Beruang: masih kah binatang yang paling kaya?

Sebagian dari kita mungkin masih mengingat satu diantara teka-teki yang paling populer di tahun 1990an, bahkan mungkin masih cukup populer hingga saat ini, adalah tentang ‘satwa apa kah yang paling kaya?’ dan jawabannya adalah Beruang! cukup mudah karena dalam kata bahasa Indonesia, kata ‘beruang’ bermakna ber-uang atau memiliki uang. Beruang, meski tidak memiliki uang atau membawa uang keman-mana, adalah memang satwa liar yang kaya.

Beruang madu atau Malayan sunbear Helarctos malayanus  merupakan jenis beruang yang dimiliki Indonesia. Beruang madu dapat ditemukan di dua pulau besar Indonesia; Sumatera dan Kalimantan.  Daerah sebaran beruang madu cukup luas dan mencakup berbagai tipe habitat. Selain hutan hujan tropis dan hutan rawa yang banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan, Beruang madu juga dapat ditemukan di seluruh negara Asia Tenggara hingga ke batas timur India and Utara Myanmar. Tibet, Bangladesh, dan China (Provinsi Yunan) adalah tiga negara yang juga merupakan wilayah sebaran Beruang madu namun sayang telah punah.

Beruang madu

Beruang madu

 

Beruang madu merupakan jenis yang memiliki ukuran tubuh paling kecil, jumlahnya pun yang paling sedikit dibandingkan dengan jenis beruang lain. Meski bertubuh kecil, beruang madu diketahui memiliki sifat yang agresif dan berbahaya jika diprovokasi/diganggu. Beruang madu ditandai dengan tubuh ditutupi bulu lembut berwarna hitam, namun ada juga yang berwarna lebih terang seperti warna merah marun hingga oranye gelap bahkan abu-abu. Satu ciri beruang madu yang membuatnya unik adalah tanda di dadanya yang berbentuk seperti bulan sabit tebal berwarna kuning tepat di bawah lehernya. Jika dilihat sekilas maka Beruang madu tampak seperti memakai kalung emas.

Beruang diketahui sebagai satwa omnivora, artinya spesies ini mengkonsumsi tumbuhan dan hewan. Serangga seperti semut dan rayap adalah jenis-jenis hewan yang dikonsumsi oleh beruang. Selain itu, beruang juga dikenal sangat suka sekali dengan madu. Pasti pada tahu Winnie the Pooh kan? beruang ramah dan banyak teman yang hampir di setiap kesempatan memegang kendi berisi madu. Nah, bagi pemanen madu hutan di Taman Nasional Tesso Nilo, beruang adalah satwa liar yang sangat tidak inginkan tatkala sarang-sarang lebah telah penuh dengan madu. Karena jika ada beruang maka berarti manusia dan satwa liar musti bersaing untuk hasil hutan yang sangat bernilai itu. Namun sama seperti satwa liar lainnya, beruang secara alami menghindari pertemuan dengan manusia. Jadi, meski misalnya beruang sudah terlebih dahulu berada di pohon bersarang madu, ketika manusia datang, maka dia akan pergi menyingkir. Semoga sebelum sang beruang menyingkir, dia sudah sempat memanen sendiri madunya ya sehingga tidak harus pulang dengan perut kosong.

Melalui camera trap atau kamera jebak yang digunakan oleh tim WWF Indonesia untuk mempelajari tentang harimau sumatera, keberadaan beruang madu juga terekam di Lanskap Tesso Nilo – Bukit Tigapuluh di bagian Sumatera bagian tengah, khususnya di Propinsi Riau. Keberadaan beruang di lanskap ini bersaing ketat dengan harimau, dimana di semua lokasi tim menempatkan kamera jebak, disitu pula beruang madu juga terfoto. Dari kawasan hutan perbukitan di Suaka Margasatwa Rimbang ataupun di Hutan Lindung Bukit Batabuh – Bukit Koridor maupun Bukit Bungkuk, kawasan hutan dataran rendah Tesso Nilo, hingga kawasan hutan rawa gambut di Kampar Peninsula dan Suaka Margasatwa Kerumutan. Keberadaan beruang madu tidak hanya terbatas di kawasan konservasi atau hutan lindung saja, melainkan di kawasan hutan tanpa status perlindungan, seperti hutan produksi maupun kawasan hutan tanaman yang berbatasan dengan hutan alam.

Preferensi bentang habitat yang cukup luas ini menandakan beruang madu yang cukup adaptif terhadap beberapa tipe habitat yang berbeda, sekaligus secara tidak langsung menunjukkan betapa kaya satwa liar yang satu ini karena mampu ‘merajai’ Lanskap Tesso Nilo – Bukit Tigapuluh. Waktu aktif beruang madu juga seakan mengikuti putaran waktu, mulai dari jam 00 di malam hari hingga jam 12 siang dan terus hingga ke jam 23:59.  Berbeda dengan jenis beruang lain, beruang madu tidak perlu melakukan hibernasi, atau menjadi tidak aktif sama sekali untuk menghemat energi. Hibernasi umumnya dilakukan pada musim dingin dan hanya oleh satwa-satwa yang hidup di negara empat musim. Karena beruang madu hidup di hutan-hutan tropis, maka dia tidak perlu melakukan hibernasi karena sumber pakan tersedia sepanjang waktu.

Sayangnya diantara delapan jenis beruang yang ada di dunia, beruang madu adalah jenis yang paling sedikit diteliti. Padahal, seiring banyaknya habitatnya yang berganti menjadi perkebunan dan kawasan hunian masyarakat, populasi beruang madu juga menjadi terdesak sehingga oleh lembaga konservasi dunia, IUCN, dikategorikan dalam kondisi Vulnerable atau Rentan. Jika ada mahasiswa biologi atau kehutanan yang masih bingung karena belum menemukan topik penelitian, beruang madu menarik juga lho untuk dijadikan obyek penelitian. Setelah penelitiannya rampung, jangan lupa dipublikasiin ya. Di blog atau di media apapun, supaya informasinya dapat bermanfaat bagi lebih banyak orang lagi.

