Harimau Tesso Nilo: Apa kabarmu kini?

Harimau sumatera ( Panthera tigris sumatrae ) hanya dijumpai di Pulau Sumatera dan diperkirakan yang tertinggal dibelantara hutan sudah tidak lebih dari 500 ekor, termasuk di Taman Nasional Tesso Nilo, yang saat ini tim riset harimau sumatera melakukan pemasangan camera trap untuk merekam keberadaannya. Sekarang ini, harimau sumatera tercantum sebagai Sangat Kritis dalam daftar Lembaga Konservasi Dunia IUCN dan merupakan satu-satunya sub-spesies harimau yang tersisa di Indonesia. Sanaknya, yaitu harimau Bali dan harimau Jawa, sudah punah dalam 50 tahun terakhir. Pengamatan terakhir atas harimau Bali dan harimau Jawa tercatat di akhir tahun 1930-an dan 1970-an.

Populasi harimau banyak tertekan akibat diburu dan semakin berkurangnya luas hutan secara dratis akibat dikonversi untuk penggunaan lain seperti kelapa sawit dan tanaman industri akasia yang cepat pertumbuhannya untuk industri kertas.

Camera trap/kamera intai adalah sebuah alat yang digunakan untuk merekam keberadaan harimau sumatera tersebut dan satwa lainnya. Kamera ini bekerja dengan menggunakan sensor panas tubuh dan tambahan inframerah yang telah didesain didalamnya dan akan merekam dengan sendirinya jika ada satwa yang melintas didepannya.

Pada tahun 2008 yang silam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo juga menjadi tempat/lokasi pemasangan camera trap, yang dilakukan selama tiga bulan, dan mendapatkan 75 bingkai foto dari 6 individu harimau. Itu membuktikan bahwa dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini masih banyak terdapat harimau sumatera atau Datuk Belang (sebutan masyarakat lokal di Pulau Sumatera untuk harimau). Selama periode tersebut, bukan hanya bingkai harimau saja yang didapat, akan tetapi juga terdapat satwa mangsa bagi harimau dan satwa lainnya; seperti babi hutan, kijang, rusa, monyet, tapir, beruang madu, macan dahan, dan gajah yang terfoto. Hal ini membuktikan bahwa Taman Nasional Tesso Nilo kaya dengan jenis mamalia.

Dan sekarang pada bulan juli tahun 2011, tim riset harimau sumatera kembali melakukan pemantauan terhadap harimau sumatera tersebut yang ada dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini, juga dengan menggunakan camera trap, sebab harimau tersebut sangat sulit untuk dipantau secara langsung.

Informasi akurat mengenai distribusi dan populasi sangat diperlukan dalam usaha melestarikan harimau Sumatera, satwa kebanggaan yang terancam kepunahan tersebut. Sejak Desember 2004, WWF bekerja sama dengan Depertemen Kehutanan, Virginia Tech, dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi mulai melakukan studi untuk mengungkap sebaran dan populasi harimau pada beberapa kawasan di Riau, khususnya di lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh. Beragam metode digunakan dalam riset, termasuk camera trap/kamera intai seperti yang dilakukan di hutan Tesso Nilo.

Dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini terdapat 48 unit camera trap yang terpasang, yang dibagi menjadi 24 lokasi titik pemasangan ( masing-masing camera dipasang berpasangan ). Ada dua jenis camera yang dipasang dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini yaitu kamera jenis Reconix dan Busdnell.

Untuk melakukan pemasangan kamera tersebut tim dibagi menjadi tiga, yaitu :

  1. Tim Timur  yang diketuai oleh Zulfahmi, dan melakukan pemasangan sebanyak 9 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 18 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap adalah grid  AI 20, grid AH 19, grid AG 18, grid AI 18, grid AH 17, grid AF 17, grid AG 16, grid AF 15, dan grid AG 14 ( grid 2×2 ). Tim ini masuk dari desa Pontian Mekar.
  2. Tim Tengah yang diketuai oleh Agung Suprianto, dan melakukan pemasangan sebanyak 6 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 12 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap adalah grid AE 20 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium), grid AG 20 ( jenis camera Reconix dan Busdnell ), grid AF 19 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium ), AE 18 ( jenis camera Reconix dan Busdnell ), grid AE 16 ( jenis camera Reconix dan menggunakan bateray Energizer lithium ), dan grid AD 17 ( jenis camera Reconix ). Tim tengah ini masuk dari PT Rimba Lazuardi ( PT.RL ) atau camp GERHAN.
  3. Tim Barat yang diketuai oleh Efendy Penjaitan, dan melakukan pemasangan sebanyak 9 lokasi titik pemasangan atau sebanyak 18 unit camera. Grid-grid yang dipasang camera trap  adalah grid AC 16 ( jenis camera Reconix dan busdnell ), grid AD 15 ( jenis camera reconix dan buadnell ), grid AC 14 ( jenis camera reconix ), grid AC 20 ( jenis camera reconix ), grid AB 19 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AD 19 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AC 18 ( jenis camera reconix dan busdnell ), grid AB 17 ( jenis camera reconix dan busdnell ), dan grid AB 15 ( jenis camera reconix dan busdnell ).

