impian terakhir suku anak dalam

suku anak dalam

Di penghujung tahun 2011 yang baru saja lewat, saya bersama tim menempuh perjalanan lebih kurang 10 jam dari Pekanbaru di Provinsi Riau menuju Rimbo Bujang di Provinsi Jambi. Bersama mobil daihatsu hiline berwarna hijau daun atau yang sering kami sebut “ranger hijau”, kami kembali menuju kawasan hutan yang menjadi penghubung hutan Bukit Tigapuluh dan hutan Rimbang Baling. Salah satu bagian dari perjalanan tersebut yang meninggalkan kesan yang begitu kuat bagi saya adalah ketika kami menemui sekelompok suku anak dalam yang berdiam di pinggir kawasan hutan di Hutan Lindung Bukit Sosa.

sungai di hutan

sungai di hutan

Ditemani sinar matahari senja dan diantara kepul asap rokok, telinga saya terkesima oleh setiap bait ucapan yang dilontarkan Pak Bujang, pemimpin kelompok orang rimba itu. “kami tahu PT itu punya hak untuk mengolah hutan karena merak sudah ada izin dari pemerintah. Hanya kami minta pembagian yang jelas saja, di bagian mana yang bisa tetap untuk penghidupan kami. Sudah ada yang datang dan menjanjikan  kalau perusahaan telah menyisakan lebih kurang dua ribu hektar untuk suku anak dalam, namun belum ada kejelasan tentang ini. Kami lahir dan besar disini. Ketika hutan masih luas kami terbiasa berpindah-pindah ke bagian hutan yang lain. Namun kini, hutan telah semakin sedikit. Kami bisa belajar untuk hidup menetap di satu tempat, tapi dengan syarat masih ada kawasan hutan tempat kami untuk mandau: mencari jernang, berburu bari dan labi-labi, memanfaatkan apa yang hutan sediakan..” 

Saya tertegun. Bahkan ketika kebudayaan mereka yang hidup berpindah tempat musti hilang berganti hidup menetap, bahkan ketika kawasan hutan yang dulu mereka rajai kini telah hilang, dan bahkan ketika keberadaan mereka terhimpit oleh konsumsi berlebihan masyarakat perkotaan , mereka, masyarakat suku anak dalam, penghuni dan penjaga hutan di sumatra, tetap dengan kebijksanaan mereka, tetap dengan penghormatan mereka terhadap hak orang lain. Bahwa hutan dan segala isinya bukanlah milik seseorang atau satu kelompok, tapi hutan adalah milik bersama yang seharusnya dibagi.

Masyarakat suku anak dalam siap untuk menerima keberadaan kita. Mereka siap untuk berbagi dengan kita. Akankah kita punya niatan yang sama dengan mereka?

Iklan

Disaat hutan tak lagi sempurna

Oleh : Kusdianto

 


Hutan disulap menjadi lahan Perkebunan dan

Pemukiman masyarakat

Perkampungan masyarakat yang terdapat dikawasan Ex.PT IFA

Perkampungan masyarakat yang terdapat dikawasan Ex.PT IFA

Daerah yang ada dikawasan hutan Exs PT IFA beberapa tahun silam merupakan kumpulan pohon-pohon lebat yang rapat. Beberapa bagiannya juga terdapat bencah, tanah berair. Sekarang pemandangan seperti itu susah ditemui didaerah ini. Meskipun masih ada pepohonan tetapi tidak lagi rapat. Kawasan tersebut telah banyak yang mendiaminya. Telah banyak masyarakat yang membuat perkampungan dikawasan ini. Satu diantara perkampungan penduduk dikawasan ini adalah Estapet. Penduduk yang membuat perkampungan didaerah ini menyulap pepohonan besar dan lebat menjadi rumah dan areal lahan perkebunan. Kawasan ini dahulunya masih banyak didiami si datuk besar yakni gajah, sekarang mereka seperti kebingungan mencari tempat tinggal mereka yang aman dan nyaman.

Seperti sebuah mimpi, hutan yang dulunya adalah rumah bagi para binatang dan tempat dimana mereka mencari makan. Sekarang telah menjadi perkampungan, dan ladang masyarakat. Kawasan hutan exs PT.IFA ini contohnya. Tiada lagi tempat para binatang untuk berlindung, seperti gajah dan harimau. Pembukaan lahan yang dilakukan oleh masyarakat untuk dijadikan perkampungan dan lahan perkebunan, membuat gajah dan harimau kehilangan tempat tinggal. Sungguh menyedihkan…..!! Padahal didaerah ini masih terdapat beberapa sekumpulan gajah liar dan harimau Sumatera.