Pustaka

Malayan sun bear http://www.arkive.org/malayan-sun-bear/helarctos-malayanus/

Helarctos malayanus http://www.iucnredlist.org/details/9760/0

Iklan

Rimbang Baling #5: perjumpaan dengan ulat genit

Bangun di pagi hari ini menandakan ini adalah hari ke-3 dalam perjalanan kami di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Camp kami, bernama Camp Tangga Jempol, persis menghadap sungai. Camp yang tim bangun dari kayu dan bumbu memiliki kisah tersendiri dengan namanya. Ceritanya, saat membangun bagian tangga dari camp ini, jempol tangan kiri bang Fendy terkena parang, sehingga jadilah camp ini dinamanakan Camp Tangga Jempol.

Hujan yang turun semalaman menyisakan awan mendung. air sungai yang terlihat berwarna keruh, permukaannya pun sedikit lebih tinggi dibandingkan sore sebelumnya. Biji cempedak rebus yang aku makan tadi malam seakan memberi dorongan lebih untuk segera memenuhi panggilan ritual pagi.

Untuk pengambilan kamera pada blok ini, kami membagi diri menjadi 2 tim; aku dan bang Fendy, sementara bang Atta bersama mas Agung. Bang Amri sendiri kebagian menjaga camp. Karena lokasi kamera bang Atta lebih jauh, maka mereka mendapat prioritas untuk membawa bekal.

“Bang Fendy, rute kita bagaimana?” tanyaku saat kami mulai jalan. “Rutenya? hanya ada satu tanjakan kok” jawab bang Fendy santai. Aku yang mendengar itu langsung tersenyum lega. Tapi beberapa saat kemudian, bang Fendy yang berjalan di sampingku melanjutkan, “dibaliknya ada satu tanjakan lagi. setelah itu satu tanjakan lagi. abis itu ya ada tanjakan lagi.. begituu seterusnya”. aku bengong selama sesaat sebelum menyadari bahwa bang Fendy sudah berada di depanku tampak berjalan cepat. tak lama suara tawanya menggantikan suara serangga hutan, “hahaha… kena ya aku kerjain” menyadari itu mau tak mau aku ikut tertawa. dengan tripod mengacung di tangan, aku berlari mengejar bang Fendy yg telah lebih dulu berlari menjauh.

Kejar-kejaran itu hanya bertahan sebentar. berlari di tanjakan itu, terlebih sambil tertawa cukup menguras energi. yang asik dari tanjakan yang kami lalui kali adalah tanjakan panjang yang bersih. aku menamakan bukut ini sebagai bukit palem karena sepanjang penggungan terdapat banyak tanaman palem. Diantara palem-palem tersebut kami mendengar nyanyian Siamang, Symphalangus syndactylus. Suaranya jelas dan terasa dekat sekali dengan kami. Kami pun berjalan dengan hati-hati, berupaya sebisa mungkin tidak bersuara dan berharap dapat melihat Siamang tersebut. Mas Agung yang pertama kali memberi kode bahwa dia melihat Siamang. Aku bergegas menuju ke tempat mas Agung berdiri. Diantra hijaunya tajuk pepohonan, aku berusaha mencari sosok hitam. Kamera kusiapkan di atas tripod. Namun Siamang yang sepertinya mengetahui keberadaan kami berhenti bernyanyi dan terdengar tidak nyaman dengan kehadiran manusia di dekatnya.

Bang Fendy berkata dia melihat ada induk yang membawa anak. woww kalau bisa terfoto atau terekam kamera pasti sangat keren. sayangnya kameraku punya zoom terbatas, tidak mampu menjangkau obyek yang jauh, pun siamang tersebut mulai pindah. Aku bisa melihat ada dua sosok hitam berayun diantara dedaunan yang membentuk kanopi hutan. Aaah aku memang tidak melihat jelas mereka tapi pengalaman ini membuatku sungguh terkesan. Menyaksikan siamang berayun siamang berayun diantara kanopi yang lebat di punggungan bukit ini jauh lebih damai rasanya ketimbang melihat tayangannya di TV, karena jelas ini lebih nyata dan aku senang mengetahui mereka masih hidup liar dan mendiami hutan Rimbang Baling.

Kamera yang aku ambil bersama bang Fendy berada pada jalur satwa di punggungan bukit. Jalurnya bagus, lurus dan jelas. Dari hasil kamera kami mendapat kucing emas Pardofelis temmincki dan macan dahan Neofelis diardi. Sayang, sang datuk tidak ada yang terfoto. Padahal kata bang Fendy, bulan lalu di lokasi ini keberadaan harimau berhasil di terfoto. Mungkin harimau tersebut menjelajahi bagian lain dari hutan Rimbang Baling dan belum kembali di lokasi kamera ini. Di daerah perbukitan, homerange harimau lebih luas dibandingkan harimau yang di hutan dataran rendah karena ini terkait dengan ketersediaan pakannya. Di dataran rendah, jenis satwa mangsa lebih bervariasi, jumlahnya pun lebih melimpah dibandingkan di dataran tinggi.

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

Dalam perjalanan kembali ke camp, ada burung pelatuk ayam yang menemani kami mengambil gambar jamur kecil di sebuah batang pohon mati. Saat menuruni tanjakan yang pagi tadi kami lalui, bang Fendy tak sengaja tersengat ulat bulu. Karena ulat bulunya masih menempel di balik daun, maka kami coba melihat seperti apa ulat bulu yang telah genitnya mencium bang Fendy. Rupanya sang ulat pantas untuk berlaku genit karena ulat bulunya cantiiik  sekali. Warna oranye ngejreng, plus banyak durinya seperti buah durian. keren! Tapi untuk jenisnya kami belum tahu. Kalau ada pembaca yang tahu, atau kenal dengan orang yang mungkin tahu jenis ulat bulu ini, tolong kami dikabari ya. Terima kasih sebelumnya.