Sebelum tim melakukan pemasangan kamera intai ini, terlebih dahulu tim melakukan survey awal yang disebut survey occupancy untuk mendeteksi keberadaan harimau, mangsa, dan ancaman terhadap habitatnya, dan mengidentifikasi lokasi-lokasi terbaik untuk pemasangan camera trap. Setelah dilakukan survey awal ini, barulah camera intai dipasang ditempat-tempat/grid-grid yang telah ditentukan.

Pertengahan Juli 2011, tim mulai melakukan pemasangan kamera intai tersebut dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Untuk mendapatkan keberadaan harimau dikawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini, maka kamera intai dipasang selama tiga bulan dengan mengambil tiga sample. Dan setiap bulan nya kamera intai tersebut dilakukan pengecekan untuk pergantian bateray dan memori card.

 Harimau Dataran Rendah

Cara hidup satwa, khususnya harimau, di daerah dataran rendah ini bukan merupakan hal yang misteri lagi. Karena sudah banyak peneliti yang menjelajahi nya yang tidak sulit untuk ditempuh. Jika kita berbicara pelestarian harimau sumatera, khususnya Riau, hutan dataran rendah merupakan habitat yang dapat diharapkan. Walaupun sebagian besar hutan dataran rendah, seperti kita ketahui, telah banyak yang lenyap, yang bergantikan sawit dan akasia. Akan tetapi, hutan Tesso Nilo ini yang juga menjadi tumpuan harapan kita untuk pelestarian harimau tersebut.

Keberadaan harimau di hutan dataran rendah, seperti Tesso Nilo ini memang tidak perlu diragukan lagi. Sudah banyak bukti yang terkumpul bahwa hutan dataran rendah menjadi habitat harimau. Salah satunya di Taman Nasional Tesso Nilo. Seperti penelitian yang dilakukan WWF dan Depertemaen Kehutanan di kawasan ini beberapa waktu yang lalu telah berhasil memotret beberapa individu harimau di Taman Nasional tersebut.

Hasil foto dari camera intai di Taman Nasional Tesso Nilo, cukup mengagumkan. Betapa tidak, berbeda dengan habitat lain seperti Suaka Margasatwa Kerumutan yang merupakan hutan gambut. Di Taman Nasional Tesso Nilo camera intai banyak mendeteksi jenis-jenis satwa mangsa potensial bagi harimau, seperti kijang ( Muntiacus muntjac ), rusa ( Cervus unicolor ), dan babi hutan ( Suscropa. ).

Sebelum seekor harimau terfoto di lokasi ini, biasanya, lebih banyak satwa mangsa yang terjepret terlebih dahulu. Selama tiga bulan memasang 48 unit camera di 24 lokasi, kami mendapatkan beberapa bingkai foto harimau. Selama periode tersebut, lebih banyak satwa mangsa yang terjepret kamera, seperti babi hutan, rusa, dan kijang yang merupakan mangsa utama harimau. Ini membuktikan bahwa di kawasan Taman Nasional Tesso Nilo ini harimau punya cukup makanan. Seperti yang kita ketahui, sebagai pemangsa berbadan besar, harimau memilih satwa berukuran besar ( >20 kg ) sebagai mangsa utamanya. Setiap dua tiga hari harimau umumnya memerlukan seekor mangsa seukuran kijang dan dalam setahun diperlukan sekitar 50 ekor mangsa seperti itu. Harimau memang dapat bertahan hidup dengan mangsa berukuran kecil, namun energy yang diperoleh tidak akan sebanding dengan tenaga yang dihabiskan untuk mendapatkannya. Sebagai akibatnya, harimau tidak akan dapat berkembang biak. Dan bahkan, berpotensi terlibat konflik dengan masyarakat baik secara langsung maupun tidak langsung dengan pemangsaan ternak.

Di atas tadi telah dikatakan, bahwa di kawasan Taman nasional Tesso Nilo ini terdapat 48 unit kamera intai yang terpasang pada 24 lokasi pemasangan. Dan terbagi tiga tim untuk melakukan pemasangannya, yaitu ; bagian Timur, bagian Tengah, dan bagian Barat. Nah, dari hasil kamera intai tersebut, pada bagian Tengah Taman Nasional Tesso Nilo ini, kamera intai sangat sulit sekali melacak keberadaan harimau tersebut. Berbeda dengan lokasi pada bagian Timur dan bagian Barat, yang dapat melacak beberapa individu harimau. Padahal, pada bagian Timur dan Barat tersebut terdapat beberapa aktifitas masyarakat setempat yang melakukan perambahan dan pembalakan. Terutama pada bagian Timur, jika kita lihat dilokasi ini, begitu banyak aktifitas masyarakat yang kita jumpai, salah satunya perambahan hutan dan pembalakan, serta masyarakat pencari burung, seperti yang ditemukan oleh tim dilapangan.