Pembukaan lahan oleh masyarakat dikawasan Ex.PT IFA

Pembukaan lahan oleh masyarakat dikawasan Ex.PT IFA

Jadi, tidak heran bila kita pergi kedaerah ini akan menjumpai sekumpulan gajah-gajah liar yang berliaran. Bahkan kadang kala para gajah-gajah liar ini merusak rumah dan tanaman masyrakat yang ada disekitar daerah ini. Masyarakat yang bermukim didaerah ini rata-rata berasal dari luar daerah. Dan jumlahnya lumayan cukup banyak, hingga mencapai sekitar 800 kepala keluarga.

Camera Trap

Zulfahmi sedang melakuka pemasangan camera trap

Zulfahmi sedang melakukan pemasangan camera trap

Ada beberpa lokasi pemasangan camera trap dikawasan hutan PT. Lestari Asri Jaya dan Hutan lindung Bukit Sosah.  Dan terdapat dua jenis camera yang dipasang dikawasan ini yaitu jenis Bussnel dan Reconix. Camera ini dipergunakan untuk merekam keberadaan satwa-satwa liar yang terdapat dikawasan ini, terutama Harimau Sumatra ( Panthera tigris sumatrae ).

Jika anda melewati atau memasuki hutan PT. Lestari Asri Jaya dan Hutan Lindung Bukit Sosah ini, anda harus berhati-hati, karena disana terdapat beberapa camera pengintai yang siap menjempret anda. Camera yang memiliki sensor imframerah yang telah didesain dalam camera tersebut, camera ini akan menyempret dengan sendirinya jika ada benda yang melintasinya.

Hujan yang mengguyur di akhir-akhir bulan januari ini sampai minggu pertama bulan pebruari, tidak menyurutkan semangat kami untuk terus berjuang mencari lokasi yang tepat untuk dilakukan pemasangan camera. Camera trap ( kamera jebakan ) akan menjadi saksi bisu, bahwa dikawasan ini masih terdapat harimau Sumatera ( Panthera tigris sumatrae ).

Kawasan hutan PT.Lestari Asri Jaya dan hutan lindung bukit sosah menjadi tempat tinggal harimau sumatera saat ini. Walaupun kawasan ini kurang begitu nyaman bagi mereka, namun hanya inilah tempat yang bisa dijadikan rumah bagi harimau yang ada disekitar daerah ini. Apalagi kawasan PT.Lestari Asri Jaya ini, tidak akan lama lagi akan dijadikan hutan industri. Sekarang saja telah banyak masyarakat yang mulai membuka lahan didaerah ini untuk dijadikan lahan perkebunan. Hanya hutan lindung bukit sosah yang menjadi harapan kita kedepan nya, untuk menjadi rumah bagi harimau tersebut. Mengingat inilah harimau satu-satunya yang masih bertahan di Indonesia, setelah harimau Jawa dan Bali punah. Semoga hutan lindung bukit sosah tetap bisa bertahan.

Jejak Harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.LAJ

Jejak Harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.LAJ

Setelah dilakukan penjelajahan dikawasan ini, terdapat beberapa titik keberadaaan harimau Sumatera yang ditemui, baik itu merupakan tanda tapak / jejak, kotoran maupun tanda cakaran nya dipohon. Untuk merekam keberadaan nya ini, maka dilakukan pemasangan camera penjebak pada dua puluh titik pemasangan. Dengan jarak antara camera yang satu dengan yang lainnya berjarak sekitar dua kilometer. Kamera dipasang berpasangan, agar kita mendapatkan kedua sisinya yaitu sisi kiri dan kanan.

Camera jenis bussnel memakai image size 5 M pixel, dengan capture number 2 photo, dan intervalnya 15 detik, serta menggunakan sensor level normal / high. sedangkan camera jenis reconix menggunakan sensitive medium, dengan picture per trigger 2, picture interval 3, dan quid period 30 detik, serta resolutionnya 3,1 mp.

Camera trap dan peralatannya

Camera trap dan peralatannya

Beberpa lokasi keberadaan harimau sumatera yang ditemukan dikawasan hutan PT.Lestari Asri Jaya

Nama umum Nama latin GPS keterangan
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Tapak / Jejak
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Tapak / Jejak
 

Harimau

Panthera tigris sumatrae _ Kotoran

Pemasangan camera dilakukan selama dua mingguan, mulai dari akhir bulan januari sampai pertengahan bulan pebruari. Sebelumnya telah dilakukan pra survey terhadap kawasan ini, namun setelah di nyatakan bisa untuk dilakukan pemasangan. Maka barulah dilakukan pemasangan camera tersebut. Dan pada akhir bulan pebruari ini akan dilakukan kembali pengecekkan terhadap camera – camera tersebut.

