generasi muda mencari pekerjaan ke kota besar, bahkan ke luar negeri. Kesejahteraan masyarakat pun meningkat, di mana salah satu indikatornya dilihat dari kondisi rumah dan taraf pendidikan anak-anak.

Seperti halnya kelestarian hutan yang perlu dijaga, semangat untuk melestarikan hutan juga perlu dipupuk dan diwariskan kepada generasi muda. Untuk masalah yang satu ini, Sutaji merintisnya melalui kegiatan penyuluhan di sekolah-sekolah.

Harimau di Tahun Harimau

Penamaan konflik manusia dengan Harimau merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Memasuki pertengahan tahun 2010 yang masih disebut tahun Harimau berdasarkan hitungan tarikh tahun Tionghua kerap disebut Shio Harimau. Penanggalan Tahun tersebut menimbulkan beragam tafsir tergantung siapa yang menafsir, seperti versi kesenangan hingga ancaman. Tahun Harimau juga sejalan dengan ancaman terhadap keberadaan Harimau Sumatera yang diduga kian terancam seiring ekpolitasi hutan dengan nama pembangunan. Laju pembangunan yang mengedepankan sektor perkebunan berimbas memupuskan harapan hidup dan memperkecil akses hidup bagi Harimau yang secara langsung memutus akses mata rantai makanan, dengan eksploitasi hutan di kantung-kantung populasi Harimau. Kantung populasi tersebut tersebar dari Lampung, Riau hingga yang terbanyak populasinya di Provinsi Aceh. Beberapa Taman Nasional di Pulau ini tak mampu menopang daya dukung habitat bagi populasi Harimau di Sumatera. Bahkan sering terdengar Harimau bermain di tatanan enclave, ini juga indikasi bahwa Taman Nasional bukan habitat yang baku untuk kawasan proteksi habitat Harimau. Seiring dengan itu Harimau terdengar mengancam penduduk bahkan mata pencaharian penduduk, dan secara otomatis masyarakat cemas merasa terganggu dengan kehadiran Harimau dan disebut dengan konflik yang kerap disebut dengan konflik manusia dan Harimau. Padahal penamaan konflik juga merupakan pembahasaan salah yang sangat menyudutkan Harimau. Karena Harimau hidup hanya mencari makanan dan mempertahankan kawasannya dan makanan tersebut kadang berada di kawasan pemukiman, satwa mangsa berupa ternak di desa seperti sapi, kambing dan sebagainya dan kerap juga mengancam manusia. Sehingga kadang satwa Harimau yang hadir di desa membuat suasana mencekam. Kahadiran Harimau menjadi momok dan berimbas pada pembunuhan berencana terhadap Harimau oleh masyarakat desa. Laju pembunuhan juga berdampak sistematis pada penurunan jumlah populasi. Harimau mati terjerat akibat jeratan sengaja maupun tak sengaja seperti terkena jeratan Babi dan Rusa atau Harimau sengaja dijerat untuk diperdagangkan. Harimau mati diburu untuk kulitnya hingga Harimau dipelihara oleh manusia. Hal ini yang selalu menimpa top predator tersebut.

Penegakkan hukum untuk melindungi satwa kebanggaan Pulau Sumatera ini lemah, tak sebanding dengan keteranan namanya. Pertanyaan tersulit untuk dijawab, ”Bagaimana jika Harimau punah apakah yang akan terjadi bagi kondisi ekologi di daerah tersebut?”, “Apakah yang terjadi di hutan tersebut?” contoh kasus seperti yang terjadi Pulau Bali dan Pulau Jawa dimana satwa Harimau punah. Tapi dampaknya tak berpengaruh secara langsung. Harimau Jawa punah dan pada ranah ekologi juga tidak menjelaskan secara eksplisit bagaimana hilangnya rantai makanan, tak ada kejadian apapun di hutan Pulau Jawa dan Bali. Bahkan secara pragmatis di Pulau Bali kunjungan turis dari dulu hingga sekarang ramai berdatangan dan menjadi sumber ekonomi daerah tersebut. Ini juga terjadi di Pulau Jawa yang menjadi pusat bisinis nusantara yang menjadi macannya ekonomi Indonesia. Tak ada Harimau tak berpengaruh, juga tak ada analisis kuat tentang hilangnya Harimau juga hutannya kemudian berpangaruh, butuh argumen ilmiah terhadap pertanyaan-pertanyaan ini. Juga di Pulau Sumatera ketika Harimau tinggal ratusan ekor bahkan puluhan. Apakah dengan hilangnya habitatnya akan berpengaruh kepada tatananekologi dan mata rantai makanan? Atau kita hanya kehilangan satu species yang paling terkenal di dunia? Harimau Sumatera punah di hutan Sumatera dan hutannya menjadi kota dan menjadi ladang bisnis seperti di pulau Jawa dan bali. Kita gunakan analisa mudah dan tak perlu terlalu jenius untuk menganalisis hal ini; satwa Harimau yang memakan daging yang berasal dari satwa Rusa dan Rusapun memakan tanaman dan tanaman memakan unsur hara. Tanaman mati akan dimakan bakteri atau unsur hara dan unsur hara akan dimakan oleh pohon, pohon juga intermediate dan mati. Pohon mati diserap serangga penghancur dan Serangga penghancur tersebut dimakan Burung dan Burungpun dimakan Ular, satwa Ularpun dimakan oleh Cerpelai, Cerpelaipun dimakan Harimau. Simbiosis mutuliasme antara pemangsa dimangsa terjadi di alam berputar sesuai porsinya dan kesemuanya itu dimakan oleh manusia sang Mega Predator melalui jargon pembangunan dan manusia pun mati digrogoti penyakit melalui virus dan bakteri.

