Cerita Kecil tentang Pengamatan Harimau di Sungai Lisun

Jam menunjukan pukul 7.15  pagi, aku duduk di bangku teras rumahku sambil menikmati secangkir teh manis hangat dan menikmati hisapan demi hisapan asap rokok yang mengepul dimulut. Pagi itu, kamis tanggal 21 agustus 2014, diteras tersebut aku sedang menunggu driver Erizal datang menjemput karena rencananya pagi ini aku bersama teman-teman seperjuanganku akan berangkat menuju kota Sijunjung (Sumatera Barat) untuk melakukan kegiatan Survey Harimau dan satwa besar lainnya, tepatnya di hutan penyangga Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Baling yang sekarang dinamakan Koridor Rimba.

Ada sampai dua jam aku berada diteras rumah menunggu driver Erizal datang. Matahari pun sedikit demi sedikit mulai naik, menandakan hari semakin siang. Batang demi batangan rokokpun telah habis aku hisap dan teh manispun juga telah habis. Akan tetapi tanda-tanda kedatangan driver Erizal belum juga ada.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja aku mendengar suara klakson mobil, ternyata itu suara klakson mobil yang dikendarai driver Erizal. Sebuah mobil ranger 4WD warna hijau lumut yang menjadi andalan ketika kami menjelajahi alam rimba.

Bergegas aku mengambil semua peralatanku. Mulai dari peralatan pribadi sampai peralatan survey, semua itu aku masukan kedalam mobil ranger yang telah parkir di depan rumahku. Setelah semuanya selesai dimasukan dan tidak ada lagi yang tertinggal, aku bersama driver Erizal segera berangkat menuju kediaman teman-temanku yang lain untuk menjemputnya. Dimana teman-teman aku itu adalah Amri, Ali Usman dan Yulius Ependy.

Sesampainya di tempat mereka, aku melihat mereka masih asyik mengemas peralatannya masing-masing. Dan aku pun turun dari mobil untuk menghampiri mereka, serta ngobrol-ngobrol sejenak sebelum kami meluncur menuju kota Sijunjung.

Selesai berkemas, mereka langsung memasukan peralatannya ke dalam mobil. Dan kami pun berangkat. Mobil yang dikendarai oleh driver Erizal melaju kencang di jalan raya Pekanbaru-Taluk kuantan.

Dalam perjalanan kali ini cuaca sedikit mendung, terlihat awan yang semula berwarna putih sekarang sudah berubah menjadi hitam. Sepertinya akan turun hujan untuk membasahi bumi.

Memang, tidak lama kemudian hujanpun turun dengan derasnya yang membuat pandangan sedikit terhalang, sehingga driver Erizal sedikit memperlambat dan mengurangi kecepatan mobilnya.

Karena kondisi cuaca yang tidak bersahabat maka target perjalanan hari ini tidak tercapai yaitu Kota Sijunjung. Kami pun beristirahat di Kota Taluk kuantan, rencananya perjalanan ini akan dilanjutkan esok harinya.

Pagi menjelang dan matahari telah memancarkan sinarnya di ufuk Timur. Kami segera melanjutkan perjalanan menuju kota Sijunjung, sebuah kabupaten yang terdapat di Propinsi Sumatera Barat. Di daerah Sijunjung ini aku bersama teman-temanku akan melakukan survey nantinya. Sesampainya di Kota Sijunjung, kami menuju kesebuah desa yang berdampingan langsung dengan hutan yaitu Desa Pinang Durian Gadang, Kecamatan Sijunjung.

Sebelum kita sampai di Desa Pinang Durian Gadang ini, kita dapat melihat pemandangan yang indah, bukit-bukit menjulang tinggi ditumbuhi pepohonan yang rimbun dan dinding-dinding batu yang menjadi penghiasnya.

Di Desa Pinang Durian Gadang ini kami menemui kepala jorong nya terlebih dahulu untuk melapor sebab kami memasuki daerah mereka. Setelah melapor dan meminta izin, kami mencari sebuah lokasi untuk bermalam dan beristirahat. Malam ini kami tidak menumpang menginap dirumah warga, akan tetapi kami mencari sebuah lokasi yang terdapat di ujung desa tersebut.

Di ujung desa tersebut ada suatu lokasi penghijauan yang dilakukan oleh pihak kehutanan, disitulah kami mendirikan tenda sebelum kami memasuki kawasan hutan untuk melakukan survey.

Esok harinya, mulailah kami melakukan kegiatan survey. Arah yang dituju adalah Sungai Lisun yang berjarak sekitar lima kilometer dari lokasi kami sekarang.

Pertama kami memasuki pekebunan karet masyarakat setempat sebelum kami mencapai hutan. Kami terus bergerak kearah utara mencapai hutan yang lebat. Jalan yang di ikuti adalah jalan setapak yang terdapat dipunggungan bukit, jalan setapak ini sering digunakan masyarakat setempat jika mereka pergi ke daerah Sungai Lisun untuk mencari ikan, burung dan gaharu.

Setapak demi setapak kami berjalan, menuju bukit dengan ketinggian 900 meter dari permukaan laut. Lambat tapi pasti kami terus berjalan sambil melakukan pengamatan terhadap apa yang ada disekeliling kami terutama pengamatan terhadap keberadaan Harimau maupun satwa besar lainnya.

Keringat sudah mulai membasahi tubuh, carriel dipundak tetap bergantung yang menambah beratnya langkah kaki. Namun, itu tidak menyurutkan langkah kaki kami untuk terus berjuang mendaki puncak 900 meter tersebut.

Selangkah demi selangkah akhirnya kami menyelesaikan transek yang pertama (1 x transek berjarak 1 km), di dalam satu transek terdapat 10 segmen (ruas-ruas transek, 1 segmen = 100 meter).

Selesai transek yang pertama, maka kami segera melanjutkan transek yang kedua. Puncak 900 meter masih jauh di depan, kami terus berjuang untuk mencapainya. Akan tetapi tak terasa hari sudah sore, matahari sudah condong ke arah barat, sedangkan puncak 900 meter masih berjarak sekitar satu kilometer lagi. Tentu saja dengan jarak satu kilometer tersebut terasa jauh, apalagi kondisinya menaik dan juga haripun sudah sore serta di atas puncak tersebut kami tidak akan mendapatkan air. Maka kami memutuskan untuk melereng bukit untuk mencari sumber air dan beristirahat disana. Melereng dan menurun mencari sumber air, melewati lereng yang berbatu. Sebelum senja merangkak, kami telah menemukan sumber air di sebuah lereng bukit, dan kami pun mendirikan tenda di sana untuk beristirahat.