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

Masih dalam perjalanan kembali ke camp, kami bertemu rombongan bang Rawis yang kala itu sedang menandai beberapa pepohonan dengan cat warna biru. Bang Fendy sedang ngobrol dengan beberapa orang dari rombongan tersebut ketika seorang bapak umur sekitar 40an awal tiba-tiba saja menebang sebuah pohon muda di dekatnya. Aku melongo sekaligus dongkol. Apaan sih orang ini ga penting dan merugikan banget kelakuannya.

Mas Agung dan bang Atta pulang sekitar jam 5 sore dan membawa sekantung plastik cempedak hutan. Waaa… pesta cempedak! aku makan cempedak sampai sampai perutku tak sanggup lagi menerima. ini yang namanya kalap bin gragas, hahaha.

Bang Fendy+bang Atta+mas Agung hendak pergi memancing ketika bang Rawis dan beberapa kawannya datang ke camp kami. Mereka meminta peta kawasan Rimbang Baling untuk dijadikan acuan menandai lahan yang hendak mereka buka dan tanami dengan tanaman karet. Sewaktu kami di drop 3 hari yang lalu, aku melihat bang Zul memberikan peta ke mas Agung. Namun aku tau baik mas Agung maupun bang Fendy tidak akan memberikan apapun kepada mereka. Bang Fendy hanya menjawab singkat bahwa tim tidak membawa peta apapun karena sudah hapal rute yang harus dilewati. siip!

Kami baru makan malam ketika jam menunjukkan hampir jam 10 malam karena menunggu hasil mancing teman-teman. Lumayan ikan yang berhasil diperoleh, tidak hanya untuk makan malam kali ini tapi juga untuk keperluan makan besok hari. Untuk menu malam ini kami makan gulai ikan + labu siam. slruuuppp uenak tenan.

Rimbang Baling #4: hari valentine, pendakian mencret, dan cempedak

14 Februari 2012.. waah Hari Valentine! ini kedua kalinya aku melewatkan hari valentine bersama tim di lapangan. Tahun lalu kami memasang kamera di Hutan Lindung Bukit Sosa, tahun ini mengambil kamera di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Bedanya, untuk valentine kali ini mas Agung sudah sejak pagi mewanti-wanti, “meski ini tanggal 14 februari, orang-orang merayakan hari valentine, disini pokoknya tidak ada yang namanya valentinan-valentinan”. Huuu mas Agung gak asik ah. Padahal hari valentine tahun lalu di Bukit Sosa lumayan sore, teman-teman nyariin bunga berwarna merah dan camp kami pun dinamakan Camp Valentine! untuk seru-seruan, hahaha.

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Hari ini kami pindah camp sekaligus mengambil camera trap di titik pertama. Teringat perkataan Mambo, “lepas camp pertama langsung welcome to the jungle, disambut pendakian dan penurunan di hutan Rimbang Baling”. Yup, hari ini kami melalui satu pendakian yang sangat dikenal oleh tim, Pendakian Mencret. Ceritanya pada tahun 2006 lalu, bang Fendy melewati pendakian ini dalam kondisi diare, sehingga harus berhenti beberapa kali untuk buang air, jadilah pendakian ini dinamakan pendakian mencret. hehe ada-ada aja ya namanya. Bagi aku yang sudah lumayan lama tidak turun ke lapangan, kembali ke lapangan, terlebih dengan perbukitan yang menanti, tentunya menjadi tantangan tersendiri. Saat diskusi di kantor Pekanbaru, mendengar cerita teman-teman yang selama beberapa bulan terakhir mengunjungi kawasan Rimbang Baling, membuatku penasaran untuk ikut, namun aku juga khawatir jika ikut akan memperlambat jalan tim. Tapi aku sangaaaat penasaran karena belum pernah ke Rimbang Baling dan juga aku ceritanya Rimbang Baling ini hutannya baguuuuuus sekali. Jika aku mengikuti ini, mungkin trip ini akan menjadi trip lapanganku yang terakhir sebelum aku meninggalkan WWF. Hahhh.. mau kemana? mau sekolah! aku sudah mendaftar sekolah beserta beasiswa lewat program Erasmus Mundus dan Chevening. Kalau diterima, maka sekolahnya mulai Agustus/September.., doakan aku lulus yaa…

Sejak awal meninggalkan camp tanpa itu, kami terus menerus mendaki. meski jalur pendakiannya tidak panjang, tapi cukup membuat aku ngos-ngosan. Cuma aku curiga, pendakian pendek ini kayaknya belum masuk pendakian mencret deh. Dan benar, selepas bang Fendy mengambil gambar pada satu pohon dekat kubangan babi hutan, bang Fendy berkata, “ini dia, selamat datang di pendakian mencret!..” lho, jadi yang tadi itu apaan? meski shock, tapi aku berusaha tetap tampil tenang. Masa baru pendakian pertama udah memble.. malu dong, harus jaga image di depan tim sendiri, haha.

Aku melihat yang lain tampak mengambil nafas beberapa menit sebelum memulai mendaki. aku pun bersiap, menguatkan mental dan berkata pada diri sendiri, “this is it, mila”. aku mengucap bismillah lalu mulai berjalan mengikuti teman-teman. Bang Fendy berada paling belakang berjalan tepat setelah aku.