Akan tetapi, harimau lebih banyak bermain didaerah ini dibandingkan pada daerah bagian tengah yang sama sekali tidak ada aktifitas masyarakat. Terbukti, beberapa camera intai telah merekamnya. Mungkinkah harimau tersebut lebih suka bermain didaerah yang terang/terbuka ? dan mungkinkah harimau tersebut lebih memilih jalur yang mudah dia lalui ?….. benarkah demikian ?

Seperti yang dilaporkan Edi, salah seorang anggota plying squad Taman Nasional Tesso Nilo, tanda-tanda keberadaan harimau tersebut sering dijumpainya disekitar perkebunan akasia milik PT.RAPP yang tidak jauh dari camp playing squad tersebut. Dan juga harimau tersebut sering berkeliaran di daerah simpang silau desa Air Hitam yang membuat resah masyarakat, Edi menambahkan. Perkebunan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Tesso Nilo tersebut juga menjadi daerah pergerakan individu-individu harimau yang ada di kawasan ini.  Dengan adanya informasi tersebut membuktikan bahwa harimau sepertinya lebih suka bermain didaerah yang terang, dan daerah yang mudah untuk dilewatinya, dibandingkan dengan hutan yang masih lebat.

Melihat banyaknya masyarakat yang beraktifitas disekitar kawasan Taman Nasional Tesso Nilo, seperti perambahan hutan dan pembalakan, bisa membuat harimau merasa terganggu dan tidak nyaman. Ketidaknyamanan tersebut bisa mengakibatkan keagresifan harimau, yang berpotensi terjadinya konflik dengan masyarakat secara langsung. Apa yang harus kita lakukan agar tidak terjadinya konflik antara harimau dengan masyarakat tersebut ? haruskah kita menunggu sampai konflik itu terjadi ? ( Kusdianto )

 

Iklan

Dampak Kerusakan Hutan Terhadap Harimau Sumatra

Disadur dari Laporan Khusus Masalah Kehutanan di Indonesia
BBC Indonesia 9 Juni 2010
Hutan AcehHutan Ulu Masen Kecamatan Mane Geumpang Kabupaten Pidie menjadi habitat harimau Sumatra di Aceh

Pembalakan liar atau illegal logging merupakan salah satu faktor penyebab menurunnya populasi harimau Sumatra, selain perburuan dan konflik dengan manusia.

Data Sementara survey lima lembaga memperkirakan jumlah harimau Sumatra terbesar berada di kawasan hutan Aceh.

Di pondok milik Community Response Unit CRU di kawasan Gumue, Banta, penduduk setempat, menceritakan habitat harimau Sumatra di Blang Raweuh yang merupakan kawasan Savana di kawasan hutan Ulu Masen Kecamatan Mane Geumpang Kabupaten Pidie.

”Saya sering melihat harimau Sumatra di hutan Ulu Masen”, kata Bantal.

Hutan Ulu Masen merupakan salah satu habitat harimau Sumatra di Aceh selain Taman Nasional Gunung Leuser.

Penelitian yang dilakukan 2007-2009 oleh lima lembaga termasuk Departemen Kehutanan menyebutkan populasi harimau Sumatra di Aceh paling besar.

Koordinator program konservasi harimau Wildlife Conservation Society, Hariyo T Wibisono mengatakan, data sementara hasil penelitian populasi harimau Sumatra dewasa di Aceh masih ada sekitar 150-200 ekor.

”Penilaian status terkini terhadap harimau Sumatera di hampir 80% habitat yang tersisa dari 2007 hingga 2009, data awal yang bisa disimpulkan bahwa populasi terbesar di Aceh terutama di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan Bentang Alam, Ulu Masen. Saya bisa katakan sekitar 150 sampai 200 harimau yang tersisa”.

Program Director Flora Fauna Indonesia Aceh, Dr. Matthew Linkie, mengatakan Aceh merupakan salah satu habitat harimau Sumatra terbesar, karena kondisi hutan yang masih lestari.

”Itu merupakan kabar yang bagus dari populasi harimau yang sehat dan kemungkinan stabil. Aceh merupakan tempat yang penting untuk harimau, ada beberapa tempat habitat harimau di Sumatra yang bisa jadi terbesar di dunia, selain Asia dan Rusia”.