Semoga camera-camera yang dipasang pada dua kawasan ini dapat merekam keberadaan harimau Sumatera tersebut.

*****Salam rimba*****

bergelut dengan resam diantara perbukitan


Termenung setelah melewati tebalnya tumbuhan pakis resam

YULIUS EPENDY duduk termenung di sela-sela teriknya panas matahari, setelah selesai berjuang melewati tebalnya tumbuhan pakis resam yang menutupi jalan-jalan bekas jalan logging. Tidak dapat dihindari lagi, pendy begitu dia biasa disapa terpaksa harus merayap menembus pakis resam tersebut, karena dikiri kanan jalan yang dilewatinya terdapat jurang yang terjal. Pelan tapi pasti itulah pendy, walaupun pelan tapi dapat juga menembusnya. Kadang kala harus jungkir balik karena kaki tersanjung batang-batang resam yang keras. Setelah jatuh kemudian bangkit lagi, pantang menyerah.

Walaupun begitu, pendy tetap bersemangat menembus tebalnya pakis resam. Membuka jalan untuk teman-temannya yang ada dibelakang mengikutinya. Sesekali pendy terbatuk-batuk karena menghirup serbuk pakis resam tersebut.

Sesekali juga pendy memandang ke atas sambil mengusap keringat yang terus membasahi wajah dan tubuhnya. Dan setelah berjalan beberapa jam, pendy merasa kakinya sudah terasa lelah dan tubuhnya sudah bermandikan keringat. Namun begitu tumbuhan pakis resam yang dilewati belum juga selesai ditembus.

mendaki bukit yang terjal

Terlepas dari padatnya tumbuhan pakis resam, pendy harus menuruni lembah-lembah dan mendaki bukit-bukit yang lumayan terjal. Lembah demi lembah pendy turuni dan bukit demi bukit dia daki dengan penuh semangat.

Walau melewati tebing sekalipun. Tiada kata menyerah dan tiada kata tidak bisa. Sebelum semuanya dicoba.

Bermain dengan tumbuhan pakis resam dan perbukitan bukan kali ini saja dialami pendy, akan tetapi sudah berkali-kali dialaminya selama dia bergabung bersama tim riset harimau sumatera.

Pendy ikut bergabung bersama tim riset harimau sumatera dari tahun 2008 sampai sekarang, walaupun statusnya masih Tenaga lokal, namun tidak menyurutkan semangatnya untuk membantu tim dalam melakukan kegiatan yang sedang dilaksanakan oleh WWF Indonesia.

Dan saat ini tim kami terdiri dari empat orang, yaitu Yulius Ependy, Leonardo subali, Amrizal, dan saya Kusdianto, yang sedang melakukan survey occupancy didaerah koridor Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling- Cagar Alam Bukit Bungkuk, kabupaten Kampar-Riau, mencari tanda-tanda keberadaan harimau Sumatra dan mamalia besar lainnya. Kami mengumpulkan informasi dari masyarakat sekitar tentang tanda-tanda keberadaan harimau. Tanda-tanda tersebut kami perlukan untuk mendukung studi populasi dan distribusi harimau Sumatra yang tengah dilaksanakan oleh WWF Indonesia dimana saya ikut bergabung.

Setelah informasi terkait didapat, kami akan melakukan penjelajahan didaerah tersebut yang dinamakan Survey Occupancy Harimau Sumatra dan Mamalia Besar lainnya. Kemudian akan dilakukan pemasangan kamera jebak ( camera trap) pada beberapa lokasi sample untuk mendapatkan informasi yang akurat guna mendukung penelitian yang sedang dilakukan. Ini survey yang pertama kami lakukan dikawasan ini.

Dalam perjalanan yang begitu panjang banyak rintangan yang ditempuh tim, baik berupa tumbuhan pakis resam yang sulit dilewati sampai mendaki bukit yang begitu terjal, dengan cuaca yang kurang bersahabat. Pada saat ini cuaca sangat sulit ditebak, dalam kondisi cuaca yang panas tiba-tiba saja berubah menjadi gelap dan akhirnya menurunkan hujan. Mungkin ini akibat pemanasan global yang terjadi di negeri ini.

Hari berganti dan terus berganti. Setiap kali sang perkasa siang menunjukan wujudnya pasti akan hilang dan bersembunyi, sejalan dengan keadaannya menurut qodrat dan kehendak yang ditentukan Yang Maha Kuasa. Hampir-hampir tak terasa tim sudah hamper satu minggu didalam hutan belantara ini, hingga akhirnya tim sampai ditepi sebuah sungai yang dinamakan Sungai Batang Ulak.

PENEBANGAN LIAR

Sungai Batang Ulak yang dijadikan Track untuk mengambil kayu olahan oleh masyarakat setempat.