Setelah beberapa lama, puff.. nafasku tersengal-sengal. betisku lelah namun jalan aku terus berjalan mengikuti teman-teman yang berada di depanku. setelah berjalan kurang lebih sejam, kami berhenti beristirahat di sebuah tempat datar. Semua tampak kelelahan. Bajuku sudah basah kuyup sepenuhnya oleh keringat. “emang sesuatu ya” ucapku. “ini baru satu bagian, abis ini mendaki lagi” ucap bang Fendy. “tapi ini lumayan” lanjutnya lagi, “cuma sejam dari camp ke sini, termasuk cepat kita”. aku tersenyum, menyadari bahwa aku tidak menghambat timku.

Kami baru mulai mendaki lagi beberapa puluh meter ketika bang Atta berteriak, “Cempedaaak!” ku lihat bang Atta seperti terbang keluar dari jalur pendakian. Masih dengan tas membumbung tinggi di punggungnya, dia menyusup di antara pepohonan mencari buah cempedak yang masih utuh diantara sisa-sisa buah yang berserak di atas tanah. Mungkin yang sisa-sisa itu abis dimakan beruk, Macaca nemestrina, atau kera ekor babi.

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Buah Cempedak merupakan kerabat buah Nangka. Tekstur kulitnya sama, namun buahnya lebih kecil dan lonjong. Baunya lebih menyengat dari buah nangka, ditambah rasa buahnya yang manis legit. Buah Cempedak pertama yang aku makan di Camp Granit, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, rasanya sungguh manis dan lengket. Karena itulah aku tidak terlalu suka buahnya yang lengket di tangan dan di lidah terasa sangat manis. Ketika ditawari cempedak oleh teman-teman, aku ragu beberapa saat, khawatir rasanya yang terlalu manis. Tapi kemudian aku mengambil 1 biji dari mas Agung dan 1 biji lainnya dari bang Fendy. Ternyata rasanya sama seperti yang aku makan pertama kali. “terlalu manis dan lengket. aku udah ah” ucapku menolak tawaran cempedak lagi dari mas Agung.

Tapi buah manis seperti Cempedak adalah cemilan yang sangat bagus bagi kami yang berkegiatan di hutan belantara dan menjalani pendakian. Di pendakian kita memang butuh mengkonsumsi makanan yang manis atau mengandung glukosa,. karena glukosa bisa cepat diolah untuk menjadi energi, yang kita butuhkan. Terlebih buah cempedak ini asli dari hutan, yang gizinya pasti sangat baik bagi tubuh.

Mendekati puncak bukit, nafasku terasa semakin berat. Betis pun sudah mulai teriak minta berhenti. Aku mendaki dengan pelan. Bang Fendy yang berada di belakangku terus menyemangati, “ayo, tinggal 100 meter lagi”. Aku pun sedikit bergegas, mempercepat langkah. Ketika tiba di puncatk bukit, jam di tangan menunjukkan jam 12 siang lebih beberapa menit. Di puncak bukit ini lah kami beristirahat dan makan siang. Puncak bukit ini jugalah yang menandai akhir pendakian mencret.

Bang Atta menuruni sisi lain dari pendakian dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah cempedak di tangannya. Mas Agung yang langsung mencicipi berkata, “enak nih, ga terlalu manis”. Mendengar itu aku pun mulai mengambil satu biji dan memasukkannya ke dalam mulutku dan hmm.. memang lebih nikmat, manisnya pas. Selanjutnya sudah tak terhitung berapa banyak yang aku makan. Cempedak hutan memang ueeenaaak! hehe.

Setelah makan siang kami berempat; aku, bang Amri, mas Agung, bang Fendy mengambil kamera yang berjarak kurang lebih 700 meter dari tempat kami beristirahat. bang Atta tinggal menjaga tas kami. Sayang pada kamera yang kami ambil ini, tidak ada satu pun gambar harimau, sang datuk yang terekam kamera. Kemanakah dia berjalan? yang ada di kamera adalah babi jenggot, Sus barbatus dan macan dahan, Neofelis diardi.

Di tengah perjalanan pulang kami ditemani oleh suara ungko, Hylobates agilis. Suaranya terdengar jelas sehingga kami memperkirakan sang Ungko berada tidak jauh dari tempat kami berjalan. Namun sosok sang akrobat hutan tropis tidak terlihat. Biasanya suara ungko terdengar seperti nyanyian., yang dumulai pada pagi hari sekitar jam 6. Namun siang ini sang ungko bersenandung dan terdengar dua nada yang berbeda. Kemungkinan ada kelompok ungko yang saling berkomunikasi.

Kembali ke tempat istirahat, ternyata bang Atta sudah memanen satu lagi buah cempedak untuk kami makan di camp nanti.

Perjalanan menuju camp melalui turunan tajam. aku perkirakan kemirigannya mencapai 60-70%.., bahkan mungkin 80% karena rasanya aku berjalan pada dinding tegak lurus ke bawah. Ini lah turunan yang diceritakan oleh bang Fendy sebelumnya, bahwa karena turunan yang sangat tajam, kedua lututnya serasa mau lari duluan..hehe. Tempat data hanya ada 3, itu pun hanya beberapa meter, selebihnya kembali turunan tajam.

Beban di punggungku yang sebagian besar adalah barang-barang pribadi terasa lebih berat dibanding saat mendaki tadi. Bayangkan teman-teman yang membawa semua kebutuhan kami ber-5 dan ini baru hari kedua, beban belum banyak berkurang karena logistik yang kami makan. Bang Amri sampai terjatuh 2x, sehingga oleg teman-teman dibecandain layaknya mereka seolah-olah sedang berburu Napu, Tragulus napu. “Mana bang, lari kemana napunya? itu lah abang ini mencari napu surang-surang” goda bang Fendy.

Aku tidak bisa mengerti bagaimana caranya mereka masih bisa bercanda di kondisi penurunan seperti ini dan beban di punggung dan keringat yang membanjir. Sementara aku terus berkonsentrasi supaya tidak tersandung atau jatuh terjerembab.