Senja pun merangkak dan gelap datang tanpa diterangi sang rembulan. Kami pun beristirahat dibawa bentangan terpal hitam sebagai pelindung dari dinginnya malam.

Disaat pagi menjelang, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak 900 meter dari permukaan laut untuk melakukan transek yang berikutnya. Semangat pagi dan tenaga penuh estra kami bergerak menuju puncak 900 meter tersebut. Mendekati puncak 900 meter, kami melewati jalan berbatu, perlu kehati-hatian untuk melewatinya, jika tergelincir sedikit saja bisa fatal akibatnya. Batuannya cukup tinggi dan terjal, sehingga kami memerlukan bantuan tangan untuk menaikinya.

Dengan bercucuran keringat di badan, akhirnya kami tiba dipuncak 900 meter. Teriakan demi teriakan dilontarkan diatas puncak menandakan kami telah berhasil menaikinya.

Kami beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan yang indah. Terlihat bukit-bukit menjulang tinggi yang ditumbuhi pepohonan yang lebat dan rimbun. Sungguh indah alam ini, mari kita sama-sama menjaga keindahannya ini.

Di atas puncak tersebut; semilir angin, hangatnya matahari, rindangnya dedaunan membuat pikiran tenang dan mendadak ngantuk. Namun, perjalanan belum usai. Kami harus kembali menuruni puncak tersebut menuju sungai lisun.

Setelah melepaskan lelah dan penat serta menikmati pemandangan indah, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun. Langkah demi langkah kami tidak luput dari pengamatan. Sekitar 200 meter dari tempat kami beristirahat, kami menemukan kotoran yang kami perkirakan milik  harimau. Ukuran atau kondisi terkait kotoran yang kami amati itu kami tulis ke dalam buku data serta diabadikan dalam bidikan kamera yang selalu kami bawa untuk keperluan dokumentasi.

Setelah kotoran itu dicatat ke dalam buku data dan diabadikan dalam bidikan kamera, maka kami kembali melanjutkan perjalanan. Berjarak 100 meter, kami kembali menemukan kotoran tersebut, sepertinya puncak bukit ini sudah menjadi pelintasannya. Dan sangat cocok sekali jika disini dipasang kamera jebak untuk mengambil gambarnya secara langsung. Kami kembali mencatat kotoran tersebut ke dalam buku data yang tak lepas dari genggaman.

Selesai mendata kotoran harimau, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Sungai Lisun dengan menuruni puncak 900 meter ke arah utara. Menurut info dari masyarakat setempat bahwa sungai tersebut dijadikan tempat masyarakat untuk mencari ikan. Sebab dikatakannya sungai ini terkenal dengan banyak ikan berbagai jenis, salah satunya adalah ikan baung dan ikan barau. selain itu, lokasi sungai ini juga dijadikan masyarakat untuk mencari burung dan gaharu.

Dalam perjalanan menuju Sungai Lisun, banyak bekas-bekas camp/tenda masyarakat yang kami temukan, kemungkinan ini digunakan untuk beristirahat sebelum mereka sampai ke tujuannya.

Sesampainya di sungai, kami mencoba mencari lokasi untuk mendirikan camp. Kebetulan waktu itu kondisi sungai sedang surut. Terlihat bebatuan pada sungai tersebut sudah banyak yang berlumut, sepertinya sudah lama tidak terjadi banjir pada sungai ini.

Pagi yang cerah, sang mentari memancarkan sinarnya dari ufuk Timur. Kami bergegas menuju hulu Sungai Lisun untuk melakukan survey, mencari keberadaan Harimau dan satwa lainnya. Menyusuri sungai dengan melawan arus, sekitar tiga kilometer atau sekitar tiga transek yang dilakukan. Dalam tiga transek tersebut, kami menemukan beberapa tanda keberadaan satwa, seperti Tapir dan Babi hutan. Selain temuan satwa, kami juga menemukan beberapa bekas pondok masyarakat yang terdapat dipinggir-pinggir sungai. Sepertinya Sungai Lisun ini menjadi tempat yang strategis untuk masyarakat mencari kebutuhan hidup, seperti mencari ikan, mencari burung dan mencari gaharu.

Sungai Lisun juga menjadi tempat dimana kami melakukan survey. Setelah melakukan survey dibagian hulunya, kami melanjutkan survey ke arah hilirnya. Dipinggir-pinggir sungai ini terdapat banyak jalan setapak masyarakat, sehingga dengan mudah kami mengikuti jalan setapak tersebut menuju arah hilir sungai, sesekali kami menyeberangi sungai yang harusnya lumayan deras, meskipun kedalamannya hanya satu meter tapi sangat menyulitkan kami untuk menyeberanginya. Jika pijakan tidak kuat, siap-siaplah terpeleset dan jatuh kedalam air. Bahkan, jika tidak mampu menahan air maka kami akan hanyut terbawa arus.

Berhasil menyeberangi sungai yang cukup luas itu, perjalanan dilanjutkan mendaki bukit yang terdapat dipinggir sungai tersebut dan mencari jalan setapak menuju hilir sungai. Lebih kurang 500 meter kami berjalan mengikuti jalan setapak tersebut, kami turun kembali ke sungai dan menelusuri aliran sungai.

Setelah berjalan setengah jam menelusuri sungai, kami menemukan bekas pondok masyarakat yang terlihat masih kokoh dan kuat, didepan pondok tersebut terdapat pulau kecil dengan bebatuan kerikil yang bertaburan di atasnya.

Melihat hari sudah sore maka kami memutuskan untuk memasang tenda di pondok masyarakat tersebut dan beristirahat di sana.

Dalam perjalanan ini kami tidak begitu banyak menemukan tanda-tanda keberadaan satwa, hanya keberadaan babi hutan dan beruang yang kami temukan, masing-masing tanda jejak dan cakaran di pohon.

Disaat malam mulai merangkak, kami pun beristirahat melepaskan kelelahan dan keletihan berjalan di siang harinya, hingga pagi menjemput.

Pagi itu, tepatnya hari jumat, kami kembali melakukan aktivitas yaitu melakukan survey mencari tanda-tanda keberadaan Harimau dan satwa besar lainnya yang ada di kawasan ini. Kali ini kami menuju arah barat, melewati hutan yang lebat. Hawa dingin dan keheningan langsung membekap ketika melewati  punggungan bukit. Jalan yang kami lewati nyaris tidak tersentuh matahari karena rapatnya pepohonan dan kabut yang menyelimuti hutan.