Tim menemukan masyarakat yang melakukan penebangan liar disepanjang aliran sungai BATANG ULAK. Masyarakat tersebut mengambil kayu balok yang di hanyutkan disungai batang ulak menuju sungai durian desa Siabu. Kayu-kayu yang dihanyutkan berjumlah ratusan tual dengan panjang satu tual empat meter.

Belum diketahui pasti siapa yang menghanyutkan kayu-kayu tersebut. Pada kayu-kayu tersebut tertulis nama VIKIX. Setelah kami telusuri sungai batang ulak tersebut menuju hulu, kami menemukan kembali beberapa tumpukan kayu olahan. Serta menemukan beberapa orang masyarakat yang sedang menghanyutkan kayu-kayu mereka, salah satunya bernama Ijal. Dia berasal dari Pasaman Timur ( SUMBAR ), dan telah bekerja mengolah kayu dikawasan ini selama 4 tahun, sekarang ia berdomisili didesa Siabu. Serta mempunyai induk semang atau Toke yang menampung kayu-kayu mereka yang juga berdomisili didesa Siabu, namun Ijal enggan untuk menyebutkan namanya.

Masyarakat yang melakukan penebangan liar didaerah ini rata-rata berasal dari daerah Sumatra barat, mereka berjumlah belasan orang dan terbagi beberapa kelompok. Dan menggunakan sungai batang ulak sebagai track mereka.

TARGET DITEMUKAN

Harimau Sumatera ( phantera tigris sumatrae )

Sudah delapan belas hari delapan belas malam tim melakukan penjelajahan dihutan mencari keberadaan harimausumatera dalam kegiatan yang dinamakan survey occupancy harimau sumatera dan mamalia besar lainnya. Dalam waktu yang sekian lama tim belum juga menemukan keberadaan harimau tersebut, hingga akhirnya tim sampai disuatu kampung kecil/ladang-ladang masyarakat dan tim beristirahat disana. Ladang-ladang masyarakat yang dibuka pada tahun 2007 silam, dengan luas 200 ha. Lokasi ini rencananya dijadikan untuk pemekaran desa Sei.Rambai, kecamatan Kampar kiri, kabupaten Kampar- RIAU. Disini tim mendapatkan beberapa informasi tentang keberadaan harimau sumatera dan mamalia besar lainnya, seperti gajah, beruang dan tapir.

Menurut cerita masyarakat sekitar, didaerah ini terdapat 15 ekor harimau yang sering berkeliaran didaerah pembukaan lahan masyarakat sei rambai ini. Namun belum pernah terjadi konflik dengan masyarakat sekitar. Untuk memastikan informasi ini, tim mencoba melakukan penjelajahan disekitar daerah ini selama tiga hari. Pada hari pertama, tim tidak menemukan keberadaannya. Akan tetapi pada hari kedua tim melakukan survey didaerah ini, tim menemukan keberadaan harimau tersebut. yang terdapat dilokasi pembukaan lahan masyarakat.  Jejak tersebut ditemukan dibekas jalan logging, kemudian jejak diidentifikasi dan dicetak dalam plastic trasparan serta difoto. Diperkirakan harimau tersebut melintasi jalan ini pada pagi hari, terlihat dari bekas jejaknya yang masih basah. Dengan kondisi tanah yang berpasir, ukuran jejak tersebut 11 x 12,5 cm ( P x L ), dengan jarak langkah sepanjang 62 cm.

tapak harimau

Didaerah ini tim hanya menemukan satu individu harimau saja, bukan 15 individu seperti yang diceritakan masyarakat setempat.

Terlihat Leonardo subali sedang mencatat temuan keberadaan harimau Sumatra tersebut dalam buku data yang selalu dipegangnya. Leonardo yang juga ikut bergabung bersama tim riset dari tahun 2007 hingga sekarang.

Selain informasi harimau, tim juga mendapatkan informasi tentang keberadaan Gajah Sumatra. Seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat. Tiga bulan yang lalu tepatnya pada bulan pebruari, ada satu ekor gajah Sumatra yang berkeliaran didaerah ini. Namun setelah tim melakukan penjelajahan, tim tidak menemukan keberadaannya, baik menurut tanda jejak maupun tanda kotorannya.

Selain keberadaan harimau Sumatra, tim juga menemukan beberapa keberadaan satwa besar lainnya, diantaranya : TAPIR ( Tapirus indicus ) dan Beruang ( Helarctos malayanus ). Dan beberapa satwa mangsa, diantaranya : Babi ( Sus scropa ) dan Rusa ( Cervus unicolor ). Keberadaan satwa-satwa ini terdapat diberbagai tempat selama dilakukannya survey.