Di akhir penurunan yang rasanya tak berkesudahan itu, lututku masih gemetaran, namun ada yang menghibur, suara air, berarti sudah dekat dengan camp.., cihuuuuyy!

Sungai di Rimbang Baling

Sungai di Rimbang Baling

Kami baru tiba di sungai besar ketika dua orang laki-laki datang tepat di belakang kami. Biasanya ketika aku ikut tim ke lapangan, sangat jarang ketemu orang lain. Kalaupun bertemu pasti dengan orang Rimba atau orang Kubu. Makanya bagiku terasa aneh ketika kami camp dan disebrang sungai ada camp lain milik kedua orang tersebut.

Sebelum maghrib tiba, lebih banyak orang lagi datang bergabung di camp seberang. Salah satu bapak dari rombongan itu datang ke camp kami dan bercerita bahwa rombongan yang dia bawa bukan untuk mencari gaharu, melainkan untuk menandai kawasan yang akan dibuka seluas 5000 hektar untuk karet masyarakat Desa Kunto.

Ah Rimbang Baling, meski bukitmu terjal, pepohanmu besar dan gagah, namun tetap saja ada orang yang ingin mengubah wajahmu. kawasan hutan Rimbang Baling adalah kawasan lindung, ditetapkan oleh pemerintah sebagai Suaka Margasatwa sejak tahun 1986. Namun sayang karena pengawasan kawasan yang kurang dari pihak BBKSDA Riau, masyarakat pun leluasa untuk masuk dan beraktivitas yang mengganggu satwa dan mungkin kestabilan ekosistem.

Belum hilang rasa sedihku mendengar sebagian kawasan hutan ini akan dibuka, salah seorang dari rombongan itu telah menembak seekor napu untuk makan malam mereka. Baru kali itu lah aku melihat napu secara langsung, sebelumnya hanya melalui gambar yang diperoleh oleh camera trap kami. Dalam remang cahaya api, aku melihat badannya yang terkulai tanpa nyawa. Bulu di bagian perutnya berwarna abu-abu. Badannya kira-kira sedikit lebih besar dari kucingku di rumah. Hmm.. datuk belang, rumahmu akan sgera dibuka, makananmu pun diambili oleh manusia.. ya, manusia memang makhluk yang paling rakus di bumi.

Rimbang Baling #3: camp tanpa nama

Hujan masih mengguyur bumi Lancang Kuning pagi itu ketika kami mulai menyiapkan diri untuk perjalanan yang tengah menanti di hadapan. Tenda dan flysheet yang basah kemarin kini telah kering setelah dijemur memanfaatkan hangatnya pancaran matahari sore di Desa Gema. Tak pernah bosan aku merasa gembira melihat beraneka warna barang-barang termasuk persedian logistik mencakup sayur, bumbu, dan lauk, yang satu persatu dibungkus dengan kertas bekas koran agar mereka lebih tahan lama dan tidak mudah layu. Berapa banyak logistik yang diperlukan untuk 15 hari? pertanyaan yang bagus! jawabannya adalah tergantung jumlah orang dalam tim dan kesanggupan memikul beban. Jangan lupa ya, perjalanan ini tidak sekedar membawa logistik; melainkan juga peralatan survei, medis atau p3k, perlengkapan penjelajahan dan tentunya peralatan pribadi. Yang jelas untuk logistik kuncinya adalah amankan persediaan beras, maklum ya kita pencinta beras sejati, kalau ga makan nasi dapat mengakibatkan komunikasi antara otak dan otot terganggu dan mengakibatkan perjalanan terhambat.

suasana packing

suasana packing

Jadi berapa banyak nih logistik yang musti dibawa agar cukup? Hitungan logistik memang sebaiknya tidak disamakan dengan perhitungan saat makan di luar hutan/lapangan. Karena kalau hitungannya sama dengan hari biasa, bawanya lho itu gimana? Makanya ya yang dibawa secukupnya saja dan dicukupkan di lapangan. Lauk dari sungai tentu saja sangat membantu tim untuk makan dengan baik, cukup gizi dan layak. Bumbu dari hutan seperti kincung ataupun sayur bayas dan pakis juga adalah tambahan yang lezat nan bergizi yang disediakan oleh hutan. Jadi, kalau ke hutan sebenarnya ga usah khawatir, karena hutan itu menyediakan segala sumberdaya yang dibutuhkan oleh makhluk hidup untuk hidup. Selama hutannya masih bagus, fungsi yang diberikannya pun pasti bagus dan komplit; mulai dari udara, air, lauk.. dan tak terlupa keindahan.

Kami sarapan gabung makan siang di rumah makan Alam Raya di Lipat Kain.  Rumah makan padang ini sedikit unik karena menu sayur yang biasanya adalah rebus pucuk daun ubi, di tempat ini berupa tumis kol+toge+kangkung… rasanya hmmm nikmat sebenar-benarnya. Seperti biasanya kalau makan masakan padang aku pasti pesan ati-ampela bakar. Kolesterol kolesterol deh… makanan kan untuk dinikmati., lagipula every man dies semua yang hidup pasti akan meningal *edisi tidak peduli kesehatan. Makannya makin asoy karena nasi dan lauk tidak sendiri melainkan ditemani oleh petai rebus, horeee.. Sebelum masuk  ke lokasi, kami berhenti di warung terakhir untuk membeli tambahan beberapa bahan logistik yang dirasa masih kurang seperti gula dan bawang merah. Berhubung disitu juga ada petai jadi ya langsung angkut deh, hahaha ini namanya petai kesukaan kita semua.