Disini fauna hutan mulai terlihat, monyet-monyet dan beruk bisa dijumpai hampir disepanjang perjalanan. Tidak cuma monyet dan beruk, ungko dan siamang pun mulai mengeluarkan suara merdunya. Dari kejauhan kami mendengar suara ungko dan siamang sahut bersahutan satu sama lainnya. Mereka mengeluarkan bunyi-bunyian yang menjadi ciri khas nya seolah-olah mereka sedang bernyanyi di dalam kegembiraan.

Dengan adanya suara ungko dan siamang yang saling bersahutan, maka bisa dikatakan keasrian hutan ini masih terjaga seperti yang kami lewati saat ini.

Kami terus berjalan menuju arah Barat, menyusuri hutan yang lebat dan menaiki bukit yang tidak terlalu tinggi. Serasah yang tebal menyulitkan kami untuk menemukan kebaradaan satwa. Hanya keberadaan babi hutan yang dapat kami temukan. Sebelum matahari terbenam kami telah kembali lagi ke pondok.

Malamnya kami mencoba diskusi untuk kegiatan esok harinya. Hari esoknya kami rencanakan untuk kembali menyusuri aliran Sungai Lisun. Tanpa kami sadari, malam itu hujan turun dengan derasnya sehingga membuat air sungai banjir dan keruh. Karena air sungai naik maka kami tidak bisa menyusurinya, airnya terlalu deras dan dalam. Maka diputuskan untuk membuat rintisan di pinggir sungai tersebut. Dalam perjalanan ini kami bertemu dengan dua orang pemuda yang sedang mencari burung Rangkong, atau masyarakat menyebutnya burung Onggang dan gaharu. Salah satu pencari burung Rangkong tersebut bernama Tulus yang berasal dari Desa Durian Gadang. Saat ditemui mereka sedang menumbangi pohon gaharu yang mereka temui. Disamping mereka terdapat senapan angin yang mereka gunakan untuk berburu burung Rangkong tersebut.

Kami sempat ngobrol-ngobrol sama mereka. Mengapa mereka mencari burung Rangkong tersebut? “Karena harga jualnya yang tinggi” jawabnya. Burung tersebut hanya kepalanya saja yang diambil dan dijual. Dikatakannya, saat ini burung tersebut sudah sangat sulit untuk ditemui karena sudah termasuk langkah. Kami pun menjelaskan bahwa saat ini burung Rangkong tersebut adalah burung yang dilindungi. Mendengar perkataan kami mereka hanya diam. Kami juga menjelaskan begitu pentingnya kita menjaga kelestarian hutan.

Setelah bercerita panjang lebar sama mereka, kami kembali melanjutkan perjalanan. Pengamatan terus kami lakukan, mengamati apa yang ada disekeliling kami. Baru berjalan sekitar satu kilometer, kami kembali bertemu dengan enam orang masyarakat yang katanya berasal dari Desa Sesawa, Kecamatan Sijunjung. Kami pun kembali berbincang-bincang, rupanya mereka sedang mencari ikan di Sungai Lisun ini. Berbagai macam alat tangkap ikan yang mereka bawa, pancing, jala, jaring dan tembak ikan. Hasil tangkapannya ini akan dijual kepada masyarakat sekitar.

Memang sungai lisun ini terkenal dengan berbagai macam jenis ikan. Dan ikannya juga lumayan banyak. Maka tidak heran jika masyarakat setempat pergi ke daerah Sungai Lisun ini untuk mencari ikan. Apalagi lokasinya juga tidak terlalu jauh dari perkampungan. Hanya membutuhkan waktu empat jam, mereka sudah sampai di sungai tersebut. Itu perjalanan mereka karena mereka juga sudah hafal jalan untuk menuju daerah ini. Belum tentu dengan kami yang masih buta dengan daerah ini, karena kami hanya mengandalkan peta dan gps sebagai penunjuk jalan.

Kami tidak sempat bercerita banyak dengan mereka, karena mereka bergegas pergi untuk melanjutkan kegiatannya. Dan begitu pula kami, juga melanjutkan perjalanan menuju hilir sungai sebelum hari beranjak sore.

Sudah sepuluh hari kami berada di dalam hutan dan telah menyelesaikan sebanyak tujuh belas transek. Target yang harus dicapai sebanyak dua puluh transek maka masih tersisa tiga transek lagi yang harus dilakukan.

Pagi itu tanggal 3 september 2014 adalah hari terakhir kami. Hari ini kami akan menyelesaikan transek yang masih tersisa. Perjalanan ini tidak lagi menyusuri Sungai Lisun, akan tetapi menaiki bukit dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut sebelum kami turun menuju desa terdekat yaitu Desa Pinang Durian Gadang. Dengan semangat kami mulai menaiki bukit tersebut sambil melakukan pengamatan, perjalanan ini begitu menantang fisik dan mental. Apalagi jalan yang dilewati begitu sulit karena bukitnya begitu terjal, ditambah lagi fisik yang sudah menurun.

Langit terlihat gelap, sepertinya akan turun hujan, sedangkan kami masih asyik menaiki bukit terjal tersebut. Belum lagi kami sampai di puncak bukit, tiba-tiba hujan turun cukup deras, sehingga membuat langkah terhenti dan mencari tempat untuk berteduh. Karena hujannya semakin deras maka kami membentangkan terpal untuk berlindung dari derasnya hujan. Sampai tengah hari hujannya baru reda, maka kami kembali melanjutkan perjalanan menuju puncak bukit.

Setelah sampai diketinggian 600 meter dari permukaan laut, kami melewati bukit gundul. Bukit tersebut hanya ditumbuhi tanaman pakis resam tanpa adanya pepohonan yang melindunginya. Selain gundul, bukit tersebut juga terdapat bebatuan lumayan tinggi dan terjal, ini menyulitkan kami untuk menaikinya.

Setelah berjalan satu setengah jam melewati bukit gundul, barulah kami mencapai keteduhan pepohonan yang masih tersisa dipuncak bukit tersebut. Dengan tenaga yang masih tersisa, kami terus menaiki puncak bukit hingga sampai pada puncak tertingginya yaitu dengan ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Dari puncak bukit ini kami bisa melihat perkampungan yang kami lewati sebelumnya, namun terlihat samar sebab tertutup kabut.

Di puncak bukit ini, kami kembali menemukan jalan setapak menuju perkampungan. Sepertinya jalan ini sering dilewati masyarakat ketika mereka pergi ke hutan. Dengan adanya jalan setapak ini maka kami tidak merasa kesulitan lagi, apalagi jalannya menurun tidak terlalu banyak menguras tenaga. Hanya saja, ketika itu fisik kami benar-benar sudah menurun, ditambah lagi bekal air minum juga telah habis sehingga membuat langkah kami sedikit lemah.