Daya jelajah luas

HarimauHarimau Sumatra memiliki daya jelajah yang luas

Hariyo memperkirakan jumlah harimau Sumatra mencapai 500-700 ekor di sejumlah habitat yang diteliti.

Pada 1994 diperkirakan populasi harimau Sumatra terutama di taman-taman Nasional yang ada di Sumatra sekitar 400-500 ekor.

Tetapi kedua data itu tidak bisa dibandingkan karena menggunakan metode penelitian yang berbeda.

“Dulu metodenya sangat sederhana hanya semacam menghitung luas jelajah, tidak turun ke lapangan untuk menghitung. Sebagian datang melalui informasi dari staf lapangan, dari masyarakat setempat kemudian dikumpulkan kemudian dikombinasi dan dianalisis sederhana. Sekarang menggunakan metode yang sangat baik dan disepakati oleh semua pihak sehingga hasilnya tidak bisa dikomparasi begitu saja”, kata Hariyo. Habitatnya tergerus dan terjadi fragmentasi, ini mempersempit wilayah utama jelajah harimau

Matthew Linkie menjelaskan salah satu kunci utama dalam metode survey yang digunakan untuk mengetahui populasi harimau Sumatra, dengan melihat menurun atau naiknya populasi harimau di daerah yang dilindungi atau wilayah jelajah harimau.

”Anda bisa melihat dari persentase wilayah jelajah harimau seperti 70% pada tahun pertama dan tahun kedua turun ke 50% kami lebih melihat pada persentase penyebaran harimau yang selalu berubah dari tahun ke tahun itu yang akan kami gunakan dalam monitoring jika polupasi menurun kami akan cari tahu penyebabnya jika karena deforestasi kami akan melakukan konservasi di sekitar habitat harimau tersebut”.

Populasi yang diperkirakan menurun itu membuat harimau Sumatra sejak 1996 dikategorikan sebagai hewan yang sangat terancam kepunahan (critically endangered) oleh International Union for Conservation of Nature IUCN (Cat Specialist Group 2002).

Perkiraan penurunan populasi harimau Sumatra karena jumlah habitatnya berkurang.

Menurut Hariyo, kerusakan habitat merupakan salah satu faktor yang menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup harimau Sumatra.

”Khusus Sumatra ancaman yang paling tinggi adalah fragmentasi dan penyusutan habitat, karena harimau itu mempunyai daya jelajah yang luas”

”Di Aceh sendiri ada yang bisa mencapai 250 km persegi. Bisa dibayangkan satwa dengan wilayah jelajah yang luas seperti itu kemudian habitatnya tergerus dan terjadi fragmentasi, ini mempersempit wilayah utama jelajah harimau”.

Konflik dengan manusia

Hutan AcehPembalakan hutan menyebabkan habitat harimau tergerus

Selain itu, populasi harimau Sumatra juga terancam karena maraknya perburuan dan konflik dengan manusia.

”Kita melihat indikasi kuat ini berhubungan dengan perdagangan, ditangkap kemudian dimanfaatkan hasilnya”.

Perburuan satwa liar yang menjadi mangsa harimau juga berpengaruh terhadap populasinya. Seperti disampaikan oleh Andoko Hidayat Kepala urusan program Balai Konservasi Sumberdaya Alam NAD.

”Penurunan ini dipicu oleh adanya perusakan hutan yang semakin meningkat dan perburuan rusa atau satwa liar lain yang memungkinkan terputusnya mata rantai makanan harimau”. Ada beberapa kasus yang sudah diselesaikan dengan proses hukum

Berbagai upaya untuk konservasi harimau Sumatra di lakukan di Aceh, salah satunya dengan pencegahan penebangan liar seperti disampaikan oleh Andoko.

”Yang bisa merusak habitat adalah pembalakan liar, kami sudah melakukan penyuluhan dan ada beberapa kasus yang sudah diselesaikan dengan proses hukum”, kata Andoko

Selain dari Balai Konsevasi, berbagai upaya penyelamatan harimau Sumatra dilakukan antara lain dengan di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.

”Kami dari Wildlife Conservation Society melakukan monitoring status populasi antar waktu, kegiatan anti perburuan dan perdagangan, aktif patroli lapangan dan juga ada unit mitigasi konflik antara harimau dengan manusia.

Ruang jelajah harimau sumatera yang semakin berkurang membuat kemungkinan pertemuan manusia dengan satwa langka itu cukup tinggi. Terutama di sejumlah daerah seperti Aceh Selatan dan Jambi.

Sampai Maret 2010, Taman Nasional Berbak TNB Jambi tercatat dua kali manusia diterkam harimau.

Tahun sebelumnya, Februari-Maret 2009, konflik harimau dan manusia memakan 11 korban di hutan produksi di Kecamatan Sungai Gelam Muaro Jambi.