Harimau adalah bukti agungnya hutan kita di Pulau Sumatera, kebanggaan sosial budaya yang menempatkan Harimau sebagai simbologi keperkasan sang alam. Tak ada satwa yang diperlakukan dalam sejarah Sumatera yang diagungkan begitu dahsyat di hutan ini selain Harimau. Bahkan simbol Harimau terkesan mistis dan angker ini dibuktikan di Pulau Sumatera, penyebutan Nenek, Datok ini simbologi yang mengukuhkan eksistensi hutan Sumatera. Sosial budaya menyelamatkan Harimau, sebagai contoh masyarakat di sekitar hutan akan selalu was-was jika di hutan mereka ada Harimau, bahkan ada perlakuan khusus jika memasuki hutan itu agar tak berjumpa dengan Harimau. Konon jika bertemu Harimau membuat yang bertemu akan menjadi gila di kemudian hari dan mulutpun terkunci, maka iring-iringan doa dikumandangkan agar masuk ke hutan tak berjumpa dengan satwa besar itu. Perlakuan agung terhadap satwa Harimau terdengar di negeri India dan Tinghoa yang memperlakukan hal sama. Mereka menghargai dengan meletakan simbol Harimau yakni shio Harimau ke dalam hitungan tarikh mereka. Harimau begitu tegar, Harimau begitu anggun, Harimau memiliki kekuatan alam.

Seiring maraknya konflik Harimau yang terjadi di Pulau Sumatera dan pembukaan wilayah baru untuk alasan pembangunan di hutan di rumah Harimau, hutan yang selalu dibuka untuk kebun besar yang akan menyempitkan daya dukung Harimau berjelajah. Ini membuat status keberadaan Harimau terjepit sakit di antara roda-roda pembangunan yang mengindahkan kaedah konservasi. Kondisi saat ini adalah robeknya kantung-kantung populasi Harimau di Pulau Sumatera yang berada beberapa provinsi seperti di Lampung, Sumatera Barat, Riau dan kantung populasi terbesar di Provinsi Aceh. Kesalahan berulang-ulang dalam mendisain hutan melalui konsep tata ruang akan selalu dan selalu mengorbankan Harimau sang raja hutan dan pengikutnya satwa-satwa di hutan. Peluang untuk itu ada, dengan memasukan perencanaan Tata Ruang Pulau Sumatera berbasis ekosistem. Ini merupakan solusi strategis dalam upaya pembangunan sektor kehutanan berkelanjutan di Pulau Sumatera yang berbasis pendekatan ekologi untuk menyelamatkan populasi Harimau dan hutan sebagai rumahnya.

Shio Harimau atau Tahun Harimau menandakan bahwa Harimau akan masuk dalam kondisi kritis dan keterancaman habitat dan populasi atau kondisi yang akan menguntungkan bagi Harimau. Penuh harapan bahwa Tahun Shio Harimau ini akan menandakan bahwa Harimau akan bertambah baik jumlah populasinya. Seiring perbaikan signifikan terhadap habitat dan berproses pada dinamika populasi, atau telah diprediksi oleh orang-orang terdahulu dari tafsir petuah kuno di Sumatera ”Harimau Mati Meninggalkan Belang” Harimau telah ditakdirkan mati dan punah seperti layaknya mati sang Raja yang selalu dikenang sepanjang masa.

ditulis oleh: Azhar Lampoh

dimuat di Harian WASPADA Sumatra Utara

foto&gambar:

http://vanpoerba.wordpress.com/2010/01/05/macan-di-2010/