Perkampungan memang sudah terlihat, akan tetapi masih membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai di perkampungan tersebut. Fisik semakin melemah, sehingga membuat perjalanan terasa semakin berat. Hanya semangat yang membuat kami kuat. Lambat tapi pasti, akhirnya kami tiba di perkampungan Pinang Durian Gadang dan menyelesaikan survey yang kami lakukan. Disini kami disambut dengan baik oleh masyarakatnya, mereka dengan senang hati menerima kedatangan kami. Maka kami pun istirahat dan menginap di salah satu rumah warga sebelum kami kembali ke Pekanbaru. Esok harinya, barulah driver Erizal datang menjemput setelah kami mengabarinya. Dan kami pun meninggalkan perkampungan Pinang Durian Gadang menuju Kota Pekanbaru.

Ini hanyalah cerita kecil tentang perjalanan kami disaat melakukan kegiatan survey Harimau dan satwa besar lainnya di kawasan Koridor Rimba, tepatnya di Kecamatan Sijunjung, Sumatera Barat.

Oleh: Kusdianto

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Rimbang Baling #5: perjumpaan dengan ulat genit

Bangun di pagi hari ini menandakan ini adalah hari ke-3 dalam perjalanan kami di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Camp kami, bernama Camp Tangga Jempol, persis menghadap sungai. Camp yang tim bangun dari kayu dan bumbu memiliki kisah tersendiri dengan namanya. Ceritanya, saat membangun bagian tangga dari camp ini, jempol tangan kiri bang Fendy terkena parang, sehingga jadilah camp ini dinamanakan Camp Tangga Jempol.

Hujan yang turun semalaman menyisakan awan mendung. air sungai yang terlihat berwarna keruh, permukaannya pun sedikit lebih tinggi dibandingkan sore sebelumnya. Biji cempedak rebus yang aku makan tadi malam seakan memberi dorongan lebih untuk segera memenuhi panggilan ritual pagi.

Untuk pengambilan kamera pada blok ini, kami membagi diri menjadi 2 tim; aku dan bang Fendy, sementara bang Atta bersama mas Agung. Bang Amri sendiri kebagian menjaga camp. Karena lokasi kamera bang Atta lebih jauh, maka mereka mendapat prioritas untuk membawa bekal.

“Bang Fendy, rute kita bagaimana?” tanyaku saat kami mulai jalan. “Rutenya? hanya ada satu tanjakan kok” jawab bang Fendy santai. Aku yang mendengar itu langsung tersenyum lega. Tapi beberapa saat kemudian, bang Fendy yang berjalan di sampingku melanjutkan, “dibaliknya ada satu tanjakan lagi. setelah itu satu tanjakan lagi. abis itu ya ada tanjakan lagi.. begituu seterusnya”. aku bengong selama sesaat sebelum menyadari bahwa bang Fendy sudah berada di depanku tampak berjalan cepat. tak lama suara tawanya menggantikan suara serangga hutan, “hahaha… kena ya aku kerjain” menyadari itu mau tak mau aku ikut tertawa. dengan tripod mengacung di tangan, aku berlari mengejar bang Fendy yg telah lebih dulu berlari menjauh.

Kejar-kejaran itu hanya bertahan sebentar. berlari di tanjakan itu, terlebih sambil tertawa cukup menguras energi. yang asik dari tanjakan yang kami lalui kali adalah tanjakan panjang yang bersih. aku menamakan bukut ini sebagai bukit palem karena sepanjang penggungan terdapat banyak tanaman palem. Diantara palem-palem tersebut kami mendengar nyanyian Siamang, Symphalangus syndactylus. Suaranya jelas dan terasa dekat sekali dengan kami. Kami pun berjalan dengan hati-hati, berupaya sebisa mungkin tidak bersuara dan berharap dapat melihat Siamang tersebut. Mas Agung yang pertama kali memberi kode bahwa dia melihat Siamang. Aku bergegas menuju ke tempat mas Agung berdiri. Diantra hijaunya tajuk pepohonan, aku berusaha mencari sosok hitam. Kamera kusiapkan di atas tripod. Namun Siamang yang sepertinya mengetahui keberadaan kami berhenti bernyanyi dan terdengar tidak nyaman dengan kehadiran manusia di dekatnya.

Bang Fendy berkata dia melihat ada induk yang membawa anak. woww kalau bisa terfoto atau terekam kamera pasti sangat keren. sayangnya kameraku punya zoom terbatas, tidak mampu menjangkau obyek yang jauh, pun siamang tersebut mulai pindah. Aku bisa melihat ada dua sosok hitam berayun diantara dedaunan yang membentuk kanopi hutan. Aaah aku memang tidak melihat jelas mereka tapi pengalaman ini membuatku sungguh terkesan. Menyaksikan siamang berayun siamang berayun diantara kanopi yang lebat di punggungan bukit ini jauh lebih damai rasanya ketimbang melihat tayangannya di TV, karena jelas ini lebih nyata dan aku senang mengetahui mereka masih hidup liar dan mendiami hutan Rimbang Baling.

Kamera yang aku ambil bersama bang Fendy berada pada jalur satwa di punggungan bukit. Jalurnya bagus, lurus dan jelas. Dari hasil kamera kami mendapat kucing emas Pardofelis temmincki dan macan dahan Neofelis diardi. Sayang, sang datuk tidak ada yang terfoto. Padahal kata bang Fendy, bulan lalu di lokasi ini keberadaan harimau berhasil di terfoto. Mungkin harimau tersebut menjelajahi bagian lain dari hutan Rimbang Baling dan belum kembali di lokasi kamera ini. Di daerah perbukitan, homerange harimau lebih luas dibandingkan harimau yang di hutan dataran rendah karena ini terkait dengan ketersediaan pakannya. Di dataran rendah, jenis satwa mangsa lebih bervariasi, jumlahnya pun lebih melimpah dibandingkan di dataran tinggi.

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

semoga kita bisa menjadi pohon, meski sudah mati namun tetap dapat mendukung kehidupan yg lain

Dalam perjalanan kembali ke camp, ada burung pelatuk ayam yang menemani kami mengambil gambar jamur kecil di sebuah batang pohon mati. Saat menuruni tanjakan yang pagi tadi kami lalui, bang Fendy tak sengaja tersengat ulat bulu. Karena ulat bulunya masih menempel di balik daun, maka kami coba melihat seperti apa ulat bulu yang telah genitnya mencium bang Fendy. Rupanya sang ulat pantas untuk berlaku genit karena ulat bulunya cantiiik  sekali. Warna oranye ngejreng, plus banyak durinya seperti buah durian. keren! Tapi untuk jenisnya kami belum tahu. Kalau ada pembaca yang tahu, atau kenal dengan orang yang mungkin tahu jenis ulat bulu ini, tolong kami dikabari ya. Terima kasih sebelumnya.