Melewati bekas jalan logging diantara sisa akasia dan kebun karet, kami berhenti setidaknya dua kali karena bang Fendy, bang Zul, dan Mambo mengambil gambar mobil ranger kami yang melibas genangan air. Mereka bertiga baru saja mengikuti training fotografi jadi mereka sedang semangat tinggi mengabadikan setiap momen dengan kamera. Mereka pun dapat pekerjaan rumah dari tutor mereka. Ahh senang melihat semangat mereka itu! Ke lapangan semakin bersemanat karena fotografi, sip!

ranger hijau maju tak gentar

ranger hijau maju tak gentar

Kami hanya di drop di titik terakhir dimana jalan masih dapat dilalui oleh mobil, sedangkan sisa perjalanan harus kami tempuh dengan berjalan kaki. Siang itu matahari bersinar seakan tak mau kalah dengan semangat teman-teman yang sedang kepincut hatinya oleh fotografi.. sangat sangat semangat sekali hingga perjalanan yang sebenarnya tidak jauh dan tidak terlalu berat ,medannya itu tetap membuat kami mengucurkan keringat yang deras. Kami berjalan dalam diam, mungkin pengaruh suhu udara yang terlalu panas membuat kami enggan berbicara, pun beban yang kami pikul di punggung masih maksimal karena ini baru hari pertama dalam rangkaian perjalanan penjemputan camera trap (kamera jebak) di Suaka Margasatwa Rimbang Baling.

berpisah di simpang jalan

berpisah di simpang jalan

Setelah berjalan sekitar 1.5 km di bawah terik matahari, tibalah kami tiba di camp pertama.  Camp tanpa nama, itulah dia. Biasanya tim selalu memberi nama di setiap camp yang ditinggali, tapi mengapa yang ini tidak punya nama? Kutanyakan tentang camp tanpa nama ini ke mas Agung. Sambil membuka sebungkus kuaci mas Agung menjawab, “ga perlu dikasih nama, wong kita ini itungannya singgah kok, hanya numpang nginap semalam, bukan nge-camp beneran”. Aku pun lantas teringat camp-camp yang pernah aku tinggali selama ini; rata-rata area sekitar camp lebih bersih dari semak, lebih tertata pembagian ruang masing-masing untuk tenda, untuk peralatan, masak, untuk menjemur pakaian (yang antara basah karena keringat maupun habis dicuci sekilas tak tampak bedanya), bagian sungai yang dipilih menghadap camp, dan lain sebagainya.

Bukannya camp tanpa ini trus kondisinya kurang oke atau ala kadarnya aja, tetap masih layak untuk dijadikan camp, tapi kalau kita rencana menginapnya dua malam atau lebih, maka lokasi dan posisi camp musti memenuhi kriteria-kriteria mantap:(1) cukup naungan namun tidak menghalangi sinar matahari sama sekali, (2) berada di dataran yang lebih tinggi dari garis tertinggi sungai, agar ketika air sungai naik camp masih aman dari kemungkinan banjir, (3) tidak berada di tengah-tengah atau menutup jalur satwa, (4) area sekitar cukup leluasa, (5) tidak banyak semak, kalau ada semak sekitar camp musti dibersihkan agar mengurangi kemungkinan berjumpa atau diserang satwa liar seperti babi hutan, ular, bahkan harimau yang suka bermain di balik semak, (6) di sekitar camp tidak sulit menemukan kayu bakar, (7) pepohonan sekitar camp kuat dan tidak ada yang menunjukkan tanda-tanda tua atau dalam posisi oleng, (8) di sepanjang sungai ada lubuk (bagian sungai yang dalam tempat hidup ikan) untuk mancing. Nahh, kriteria no 8 ini yang pengaruhnya cukup tinggi dalam penentuan lokasi camp. Pokoknya kalau satu camp tak ada lubuk yang mantap, meski kriteria yang lain terpenuhi, tetap bagi tim campnya kurang mantap., hahaha. Segera aku konfirmasikan kembali  ke mas Agung perihal lubuk ini, “berarti disini ga bisa mancing ya?” Jawab mas Agung dengan logat bahasa jawa-melayunya, “mo mancing dimana? liat aja itu sungai kecil gitu kok, mana ada ikannya. ya kalo ada pun ikannya masih kecil-kecil, ga kena dipancing”.

Sore itu aku menatap bukit tinggi yang berada persis di seberang sungai depan camp tanpa nama. Bukit tinggi itu yang akan kami jalani keesokan hari. Mambo, yang juga pernah melewati jalur ini mengumpakan bukit tersebut sebagai gerbang Rimbang Baling, “macam ada tulisannya -welcome to the jungle-“.

Jalan hari ini tidak berat sama sekali, meski peluh juga bercucuran. Aaah aku hanya berharap jika saja semua perjalanan kami seperti ini, aku tidak keberatan membawa beban lebih. Kepalaku mulai berdengung sakit, mungkin akibat terpaan panas yang menyengat dari jalan siang tadi, atau karena khawatir di perjalanan besok aku memble karena tidak kuat mendaki? ambo ragu alasan kedua yang benar, tapi ambo raso iyo jugo.. hahaha.

bang Amri (kiri) & bang Atta (kanan) di camp tanpa nama

bang Amri (kiri) & bang Atta (kanan) di camp tanpa nama

Pada perjalanan kali aku pertama kali se-tim dengan bang Atta, abang dari Desa Lubuk Kembang Bunga di yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang terkenal itu. Sejak pertama ikut tim pasang kamera di TNTN bulan Juli tahun lalu, dia langsung menjadi favorit dan mulai saat itu terus ikut tim, singkatnya bang Atta ini mantap! 🙂

Segelas susu hangat sukses membuatku merasa mengantuk. Teman-teman masih asik bercerita sambil melahap kuaci saat kutinggal tidur. Hujan kembali turun malam itu, tapi camp sudah diamankan sejak sore tadi jadi kami bisa tidur dengan lelap tanpa perlu khawatir terkena banjir.