Catatan :

Ada beberapa tanaman dan buah-buahan yang dapat kita jumpai dihutan koridor ini untuk dikomsumsi sehari-hari, diantaranya :

Tanaman Kincung

Jika anda menjelajah didaerah ini, maka anda akan banyak menjumpai tanaman ini yang bias dikomsumsi sebagai tambahan makanan anda. Bentuknya cantik dan berwarna merah, tanaman ini bias dicampur dengan sambal maupun dengan ikan, apalagi ikan Baung……..hehehehe. mencari ikannya juga tidak sulit, disini juga terdapat banyak ikan, anda hanya perlu sebuah pancing untuk menangkapnya. Kalau anda belum pernah merasakan tanaman ini, maka anda termasuk orang yang rugi.

Anda mau merasakan nikmatnya tanaman ini, datanglah dan carilah disekitar hutan-hutan yang terdekat dengan anda. Maka anda akan menemukan tanaman ini dan rasakan kenikmatannya.

Buah Rotan

Selain tanaman Kincung, buah rotan juga bias anda konsumsi sebagai makanan. Bentuknya kecil dan bulat. Warnanya kekuning-kuningan, Jika buah ini sudah masak warnanya akan berubah menjadi hitam. Rasanya sedikit asam dan sedikit manis, kira-kira rasa apa ya….hehehehe. anda mau tahu, rasakan saja sendiri ya.

Dari dua jenis makanan ini, masih ada yang dapat kita konsumsi dilapangan, seperti cempedak hutan. Akan tetapi pada saat ini cempedak hutan belum musimnya berbuah.

cerita&foto by koes

Duma Logastra – Anak Harimau di Koridor Rimbang Baling-Bukit Tigapuluh

Siang itu amat terik. Udara terasa panas. Anginpun sepertinya enggan untuk bertiup. Namun, kami tetap bersemangat dan dengan sigap berjalan mengikuti jalan bekas logging. Tim yang terdiri dari Kusdianto (aku sendiri), Fendy, Egy, dan Agung. Sedangkan tim yang lain melakukan pengecekkan kamera didaerah Kasang Lubuk jambi. Diantaranya Zulfahmi, Karmila, Harry, dan Leo.

Kami meninggalkan mobil Ranger yang baru saja membawa kami dari sungai Singingi di Desa Pangkalan Indarung, sebuah desa yang terdapat di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing )- Riau.

Melangkah pasti, kami berjalan menuju lokasi kamera yang dipasang pada bulan Juli kemarin. Kamera Intai yang dipasang untuk mengetahui keberadaan harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae ) dan satwa lainnya.

Dengan sensor inframerah, kamera intai dapat memotret satwa yang melintas dihadapannya secara otomatis.

Tempat itu berjarak 500 meter dari mobil Ranger diparkirkan, tepatnya dipinggir kebun sawit masyarakat logas.

Langkah kami tiba-tiba terhenti dan mata kami menatap pada sebuah tonggak, dimana kamera intai dipasang. Terlihat kamera intai tidak ada pada tonggak tersebut. Dalam pikiran kami, kamera intai telah hilang dicuri. Pelan-pelan kami mendekati tonggak tersebut.

“ kameranya masih ada……..! ujarku setengah berteriak sambil menghela napas panjang. Lega. Kamera intai tersebut ternyata jatuh dari tonggaknya dan tertutup oleh tumbuhan pakis resam.

Kemudian, aku segera mengambil kamera tersebut. Terlihat ada bekas gigitan pada kamera tersebut. Namun belum pasti satwa apa yang menggigitnya. Untuk membuktikannya aku mengambil memori card nya dan melihatnya pada kamera saku digital yang selalu kami bawa.

Alangkah senangnya hati kami, ternyata yang menggigit kamera ini adalah seekor anak harimau betina dan induknya.

Mantappppp………!!! Teriak kami dengan semangat. Kita mendapatkan gambar seekor harimau betina dan anaknya.

Itu adalah pertama kali, dimana tim riset harimau sumatera mendapatkan gambar anak harimau yang selama ini selalu didamba-dambakan dan lokasi pertama dimana kamera Bushnell dan Moultrie dipasang, kamera yang masih dalam tahap uji coba.

Tiger mom and her cub

Sumatran tiger mom and her cub

Ini suatu kebanggaan bagi kami, mendapatkan anak harimau beserta induknya dalam satu gambar. Kamera intai yang dipasang di daerah Logas utara,  Kuansing- Riau.

Secara spontan, Egy salah satu anggota tim memberi nama anak harimau tersebut yaitu Duma Logastra yang berarti seekor anak harimau di daerah logas utara.