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

ulat bulu ciamik [tolong bantu identifikasi jenisnya]

Masih dalam perjalanan kembali ke camp, kami bertemu rombongan bang Rawis yang kala itu sedang menandai beberapa pepohonan dengan cat warna biru. Bang Fendy sedang ngobrol dengan beberapa orang dari rombongan tersebut ketika seorang bapak umur sekitar 40an awal tiba-tiba saja menebang sebuah pohon muda di dekatnya. Aku melongo sekaligus dongkol. Apaan sih orang ini ga penting dan merugikan banget kelakuannya.

Mas Agung dan bang Atta pulang sekitar jam 5 sore dan membawa sekantung plastik cempedak hutan. Waaa… pesta cempedak! aku makan cempedak sampai sampai perutku tak sanggup lagi menerima. ini yang namanya kalap bin gragas, hahaha.

Bang Fendy+bang Atta+mas Agung hendak pergi memancing ketika bang Rawis dan beberapa kawannya datang ke camp kami. Mereka meminta peta kawasan Rimbang Baling untuk dijadikan acuan menandai lahan yang hendak mereka buka dan tanami dengan tanaman karet. Sewaktu kami di drop 3 hari yang lalu, aku melihat bang Zul memberikan peta ke mas Agung. Namun aku tau baik mas Agung maupun bang Fendy tidak akan memberikan apapun kepada mereka. Bang Fendy hanya menjawab singkat bahwa tim tidak membawa peta apapun karena sudah hapal rute yang harus dilewati. siip!

Kami baru makan malam ketika jam menunjukkan hampir jam 10 malam karena menunggu hasil mancing teman-teman. Lumayan ikan yang berhasil diperoleh, tidak hanya untuk makan malam kali ini tapi juga untuk keperluan makan besok hari. Untuk menu malam ini kami makan gulai ikan + labu siam. slruuuppp uenak tenan.

Rimbang Baling #4: hari valentine, pendakian mencret, dan cempedak

14 Februari 2012.. waah Hari Valentine! ini kedua kalinya aku melewatkan hari valentine bersama tim di lapangan. Tahun lalu kami memasang kamera di Hutan Lindung Bukit Sosa, tahun ini mengambil kamera di Suaka Margasatwa Rimbang Baling. Bedanya, untuk valentine kali ini mas Agung sudah sejak pagi mewanti-wanti, “meski ini tanggal 14 februari, orang-orang merayakan hari valentine, disini pokoknya tidak ada yang namanya valentinan-valentinan”. Huuu mas Agung gak asik ah. Padahal hari valentine tahun lalu di Bukit Sosa lumayan sore, teman-teman nyariin bunga berwarna merah dan camp kami pun dinamakan Camp Valentine! untuk seru-seruan, hahaha.

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Camp Valentine di Bukit Sosa 2011

Hari ini kami pindah camp sekaligus mengambil camera trap di titik pertama. Teringat perkataan Mambo, “lepas camp pertama langsung welcome to the jungle, disambut pendakian dan penurunan di hutan Rimbang Baling”. Yup, hari ini kami melalui satu pendakian yang sangat dikenal oleh tim, Pendakian Mencret. Ceritanya pada tahun 2006 lalu, bang Fendy melewati pendakian ini dalam kondisi diare, sehingga harus berhenti beberapa kali untuk buang air, jadilah pendakian ini dinamakan pendakian mencret. hehe ada-ada aja ya namanya. Bagi aku yang sudah lumayan lama tidak turun ke lapangan, kembali ke lapangan, terlebih dengan perbukitan yang menanti, tentunya menjadi tantangan tersendiri. Saat diskusi di kantor Pekanbaru, mendengar cerita teman-teman yang selama beberapa bulan terakhir mengunjungi kawasan Rimbang Baling, membuatku penasaran untuk ikut, namun aku juga khawatir jika ikut akan memperlambat jalan tim. Tapi aku sangaaaat penasaran karena belum pernah ke Rimbang Baling dan juga aku ceritanya Rimbang Baling ini hutannya baguuuuuus sekali. Jika aku mengikuti ini, mungkin trip ini akan menjadi trip lapanganku yang terakhir sebelum aku meninggalkan WWF. Hahhh.. mau kemana? mau sekolah! aku sudah mendaftar sekolah beserta beasiswa lewat program Erasmus Mundus dan Chevening. Kalau diterima, maka sekolahnya mulai Agustus/September.., doakan aku lulus yaa…

Sejak awal meninggalkan camp tanpa itu, kami terus menerus mendaki. meski jalur pendakiannya tidak panjang, tapi cukup membuat aku ngos-ngosan. Cuma aku curiga, pendakian pendek ini kayaknya belum masuk pendakian mencret deh. Dan benar, selepas bang Fendy mengambil gambar pada satu pohon dekat kubangan babi hutan, bang Fendy berkata, “ini dia, selamat datang di pendakian mencret!..” lho, jadi yang tadi itu apaan? meski shock, tapi aku berusaha tetap tampil tenang. Masa baru pendakian pertama udah memble.. malu dong, harus jaga image di depan tim sendiri, haha.

Aku melihat yang lain tampak mengambil nafas beberapa menit sebelum memulai mendaki. aku pun bersiap, menguatkan mental dan berkata pada diri sendiri, “this is it, mila”. aku mengucap bismillah lalu mulai berjalan mengikuti teman-teman. Bang Fendy berada paling belakang berjalan tepat setelah aku.

Setelah beberapa lama, puff.. nafasku tersengal-sengal. betisku lelah namun jalan aku terus berjalan mengikuti teman-teman yang berada di depanku. setelah berjalan kurang lebih sejam, kami berhenti beristirahat di sebuah tempat datar. Semua tampak kelelahan. Bajuku sudah basah kuyup sepenuhnya oleh keringat. “emang sesuatu ya” ucapku. “ini baru satu bagian, abis ini mendaki lagi” ucap bang Fendy. “tapi ini lumayan” lanjutnya lagi, “cuma sejam dari camp ke sini, termasuk cepat kita”. aku tersenyum, menyadari bahwa aku tidak menghambat timku.

Kami baru mulai mendaki lagi beberapa puluh meter ketika bang Atta berteriak, “Cempedaaak!” ku lihat bang Atta seperti terbang keluar dari jalur pendakian. Masih dengan tas membumbung tinggi di punggungnya, dia menyusup di antara pepohonan mencari buah cempedak yang masih utuh diantara sisa-sisa buah yang berserak di atas tanah. Mungkin yang sisa-sisa itu abis dimakan beruk, Macaca nemestrina, atau kera ekor babi.