Kucing emas: si polos diantara yang bercorak

kucing emas, mengapa dinamakan kucing emas? apakah karena di bagian tubuhnya terdapat emas nan berkilau? pada matanya kah atau pada bulunya? kucing emas Pardofelis temminckii atau dikenal juga dengan nama inggrisnya Asiatic Golden cat adalah jenis kucing liar yang mendiami hutan-hutan alam di benua asia. Tubuhnya yang polos membuat kucing emas terlihat unik diantara jenis kucing liar lain yang pada umumnya memiliki corak khas, seperti pola loreng pada harimau dan pola titik-titik pada kucing congkok. Di dunia ada dua jenis kucing emas; kucing emas asia dan kucing emas afrika. Warna tubuh kucing emas yang paling umum adalah merah fox hingga coklat keemasan, namun warna hitam dan abu-abu diketahui adalah variasi warna dari kucing emas. Dilaporkan bahwa di China ditemukan kucing emas dengan variasi warna abu-abu dengan corak terlihat mirip dengan Ocelot, sehingga oleh para ahli dikategorikan sebagai anak jenis dari kucing emas.

Kucing emas dewasa memiliki berat 8.5-15 kg membuatnya masuk ke dalam kategori kucing liar ukuran medium. Kucing emas jantan juga diketahui memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari kucing emas betina. Makanan kucing emas umumnya adalah hewan pengerat seperti tupai, mamalia kecil seperti kancil serta jenis-jenis amphibi. Dari sampel kotoran kucing emas di Taman Nasional Gunung Leuser di Aceh dan Sumatera Utara, diketahui kucing emas telah memangsa kijang dan tikus. Catatan lain dari Vietnam utara menunjukkan bahwa kucing emas juga memangsa babi hutan, rusa sambar dan anak kerbau. Hal ini berarti bahwa mangsa kucing emas cukup besar dari hewan herbivora ukuran besar hingga hewan pengerat kecil seperti tikus.

Masa hidup kucing emas diperkirakan dapat mencapai 20 tahun, dengan masa matang seksual bagi jantan dan betina adalah mulai umur 2 tahun. Jumlah anak yang dilahirkan rata-rata 3 individu dan masa kehamilan adalah 80 hari.

Habitat kucing emas terutama adalah hutan alam baik hutan alam tropis maupun sub tropis. Berkebalikan dengan kucing congkok yang banyak ditemukan pada hutan yang terbuka, kucing emas lebih menyukai hutan yang masih tertutup rapat sehingga bisa dikatakan bahwa keberadaan kucing emas pada suatu kawasan hutan menandakan kondisi tutupan hutan yang masih baik. Kucing emas jarang ditemukan pada areal hutan yang terbuka seperti semak-semak dan padang rumput.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan diketahui bahwa kucing emas lebih sering ditemukan di hutan-hutan dataran rendah. Namun Wang pada tahun 2007 berhasil mendokumentasikan keberadaan kucing emas dengan camera trap pada ketinggian 3,738 mdpl di Taman Nasional Jigme Sigye Wangchuk, Bhutan.

Di Lanskap Tesso Nilo Bukit Tigapuluh di bagian tengah Pulau Sumatera, keberadaan kucing emas ditemukan di Suaka Margasatwa Rimbang Baling dan Hutan Lindung Bukit Batabuh-Bukit Sosa (koridor Rimbang Baling-Bukit Tigapuluh) namun tidak ditemukan di blok hutan Tesso NiloSuaka Margasatwa Kerumutan dan Kampar Peninsula. Keberadaan kucing emas diperoleh dari camera trap yang dipasang oleh tim survei dan monitoring harimau sumatera WWF Indonesia sejak Desember 2004. Informasi ini menjelaskan bahwa preferensi habitat habitat kucing emas mencakup daerah peralihan antara dataran rendah ke dataran tinggi (koridor Rimbang Baling Baling-Bukit Tigapuluh) dan hutan-hutan berbukit. Sedangkan hutan dataran rendah seperti Tesso Nilo dan hutan rawa gambut Kerumutan dan Kampar Peninsula tidak menjadi pilihan habitat bagi kucing emas.

Total ada 199 foto termasuk video kucing emas yang diperoleh dari camera trap sejak akhir tahun 2004 hingga februari 2012. SM Rimbang Baling menjadi wilayah hutan dimana kucing emas paling sering terdokumentasikan yaitu 109 foto; 3 foto dari survei tahun 2006 dan 106 foto dari survei tahun 2011 (november)-2012 (februari). Dari foto-foto tersebut, kucing emas terekam aktif dominan pada siang hari, mulai jam 6 pagi hingga jam 5 sore (72 foto) sedangkan ada 37 foto kucing emas yang diperoleh dari jam 9 malam-4 pagi. Pada wilayah Hutan Lindung Bukit Batabuh-Bukit Sosa (Koridor RB-B30), diperoleh 91 foto (termasuk video) kucing emas dengan mas aktif pagi hari (6.00-17.00) adalah 61 foto dan masa aktif malam hari (7 malam-5 pagi) ada 29 foto. Secara umum kucing emas lebih sering aktif saat matahari bersinar dibanding malam hari.

prilaku kucing emas yang terekam kamera

prilaku kucing emas yang terekam kamera

Kucing emas termasuk satwa dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam lampiran PP No. 7 Tahun 1999, kucing emas berada pada nomor urut 26. Jika melihat daftar merah jenis-jenis satwa liar, maka kucing emas termasuk kategori Near Threatened (NT) atau hampir terancam. Hasil penilaian tahun 2008 ini mengalami peningkatan satu level yaitu dari hasil penelitian yang dilakukan tahun 2002 dengan kategori Vulnerable (VU) atau rentan. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi kucing emas di alam lebih baik di tahun 2008 dibanding tahun 2002.