One cute tiger cub - Duma Logastra

Terik matahari siang itu yang  terasa membakar kulit, seakan-akan tidak dihiraukan lagi. Karena semangatnya melihat hasil kamera. Dimana kamera yang masih dalam tahap uji coba ini telah berhasil menjempret seekor anak harimau beserta induknya.

Semangat tim berlanjut pada tempat-tempat berikutnya. Dari 6 ( enam ) lokasi kamera yang dipasang pada koridor Rimbang baling – TNBT, 4 ( empat ) diantaranya mendapatkan gambar harimau. Kelelahan melakukan pengecekan kamera terbayar sudah.

Ada tiga jenis kamera trap yang dipasang pada koridor Rimbang baling – TNBT, yaitu : Deercam , Moultrie , dan Bushnell. Sedangkan kamera Reconyx dipasang di Taman Nasional Tesso Nilo ( TNTN ).

Kamera Deercam telah lama digunakan untuk mengetahui keberadaan harimau sumatera dan satwa lainnya. Semenjak tahun 2005 hingga tahun 2009 (sekarang). Pada tahun 2005, kamera Deercam terdapat sebanyak 130 unit yang sengaja didatangkan dari Negara Amerika. Namun sekarang kamera deercam hanya tersisa beberapa unit lagi, karena banyak yang hilang dan rusak.

Sedangkan kamera Moultrie, Bushnell, dan Reconyx adalah kamera intai jenis digital yang kami uji coba. Ketiga kamera ini menggunakan memori card sebagai tempat penyimpanan gambar.

Dikoridor Rimbang baling – TNBT dipasang 7 (tujuh) titik sample kamera pengintai.

–          Satu titik di daerah Sungai Singingi  (Kuansing). Kamera yang dipasang jenis Bushnell dan Moultrie. Dilokasi ini kamera Bussnel berhasil mendapatkan gambar harimau.

–          Dua titik di daerah Logas Utara  ( Kuansing ). Kamera yang dipasang jenis Deercam, Bushnell dan Moultrie. Ketiga kamera ini berhasil mendapatkan gambar harimau.

–          Satu titik di daerah Kasang Lubuk Jambi  (Kuansing). Kamera yang dipasang jenis Bushnell dan Moultrie. Belum berhasil mendapatkan gambar harimau dari kedua kamera di daerah ini.

–          Tiga titik di daerah bekas konsesi PT. IFA  di Kabupaten Indragiri Hulu. Satu titik diantaranya mendapatkan gambar harimau yaitu di lokasi Anak Talang, kelompok masyarakat asli . Jenis kamera yang dipasang adalah jenis Bushnell.

Sedangkan satu titik lagi dipasang di Taman Nasinal Tesso Nilo, yaitu jenis kamera Reconyx.

Kembali ke Duma Logastra, anak harimau di Logas. Sekarang bagaimana kita memantau perkembangannya dan menyelamatkannya dari berbagai ancaman. Salah satu ancamannya adalah pembukaan lahan yang mengakibatkan habitatnya hilang, serta ancaman dari para pemburu.

Di lapangan tim menemukan beberapa aktivitas masyarakat yang melakukan pembukaan lahan. Di Logas contohnya, dilokasi kamera tim menemukan patokan-patokan lahan yang dibuat oleh masyarakat setempat. Sepertinya lahan ini akan dibuka dan dijadikan lahan perkebunan. Maraknya masyarakat yang melakukan pembukaan lahan dikawasan koridor Bukit Rimbang baling – TNBT, menjadi ancaman terbesar bagi perkembangan anak harimau tersebut.

Haruskah kita membiarkan semua ini terjadi dan menunggunya sampai kritis  ???..

-Kus

birds of the corridor [burung-burung di koridor Rimbang Baling-Bukit Tigapuluh]

saat berada di lapangan, ada banyak hal yang bisa diamati, termasuk jenis-jenis burung. selain sebagai indikator kondisi lingkungan, nyanyian merdunya senantiasa menyapa di pagi dan sore hari. pernah kah membayangkan camping di tepi sungai di dalam hutan tapi tanpa mendengar dendang riang sang burung? entah apa jadinya berpetualang di hutan tanpa ditemani keberadaan mereka.

berikut sedikit oleh-oleh dari perjalanan uji coba camera trap digital di koridor Rimbang Baling dan Bukit Tigapuluh. saya hanyalah pengamat burung kelas super amatir sekaligus fotografer satwa liar kelas nol kecil. terima kasih pada mas swiss yang sudah membantu mengidentifikasi jenis-jenis burungnya. ini sekaligus uji coba pada kamera panasonic lumix dmc fz28 yang saya dapatkan bulan yang lalu. semoga setelah bisa nemu triknya, hasil gambarnya bisa lebih bagus sehingga memudahkan identifikasi.