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Bang Atta dan Mas Agung menikmati buah Cempedak

Buah Cempedak merupakan kerabat buah Nangka. Tekstur kulitnya sama, namun buahnya lebih kecil dan lonjong. Baunya lebih menyengat dari buah nangka, ditambah rasa buahnya yang manis legit. Buah Cempedak pertama yang aku makan di Camp Granit, Taman Nasional Bukit Tigapuluh, rasanya sungguh manis dan lengket. Karena itulah aku tidak terlalu suka buahnya yang lengket di tangan dan di lidah terasa sangat manis. Ketika ditawari cempedak oleh teman-teman, aku ragu beberapa saat, khawatir rasanya yang terlalu manis. Tapi kemudian aku mengambil 1 biji dari mas Agung dan 1 biji lainnya dari bang Fendy. Ternyata rasanya sama seperti yang aku makan pertama kali. “terlalu manis dan lengket. aku udah ah” ucapku menolak tawaran cempedak lagi dari mas Agung.

Tapi buah manis seperti Cempedak adalah cemilan yang sangat bagus bagi kami yang berkegiatan di hutan belantara dan menjalani pendakian. Di pendakian kita memang butuh mengkonsumsi makanan yang manis atau mengandung glukosa,. karena glukosa bisa cepat diolah untuk menjadi energi, yang kita butuhkan. Terlebih buah cempedak ini asli dari hutan, yang gizinya pasti sangat baik bagi tubuh.

Mendekati puncak bukit, nafasku terasa semakin berat. Betis pun sudah mulai teriak minta berhenti. Aku mendaki dengan pelan. Bang Fendy yang berada di belakangku terus menyemangati, “ayo, tinggal 100 meter lagi”. Aku pun sedikit bergegas, mempercepat langkah. Ketika tiba di puncatk bukit, jam di tangan menunjukkan jam 12 siang lebih beberapa menit. Di puncak bukit ini lah kami beristirahat dan makan siang. Puncak bukit ini jugalah yang menandai akhir pendakian mencret.

Bang Atta menuruni sisi lain dari pendakian dan beberapa saat kemudian kembali dengan sebuah cempedak di tangannya. Mas Agung yang langsung mencicipi berkata, “enak nih, ga terlalu manis”. Mendengar itu aku pun mulai mengambil satu biji dan memasukkannya ke dalam mulutku dan hmm.. memang lebih nikmat, manisnya pas. Selanjutnya sudah tak terhitung berapa banyak yang aku makan. Cempedak hutan memang ueeenaaak! hehe.

Setelah makan siang kami berempat; aku, bang Amri, mas Agung, bang Fendy mengambil kamera yang berjarak kurang lebih 700 meter dari tempat kami beristirahat. bang Atta tinggal menjaga tas kami. Sayang pada kamera yang kami ambil ini, tidak ada satu pun gambar harimau, sang datuk yang terekam kamera. Kemanakah dia berjalan? yang ada di kamera adalah babi jenggot, Sus barbatus dan macan dahan, Neofelis diardi.

Di tengah perjalanan pulang kami ditemani oleh suara ungko, Hylobates agilis. Suaranya terdengar jelas sehingga kami memperkirakan sang Ungko berada tidak jauh dari tempat kami berjalan. Namun sosok sang akrobat hutan tropis tidak terlihat. Biasanya suara ungko terdengar seperti nyanyian., yang dumulai pada pagi hari sekitar jam 6. Namun siang ini sang ungko bersenandung dan terdengar dua nada yang berbeda. Kemungkinan ada kelompok ungko yang saling berkomunikasi.

Kembali ke tempat istirahat, ternyata bang Atta sudah memanen satu lagi buah cempedak untuk kami makan di camp nanti.

Perjalanan menuju camp melalui turunan tajam. aku perkirakan kemirigannya mencapai 60-70%.., bahkan mungkin 80% karena rasanya aku berjalan pada dinding tegak lurus ke bawah. Ini lah turunan yang diceritakan oleh bang Fendy sebelumnya, bahwa karena turunan yang sangat tajam, kedua lututnya serasa mau lari duluan..hehe. Tempat data hanya ada 3, itu pun hanya beberapa meter, selebihnya kembali turunan tajam.

Beban di punggungku yang sebagian besar adalah barang-barang pribadi terasa lebih berat dibanding saat mendaki tadi. Bayangkan teman-teman yang membawa semua kebutuhan kami ber-5 dan ini baru hari kedua, beban belum banyak berkurang karena logistik yang kami makan. Bang Amri sampai terjatuh 2x, sehingga oleg teman-teman dibecandain layaknya mereka seolah-olah sedang berburu Napu, Tragulus napu. “Mana bang, lari kemana napunya? itu lah abang ini mencari napu surang-surang” goda bang Fendy.

Aku tidak bisa mengerti bagaimana caranya mereka masih bisa bercanda di kondisi penurunan seperti ini dan beban di punggung dan keringat yang membanjir. Sementara aku terus berkonsentrasi supaya tidak tersandung atau jatuh terjerembab.

Di akhir penurunan yang rasanya tak berkesudahan itu, lututku masih gemetaran, namun ada yang menghibur, suara air, berarti sudah dekat dengan camp.., cihuuuuyy!

Sungai di Rimbang Baling

Sungai di Rimbang Baling

Kami baru tiba di sungai besar ketika dua orang laki-laki datang tepat di belakang kami. Biasanya ketika aku ikut tim ke lapangan, sangat jarang ketemu orang lain. Kalaupun bertemu pasti dengan orang Rimba atau orang Kubu. Makanya bagiku terasa aneh ketika kami camp dan disebrang sungai ada camp lain milik kedua orang tersebut.

Sebelum maghrib tiba, lebih banyak orang lagi datang bergabung di camp seberang. Salah satu bapak dari rombongan itu datang ke camp kami dan bercerita bahwa rombongan yang dia bawa bukan untuk mencari gaharu, melainkan untuk menandai kawasan yang akan dibuka seluas 5000 hektar untuk karet masyarakat Desa Kunto.

Ah Rimbang Baling, meski bukitmu terjal, pepohanmu besar dan gagah, namun tetap saja ada orang yang ingin mengubah wajahmu. kawasan hutan Rimbang Baling adalah kawasan lindung, ditetapkan oleh pemerintah sebagai Suaka Margasatwa sejak tahun 1986. Namun sayang karena pengawasan kawasan yang kurang dari pihak BBKSDA Riau, masyarakat pun leluasa untuk masuk dan beraktivitas yang mengganggu satwa dan mungkin kestabilan ekosistem.