 

Beberapa survei yang dilakukan menunjukkan bahwa informasi tentang kucing emas lebih banyak diperoleh dibandingkan jenis-jenis kucing kecil liar lainnya (kucing congkok dan kucing bulu). Berdasarkan hasil studi dengan camera trap; distribusi, home range dan kelimpahan relatif kucing emas mirip dengan macan dahan. Meski publikasi tentang populasi kucing emas tidak banyak tersedia, populasi kucing ini dipercaya mengalami penurunan.

Ancaman terhadap keberlangsungan hidup jenis kucing liar ini utamanya dari kehilangan habitat akibat deforestasi. Selain itu, perdagangan kulit dan tulang kucing emas juga menjadi alasan kucing ini banyak diburu dan dijerat.

Negeri ini akan sangat kehilangan jika kucing emas sampai punah. Sebagai satwa karnivor, kucing emas memainkan peran penting dalam ekosistem hutan perbukitan di Sumatera.

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Red List http://www.iucnredlist.org/details/4038/0

Kucing Batu: Kucing Pemilik Coat Tercantik

Setelah minggu lalu kita mengenal kucing congkok yang lebih sering ditemui pada hutan yang setengah terbuka, minggu ini kita berkenalan dengan jenis kucing liar lain yang juga menghuni hutan Sumatera. Kucing ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kucing liar tercantik karena pola coat yang dimilikinya memang menarik. Dia adalah Kucing Batu atau Marbled Cat  Pardofelis marmorata. Diantara kelima jenis kucing liar yang terfoto di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, Provinsi Riau, kucing batu yang paling mirip dengan kucing congkok dilihat dari ukurannya dan dari pola belangnya di bagian kaki. Kucing batu sedikit lebih besar dibanding kucing congkok, ukuran badannya mulai dari 45-62 cm dengan panjang ekor 356-550 mm, sedangkan beratnya berkisar 2.4-3.7 kg.

Kucing batu juga dianggap kucing liar menarik dan mungkin sedikit misteri karena ciri-ciri fisiknya yang banyak kesamaan dengan jenis kucing berukuran sedang-besar, terutama macan dahan. Kucing batu memiliki pola belang pada badan menyerupai bentuk awan, pola yang juga menjadi ciri khas macan dahan. Kesamaan lainnya adalah gigi taring bagian atas yang besar dan bentuk tapak kaki yang lebar. Namun tengkorak kucing batu lebih pendek dan bulat seperti tengkorak macan (panthera) dan lynx. Ekor kucing batu tebal dan panjang yang menunjukkan bahwa kucing batu adalah hewan arboreal yaitu menghabiskan banyak waktu dengan berada di atas pohon.  Seperti beberapa kucing liar lain; kucing batu memiliki garis hitam vertikal di dahi hingga mata.

Kucing batu diketahui memiliki daerah persebaran di hutan tropis indomalaya termasuk kawasan kaki pegunungan himalaya bagian barat hingga Nepal dan barat daya China, hingga ke bagian selatan di pulau Sumatera dan pulau Borneo. Negara-negara termasuk daerah perseberannya adalah Bhutan; Brunei Darussalam; Cambodia; China; India; Indonesia (Kalimantan, Sumatera); Lao People’s Democratic Republic; Malaysia (Peninsular Malaysia, Sabah, Sarawak); Myanmar; Nepal; Thailand; Vietnam. Di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, kucing batu turut terekam oleh kamera jebak (camera trap) yang dipasang dengan target utama harimau sumatra. Dari informasi yang diperoleh dari kamera jebak, diketahui bahwa kucing batu mendiami kawasan hutan alam rawa gambut Kerumutan, dataran rendah Tesso Nilo dan koridor hingga perbukitan di Rimbang Baling. Dari survei yang dilakukan mulai Desember 2004-Februari 2012, ada total 51 foto kucing batu yang diperoleh dengan foto terbanyak berasal dari SM Rimbang Baling.

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai prilaku kucing batu karena minimnya survei dan riset terhadap kucing cantik ini. Namun dari kamera jebak diketahui bahwa kucing batu ini tidak terlalu aktif di pagi hari, namun ketika menjelang siang hingga matahari terbenam (jam 11 siang – 6 sore), dan lebih tidak begitu aktif  lagi di malam hari. Hal ini sedikit berkebalikan dari prilaku kucing batu yang diperkirakan lebih nokturnal. Dari pantauan terhadap kucing batu yang hidup di penangkaran, kucing batu dapat hidup hingga 12 tahun. Masa kehamilan 66-82 hari dengan masa subur mulai umur 21-22 bulan. Kucing batu memangsa tupai, tikus, burung dan reptil kecil.

Ancaman utama terhadap kucing batu adalah hilangnya habitat. Provinsi Riau yang juga merupakan habitat kucing batu telah kehilangan sekitar 60% tutupan hutan alam sejak tahun 1980-an. Dengan laju kehilangan hutan yang sangat tinggi, sangat mungkin kita kehilangan kucing cantik ini tanpa sempat mempelajarinya. Kucing batu termasuk satwa liar yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No 5 Tahun1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Lembaga konservasi internasional IUCN memasukkan kucing batu kedalam kategori rentan punah (Vulnerable). Meski memiliki coat yang begitu cantik, kucing batu sangat jarang ditemukan di perdagangan ilegal satwa liar. Namun ancaman perburuan dan perdagangan tetap tidak boleh dianggap sepele, untuk itu CITES telah memasukkan kucing batu ke dalam Appendix I yang berart tidak boleh diperdagangkan dan peredarannya diatur secara ketat atas izin presiden.

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Redlist http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/16218/0

ARKive http://www.arkive.org/marbled-cat/pardofelis-marmorata/image-G24620.html#text=All

CITES http://www.cites.org/eng/resources/species.html