1. Indonesia Name: Takur Tenggeret; Scientific Name: Megalaima australis; Common Name: Blue-eared Barbet; Lokasi perjumpaan: Sungai Singingi

Blue-eared Barbet

2. Indonesia Name: Merbah Belukar; Scientific Name: Pycnonotus plumosus; Common Name: Olive-winged Bulbul; Lokasi perjumpaan: Air Terjun Kasang

Pycnonotus plumosusOlive-winged Bulbul

3. Nama Indonesia: Burung Kutilang; Scientific name: Pycnonotus aurigaster; Common name: Shoty-headed Bulbul; Lokasi perjumpaan: Air Terjun Kasang

Pycnonotus aurigasterShoty-headed Bulbul

4. Nama Indonesia: Kadalan Kera; Scientific name: Phaenicophaeus tristis; Common name: Green-billed Malkoha; Lokasi perjumpaan: Air Terjun Kasang

Green-billed Malkoha

5. Nama Indonesia: Burung Madu Kelapa; Scientific name: Anthraptes malacensis; Common name: Brown-throated Sunbird; Lokasi perjumpaan: Desa Talang Mulya

Anthraptes malacensis

6. Nama Indonesia: Cekakak Belukar; Scientific name: Halcyon smyrnensis; Common name: White-throated Kingfisher; Lokasi perjumpaan: Desa Talang Mulya

Halcyon smyrnensis

7. Nama Indonesia: Cipoh Kacat; Scientific name: Aegithina tiphia; Common name: Common Iora; Lokasi perjumpaan: Camp Agas, ex PT. IFA

Common IoraAegithina tiphia

8. Nama Indonesia: Tiong Lampu Biasa; Scientific name: Eurystomus orientalis; Common name: Oriental Dollar bird; Lokasi perjumpaan: Camp Agas, ex PT. IFA

Eurystomus orientalis

9. Nama Indonesia: Gagak Hutan; Scientific name: Corvus enca; Common name: Slender-billed Crow; Lokasi perjumpaan: Sungai Singingi

Corvus enca

10. Nama Indonesia: Empuloh Leher Kuning; Scientific name: Crininger finschii; Common name: Finsch’s Bulbul; Lokasi perjumpaan: KUD Talang Mamak, ex PT. IFA; Status IUCN: Near Threatened (NT)

Crininger finschii

11. Nama Indonesia: Brinji Mata Putih; Scientific name: Iole olivacea, Common name: Buff-vented Bulbul; Lokasi perjumpaan: KUD Talang Mamak, ex PT. IFA; Status IUCN: Near Threatened (NT)

Iole olivacea

masih ada beberapa gambar yang belum selesai diidentifikasi. karena gambarnya agak gelap jadi warna burungnya kurang nampak, sehingga harus sedikit meminta mata agar mau extra kerja supaya jenisnya bisa teridentifikasi. dan ada lebih banyak burung yang luput terpotret. maklum, amatiran, jadi masih belum berpengalaman memotret yang baik dan ok. oh ya skalian, jika ternyata ada kekeliruan dalam identifikasi atau pengejaan nama, mohon kesediaan pembaca untuk langsung mengkoreksi.

meski pegal leher dan tangan karena berburu gambar burung, ternyata setelah melihat hasilnya bisa jauh lebih menyenangkan. leher pegal? sudah lupa tuh.., hehe :p

Singingi

pertama kali mengetahui namanya, ditelingaku terdengar seperti irama merdu yang dengan lembut mengalun. sungai singingi adalah sahabat sungai kuantan. kedua sahabat karib inilah yang menjadi nadi bagi masyarakat di kabupaten yang namanya diambil dari nama mereka, KUANtan SINGingi.

bagi ftt, singingi adalah tempat yang senantiasa membuat rindu membuncah. saya tak pernah tahu mengapa.., hingga akhirnya saya berkesempatan untuk menyapanya pertama kali di bulan april. saat itulah saya dapatkan jawabannya. sungainya besar, airnya jernih dan bening seperti air minum botolan dan galon yang dijual di warung-toko dan supermarket. bahkan dari atas bukit, bebatuan yang berada didasarnya dapat terlihat dengan jelas. melihatnya dari atas, rasa tak sabar ingin membuka sandal, melepaskan baju tuk berenang menyelaminya datang menggebu-gebu. kujejakkan kaki ke dalamnya, airnya wiiih diiiinggggiiiin..  tak sadar sayapun tersenyum. tak perlu jauh-jauh ke gunung leuser di aceh sana untuk menikmati sungai bening pembuat rindu. segera kubergabung dengan teman-teman yang telah lebih dulu membenamkan diri dalam singingi. menikmati kesegarannya dan kesejukan pagi bersama hijaunya sekeliling singingi.