Belum hilang rasa sedihku mendengar sebagian kawasan hutan ini akan dibuka, salah seorang dari rombongan itu telah menembak seekor napu untuk makan malam mereka. Baru kali itu lah aku melihat napu secara langsung, sebelumnya hanya melalui gambar yang diperoleh oleh camera trap kami. Dalam remang cahaya api, aku melihat badannya yang terkulai tanpa nyawa. Bulu di bagian perutnya berwarna abu-abu. Badannya kira-kira sedikit lebih besar dari kucingku di rumah. Hmm.. datuk belang, rumahmu akan sgera dibuka, makananmu pun diambili oleh manusia.. ya, manusia memang makhluk yang paling rakus di bumi.

Kucing Batu: Kucing Pemilik Coat Tercantik

Setelah minggu lalu kita mengenal kucing congkok yang lebih sering ditemui pada hutan yang setengah terbuka, minggu ini kita berkenalan dengan jenis kucing liar lain yang juga menghuni hutan Sumatera. Kucing ini oleh banyak orang dianggap sebagai salah satu kucing liar tercantik karena pola coat yang dimilikinya memang menarik. Dia adalah Kucing Batu atau Marbled Cat  Pardofelis marmorata. Diantara kelima jenis kucing liar yang terfoto di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, Provinsi Riau, kucing batu yang paling mirip dengan kucing congkok dilihat dari ukurannya dan dari pola belangnya di bagian kaki. Kucing batu sedikit lebih besar dibanding kucing congkok, ukuran badannya mulai dari 45-62 cm dengan panjang ekor 356-550 mm, sedangkan beratnya berkisar 2.4-3.7 kg.

Kucing batu juga dianggap kucing liar menarik dan mungkin sedikit misteri karena ciri-ciri fisiknya yang banyak kesamaan dengan jenis kucing berukuran sedang-besar, terutama macan dahan. Kucing batu memiliki pola belang pada badan menyerupai bentuk awan, pola yang juga menjadi ciri khas macan dahan. Kesamaan lainnya adalah gigi taring bagian atas yang besar dan bentuk tapak kaki yang lebar. Namun tengkorak kucing batu lebih pendek dan bulat seperti tengkorak macan (panthera) dan lynx. Ekor kucing batu tebal dan panjang yang menunjukkan bahwa kucing batu adalah hewan arboreal yaitu menghabiskan banyak waktu dengan berada di atas pohon.  Seperti beberapa kucing liar lain; kucing batu memiliki garis hitam vertikal di dahi hingga mata.

Kucing batu diketahui memiliki daerah persebaran di hutan tropis indomalaya termasuk kawasan kaki pegunungan himalaya bagian barat hingga Nepal dan barat daya China, hingga ke bagian selatan di pulau Sumatera dan pulau Borneo. Negara-negara termasuk daerah perseberannya adalah Bhutan; Brunei Darussalam; Cambodia; China; India; Indonesia (Kalimantan, Sumatera); Lao People’s Democratic Republic; Malaysia (Peninsular Malaysia, Sabah, Sarawak); Myanmar; Nepal; Thailand; Vietnam. Di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh, kucing batu turut terekam oleh kamera jebak (camera trap) yang dipasang dengan target utama harimau sumatra. Dari informasi yang diperoleh dari kamera jebak, diketahui bahwa kucing batu mendiami kawasan hutan alam rawa gambut Kerumutan, dataran rendah Tesso Nilo dan koridor hingga perbukitan di Rimbang Baling. Dari survei yang dilakukan mulai Desember 2004-Februari 2012, ada total 51 foto kucing batu yang diperoleh dengan foto terbanyak berasal dari SM Rimbang Baling.

Tidak banyak informasi yang diketahui mengenai prilaku kucing batu karena minimnya survei dan riset terhadap kucing cantik ini. Namun dari kamera jebak diketahui bahwa kucing batu ini tidak terlalu aktif di pagi hari, namun ketika menjelang siang hingga matahari terbenam (jam 11 siang – 6 sore), dan lebih tidak begitu aktif  lagi di malam hari. Hal ini sedikit berkebalikan dari prilaku kucing batu yang diperkirakan lebih nokturnal. Dari pantauan terhadap kucing batu yang hidup di penangkaran, kucing batu dapat hidup hingga 12 tahun. Masa kehamilan 66-82 hari dengan masa subur mulai umur 21-22 bulan. Kucing batu memangsa tupai, tikus, burung dan reptil kecil.

Ancaman utama terhadap kucing batu adalah hilangnya habitat. Provinsi Riau yang juga merupakan habitat kucing batu telah kehilangan sekitar 60% tutupan hutan alam sejak tahun 1980-an. Dengan laju kehilangan hutan yang sangat tinggi, sangat mungkin kita kehilangan kucing cantik ini tanpa sempat mempelajarinya. Kucing batu termasuk satwa liar yang dilindungi oleh Pemerintah Indonesia melalui UU No 5 Tahun1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Lembaga konservasi internasional IUCN memasukkan kucing batu kedalam kategori rentan punah (Vulnerable). Meski memiliki coat yang begitu cantik, kucing batu sangat jarang ditemukan di perdagangan ilegal satwa liar. Namun ancaman perburuan dan perdagangan tetap tidak boleh dianggap sepele, untuk itu CITES telah memasukkan kucing batu ke dalam Appendix I yang berart tidak boleh diperdagangkan dan peredarannya diatur secara ketat atas izin presiden.

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Redlist http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/16218/0

ARKive http://www.arkive.org/marbled-cat/pardofelis-marmorata/image-G24620.html#text=All

CITES http://www.cites.org/eng/resources/species.html

Kucing Congkok: Indikator Kerusakan Hutan

Ya, kucing congkok (kucing batu) Prionailurus bengalensis atau Leopard cat bisa dianggap sebagai satwa indikator kerusakan hutan karena seringnya satwa ini dijumpai pada kawasan-kawasan hutan yang telah terbuka baik karena penebangan liar maupun perambahan. Termasuk dalam famili Felidae, kucing congkok dianggap jenis kucing liar yang cukup umum, ini dikarenakan kucing congkok memiliki  wilayah persebaran yang luas mencakup hampir seluruh benua asia, mulai dari pegunungan himalaya di India dan Nepal, Afganistan, Rusia Timur, Semenanjung Korea, hingga ke Indonesia (Sumatera, Jawa, Kalimantan). Keberadaan kucing congkok juga di jumpai di beberapa pulau kecil, Pulau Tsuhima dan Pulau Iriomateu adalah dua wilayah di Jepang dimana kucing congkok dijumpai, sekaligus merupakan satu-satunya jenis kucing liar yang hidup di negara yang terkenal dengan bunga sakura dan gunung fuji ini.