kali kedua saya menemuinya. sengaja saya memilih tempat tidur paling kanan. agar ketika bangun keesokan harinya dan kupalingkan wajahku ke kanan, singingi yang pertama kali kutangkap. siapa yang tidak akan betah dengan pemandangan pagi seperti ini?

view from my sleeping spot

sementara saya menikmati sekitar singingi yang masih tertutup kabut pagi, teman-teman masih terbelai dalam tidur lelapnya. entah bermimpi apa..

folks at tent

yang tidur diapit dua ranger juga sepertinya masih asik dalam sleeping bag masing-masing. kecuali bang rhony dan bang erizal yang lebih memilih menikmati hangatnya ranger.

folks between rangers

saat matahari menjejakkan diri lebih tinggi, semua kantung tidur sudah kosong ditinggal penghuninya. ada yang langsung memenuhi panggilan pagi dan ada yang masih berusaha menggenapkan nyawanya. sementara tim logistik dengan sigap menyiapkan sarapan.

egy nyambel

saat sedang menunggui egy mengolah cabe-bawang-tomat menjadi sambal, fendy yang baru selesai laporan pagi bersuara, “sungainya beda sekarang”. hah., pikirku, emang sungainya sebagian berubah jadi jalan? (kami tiba malam hari sehingga tidak dapat memperhatikan kondisi singingi saat itu juga) “airnya keruh. rasanya aneh. mungkin karena ada orang nebang kayu di seberang. kayunya ada tuh di bawah”. lanjut fendy lagi. duh., lega hati saya. tapi, eitss.. orang nebang? kayu? penasaran, saya turun juga ke bawah. di tempat biasanya kami menaruh pakaian ganti sudah ditempati oleh tumpukan balok kayu. di seberang sungai tampak bekas-bekas tebangan.

tumpukan kayu

saya terus lanjut ke bawah, ke sungai. sesampainya di sana kujejalkan kakiku ke dalam air. dinginnya masih seperti pertama kali saya kesini. tapi airnya jauh lebih keruh. sedih. ntah sudah berapa pohon yang ditebang disana.

baru saja coba mengalihkan rasa sedih karena temuan di pinggir sungai dengan sarapan yang menggoda mata dan perut, tiba-tiba terdengar suara keras dan cempreng. datangnya dari arah hulu. “waah…” seru harry. “pantas airnya keruh. ditambang orang!”. karena tidak mengerti, saya bertanya pada agung maksud omongan harry. “orang cari emas. ini suara dompengnya, mesin penyedot pasir” terang agung. rasa sesak kontan menusuk dada saya. saya bahkan belum sempat berkomentar tentang penambang emas ini saat raungan chainsaw terdengar dari arah seberang. lengkaplah pagi itu. suara mesin penambang emas dan mesin penumbang pohon bersaingain memenuhi ruang udara singingi. tidak menyisakan secuil ruang pun untuk aliran sungai singingi terdengar.

PETI

PETI, penambang emas tanpa izin adalah kegiatan yang sudah lama menghantui sungai-sungai di riau. meski sudah berusaha diberantas, mereka seperti plak pada gigi yang tetap kembali datang meski sudah dibersihkan. kegiatan ilegal ini tidak hanya akan memporak-porandakan kualitas air sungai singingi, tapi juga orang-orang yang mencari nafkah dari kegiatan perikanan. limbah dari kegiatan penambangan emas akan menabur racun mematikan bagi berbagai jenis ikan dan udang. tidak terlupa, ancaman bagi kesehatan manusia.

selama pertumbuhan manusia masih seperti deret ukur, artinya penambahannya terjadi begitu cepat dalam hitungan waktu yang singkat, tekanan terhadap sumber daya alam akan semakin bertambah besar. karena begitu banyak mulut yang harus disuapi, begitu banyak perut yang minta diisi. tapi mungkin jika kita tidak rakus menjarah apa yang tampak oleh mata dan bisa mengendalikan nafsu konsumsi, kita bisa berpikir lebih jernih bahwa sumbar daya alam tidak untuk dihabiskan bagi kehidupan sekarang ini, tapi untuk bekal bagi generasi mendatang.

saya pribadi berharap, semoga tidak ada emas secuil pun yang mereka temukan di singingi bagian hulu ini, sehingga singingi tidak terus tercemari oleh limbah mesin mereka. dan saat kembali pada trip berikutnya, masih kami temukan singingi seperti yang terekam dalam ingatan kami.

damai singingi

enjoy the adventure,

save our forests, rivers & wildlife