Sama seperti harimau, kucing congkok juga dikenal sebagai penyuka air dan merupakan perenang yang baik. Warna bulu kucing congkok memiliki dua variasi berdasarkan wilayahnya. Di daerah tropis, kucing congkok bulunya berwarna kuning kecoklatan, sedangkan di bagian utara seperti cina, rusia, atau korea, warna bulu kucing congkok adalah abu-abu coklat. Ukuran tubuh jantan lebih besar dibanding betina dengan berat jantan berkisar 3.3-4 kg dan berat betina 2.5-3 kg. Kucing congkok memangsa herbivor kecil dan kelinci, juga burung, serangga, dan ikan.

Kucing congkok diketahui dapat hidup hingga umur 15 tahun, namun mulai kehilangan giginya menginjak umur 8-10 tahun. Betina kucing congkok dapat melahirkan 1-4 anak kucing dengan masa kehamilan 56-70 hari. Populasi kucing congkok di Jepang (Pulau Tsushima) diperkirakan kurang dari 100 individu, berkurang dari 200-300 individu yang diperkirakan ada di tahun 1960-1970s. Sedangkan homerangenya berdasarkan penelitian di Thailand dan Borneo mencapai rata-rata luas 3.5-4.5 Km2.

Keberadaan kucing congkok di Provinsi Riau terekam melalui camera trap (kamera jebak) yang dipasang untuk memantau distribusi dan populasi harimau sumatra di Lanskap Tessonilo-Bukittigapuluh. Mulai dari Desember 2004 hingga Februari 2012, ada lebih dari 300 foto kucing congkok yang diperoleh dari semua kawasan yang disurvei. Berbeda dengan trenggiling yang dikenal sangat nokturnal (aktif di malam hari), kucing congkok terfoto di berbagai waktu mulai dari pagi hingga malam pekat.

Kucing congkok dapat dibedakan individunya berdasarkan pola titik dan garis yang ada pada bulunya. Kucing liar ini termasuk satwa yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam dan ekosistem dan dalam PP No. 7 Tahun 1999 berada pada daftar mamalia no urut 23. Status keterancamannya berdasarkan IUCN Red List adalah Least Concern, sedangkan dalam CITES termasuk kedalam Appendix II yang berarti kucing congkok daat diperdagangkan secara internasonal dengan pembatasan kuota tertentu dan syarat tidak ada individu yang diambil dari alam.

“Knowledge is a Weapon” – Maester Aemon, A Dance with Dragons (George RR Martin)

Pustaka

Nowell and Jackson, 1996. Wild Cats Status Survey and Action Plan

IUCN Red List http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/18146/0

CITES http://www.cites.org/eng/resources/species.html

Trenggiling: Penyendiri yang Suka Semut

Sejak pertama kali tim memasang camera trap (kamera jebak) di Lanskap Tesso Nilo-Bukit Tigapuluh di akhir tahun 2004, keberadaan trenggiling Manis Javanica atau Sunda pangolin baru terekam di tahun 2011 yaitu di kompleks Hutan Lindung Bukit Sosa pada bulan Maret dan Taman Nasional Tesso Nilo pada bulan Agustus.

Dari 2 video dan 6 foto yang diperoleh dari kamera jebak yang utamanya digunakan untuk memantau keberadaan harimau sumatra, trenggiling terpantau beraktivitas pada larut malam hingga subuh hari (jam 2-4). Satwa bersisik ini berukuran 520 mm dengan berat 7.5 kg untuk jantan, dan betina 450 mm dengan berat 4.2 kg. Tubuh trenggiling ditutupi oleh sisik mulai dari kepala hingga ekor dengan warna kuning, coklat dan hitam.

Trenggiling

Selain beraktivitas pada malam hari, trenggiling juga diketahui sebagai satwa yang hidup soliter dengan mangsa utama adalah semut dan rayap. Trenggiling bahkan bisa memanjat pohon untuk mendapatkan sarang semut. Untuk mempertahankan diri, trenggiling akan melindungi bagian bawah badannya yang tidak bersisik dengan cara menggulung ekornya hingga menutupi sampai ke punggung sehingga membentuk seperti bola.

Distribusi trenggiling mencakup hampir seluruh wilayah Asia Tenggara yaitu Indonesia (Sumatra, Kalimantan, Jawa), Thailand, Malaysia, Brunai Darussalam, Myanmar, Laos, Vietnam dan Kamboja. Satwa ini dijumpai di hutan-hutan primer maupun sekunder dataran rendah – ketinggian 1700 m dan beberapa di wilayah budidaya manusia seperti perkebunan. Homerange trenggiling diperkirakan seluas 6.97 hektar.

Populasi satwa soliter ini hingga kini tidak diketahui. Namun IUCN pada tahun 2010 mengkategorikan trenggiling sebagai Endangared yang berarti menghadapi keterancaman tinggi untuk punah di alam. Di Indonesia, trenggiling termasuk satwa dilindungi berdasarkan UU No 5 Tahun 1990 dan PP No 7 Tahun 1999. Trenggiling juga dimasukkan kedalam Appendix II CITES yang berarti satwa ini dapat diperdagangkan secara internasional dengan pembatasan kuota namun tidak diperkenankan mengambil dari alam.

Trenggiling merupakan jenis satwa yang cukup sering diburu untuk diperdagangkan, baik untuk pasar lokal maupun internasional. Tingginya perdagangan trenggiling didorong oleh kepercayaan bahwa bagian-bagian tubuh berupa kulit, sisik dan dagingnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Belum ada penelitian yang membuktikan secara ilmiah khasiat trenggiling mengobati penyakit. Sisiknya sendiri merupakan protein keratin yang juga ditemukan pada lapisan terluar kulit, pada rambut dan kuku jari manusia. Sehingga manfaat dari sisik trenggiling tidak lain adalah untuk melindungi tubuh trenggiling, sama halnya keratin pada kulit dan kuku pada manusia adalah untuk melindungi bagian dalam tubuh kita. Jadi, jangan percaya jika ada yang mengatakan menggunakan bagian tubuh trenggiling bisa menyembuhkan penyakit!. Ingat hukum penawaran dan permintaan. Jika tidak ada permintaan maka penawaran tidak akan ada. Jika tidak ada permintaan terhadap bagian tubuh trenggiling, maka perburuan dan perdagangan terhadap satwa penyendiri ini akan turun dengan sendirinya.

knowledge is power

Pustaka

IUCN Red list http://www.iucnredlist.org/apps/redlist/details/12763/0

EDGE http://www.edgeofexistence.org/mammals/species_info.php?id=1410

Panduan Pengenalan Jenis Jenis Satwa Dilindung di Indonesia. WWF – PHKA 2003